
SEKOLAH
tidak sampai lima belas menit kami sudah sampai disekolah, lalu wilmar menarik tangan ku keluar dari angkutan umum.
"widih gila, wilmar kamu jatuh miskin atau gimana, mana motor mu?" tanya seorang siswa yang satu angkatan dengan kami.
belum sempat wilmar menjawab lalu seseorang dari sebelahnya menjawab dengan cepat.
"kamu gimana si rey, tentu saja supaya bisa berangkat bareng putri lah" balasnya cepat.
"apaan sih kalian berdua, gimana tugas dari bu dewi kalian sudah selesaikan?" jawab wilmar sambil mengalihkan pembicaraan.
"astaga gila bu dewi si montok tapi cerewet yang kaya nenek sihir itu hahaha, sumpah ya wil aku suka greget sama ibu itu suka gak tahan lihat lipstiknya" balas temannya wilmar, lalu mereka tertawa bersama-sama.
yah mereka berdua adalah raihan dan jaka teman akrab wilmar, aku mengetahuinya saat dimalam puncak ospek mereka bersama dengan wilmar yang pada saat itu wilmar menyatakan perasaannya pada ku lalu muncullah mereka berdua membawa bunga dan coklat, huh lucu bet dah kalau ingat itu.
__ADS_1
"eh liat, putri senyum-senyum sendiri dia salah tingkah tuh" kata jaka sambil menunjuk ke arahku".
"aku,,, aku minta maaf ya wil, karena aku kamu naik angkutan umum" balas ku takut-takut.
sebenarnya aku sedikit merasa bersalah pada wilmar dia sebelumnya belum pernah naik angkutan umum, bayangin aja waktu pertama kami naik angkutan umum dia muntah-muntah karena di dalam ada seorang ibu-ibu yang membawa sekantong plastik ikan, aku rasa dia kehilangan semua sarapan paginya lalu besoknya kami pergi dengan keadaan penuh dan padat duh, liat muka dia yang tahan nafas kasihan banget tapi lucu juga.
"putri, kita udah bahas berulang kali dan kita sekarang udah biasa pergi barengkan sudah la kan sudah seminggu, mereka berdua saja yang matanya buta" jawab wilmar pada ku sambil tersenyum, tapi langsung melototi kedua temannya.
"aduh ia put, sory ya aku tadi hanya menggoda wilmar Oh ya biasanya kan selalu ada yang menguntil kalian berdua itu loh si centil mana dia? tanya raihan.
aku terkejut pantas dari tadi aku merasa aneh biasanya talita selalu ribut tidak pernah tenang dari tadi kok tidak mendengar dia mengoceh aku tidak memperhatikannya soalnya tadi tangan ku di tarik wilmar dan mataku hanya tertuju pada wilmar. namun tak berapa lama bel berbunyi.
"gimana ini wil, jelas talita bareng kita tadi ?" tanya ku cemas pada wilmar.
"ya udah, kamu masuk kelas nanti aku tunggu dia disini ya putri, kalian berdua juga masuk gak mau kan di hukum bu dewi" jawab wilmar dengan sangat tenang.
__ADS_1
"ok wil, kamu jangan lama-lama ya" balas raihan.
setelah jaka dan wilmar pergi aku melihat widi menghampiri kami sambil berlari.
"putri kamu kenapa gak masuk kelas mau pacaran aja nih ?" tanya widi pada ku, sambil melipat kedua tanganya.
"wid, kamu jangan salah paham aku tidak mungkin tinggalin wilmar sendirian nungguin talita bagaimana pun dia kan sahabat kita, lagian aku yang salah hanya mementingkan kesenanganku sendiri sampai tak sadar talita belum turun". jawab ku merasa bersalah.
"kamu lagi halu ya, si talita udah dari tadi dikelas gitu turun dari angkutan umum dia langsung lari kejar pak heru guru lajang yang tampan itu." kata widi ke pada ku sambil memegang kedua pundak ku.
"alhamdulilah" kata ku lega.
"ih gimana sih, kita masih kelas satu put kalau bisa hindari lah yang namanya pacaran, kita harus fokus belajar yo know put kita harus fokus temannya genit kok bersyukur Permisi ya wilmar kami mau ke kelas" balas widi padaku lalu langsung menarik tanganku pergi ke kelas.
saat tanganku di tarik oleh widi, aku menoleh kebelakang ku lihat wilmar tersenyum lalu seperti mengatakan sesuatu tapi aku tidak dengar dengan jelas. Walaupun aku dan wilmar satu agkatan kami beda kelas untungnya aku satu kelas dengan ketiga sahabat ku jadi, tidak terlalu sedih deh.
__ADS_1