Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang

Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang
1. Impian dan Kehidupan di sekolahnya


__ADS_3

Namanya adalah Reyoura Octovian, dia adalah anak yang ceria dan tampan, tepat disaat ia berusia lima tahun. Ia selalu membantu ayahnya berburu untuk makan malam. Rio Octovian dan Elza Octovian merupakan orang tuanya. Rio itu kuat karena dia merupakan mantan Jenderal prajurit di suatu kerajaan yang sekarang sudah pensiun. Dia sudah melindungi banyak nyawa dengan pedangnya.


Reyoura pun sangat mengaguminya karena dia kuat dan baik. Elza itu wanita yang sangat cantik dan periang. Sekarang Reyoura tinggal bersama ayah dan ibunya di suatu desa bernama Adkiroe. Desa yang sering kali diserang oleh monster pada umumnya, kadang juga ada segelintir iblis yang menyerang desa tersebut.


Tempatnya terbilang cukup jauh dari perkotaan dan butuh waktu sekitar empat sampai lima jam untuk sampai ke kota. ia dan juga ayahnya juga sering berlatih pedang di halaman rumah setiap hari minggu. Latihan yang ayahnya berikan cukup membuatnya lelah.


“Oura. Kita istirahat dulu sebentar, setelah itu kita lanjut lagi latihannya.” Sambil menancapkan pedang kayunya di tanah.


Pada saat berusia tiga belas tahun. Reyoura mulai terbiasa dengan latihan yang diberikan oleh ayahnya. Di malam harinya, setelah ia pulang dari sekolahnya. Ayah dan ibunya ingin berbicara dengannya mengenai masa depannya.


“Aku pulang…”


“Oura, bisa kita bicara sebentar?” kata ayahnya sambil menggerakan tangannya untuk meminta Reyoura duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh kedua orang tuanya.


“Soal apa?” Reyoura langsung berjalan menuju kursi yang sudah disiapkan oleh mereka dan duduk.


Kedua orang tuanya ingin dia menjadi seorang prajurit. Tapi, Reyoura yang mendengar ini pun mulai geram karena mereka seenaknya mengatur masa depannya. Ia langsung mengeluarkan semua unek-uneknya kepada mereka berdua sehingga membuat ayahnya marah besar ketika mendengar hal itu.


“Apa! Menjadi seorang prajurit?! Aku tidak mau! Lagipula, aku ingin menjadi seorang petualang! Kalian harus tahu itu!” unek-uneknya sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Apa kamu bilang!!” ayahnya yang kesal mendengar keputusan yang diambil Reyoura sambil berdiri dan memukul mejanya dengan keras di depan Reyoura.


“Memangnya kenapa kalau aku menjadi seorang petualang!!” Reyoura juga kesal dengan ayahnya sambil berdiri dan menatap ayahnya.


Ibunya yang melihat pertengkaran antara ayah dan anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Reyoura yang mellihat ibunya terdiam karena ketakutan memilih pergi dan meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu.


“Sudahlah, aku mau ke kamarku dulu. Selamat malam.” Sambil meredakan emosinya, ia beranjak pergi.


“Oi! Oura! Tunggu, pembicaraan kita belum selesai!” kata ayahnya.


Walaupun ayahnya sempat menolak hal tersebut. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk memberinya dukungan kepada Reyoura karena ibunya ingin Reyoura mengambil jalan hidupnya sendiri tanpa bergantung kepada mereka berdua.


***


Pada di usianya yang ke lima belas tahun. Reyoura dan kedua orang tuanya pergi ke ibukota kerajaan Viredia, Rayston. Untuk mendaftarkan Reyoura di suatu akademi disana. Dan ia lulus di akademi tersebut. Tentu saja dengan nilai yang tidak begitu sempurna. Tetapi, Reyoura benar-benar senang ketika dirinya lulus masuk tes akademi.


Kemampuan berpedangnya memang hebat. Bahkan, sampai terkejut satu sekolah karenanya. Namun, sihirnya tidak sehebat para murid lainnya. Reyoura masih mempunyai senjata yang selalu ia bawa setiap hari dan ini hanyalah sebuah payung. Memang terdengar aneh dan lucu karena ini merupakan sepasang payung.

__ADS_1


Tidak ada satupun murid yang tahu bahwa senjatanya itu hanyalah payung biasa bukanlah pedang. karena Reyoura menghiasnya layaknya pedang. Hanya ia saja yang tahu bentuk asli dari senjatanya tersebut. Di samping itu, ada seorang murid tinggi dan besar yang menantangnya untuk berduel dengannya.


"Oi!" kata murid yang memanggilnya.


"Apa kamu memanggilku?" dengan bingungnya, ia menoleh ke arah murid itu.


"Iyalah, memang siapa lagi yang aku panggil. Hah!" katanya.


"Ada apa kamu panggil aku?" ia langsung mendekati si murid tersebut.


"Aku ingin menantangmu untuk bertanding." Murid itu mengajaknya untuk berduel sambil menunjuk ke arah Reyoura.


Namun, ia tolak mentah-mentah karena itu hanya buang-buang tenaga saja baginya. Dan itu juga merupakan suatu pelanggaran jika ia menerima tantangan dari mereka yang merasa paling hebat diantara murid yang lainnya.


Saat di sekolah, Reyoura selalu diremehkan bahkan dianggap tidak berguna oleh semua murid di sekolahnya. Namun, ia tidak memperdulikannya bahkan itu hanya sebatas angin lewat saja menurutnya.


Kemudian setelah pulang dari sekolah ia ditantang oleh murid itu. Keesokannya, Reyoura ditantang oleh murid itu lagi saat ingin masuk ke kelas. Meski begitu, tetap saja ditolak oleh Reyoura karena ia malas untuk mengeluarkan kemampuannya itu. Ia selalu diganggu oleh murid yang ingin menantangnya untuk berduel setelah sepulang sekolah. Dan pada akhirnya, reyoura pun menerima tantangannya.


"Apa kamu tidak bosan menggangguku terus?" sambil menghela nafasnya dan menoleh ke arahnya.


"Tidaklah, karena aku ingin sekali berduel denganku." Katanya dengan penuh yakin kalau ia lebih kuat daripada Reyoura.


"Tentu saja." Sambil menggangguk kepalanya.


"Baiklah. Aku terima tantanganmu." Ia pun tersenyum tipis saat menerima tantangannya.


Disaat mereka berdua sedang bersiap-siap untuk melakukan sebuah pertarungan. Datanglah seseorang yang merupakan kepala sekolahnya. Ia mengingatkan kepada mereka berdua untuk pergi ke suatu arena untuk bertarung disana. Lalu, mereka berdua pun setuju untuk pergi ke sana. Di sana sudah ada banyak orang yang menonton pertarungan mereka berdua.


***


Pertarungan mereka pun dimulai. Murid itu langsung melesat ke depan untuk menyerang Reyoura yang saat itu belum siap untuk bertarung. Namun, murid itu merasa tidak sabar untuk menunggu Reyoura untuk segera bersiap.


“Wush…”


“Dugh.. Sreet..”


Reyoura pun terkena serangannya karena ia tidak siap untuk menahan serangan itu. Namun, Reyoura dengan cepat melesat ke arah murid itu dan melakukan ayunan payungnya ke bagian tubuhnya.

__ADS_1


“Wush.. Sreet.. Sreet..”


Walaupun, murid itu sudah bisa menghindari serangan dari Reyoura. Namun, Reyoura terus-menerus menyerang layaknya ia ingin melampiaskan terhadap murid itu. Dan sepertinya, murid itu mulai terengah-engah nafasnya dan mulai kelihatan sedikit panik akibat serangan teror dari Reyoura.


"Kenapa? Apa kamu kelelahan?" katanya sambil menatap orang itu dengan liciknya.


Para penonton pun mulai merasa puas dengan tontonan yang mendebarkan di arena. Namun, Reyoura yang masih belum puas mulai mengeluarkan kemampuan aslinya.


"Baiklah. Akan aku keluarkan kemampuan ku yang sesungguhnya." Katanya sambil bersiap-siap untuk menyerang lagi.


Begitu Reyoura mengeluarkan kemampuannya itu. Murid itu merasa seperti tidak tahu harus apa ia lakukan untuk membalas serangannya. Ketika Reyoura sudah mulai menyerang, murid itu hanya bisa bertahan sampai ia kewalahan karenanya. Terlebih lagi, Reyoura sangat semangat untuk mengalahkanya. Lebih tepatnya, ia ingin membunuh orang itu dengan segera.


"Sial, orang itu sangat kuat. Jika aku lanjutkan lagi pertarungan ini. Mungkin aku akan dalam bahaya nanti." Pikirnya murid itu dalam hati sambil menahan dan menghindari serangan Reyoura.


"Oi, apa kau akan tetap seperti ini?!" ucapnya sambil mengayunkan payung ke arah murid itu.


"Kalau kamu tidak segera menyerangku, maka aku akan membuatmu menderita disini. Atau mungkin, aku akan membunuhmu." Dengan tatapan yang mengerikan dari Reyoura, murid itu merasa ketakutan dan ia langsung menyerah ketika Reyoura ingin melancarkan serangannya kepadanya.


Disaat itulah, semua penonton mulai merasa kalau Reyoura itu bukanlah lawan yang mudah dikalahkan begitu saja. Meskipun masih banyak yang meremehkan kekuatannya itu.


***


Keesokan harinya setelah sepulang dari sekolah. Ia melihat ada seorang murid yang sedang diganggu oleh beberapa murid senior.


“To-tolong, lepaskan aku.” kata murid yang diganggu itu.


“Berteriaklah sesukamu. Disini tidak ada siapapun.” Sambil menjenggut rambut si murid yang mereka ganggu.


Lalu, Reyoura pun datang dan menolong orang itu. Disaat itu, salah satu dari mereka mengancam Reyoura jika ia mengganggunya.


“Aduh, siapa yang berani menyerangku?” kata salah satu murid senior sambil memegang kepalanya yang terkena batu kerikil.


“Akulah orangnya.” Sambil menunjuk dirinya.


“Sial, awas aja kamu ya. Akan aku buat kamu menderita sepertinya. Mengerti!” ia mengancam Reyoura dan pergi bersama teman-temannya dengan wajah kesal.


Segerombolan siswa senior pergi meninggalkan mereka berdua disana. Tak lama kemudian, Reyoura pun juga segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Tetapi, sebelum pergi, ia memberikan sebuah kertas yang bertuliskan namanya kepada orang itu. Orang itu sangat senang ketika ia tahu nama dari orang yang menyelamatkan hidupnya dan segera mencari orang itu di keesokan harinya.

__ADS_1


***


__ADS_2