
KESEPAKATAN
Sesakit ini rasanya dikucilkan, dimana tidak ada yang perduli dengan keberadaan kita namun demi kebahagiaan orang tua, aku berusaha kuat dan harus tetap tegar akupun berusaha untuk tetap tenang aku juga mendapati tempat duduk yang menghadap kejendela persis disekolah lama ku dulu.
“(Hhhh, siapa yang melambaikan tangan itu yah?)” tanya ku dalam hati.
Sesaat aku melihat keluar jendela, seperti melihat sesorang melambai padaku lagi-lagi sesosok yang tidak jelas, namun aku segera tak menghiraukannya pelajaran pun dimulai, aku pun mulai serius mengikutinya lalu menulis catatan yang sudah diberi oleh guru
Namun entah bagaimana kotak pensil ku yang berada di tengah meja bisa jatuh kebawah, aku sempat heran lalu akupun segera hendak mengambilnya namun, aku mendadak terkejut melihat ada dua tangan yang muncul dari bawah meja seakan sedang meraba meja tempat ku duduk, tangan itu pucat kebiruan serta kuku hitam melukuk panjang yang membuatnya tampak sangat mengerikan.
“haaaaaaaaaaaa, apa itu….!” Teriak ku panjang sambil mundur kebelakang hingga membuat diriku terjatuh.
“ada apa putriii???” tanya ibu guru didepan yang terkejut mendengar suara jeritanku.
Mendadak aku seakan bisu, tidak bisa menjawab pertanyaan dari beliau.
"kenapa tidak dijawab putri?" tanya kembali ibu guru
“huuuu, dia carper lah bu secara kami tidak ada yang mau berteman dengan dirinya jangankan berteman buat mendekatinya aja rasanya malas buu” balas seorang siswa dari kelas itu.
“(ngak, mana mungkin aku cari perhatian, kalian apa gak bisa melihatnya)” batin ku dalam hati sambil terus menatap ke arah mejaku.
“kamu ya putri, jangan cari perhatian gitu dong, mengganggu jam pelajaran saya, paham kan kamu!” seru ibu guru yang malah memarahiku.
“huuuuuuuuuuu” sorakkan satu kelas padaku.
Akupun berdiri sendiri sekuat tenaga aku menahan untuk tidak menangis, tapi aku tidak tahan akhirnya aku tidak menulis catatan lagi aku menundukkan kepala ku lalu menangis dengan menggigit bibir bawahku dengan kuat supaya tidak ada yang mendengarnya.
“liat bu, baru ibu marahin dia sudah tidur dikelas” kata seorang siswa lainnya.
__ADS_1
“sudah biarkan saja dia!” seru ibu guru yang mengacuhkan keberadaanku.
Semenjak hari itu, aku pun selalu tidur dikelas tidak sekalipun aku mengikuti pelajaran dikelas.
“kakek, putri pulang” kataku sambil membuka pintu rumah.
“aduh, kalau masuk kerumah ucap salam dong!” seru seorang lelaki yang sedang duduk membelakangi ku.
Aku terkejut mendengar suaranya karena aku tidak pernah mendengarnya sebelumnya.
“kamu siapa?” tanyaku sambil perlahan maju menghampirinya.
“loh nak, putri sudah pulang” kata kakek yang tiba-tiba muncul mengagetkanku.
Kakek pun berjalan ke arahku.
“ehh, biss,… bisa kok kek” jawab ku terbata-bata.
bagaimana aku tidak terbata-bata jika kakek tahu aku tidak pernah mengikuti pelajaran entah bagaiman responnya dan pasti akan mengadu kepada ayah dan ibu.
“Alhamdulilah, nah nak ednan ini dia cucu si mbah” kata kakek sambil memegang bahu lelaki yang sedang duduk tadi.
“haaaa??? Kamu!!!” sontak kami berdua kompak.
“loh kalian sudah kenal toh, syukurlah kalau begitu yah” balas kakek.
Entah mengapa suasana menjadi canggung, dia adalah Ednan Mahliyo Cokro, seorang pria yang di pekerjakan kakek untuk melindungiku, aku sudah beberapa kali berpapasan dengannya dijalan saat pulang dan disaat kami bertemu dia selalu tersenyum meskipun aku memasang mimik wajah yang suram responnya juga sangat
berbeda dengan orang lain.
__ADS_1
“nah jadi, saya mau nak ednan mulai besok kawal cucunya mbah kesekolah yah!” seru kakek pada pria itu.
“waduh, gimana ya mbah saya lagi ada proyek besar nih mbah” balasnya.
"ia, kakek apaan sih siapa yang mau dikawal sama laki-laki aneh ini”
sahutku.
“aduh cantik, ketus amat ngomongnya” balas lelaki itu cepat.
“hahahaha, kemestri kalian sangat kuat yaa” sahut kakek yang malah tertawa.
“tapi mbah, saya penasaran juga sama dia yang selalu mengikuti cucu sih mbah” balas lelaki tersebut sambil menatap ke arah belakangku.
Sontak saat ia mengatakan itu bulu kudu ku naik, dan aku merasa sedikit sesak saat itu.
“aah,, kakekk” kataku pada kakek sambil memegang dadaku kuat.
“waduh cepet banget reaksinya” balas ednan.
Kakek pun bergegas kedapur untuk mengambil air minum dan segera meminumkannya padaku.
“nak ednan sebaiknya kita bahas ini jangan di depan putrid ya” kata kakek padanya.
“ia mbah, saya tadi hanya mincing saja” balasnya cepat.
“jadi sepakat ya putri juga harus nurut sama kakek, kalau putri sayang sama kakek” kata kakek padaku.
Aku tidak punya pilihan lain karena kakek sudah berkata seperti itu maka mau tidak mau aku harus mengikuti kemauan kakek aku hanya merasa bingung untuk besok bagaimana rasanya dikawal kesekolah dan yang membuat ku takut jika aku ketahuan tidak mengikuti pelajaran dan ia mengadu kepada kakek.
__ADS_1