Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang

Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang
2. Teman


__ADS_3

Pada saat ini, Reyoura belajar di suatu akademi. Namanya akademi Brookmount. Disana terdapat banyak murid yang berbakat dan juga tidak. Mereka berusaha keras untuk menggapai impiannya masing-masing.


Begitu pula dengannya, ia juga sedang berusaha keras untuk menggapai impiannya untuk menjadi seorang petualang karena dirinya ingin sekali berpetualang ke penjuru kota dan melihat hal yang tidak pernah dilihat sebelumnya ketika ia masih tinggal di desa.


Disana Reyoura sering kali mendapatkan masalah dengan murid lain. Oleh karena itulah reputasinya Reyoura menjadi buruk di sekolah dan merasa diremehkan oleh murid lainnya.


Disaat itu ada seseorang yang ingin bertemu dengannya karena sudah ditolong oleh Reyoura sebelumnya. Orang itu datang menemuinya untuk menggucapkan terimakasih kepada Reyoura karena sudah ditolong olehnya.


“Hei, apakah kamu yang bernama Reyoura?” dengan cepat ia menemui orang yang ia cari sambil berharap kalau ia tidak salah orang.


“Iya, itu aku. Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu. Apa kita pernah bertemu?” Reyoura yang kaget dan bingung dengan orang di depannya. Lalu, orang itu memperkenalkan dirinya kepada Reyoura.


“Iya, kemarin setelah pulang sekolah. Sebelumnya aku ingin bilang terimakasih kepadamu yang sudah menolongku kemarin dari murid-murid senior. Dan namaku adalah Gilardino Felix Forte. Panggil aja aku Dino. Salam kenal.” Ternyata, orang dengan tampang yang biasa saja dan rambutnya yang berwarna coklat yang ia tolong kemarin berada di depannya. Ia berasal dari keluarga Forte yang merupakan keluarga bangsawan.


“Oh, sama-sama. Salam kenal. Namaku Reyoura Octovian. Panggil aja aku Oura. Senang berkenalan denganmu, Dino.” Reyoura memperkenalkan dirinya kepada Gilardino.


“Senang berkenalan denganmu juga, Oura.” Dengan tersenyum lebar di wajahnya.


Sejak saat itu, mereka menjadi teman sekaligus sahabat karena mereka sangat akrab di sekolah maupun diluar sekolah. Terlebih lagi, Mereka sering melakukan kegiatan bersama-sama seperti belajar, berlatih pedang dan sihir, bermain dan makan siang di sekolah. Dan di sekolah, mereka berdua sama-sama diremehkan oleh murid-murid di sekolah.


Namun, mereka membuktikan bahwa yang lemah akan selalu punya cara untuk mengalahkan yang kuat. Itu terbukti setelah mereka mengalahkan kedua murid senior yang mengganggu Gilardino kemarin di pertandingan resmi. Ternyata, kekuatan dari Gilardino lumayan kuat sejak bertemu dengan Reyoura.


Pandangan murid-murid di sekolah tentang mereka berdua langsung berubah dari yang diremehkan menjadi yang dipuja-puja setelah melihat pertandingan tersebut.


Ada murid yang ingin mendekati mereka dan ada juga yang ingin menantang mereka untuk bertanding. Salah satunya ialah Rafael Jose von Haven dan sahabatnya semasa kecilnya yaitu Bernard Berlin, lalu sepupu sekaligus musuh bebuyutan Reyoura sejak kecil yaitu Deco Schneider.


***


Pada keesokan harinya, ketika mereka pergi ke sekolah bersama. Mereka bertemu dengan dua orang tersebut yang merupakan murid dari sekolah yang sama. Dua orang tersebut memang sengaja menunggu Reyoura dan Gilardino di sana.


“Hei, apa kalian kenal dengan Reyoura dan Gilardino?” Tanya dari salah satu seorang yang berada di depan mereka.


“Tentu saja. Memangnya ada perlu apa dengan kami berdua?” Jawab dari Gilardino.


“Perkenalkan namaku Rafael Jose von Haven dan orang yang berada disampingku ini adalah Bernard Berlin. Panggil saja aku Jose.” Ternyata mereka berdua adalah Rafael dan Bernard yang ingin menantang Reyoura dan Gilardino untuk bertarung.


“Aku Bernard Berlin. Panggil saja aku Bernard. Senang bertemu kalian.”


“Aku Reyoura Octovian. Dan dia adalah Gilardino Felix Forte. Panggil saja aku Oura. Dan kami juga senang bertemu kalian. Lalu, apa yang membawa kalian kemari?”


Dengan penuh percaya diri Rafael berkata “Kami ingin menantang kalian untuk bertarung melawan kami.” Dan menunjuk ke arah Reyoura dan Gilardino.


“Apakah kalian mau menerima tantangan dari kami?”


Tentu saja, mereka menolaknya. Karena mereka tidak ingin menjadi perhatian banyak orang dan mendapat masalah nantinya. Namun, setelah mereka meninggalkan Rafael dan Bernard disana.


Setelah itu Reyoura dan Gilardino pergi ke kelas mereka. Dan sejak saat mereka bertemu dengan dua orang tersebut. Mereka terus diteror supaya mau menerima tantangan dari dua orang yang mereka temui tadi di depan gerbang sekolah.


Meskipun mereka diteror secara terus-menerus, mereka tetap saja menolaknya untuk bertanding dengan alasan yang sama. Mulai dari hari dimana mereka bertemu dengan dua orang tersebut sampai sepuluh hari kedepan, mulai dari pagi hingga sore. Tetapi, pada akhirnya mereka terpaksa menerima tantangan dari dua orang itu.


“Anu.. apa kalian masih ingin menantang kami untuk bertanding?” Nampak kebingungan dari Reyoura terhadap mereka yang terus mengikuti dan menerornya agar mau menerima tantangan dari mereka.


“Tentu saja, kami ingin tahu sekuat apa sih kalian berdua?” Rafael memberikan alasan dibalik tingkah lakunya tersebut.

__ADS_1


“Karena, beberapa murid bilang bahwa kalianlah yang paling kuat. Tapi, menurutku, kalian tidak cukup kuat untuk mengalahkan kami. Aku benarkan?” Dengan percaya dirinya, Bernard berbicara seperti tadi.


“Haduh, seenaknya saja kalau ngomong tuh.” Sambil menghela nafasnya Gilardino berpikir seperti itu.


“Nampaknya sih.” Pikirnya si Reyoura sambil memikirkan apa yang Gilardino pikirkan.


“Baiklah kami terima tantangan kalian untuk kali ini!” Ia menerima tantangan dari mereka berdua.


Di saat sepulang sekolah, mereka memulai pertandingannya. Lawan mereka sangat tangguh dan cepat dalam melancarkan serangannya. Terlebih lagi, kerja sama mereka cukup baik dalam menyerang maupun bertahan. Reyoura dan Gilardino yang sedang bertahan terlihat kewalahan ketika menghadapi mereka.


“Kekuatan mereka benar-benar hebat.” Gilardino yang terpukau melihat kekuatan dari mereka.


“Benar sekali. Terlebih lagi, kerja sama mereka dalam menyerang dan bertahan, sangat rapi tanpa ada kesalahan sedikitpun. Namun, kita tidak akan kalah begitu saja, bukan?” sambil membantu Gilardino yang kesusahan untuk menahan semuanya.


“Benar juga apa yang kamu bilang, Oura. Lalu, apa rencana kita kali ini?” Tanya Gilardino sambil menyerang balik dan kembali menghampiri Reyoura.


“Untuk saat ini, kita ikuti saja rencana yang kita buat.” Jawab Reyoura sambil mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan besar-besaran.


“Baiklah.” Gilardino yanng juga mengambil ancang-ancang untuk bertarung lebih lama.


***


Pada saat tim lawan mulai lengah. Mereka mulai melancarkan strategi yang mereka rencanakan sebelumnya. Mereka terus melakukan serangan demi serangan kepada tim lawan sehingga membuat jarak agar kedua orang itu terpisah.


“Apa!” Bernard yang terlihat kaget. Lalu, menghindar dari serangan kilat dari Reyoura.


“Sial, mereka sengaja membuat kita terpisah.” Ia berlari ke arah yang berlawanan dengan Rafael sambil menghindari serangan dari Reyoura yang berada di depannya.


Melihat lawannya mulai serius melawan mereka, konsentrasi tim mereka pun mulai pecah karena serangan tiba-tiba dari lawan mereka. Kerja sama tim mereka juga jadi berantakan karenanya. Rafael yang sudah terpancing emosinya langsung menyerang ke arah Gilardino yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya.


“Wush..”


“Kalau itu memang keinginan mereka, akan kulayani mereka satu persatu!.” Sambil bersiap untuk menyerang Gilardino dari jarak yang sangat dekat. Namun, serangannya itu berhasil ditahan oleh Gilardino.


Kedua tim saling melancarkan serangan demi serangan. pertandingan pun menjadi lebih heboh ketika kedua tim saling beradu satu sama lain. Keempat orang tersebut mulai menggila ketika melancarkan serangan masing-masing.


Tapi di satu sisi, mereka berempat terlihat cukup kelelahan. Terlebih lagi, mereka sangat sulit untuk menggerakan kaki mereka masing-masing. Akan tetapi, mereka masih ingin melancarkan serangan-serangan hebat lainnya.


Disaat tim lawan mulai kelelahan karena sudah melakukan serangan terkuat mereka. Giliran tim Reyoura yang melancarkan serangan terkuat mereka untuk mengakhiri pertandingan yang menegangkan ini.


“Inilah saatnya, Power Mode!!” Reyoura mengeluarkan teknik yang berbeda dari sebelumnya. Namun, itu bukanlah teknik yang selalu ia pakai.


“Oh, jadi itu teknik yang ia gunakan?” kata Bernard.


“Baiklah, aku tidak akan menahan diri lagi.” Ia telah bersiap untuk pertarungan jarak dekat dengan Reyoura sambil menyiapkan kedua tinjunya dan berlari ke arah Reyoura.


“Wush..”


“Puk..”


“Derr..”


“Sreet..”

__ADS_1


“Duarr..”


Pertarungan Reyoura dan Bernard pun sangat menegangkan. Walaupun, tubuh Bernard besar seperti beruang. Namun, ia kalah melawan Reyoura dengan beberapa serangan yang mengenai tubuhnya dengan telak. Sementara itu, Gilardino saling beradu pedang dengan Rafael yang dijuluki “Si Ahli Pedang” di sekolah.


“Akan ku tunjukkan teknik rahasiaku.” Dengan sigap Rafael mengeluarkan tekniknya sambil mengusap pedangnya dari ujung pedangnya.


“Tebasan Angin!” dan ia berlari ke arah Gilardino dengan sangat cepat seperti angin.


Namun, Gilardino juga tidak mau kalah dan ingin mengeluarkan teknik rahasianya untuk mengakhiri pertarungannya dengan Rafael.


“Tusukan Lebah!” Gilardino juga berlari ke arah Rafael yang berlari menuju dirinya dengan ujung pedang yang siap untuk menusuk lawannya.


“Wush..”


“Sreet..”


Pada akhirnya Rafael dan Gilardino pun tumbang secara bersamaan. Namun, peraturan pada pertandingan kali ini adalah tim yang bertahan sampai selesai adalah pemenangnya. Tim Reyoura dan Gilardino yang memenangkan pertandingan kali ini. Dikarenakan Reyoura yang masih berdiri disana. Jadi, merekalah pemenangnya.


***


Beberapa minggu kemudian, sejak mereka berempat bertarung. Mereka kembali menemui Reyoura dan temannya pada saat jam istirahat di sekolah. Hanya saja mereka ingin meminta maaf kepada Reyoura dan Gilardino karena sudah bicara yang tidak pantas kepada mereka berdua.


“Akhirnya ketemu juga. Kalian berdua.” Sambil terengah-engah mereka menghampiri Reyoura dan Gilardino.


“Eh, kalian mau ngapain sih?” Dan Reyoura pun mulai terkejut dengan kedatangan mereka.


“Anu, kami berdua ingin bilang sesuatu tentang kemarin.” Karena mereka merasa bersalah. Jadi, mereka ingin meluruskan masalah itu.


“Lalu, apa yang ingin kalian bicarakan disini?” Reyoura pun ingin mengetahui alasan dibalik itu semua.


Mereka mulai gugup saat Reyoura bertanya alasannya kepada mereka berdua. Jadi, mereka berbisik-bisik sambil menjauhi Reyoura dan Gilardino yang asik makan di kantin.


“Kamu saja yang bilang Bear.” Rafael yang tengah berbisik dengan Bernard. Karena tubuh Bernard besar seperti beruang, jadi Rafael memanggilnya Bear.


“Eh? Kenapa harus aku? ‘kan yang punya ide ini dari awal ‘kan kamu. Jose.” Bernard pun menjawabnya sambil berbisik ke Rafael.


Reyoura yang resah melihat tingkah laku mereka berdua yang dianggap kurang sopan terhadap dirinya dan Gilardino segera menghabiskan makanan mereka dan buru-buru pergi meninggalkan mereka berdua.


“Baiklah, kalau kalian tidak mau membicarakannya sekarang tidak masalah kok.” Ujarnya dengan sopan.


“Lagipula, kami tidak ingin berurusan dengan kalian lagi.” Sambil bersiap untuk pergi dari sana.


Namun, mereka menahan Reyoura dan Gilardino untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan. Reyoura akhirnya kembali duduk dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di bangku yang ada di depan mereka.


“Tunggu dulu, kami masih belum selesai dengan kalian.” Kata keduanya.


“Duduk dan bicaralah, kalau bisa langsung ke intinya saja.” Sambil duduk dan menggerakan tangannya untuk mempersilahkan mereka berdua duduk.


“Sebenarnya, kami mohon, maafkan kami, karena telah mengejek kalian lemah tanpa tahu kekuatan kalian yang sebenarnya.” Mereka menjeda perkataannya sambil menundukkan kepala mereka secara perlahan, mereka pun meminta maaf kepada Reyoura dan Gilardino dengan ketulusan hati mereka.


Melihat mereka yang menundukkan kepalannya tepat di depan Reyoura dan Gilardino, Reyoura dan Gilardino terdiam untuk beberapa saat. Reyoura yang mendengar permohonan maaf mereka akhirnya diterima, meskipun Gilardino masih belum memaafkan mereka karena tingkah laku mereka tadi. Pada akhirnya ia memaafkannya karena Reyoura mau memaafkan mereka berdua. Ia pun memperlihatkan wajahnya yang tersenyum lebar kepada mereka berdua.


“Angkat kepala kalian berdua, karena aku sudah memaafkan kalian berdua.” Reyoura berdiri dan menberikan tangannya untuk menawarkan perdamaian sekaligus pertemanan kepada mereka berdua.

__ADS_1


Tentu saja mereka menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Pada akhirnya keduanya menjadi bagian darinya dan membicarakan banyak hal disana. Satu minggu setelah mereka menjalin pertemanan itu, mereka bertiga sedang melihat Reyoura yang sedang bicara dengan seseorang di depan gerbang sekolah. Siapakah yang mengajaknya bicara?


***


__ADS_2