
Saat berada di penjara bawah tanah,
Werner, raja Igor, dan beberapa anggota keluarga kerajaan lainnya,
Mereka berjalan melewati penjara yang dijaga oleh para penjaga di sana, sesampainya mereka di salah satu penjara tersebut, Werner melihat ada iblis yang ingin menyerang dirinya, namun, dirinya terikat oleh rantai, jadi dia tidak bisa bergerak.
“Yang Mulia, apa ini murid yang anda maksud?” tanya Werner yang terlihat kaget sekaligus ketakutan ketika melihat iblis di dalam penjara. “Ya itu benar, dan kami masih mencari keberadaan mereka.” Katanya, dan ia kembali berjalan menuju ruang otopsi, dimana salah satu muridnya tengah dijadikan penelitian oleh para dokter kerajaan.
Sesampainya tiba di tempat yang ingin mereka datangi, Werner terkejut dengan salah satu iblis yang masih menggunakan seragam akademinya, terlebih lagi ia sangat mengenal iblis itu.
“Apa anda mengenalnya?” tanya raja Igor, dan itu langsung dijawab dengan anggukan dari Werner. “Ya, dia adalah murid yang kupilih sendiri untuk menjadi OSIS, karena kupikir itu akan membuat akademiku lebih baik jika ada dia…” Sambil mengasihani dirinya dengan wajah murungnya.
Lalu, datanglah seorang pemimpin dari tim pemburu iblis yang bertugas saat itu. “Yang Mulia, bisakah anda ikut dengan kami?” katanya, dan raja Igor hanya menganggukan kepalanya dan mengajak Werner untuk mengikutinya bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Saat mereka masuk kedalam ruangan tersebut, mereka dikejutkan dengan mayat iblis tersebut, sebagian dari anggota keluarganya menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau busuknya.
“Jadi, apa yang membuatmu mengajakku masuk kemari?” sambil menutup hidungnya. “Yang kami tunjukkan adalah ini.” Sambil memperlihatkan luka pada perut iblis yang mereka teliti. Seketika Werner pun terdiam karena ia tahu siapa yang membunuh iblis tersebut.
Pemimpin itu yang melihat Werner terdiam seperti batu mulai mengajaknya bicara. Ehem, tuan, apa tuan tahu sesuatu?” tanyanya yang membuat Werner terkejut dalam diamnya. “Eh, ah iya, terus?” karena terkejut, ia pun jadi tidak tahu mau berkata apalagi. “Jadi, apa tuan tahu siapa yang menghabisi semua iblis saat itu?” dan pemimpin itu langsung menanyakan untuk kedua kalinya.
Lalu, Werner melihat luka dari iblis itu dan berpikir kalau luka tersebut berasal dari tebasan pedang. Namun, setelah ia pikir-pikir, luka tersebut berasal dari payung. Dan semua orang yang mendengar jawaban dari Werner tersebut merasa tidak percaya dengan omongan Werner tadi.
__ADS_1
Namun, apa yang dilihat oleh Werner, memanglah seperti itu, karena ia pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, meski mereka tidak mempercayainya. “Lalu, apa yang membuatmu yakin, kalau orang ini membunuh iblis menggunaka sebuah payung?” tanya raja Igor yang terlihat penasaran dengan kesimpulan yang dibuat Werner.
“Mungkin… karena aku pernah melihat luka ini sebelumnya.” Jawabnya.
Seketika semua orang di sana terdiam dengan perkataan Werner barusan, lalu putri dari kerajaan Fribard mulai menghampirinya dan bertanya sesuatu hal kepada Werner.
“Apa tuan tahu, siapa pria payung tersebut?” dengan rasa penasaran yang terus berada di dalam pikirannya tentang pria payung yang menyelamatkan dirinya dan menghancurkan kerajaannya sendirian.
“Sudah pasti, anak itu.” Batinnya si Werner yang terus memikirkan cucunya dengan kebod*hannya. “Hmm, iya aku tahu siapa dia.” Katanya sambil melihat luka iblis itu yang mengingatkan dirinya dengan iblis di tahun lalu.
Mendengar pernyataan tersebut, putri kerajaan Fribard sangat senang, karena ia ingin sekali menemuinya. “Sungguh? Apa tuan bisa mempertemukan dia denganku?” tanyanya yang terlalu bersemangat hingga membuat semua terdiam untuk sementara. Namun, Werner langsung menyetujuinya untuk mempertemukan dirinya dengan orang yang ia maksud itu cucunya, Reyoura.
Di perjalanan mencari ketiga iblis,
Reyoura dan yang lainnya masih mencari keberadaan ketiga iblis tersebut yang melarikan diri. Ketiga iblis tersebut berlari memasuki hutan dan mencari jalan untuk kembali ke kekaisaran mereka.
“Hei, Reyoura. Apa masih belum ketemu juga?” tanya Gilardino yang sedang menahan muntah, karena ia takut dengan ketinggian. “Tidak, masih belum.” Jawabnya dengan santai sambil melihat peta.
Saat Reyoura sedang serius melihat peta, salah satu naga miliknya melihat ketiga iblis yang sedang berjalan dan beristirahat di gua. “Oooh, tenanglah sedikit, Darko.” Kata Reyoura sambil menenangkan naga hitam yang ditungganginya, ditambah lagi teman di belakangya terlihat panik.
“Sepertinya, nagaku sudah menemukan mereka, jaraknya tidak terlalu jauh dengan kita.” Lanjutnya sambil memberi informasi tentang keberadaan ketiga iblis tersebut. Lalu, bukannya langsung mengepung ketiga iblis tersebut, Reyoura malah asik dengan melihat mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Sebenarnya, ia tidak ingin menyerang ketiganya, tetapi ia ingin tahu kemana tujuan mereka. Lalu, ketika Reyoura melihat jalan yang dilewatinya dan di peta, itu menuju ke kekaisaran Abyss.
“Oh, jadi mereka ingin pergi ke sana.” Dengan senyum liciknya, yang membuat teman-temannya sedikit takut dengan melihat wajahnya. “Sepertinya, tujuan kita berubah.” Batinnya sambil tersenyum licik dan menyeringai di wajahnya.
“Jadi, apa kita harus mulai mengepungnya, Oura? Mumpung mereka masih dekat dari sini.” Ujar Deco yang bersiap untuk turun dan menangkap mereka. Namun, Reyoura memberi perintah ke kedua naga miliknya untuk melewati ketiga iblis tersebut yang sedang beristirahat.
“Lah? Kok? Kok malah terus jalan?” tanya Salazar yang kebingungan, begitu pula dengan yang lainnya, mereka tidak tahu apa Reyoura pikirkan saat ini. Yang mereka tahu tujuan Reyoura adalah untuk mengejar ketiga iblis tersebut.
Padahal tinggal sedikit lagi untuk menangkap ketiganya, namun nyatanya Reyoura menghiraukannya dan pergi ke suatu tempat. “Hoi, Oura?! Kita mau kemana sih?!” tanya Rafael yang menggerutu.
“Tenang saja, kita pasti sampai di tujuan kita.” Jawab Reyoura. “Tapi, memangnya kita mau kemana?” tanya Rafael. “Kita akan pergi ke kekaisaran mereka.” Jawabnya dengan santai, tapi ketika mendengar Reyoura bicara seperti itu, bulu kuduk mereka sekektika merinding.
“Eh? Bukannya kau ingin mengejar ketiga iblis tadi? Kok malah ke kekaisaran mereka?” tanya Bernard yang bingung dengan jalan pikir Reyoura. “Ya, sebenarnya sih begitu, tapi mereka juga ingin pergi ke sana bukan? Jadi, kita harus memberi hadiah yang terbaik buat mereka.” Sambil menoleh ke belakang dan tersenyum lebar di wajah Reyoura.
“Sepertinya aku tahu apa yang kau maksud, Oura.” Batin Deco sambil tersenyum tipis.
“Oi, Oura. Aku punya pertanyaan untukmu.” Kata Ascot yang penasaran dengan tujuan Reyoura yang sebenarnya. “Apa yang membuatmu ingin sekali membunuh para iblis?” lanjutnya dengan pertanyaan yang membuat Reyoura terdiam untuk sementara.
Dan akhirnya Reyoura pun tidak menjawab pertanyaan tersebut dan lebih memilih diam, karena alasan yang ia gunakan sepertinya akan membuat yang lainnya berpikir bahwa dirinya menakutkan. Dan ia juga akan mencari alasan yang bagus untuk menjawabnya.
***
__ADS_1