
PERAWAT
Dari jauh terdengar ada orang yang meneriakkan nama ku, aku pun berusaha untuk membantu widi berdiri tetapi seperti ada yang menahanku untuk tidak bergerak.
“put, kamu udah gila yaa!” teriak seorang wanita yang bukan lain adalah talita.
Seketika itu aku merasakan rasa berat dipunggungku menghilang.
“apaan sih kamu ta aku baik-baik saja putri tidak sengaja kok, kamu dari mana saja?” tanya widi sambil berdiri dan merapikan seragamnya.
“aaa,,aaaku tadi ada macet makanya akuu telat oh ya kalian mau ke ma,,,”belum selesai talita menjawab widi langsung memotong ucapan talita.
__ADS_1
“taaaa, kamu jujur kamu ini habis ngapain sih kok ada tanda bercak merah di leher kamu!” seru widi pada talita dengan raut wajah serius.
Aku mencoba untuk melihat bercak merah yang dikatakan widi di leher talita tapi dia langsung dengan cepat menutupi lehernya dengan kedua tangannya.
“ohh ini, tadi pagi ada serangga kecil yang menggigit ku, oh ia kamu segera antar putri ke uks donk wid, aku mau ke kelas karena belum mengumpulkan tugas pak dede nih”
Dengan tergesa-gesah talita pun pergi meninggalkan kami berdua.
“yuk put, jangan bengong disana” ajak widi padaku sambil menarik tanganku.
“duh kamu yah, bawel banget sih bukannya minta maaf udah jatuhkan aku kelantai tadi, malah ngomel coba deh yah seorang putri tidak siap tugas apa lagi coba alasannya kecuali kamu lagi sakit” timpal widi sambil memeras kedua tanganku.
__ADS_1
Kami berdua pun sampai di uks, tapi tak seorang pun berada disana.
“put, kamu rebahan disini sebentar ya aku mau pergi cari ibu perawat sebentar!” seru widi padaku, sambil membantu ku naik ke atas tempat tidur.
Widipun meninggalkan ku, dengan posisi diriku membelakangi dirinya tapi tak lama kurasakan ada tangan yang menyentuh tubuh ku aku pun membalikkan badan.
“ehh ibu, widi kemana ya kok ibu sendirian?” Tanya ku pada ibu perawat yang tiba-tiba mengejutkan ku itu.
Namun dia tidak menjawab, kulihat dia sedikit berbeda dari biasanya ia sedikit pucat sorot matanya pun terlihat sangat kosong. Lalu dia berjalan menjauh dari tempat tidur ku sepertinya dia hendak mengambil sesuatu dia pun membuka kotak p3k yang terletak di atas meja yang berada disudut ruangan, dia mengeluarkan jarum tapi itu bukan jarum yang digunakan untuk menyuntik pasien tapi lebih terlihat jarum untuk menjahit luka operasi karna kulihat dia memasukkan benang kedalamnya, aku tentu sangat terkejut melihatnya bagaimana sekolah bisa menyediakan jarum untuk menjahit luka.
“astaga bu, saya kan tidak terluka kenapa ibu mengeluarkan jarum dan memasukkan benang
__ADS_1
kedalamnya?” Tanya ku sedikit takut.
Dia kembali membisu, lagi-lagi dia tak menjawab aku ingin lari namun kurasakan tubuh ku tak bisa digerakkan sama seperti saat ingin membantu widi bangun dari lantai tadi dia pun memutarkan badannya, aku sangat ketakutan kukira dia akan menjahit tubuh ku, tapi mata ku terbelalak lebar saat kulihat dia membuka bajunya sendiri dan mengarahkan jarum tadi untuk menjahit perutnya yang sangat tampak jelas perutnya itu menganga lebar terlebih lagi organ didalam perutnya itu ada yang mencuat keluar yang bukan lain itu adalah usus nya sendiri sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.