
“Shining Javelin!” sihir yang ia gunakan adalah sihir tingkat rendah yang berbentuk tombak dan bercahaya. Sihir tersebut mengenai salah satu anggota dan terdampar dengan tombak yang menancap di tubuh orang itu. Disaat yang bersamaan, ia sudah berada tepat di belakang para anggota lainnya dan beberapa sudah tumbang dengan tombak cahaya yang menusuk tubuh mereka.
“Bersiaplah untuk mati!” ia yang sudah mengangkat senjatanya dan membunuh mereka di tempat dengan ekspresi senang, karena baginya mereka sama saja seperti iblis yang suka dengan kekacauan.
“Se-sejak kapan?!” mereka terkejut dengan Reyoura yang sudah menghabisi rekannya yang terdiri dari dua pria dan tiga wanita.
Deco pun juga tidak mau kalah darinya, ia dengan cepat menyerang ketua dan para anggotanya dengan sihir gabungan dari beberapa elemen yang telah ia kuasai.
“Hurricane Dust Storm!” ia mengeluarkan badai agar musuh terhempas jauh darinya.
Mereka pun mulai merasa tidak aman jika melanjutkan pertarungan ini, mereka pun takut dengan kekuatan Reyoura dan Deco sekarang. Walaupun jumlah mereka banyak, tetapi mereka tetap tidak bisa mengalahkan kedua orang itu.
Disisi lain, Reyoura yang sudah menumbangkan beberapa orang merasa tidak peduli dengan wajah keputusasaan mereka dan terus mencoba untuk menyerang mereka. Deco pun juga menyukai hal itu dan menyerang mereka dengan sihir tanpa ampun.
Mereka bertiga dan dua orang misterius pun yang tengah bersembunyi mulai merasakan kekuatan yang luar biasa dari mereka berdua. Mereka pikir kalau kedua orang itu berbahaya dan mulai mencari cara untuk menyembunyikan diri agar kedua orang itu tidak mengetahui keberadaan mereka, karena mereka tidak menyangka bisa sekuat jika keduanya mulai serius menghadapi musuhnya, terutama Reyoura. Rafael pikir wujudnya itu aneh, namun ia salah mengenai itu.
“Sial, apa-apaan mereka itu?” seluruh tubuh dari Rafael pun bergemetar.
“Kekuatan mereka benar-benar tidak sebanding dengan lawan mereka. Terurama, saat melawan Oura. Dia sudah menjadi Oura yang berbeda dari biasanya.” Kata Bernard.
Bernard yang merasakan hasrat membunuh seseorang dari Reyoura, ingin pergi dari sana. Begitu pula dengan Gilardino, ia juga merasakan hal yang sama dengan Bernard dan memutuskan untuk mencari cara untuk pergi dari sana tanpa ketahuan oleh Reyoura. Namun, ia tidak menemukan cara untuk pergi dari sana dan lebih memilih untuk diam disana bersama Rafael dan Bernard.
“Apa ada lagi yang ingin maju melawan ku?” sambil mengerakkan payungnya, Reyoura mempersilahkan mereka untuk melawan dirinya.
“Kayanya mereka ingin kau yang maju lebih dulu, Oura.” Katanya sambil tersenyum sinis ke arah mereka yang sudah ketakutan.
Namun, Reyoura mulai bosan dan ingin memasukkan kedua payungnya ke dalam sarungnya. Saat Reyoura mulai memasukkan kedua payungnya, mereka langsung menyerang Reyoura. Tetapi, serangannya berhasil ditahan oleh Reyoura dengan kedua payungnya dan melesat cepat ke arah orang yang menyerangnya tadi.
“Dasar bod*h, beraninya kalian menyerangku saat aku tidak menyerang kalian, lebih baik kau...” sambil menjeda bicaranya tadi. “MATI!” lanjutnya dengan berteriak sambil melesat maju ke arah mereka yang menyerang tadi.
“Wush.. Sreet.. Croot..”
Mereka yang tadi menyerang Reyoura secara bersamaan, mati dengan cara yang mengenaskan, ada beberapa orang yang sudah tubuhnya terpisah dengan kepalanya dan ada juga beberapa orang yang terkena tebasan yang cukup dalam dengan payungnya.
***
Musuh yang berada di depan mereka berdua tiba-tiba mundur satu persatu dari banyaknya anggota tadi. “Aaaaaarhg.” Teriakan dari salah satu anggota mereka yang terjatuh dan beberapa pergi dari tempat itu yang diikuti oleh anggota lainnnya.
__ADS_1
“Kenapa kalian malah mundur, bod*h. Serang mereka semua!” ketuanya yang memaksakan anggotanya untuk bertarung melawan mereka.
“Maaf ketua, kami tidak ingin mati.” Kata salah satu anggotanya.
“Iya ketua, kami masih sayang nyawa.” Anggota lainnya yang setuju dengan orang itu.
“Dasar lemah. Baiklah, kalau itu kemauan kalian. Kalian tinggalkan saja aku disini.” Kata ketuanya yang sombong dan tidak mau mendengarkan pendapat anggotanya.
Melihat beberapa anggotanya yang lari ketakutan dan meninggalkan ketua mereka sendirian di sana dengan rasa kecewanya terhadap anggotanya tersebut, dan sebagian anggotanya tetap berada di samping ketua mereka.
“Biar aku yang mengakhiri pertempuran ini.” Lanjutnya sambil melayang di udara dan mengeluarkan sihir yang begitu besar ke arah mereka.
Namun, apadaya ia terkena sengatan listrik dari atas langit. Bisa dibilang, itu adalah salah satu jebakan yang Reyoura pasang di langit untuk mencegah musuhnya terbang. Karena dirinya membenci hal itu.
“Jeduarrr!” suara petir menyambar ketua klub itu.
“Aaaarrhhhggg!” teriakan si ketua merintih kesakitan.
“Ketuaaaaa!” dengan cepat para anggota yang tersisa tadi, menangkap ketua mereka dari ketinggian beberapa meter di atas permukaan tanah.
“Ketua, kau tidak apa-apa?” kata salah satu anggotanya dengan rasa khawatir.
“Ja-ja-jangan main-main denga--” ketua pun mulai ketakutan ketika melihat tatapannya.
“Kalau kau mau tahu. Kau harus jawab dulu pertanyaanku. Kalau kau mau menjawabnya, maka aku juga akan menjawabnya soal tadi.” Reyoura menyela pembicaraan ketua tersebut dan ingin mencari informasi dari ketua tersebut.
“Apa yang kau inginkan dari kami?” tanya Reyoura yang masih menatap ketua tersebut dengan sinisnya.
“Kau pikir, aku mau menjawabnya. Hah! Bo-d*h!” menjeda kata-katanya.
Lalu, tangannya yang masih memegang payung sudah siap untuk membunuh ketua tersebut dan berjalan menuju ke arah ketua tersebut. “Oh, baiklah. Akanku bunuh kau.” Masih dengan tatapannya yang sinis.
“Eh tunggu bentar, ‘kan ku jawab pertanyaanmu itu. Jadi, jangan bunuh aku yah.” Ia pun langsung berubah pikiran setelah Reyoura mencoba untuk membunuh dirinya.
“Baiklah cepat jawab.” Kata Reyoura.
Kemudian, ketua tersebut mengaku bahwa dirinya diminta untuk mencari tahu dari orang yang menciptakan sihir itu dan ia juga diminta untuk menangkap si penciptanya untuk mencari informasi dari dirinya.
__ADS_1
“Oooh… Jadi, ada orang lain yang ingin menggunakan sihir itu yah…” pikir Reyoura sambil memegangi dagunya sebentar lalu ia melepaskannya.
“ Baiklah, akan kuterima alasanmu itu, tapi kalau masalah kutukan itu, kau tidak usah mencarinya lagi.” Katanya sambil tersenyum licik karena ia melihat tanda kutukannya itu sudah berada di tangan ketua tersebut.
“Memangnya kenapa?” tanyanya yang tidak mengetahui kalau ia sudah terkena kutukan itu.
Lalu, ia mendekati ketua tersebut sambil mengipaskan kedua payungnya untuk menghilangkan bercak darah pada kedua payungnya dan memasukkan kedua payung ke dalam sarung payungnya. “Karena kau sudah mendapatkannya.” Katanya sambil jongkok dengan memperlihatkan ekspresi kejamnya dan jarinya menunjuk ke tanda kutukan yang ada di tangan kiri ketua tersebut.
“Apa!” ia pun kaget setelah ia melihat tangan kirinya terdapat sebuah gambar sayap yang dicoret, tanda seperti itu sama dengan milik Deco. Tidak hanya dia saja yang terkejut, mereka berlima yang sedang bersembunyi dan mengamati Reyoura dan Deco juga terkejut, karena melihat tanda kutukan yang Deco katakan sebelum terjadinya pertarungan yang mengerikan.
Ketika kedua orang yang mengamati dua sepupu itu, ia melihat ketua yang berada di sana. Mereka juga mengenali ketua yang ketakutan itu. “Hei Benn, apa kau mengenal seseorang yang ketakutan itu?” kata orang kedua yang memanggil temannya itu Benn, dan Benn sendiri juga sudah mengenal lama dengan orang itu. “Ya, namanya adalah Berengario Di Pierantonio. Nama yang cukup sulit disebut loh, Brandis.” Kata Benn sambil menoleh ke arah orang kedua yang ia panggil Brandis, dan mereka berdua melanjutkan pengamatan tehadap Reyoura dan Deco.
Reyoura mulai menjelaskan tentang kutukan yang ketua itu dapatkan dari sengatan listrik sebelumnya. Namun, ia masih tidak percaya kalau Reyoura yang menciptakan kutukan tersebut dan mengganggapnya berbohong. Tetapi, ia tidak mengetahui tentang jebakan yang Reyoura buat itu terdapat kutukan yang ia cari untuk seseorang yang memintanya.
Namanya adalah Air Trap, itu merupakan jebakan yang ia pasang di atas langit untuk mencegah musuhnya terbang tinggi. Disana, ia memasang listrik untuk menyerang musuh di atas yang sudah ditanami sebuah kutukan yaitu AntiFly, sebuah kutukan yang Reyoura ciptakan sekitar dua tahun lalu.
“Apa kau sudah tahu itu?” tanyanya.
“Ya, aku tahu itu. Tapi, itu berbeda dari yang ku bayangkan. Lagian, banyak yang bilang kalau teknik itu harus menggunakan elemen angin sebagai elemen dasar?” ujar si Ketua itu.
“Eeeh… Masa, setahuku bukan seperti itu.” Sambil menunjukkan wajah polosnya.
“Ya, memang kau tidak tahu tentang itu, teknik yang kau gunakan bukanlah teknik yang ku maksud.” Kata Ketua itu yang sebenarnya bukan ketua yang aslinya, melainkan hanya suruhan dari ketua yang aslinya yang berada di akademi.
Reyoura yang sedikit geram mendengar perkataan si ketua tersebut, dan menganggap ketua itu paling benar di depan orang yang menciptakan teknik Air Trap. “Justru itu yang membuat orang salah paham tentangnya! Banyak orang yang tidak tahu apa-apa tentang itu. Terlebih lagi, kau benar-benar tidak mengerti tentang itu.” Sambil menunjuk ke wajah si ketua tersebut.
“Apa kau bilang!” tubuhnya pun terdiam ketika Reyoura menunjuk dirinya.
Reyoura pun sontak bertanya kepada ketua tersebut tentang isi gulungan yang sempat dicuri oleh sekelompok orang jahat dari tangan kakeknya. “Lagian, apa kau tahu isi gulungan teknik itu? Tidak tahu bukan?” ia yakin kalau ketua tersebut tidak tahu isi dari gulungan yang ia tulis mengenai kutukan yang ia buat.
Ternyata benar dengan apa yang dibilang Reyoura, ketua tersebut tidak mengetahui isi dari gulungan itu. “Memang aku tidak tahu. Tapi, apakah kau tahu isinya.” Katanya sambil menanyakan hal yang sama kepada Reyoura.
Ia pun mengganggukkan kepalanya, ia memberitahukan isinya tersebut kepada ketua tersebut. “Hanya coretan anak-anak.” Ucapnya, dan semua orang yang di sana, termasuk kelima orang yang bersembunyi di sekitar mereka langsung terkejut ketika mereka mengetahui isi dari gulungan tersebut lewat mulut dari penciptanya sendiri yang tidak lain ialah Reyoura.
“Kalau kau tidak percaya. Coba kau lihat isinya.” Lanjutnya.
“Baik, akanku lihat isinya. Kalau isinya tidak sesuai dengan apa yang kau bilang tadi. Maka, aku akan menghabisimu.”
__ADS_1
Ia kemudian memanggil salah satu anggotanya untuk membawa gulungan tersebut dan membuka gulungan tersebut untuk memastikan isi dari gulungan tersebut. Reyoura mulai curiga dengan orang-orang tersebut yang mempunyai gulungan itu. Karena yang ia tahu gulungan itu berada di tangan kakeknya yang merupakan kepala sekolah di akademinya.
***