
TERENYUH
Dia tak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya kulihat ekspresi yang hampa tadi tiba-tiba berubah menjadi sorotan mata yang tajam lalu, dia melotot pada ku dan jarum yang ditangannya tadi dipegangnya dengan erat ia pun mulai melangkah ke arah ku.
“aaaaaaaaaaa...tolongggg... tolonggg!” Jerit ku ketakutan.
“jangan bunuh aku, aaaaaaaa” aku pun sangat ketakutan saat kurasakan ada tangan yang menyentuh tubuhku yang kubalut selimut.
“put, sadar ini aku widi! Putriiii!!!!!!!” teriak Widi panjang sambil membangunkan ku dari tempat tidur.
Dengan takut aku menurunkan selimut dan kulihat itu widi aku pun langsung memeluknya tanpa pikir panjang.
“bu, silahkan ibu langsung periksa putri sepertinya dia benar-benar sakit!” seru widi pada seorang wanita yang berdiri disampingnya.
“wid huuu... aku gak mau dijahit hiks hiks hiks” tangis ku pada widi.
“kamu bicara apa dik, siapa yang mau jahit kamu sini tanganya biar saya tensi dulu” balas wanita yang disebelah widi.
__ADS_1
Dengan takut-takut aku memberikan tangan ku pada dia.
“wid, jangan tinggalin aku sendiri ya!” seruku pada widi sambil tetap memeluknya.
“ih kamu ya nanti dikira orang lain kita jeruk makan jeruk loh” timpal widi sambil tertawa.
“dik, kamu rebahan saja disini nanti saya kasih obat kamu minum ya!” seru perempuan itu.
Aku pun memberanikan diri melihatnya, tampak jelas wanita yang kulihat tadi dengan yang sekarang sedikit berbeda, walau terlihat mirip perempuan tadi wajahnya sangat pucat berbeda dengan perempuan yang berdiri sekarang dan ternyata ini memang ibu perawat tampak dari seragam yang dikenakannya, lalu kira-kira siapa perempuan yang tadi itu.
“emmh bu, petugas disini ada berapa ya?” tanya ku takut-takut.
“tidak apa-apa bu” balas ku cepat.
Aku sudah tau jika aku ingin menceritakannya pasti akan ada sesuatu yang menahanku untuk bicara, mungkin tadi aku hanya mimpi tapi kulihat kotak p3k itu masih ditempat yang sama .
“sebenarnya dulu, ada dua petugas yang bekerja disini dik saya dan rekan saya namanya adalah hanaya dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan saya sampai-sampai kami dibilang kembar tapi sayang dik, dia tidak berumur panjang” kata ibu perawat menceritakan rekan kerjanya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
“lalu bu, apa yang terjadi dengan ibu hanaya?” Tanya ku penasaran.
“tiga tahun yang lalu hanaya ditemukan sudah menjadi mayat kaku di rumah kosong dik, dulu kami biasa pulang kerja bersama, tapi entah kenapa dihari itu dia kekeh untuk pulang sendirian dan seperti ada yang menahan hanaya untuk kami pulang bersama, saya pun akhirnya pulang sendirian, dan sejak saat itu hanaya tidak masuk kerja setelah dua hari berlalu saya memutuskan datang kerumahnya, karena hanaya tidak dapat dihubungi, betapa terkejutnya saya karena saat saya sampai di depan rumahnya saya melihat bendera kuning dan banyak orang berdatangan, saya sempat mengira hanaya tidak bekerja karena keluarganya sedang ada kemalangan, namun ketika saya masuk kedalam rumahnya hanaya terbaring kaku dengan hidung yang disumpal tisu, saya langsung jatuh terduduk air mata pun terus mengalir tidak percaya dengan apa yang saya lihat belum lagi keterangan keluarganya bahwa dia meninggal dengan kondisi mengenaskan, perutnya sobek saya sempat menyalahkan diri sendiri karena tidak pulang bersamanya, sudah dik, saya tidak bisa melanjutkan lagi, hiks hiks hiks" Jawab ibu perawat yang akhirnya menangis tersedu-sedu.
“ya ampun” balas ku sambil menutup mulut.
Berarti yang kulihat tadi hantu dari bu hanaya yang bukan lain adalah petugas perawat yang dulu bertugas disekolah.
"put, ada apa sih tadi kamu buat aku takut tau gak?” Tanya widi pada ku.
“aku tadi tertidur lalu mimpi buruk sudahlah wid, kita ke kelas yuk aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang” jawab ku pada widi.
“terimakasih ya bu” kataku pada ibu perawat.
“ia dik, jangan lupa minum obat yang saya berikan tadi ya” balas ibu perawat sambil menyeka air matanya.
"oh ia bu, semua yang terjadi sudah menjadi takdir dari Tuhan ibu jangan menyalahkan diri sendiri, baiklah kami pamit ya bu" kata widi menghibur ibu perawat.
__ADS_1
Kami pun kembali ke kelas, aku juga merasa rasa berat dipunggungku kembali menghilang aku juga segera melupakan kejadian di ruang uks tadi, tapi setelah hari ini aku tidak akan mau lagi ke sana, mungkin jika aku menyaksikannya lagi aku bisa mati ketakutan.