
Reyoura mulai mengamati pergerakan dari penjaga gerbang tersebut dan mencari kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam sana. Namun, disaat Reyoura ingin menyelinap masuk. Ada puluhan iblis yang membawa manusia yang diculik dan dijadikan tawanan oleh para iblis itu. Melihat kekejaman para iblis itu, Reyoura sangat kesal dan ingin membunuh iblis tersebut dan menyelamatkan mereka yang ditawan oleh para iblis.
Ketika ia mempunyai kesempatan untuk masuk ke dalam sana. Sekejap ia melihat ada beberapa manusia yang diculik oleh paa iblis untuk dijadikan budak oleh mereka. Saat salah satu dari manusia yang mereka culik terjatuh ke tanah.
“Dugh..”
“Hoi! Siapa yang menyuruhmu tidur… Hah!” marahnya salah satu iblis yang melihat manusia itu terjatuh dan mengambil cambuk dari pinggangnya.
Ia dan seluruh rekannya langsung mencambuk manusia itu hingga berdarah-darah di tubuhnya. Reyoura yang melihatnya pun merasa geram dengan perlakuan yang mereka berikan kepada manusia yanng mereka culik.
Setelah mereka menghukum manusia itu, mereka kembali berjalan menuju pintu gerbang yang ada di sana. Mereka pun juga menyeret manusia yang mereka cambuk tadi dengan kasar. Reyoura juga melihat ada beberapa wanita yang ikut diculik oleh mereka.
Begitu sampai di depan gerbang, para penjaga tersebut menggoda beberapa wanita yang diculiknya dan menyentuh tubuhnya dengan tangan mereka dengan nafsunya. Reyoura semakin kesal dengan sifat mereka yang begitu tidak senonoh dengan para wanita itu.
“Melihatnya saja aku sudah kesal, apalagi kalau mereka melakukan hal yang tak senonoh dengan wanita-wanita itu.” Geramnya Reyoura sambil mengeluarkan kedua payungnya dari sarung payungnya untuk bersiap melawan mereka.
Namun, Reyoura teringat kalau ia membawa buku yang ia temukan di bangunan tua sebelumnya dan ia ingin mencoba mantra baru yang ada di buku tersebut. Ia mencari mantra yang cocok untuk menyerang mereka tanpa ketahuan oleh mereka.
“Oh ya, bagaimana kalau aku menggunakan mantra yang ada di buku saja.” Ujar Reyoura sambil memasukkan kedua payungnya ke sarungnya dan mengeluarkan buku dari tasnya.
“Sekarang, mana yang cocok yah, untuk awalan kali ini.” Lanjutnya sambil mencari mantra yang ingin ia gunakan.
Reyoura bingung karena banyaknya mantra yang ada pada buku yang ia bawa. Tetapi, matanya langsung tertuju ke arah mantra tersebut…
“Invisible Flame… Mantra dengan api yang tidak terlihat oleh musuh. Namun, bisa dilihat oleh si pengguna.” Isi dalam buku tersebut.
“Sepertinya ini cocok untuk penyerangan kali ini.” Ucapnya sambil melihat situasi sekarang.
Reyoura langsung mencoba mantra tersebut. “Invisible Flame” mantra yang diucapkan oleh Reyoura dan itu berhasil dalam percobaan pertama. Api yang tak terlihat oleh mata pun ada di tangannya. Reyoura langsung membidik salah satu iblis yang ada di sana.
__ADS_1
“Nampaknya, aku tidak bisa menjelaskannya, karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada teman-temanku nanti.” Pikirnya dalam hati sambil melihat api di tangannya.
“Baiklah, saatnya kalian mati di tanganku.” Katanya dengan senyum dan tatapannya yang begitu licik.
***
Di tengah perjalanannya, Albert, Milady, dan beberapa pasukan yang mengikuti mereka berdua terus berlari dengan kecepatan penuh. Saat mereka sedang terburu-buru, mereka melihat ada beberapa iblis di depan mereka. Namun, iblis tersebut sudah mati dan beberapa dari iblis tersebut ada yang terpenggal kepalanya. perjalanan mereka pun terhenti karena ada yang aneh di sekitar mereka.
“Semuanya, berhenti!” perintah dari Albert yang memimpin perjalanannya mereka.
Seluruh pasukan berhenti mengikuti perintah dari Albert, dan ia meminta Zidan untuk menemaninya untuk memeriksa salah satu iblis yang terpenggal kepalanya itu. Mereka berdua berjalan menuju iblis itu untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mereka.
“Zidan, ikut denganku, dan yang lainnya tunggu disini dan bersiap kalau terjadi sesuatu!”
“Baik, Tuan!” jawab semua pasukan dan Zidan menggangguk.
Ketika Albert dan Zidan turun dari kuda mereka, mereka mendekati iblis tersebut dengan hati-hati. Mereka melihat kematian yang sangat tragis di depan mereka berdua. Namun, mereka juga melihat mayat iblis lainnya di depan mereka dan darah dimana-mana yang membuat mereka tidak tahan dengan bau busuknya.
“Sepertinya ini sudah membusuk beberapa hari yang lalu. Tapi, aku yakin kalau ini adalah perbuatan seseorang?” jawabnya. Tetapi, ia berpikir kalau di sini terjadi sesuatu di sekitar mereka.
“Ya, aku pikir juga demikian. Tapi, intinya di sini telah terjadi pertempuran yang hebat. Aku merasakannya.” Ujar Albert.
“Ya, aku setuju denganmu. Tuan.”
Dan mereka berdua pun langsung menjauhi sekumpulan mayat itu dan melanjutkan kembali perjalanan mereka dengan kuda.
***
Di dekat gerbang kerajaan Fribard
__ADS_1
Reyoura sudah mempersiapkan untuk memulai kekacauan yang akan ia lakukan agar para iblis tersebut panik dan ketakutan ketika ia melihat ada yang memulai serangannya itu.
“Baiklah, aku mulai yah.” Ucapnya sambil bersiap untuk melempar bola api yang tidak terlihat oleh siapapun kecuali Reyoura.
“Invisible Flame!!” ia pun langsung melempar bola api tersebut dan mengarah ke salah satu iblis yang ada di sana.
“Dugh..”
Memang serangannya itu tepat mengenai salah satu iblis itu, tapi karena mereka tidak melihat api yang Reyoura lempar, mereka pun mulai mengabaikan serangannya tadi dan melanjutkan berjalan menuju memasuki ibukota Fribard dengan para penjaga iblis tadi.
“Eh? Apa cuma segitu hasilnya, atau memang akunya aja yang kurang dalam perapalan mantra ini?” ungkap batinnya sambil mengerutkan keningnya.
Namun, setelah beberapa langkah dari tempat iblis itu jalan. Iblis yang terkena bola api yang dilempar Reyoura, mulai merasakan panas di dalam tubuhnya.
“Aaaaarrrrgggghhh!” teriak iblis yang tubuhnya kepanasan akibat serangan Reyoura, rekan yang ada di dekatnya seketika panik ketika iblis yang ada di dekatnya merasa kepanasan seperti ada yang membakar bagian dalam tubuhnya tersebut. “Ke-kenapa kau?” katanya sambil mendekati iblis itu.
Lalu, tubuh iblis tersebut mulai mengeluarkan api dari dalam tubuhnya, itu yang membuat iblis lain merasa ketakutan ketika melihat rekannya terbakar di hadapan mereka. Reyoura yang sempat ragu dan mencoba untuk melakukannya sekali lagi, namun ia melihat kembali dan merasa kalau dampaknya begitu besar, sehingga ia sendiri takut untuk menggunakannya kembali.
“Uuuuuh, jadi ini dampaknya, benar-benar mengerikan.” Katanya, dan tubuhnya pun gemetaran ketika melihat kejadian ini.
“Berawal dari kawan, akhirnya menjadi lawan. Itulah kata yang pantas untuk mantra ini.” Batinnya seorang Reyoura ketika mencari kata yang bagus untuk mantra ini.
Lalu, ia melesat pergi ke arah mereka yang tidak siap untuk bertarung, sebagian dari mereka sudah dibunuh oleh Reyoura.
“Wush..”
“Srett..”
“Croot..”
__ADS_1
Beberapa dari iblis yang masih tersisa, ingin menyerang Reyoura yang datang sendiri untuk melawan mereka. “Seraaaaang!” namun, mereka tetap kalah dengannya, meskipun mereka menang jumlah, itupun tidak berpengaruh terhadapnya.