SI GADIS TUMBAL

SI GADIS TUMBAL
Episode 22


__ADS_3

LUKA


Kepala ku mendongak ke atas langit-langit kamar, kedua tangan ku masih melekat di leher walaupun aku tidak merasa sakit tapi nafas ku terasa mulai sesak dan air mata ku menetes keluar dengan perlahan, hanya saja kurasakan sedikit perih dimataku, tadinya aku memang ingin mengakhiri hidup ku tapi apa kah harus setragis ini.


“Ustadddd!!! dari mata anak itu keluar darah…” jerit salah seorang dari mereka, yang terdengar sangat panik melihat diriku yang berusaha untuk meyudahi hidup.


“Astagfiraulah Putrii!!!!!” seru ayah yang lari ke arah ku yang baru saja kembali menenangkan Ibu ke kamar.


“Nak, maafkan ayah tolong jangan seperti ini nak,” kata ayah padaku sambil berusaha keras melepaskan tanganku.


Dengan susah payah ayah seorang diri melepaskan tanganku sambil menangis ia kembali mengikat tangan ku ke tepi tempat tidur, laki-laki dengan sorban itu langsung mengarahkan tangan nya ke atas kepala ku sambil membaca ayat suci Al-Qur’an.


“Aaaaarrrgggghhhh!!!, Ayah, Ayah, Ayah! tolong aku panass Aaayahh…!!!!” seruku pada ayah sambil meronta-ronta kesakitan.


Tubuh ku kembali seperti terbakar, kepala ku ingin pecah dan dada ku sangat sesak seperti ada yang ingin meledak di dalam, sangat menyakitkan.


“Tolong buka tali ini Ayah!!!!!” seru ku  pada ayah.


“Bagaimana ini ustad, saya tidak tahan melihat kondisi putri saya seperti ini bolehkah saya lepas saja ikatannya?” Tanya Ayah pada laki-laki bersorban itu.


Ayah sungguh tidak tega melihat ku menjerit kesakitan, tidak pikir panjang ayah langsung mendekatiku dan hendak melepaskan kembali ikatan di tubuhku namun, ayah langsung ditarik oleh laki-laki bersorban itu.


“Jika bapak melepaskan ikatannya, bukan hanya menyakiti dirinya sendiri bahkan ia bisa melukai orang-orang yang berada disini, sebaiknya bapak tenang dan bantu berdoa minta perlindungan terhadap Allah supaya anak bapak bisa lekas sadar” kata laki-laki bersorban itu pada ayah.

__ADS_1


Rasa sakitnya kian menjadi saat ayah mulai duduk dengan tenang dan berdoa menghadapku.


“Ayah, Ibu....! Teganya kalian pada putri!!!!!!” Jeritku kuat.


Ayah malah menutup matanya, dengan secepat kilat aku merasakan seperti ada yang ingin mencuat keluar dari tubuh ku sakitnya sampai membuat tubuh ku bergetar saat perasaan meledak itu hilang pandangan ku mulai kabur dan aku terkulai lemas.


“A,,aaa,ayahhh” kataku pada Ayah lemah.


“(akhirya suara ku bisa keluar)” batin ku dalam hati.


“Benarkah kamu ini nak?” Tanya Ayah padaku memastikan.


“ini memang iput yah” balas ku lagi  lemah.


Dengan cepat tanpa rasa ragu ayah melepaskan ikatan diriku di tepi tempat tidur namun, tidak disangka saat aku ingin bicara pada ayah suara ku hilang kembali, dan perasaan yang ingin meledak itu datang kembali, sekuat tenaga aku mendorong ayah lalu aku menduduki tubuhnya dan dengan secepat kilat aku mencekik ayah ku sendiri.


“hahahahah kalian kira semudah itu menaklukan aku!” seru ku gila.


“Astagfiraulah,,, Pak Rusdiiii……” Teriak dari seorang mereka.


Beberapa laki-laki menghampiri ku dan mencoba menarik tanganku, tapi mereka malah kembali terpental.


Ku lihat wajah ayah mulai membiru, tapi saat aku merasa sedih perasaan jahat itu semakin menekan diriku.

__ADS_1


“Nak, Ayah dan Ibu selalu sayang sama iput sadarlah nak!” kata ayah dengan mata yang mulai sayu.


“(Ayahhh,,, tolong putriii)”jeritku dalam hati.


Suasana kian menegang, bisa saja ayah mendorong ku dengan kuat tapi pastinya ia tak ingin menyakiti aku sedikitpun.


Lalu, laki-laki bersorban itu dengan tenang menghampiri aku yang sedang sekuat tenaga mencekik ayah kandung ku sendiri, tidak terlihat sedikit pun wajah cemas atau rasa takut dari pria bersorban itu.


“AAaaaaaaaaaaaa,,,,, Jangan Mendekaaaat!!!!!!”Jeritku kuat tanpa sadar melepaskan cekikanku pada Ayah.


"(uhukk,,uhukkk,,uhukk)" suara batuk ayah yang terselamatkan dari cekikan ku.


ayah pun segera ditarik oleh mereka, dan dijauhkan dari diriku.


“Sakit,,Hentikannnn!!!!!!” Kata ku lagi sambil menutup telinga.


Tubuh ku kembali bergetar kuat, seperti ikan yang disiram garam aku menggeliat kesakitan sembari menjerit histeris tidak berlangsung lama, aku langsung terkulai lemas.


Kepala ku terasa begitu pusing, aku seperti berhenti di ruang waktu dan rasanya tidak ingin untuk memikirkan sesuatu apapun itu.


Rasa pusing yang begitu menyakitkan ini, sebelumnya tidak pernah aku rasakan belum lagi rasa sakit disekujur tubuh yang sangat sulit untuk aku deskripsikan.


“Bagaimana ustad, dengan putri saya?” terdengar suara laki-laki dengan nada lirih menanyakan keadaan ku.

__ADS_1


“Anak bapak, untuk saat ini sudah terhindar dari aura jahat tapi saya tidak bisa menjamin untuk ke depannya karena tubuh anak bapak sudah dijebol oleh jin” balas seorang yang tidak aku tanda suaranya.


Aku hanya mendengar percakapan mereka sampai disitu saja, itu disebabkan aku yang tidak tahan untuk membuka mata, merasa sakit pedih yang menusuk siapa yang mampu menahannya, aku pun hilang kesadaran penuh akhirnya.


__ADS_2