Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang

Si Pria Payung Yang Ingin Menjadi Petualang
8. Awal Yang Buruk


__ADS_3

Reyoura dan yang lainnya langsung menyetujui hal itu. Dan tim darinya bertambah anggotanya menjadi sepuluh karena ada tiga anggota baru dari komite disiplin. Sesuai janji mereka, mereka akan memberikan informasi tentang tim OSIS. Semuanya terkejut ketika mendengar informasi dari komite disiplin.


“Apa! Ti-ti-tiga ratus kau bilang?!” Brandis yang terkejut dengan angka tersebut.


“Ya, benar. Tiga ratus murid bergabung dengan OSIS.” Kata Ragnar.


“Yang benar saja. Sebanyak itu?” Gilardino pun merasa kurang percaya diri.


“Ya, dan juga ada beberapa dari klub kami yang bergabung ke sana.” Kata Salazar selaku ketua komite disiplin.


Setelah apa yang mereka dengar tadi, semuanya langsung terdiam sejenak dan kurangnya percaya diri dari mereka. Tapi, tidak terkecuali untuk Reyoura dan Deco yang merasa percaya diri dengan kekuatan yang mereka punya.


“Hei Oura, nampaknya tidak mungkin menang deh.” Kata Rafael.


“Tenang saja, pasti ada cara untuk menang.” Reyoura yakin kalau timnya akan menang melawan OSIS.


“Ya itu benar. Jangan menyerah gitu aja.” Tegasnya Deco mengucapkan kata itu.


“Mungkin ada beberapa anggota mengkhianatinya. Jadi, bisa dibilang kita sedang beruntung ataupun sebaliknya.” Gumamnya Reyoura dengan penuh kekhawatiran akan hal ini karena ia menyadari ada yang aneh dari tim OSIS.


Setelah itu, pertandingan akan segera dimulai antara tim OSIS dengan tim Reyoura. Mereka pun tengah bersiap-siap untuk menyerang dan mengalahkan tim lawan. Namun, tiga puluh menit sebelum pertandingan dimulai. Beberapa orang dari tim OSIS membunuh rekan timnya. Sudah banyak yang mereka bunuh sebelum pertandingan dimulai.


Dan hanya dalam waktu yang sedikit mereka membunuh lebih dari seratus murid yang berpartisipasi. Mereka itu bukanlah seorang manusia melainkan seorang iblis yang menyamar sebagai manusia. Kekhawatiran Reyoura pun benar-benar terjadi, karena ia sudah menyadari ada aneh di sana. 


“Si-si-siapa kalian sebenarnya!? dan apa tujuan kalian!?” kata seorang OSIS yang melihat kejadian itu.


“Oh, kami hanya ingin balas dendam kepada seseorang.” Kata salah satu anggota OSIS yang menjadi dalang dari semua kejadian ini.


“Maka dari itu kami harus membunuh banyak manusia supaya ia muncul dihadapan kami.” Lanjutnya sambil mengangkat tangan kanannya yang berubah menjadi sebuah pedang untuk membunuh orang itu.


“Ja-jangaaaannn!” teriakkan orang itu.


“Sreet….” Suara tebasan pedang tadi.


“Aku… benci dengan manusia. Termasuk… orang itu.” Ia menjeda kata-katanya.


Dengan begitu tim OSIS hanya beranggotakan sebanyak sepuluh murid. Itupun sebelum pertandingan dimulai. Dan saat pertandingan akan dimulai. Reyoura dan pasukannya kaget dengan jumlah pasukan OSIS sama dengan mereka.


Mereka berpikir bahwa OSIS masih memiliki pasukan kuat lainnya di dalam sana dan memancing mereka untuk mengeluarkan semua kemampuannya sampai mereka lelah. Namun, OSIS pun tidak menduga kalau pasukan yang mereka bawa hanya sedikit dari yang mereka tampung sebelumnya. Mereka mengira bahwa pasukan Reyoura-lah yang menyerang sebelum pertandingan dimulai. Dan mereka menaruh curiga kepada pasukan Reyoura.


***

__ADS_1


Pertandingan sudah dimulai, kedua pasukan ini saling menyerang. Kedua pasukan itu masih berusaha untuk menjatuhkan lawan. Kekuatan mereka seimbang dari segi serangan maupun bertahan. Mereka tidak mau menyerah sama sekali.


Namun, disisi lain ada beberapa orang tadi yang sudah membunuh anggota OSIS lainnya sebelum pertandingan dimulai. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari persembunyiannya. Dan mereka juga bersiap untuk menghabisi orang-orang yang sedang bertanding. Semua itu mereka lakukan hanya untuk membalaskan dendam gurunya yang sudah dibunuh oleh seorang manusia.


“Cih! Tidak mau menyerah rupanya kau!” kata ketua OSIS itu.


“Kau juga sama! Kenapa kau tidak menyerah saja?!” Reyoura juga tidak mau menyerah begitu saja ketika melawan ketua OSIS itu.


Di pertarungan lainnya…


“Sreeng…. Ting…. Duaar….” Suara dari senjata dan sihir mereka.


“Hei-hei-hei, lumayan kuat juga sihirmu itu.” Kata Berengario. Berengario Di Pierantonio yang merupakan sekretaris OSIS.


“Ya, terima kasih atas pujiannya. Itu karena aku sering berlatih.” Kata Deco.


“Ting…”


“Hmph, hebat sekali kau bisa menghindari itu.” Kata Raymond. Raymond Cuttlescar adalah wakil ketua OSIS yang sombong dengan kekuatannya.


“Maaf… apa aku boleh mengganggap itu… sebuah pujian. Jika itu benar… aku akan menerimanya….” Kata Salazar sambil terengah-engah karena ia terus bertahan dan menghindari serangannya, tanpa ada celah untuknya membalas serangannya.


“Tidak masalah. Tapi, aku akan lebih serius lagi. Jadi, bersiaplah untuk mati.” Dengan sombongnya Raymond berkata seperti ia akan menang melawan Salazar.


“Keras kepala kau ini! Baiklah akan ku buat kau mati disini!” kata Raymond.


Setelah itu, pertandingan masih berlanjut. Mereka tengah mencoba untuk menjatuhkan tim Reyoura. Kekuatan dibalas dengan kekuatan. Dan sihir dibalas dengan sihir. Itu merupakan bagian dari mereka. Terlebih lagi, diantara mereka sudah ada yang terluka saat ini. Tetapi, mereka tidak memperdulikannya dengan hal semacam itu.


Sedangkan, Reyoura dan timnya berusaha agar tidak ada korban di pihaknya. Tidak seperti OSIS, mereka justru peduli dengan rekan setimnya. Saling bekerja sama merupakan kunci untuk menang. Mereka juga ingin menyadarkan para OSIS agar tidak berbuat lebih banyak masalah. Namun, apadaya para OSIS itu sudah tersulut emosinya dengan mereka karena dianggap berbuat curang. Padahal, mereka juga tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh mereka.


“Oi! Apa kalian yang sudah menghabisi beberapa rekan kami?!” kata salah satu anggota mereka yang menuduh tim Reyoura karena berbuat curang terhadap tim OSIS.


“Apa maksudmu?! Kami tidak melakukan hal semacam itu!” jawab dari Bernard.


“Halah, jangan bohong kau! Sudah mengaku saja!.” Kata anggota lainnya yang sudah tersulut emosinya.


“Astaga.” Pikirnya Reyoura dalam hati sambil menepuk keningnya.


Meskipun tim Reyoura sudah memberitahukan kepada mereka bahwa tim Reyoura tidak bersalah. Namun, mereka masih tidak mau mempercayainya.


“Bukannya sudah kubilang tadi. Bukan kami pelakunya. Memangnya, kalian tahu darimana?” jawab Bernard.

__ADS_1


“Itu bukan urusan kalian. Pokoknya, kalian mengaku atau tidak akan ku--” kata salah satu anggota mereka yang terpotong karena melihat rekan mereka yang sedang menuju kemari.


Tiba-tiba datanglah rekan tim dari OSIS yang selamat dari para pengkhianat dan berlari sambil ketakutan. Dan ia datang untuk menyampaikan sesuatu kepada ketua OSIS itu. Dia berkata bahwa mereka harus hati-hati dengan rekan setimnya yang berkhianat dan akan segera datang kemari untuk membunuh semuanya yang ada disini.


Seketika, para OSIS pun kaget mendengar hal ini. Mereka juga tidak menyangka ada yang berkhianat dengan mereka. Dan sekelompok pengkhianat pun datang dan membuat penghalang untuk mengurung kedua tim masing-masing di tengah arena. Para pengkhianat itu bukanlah sekelompok manusia melainkan sekelompok iblis yang menyamar sebagai manusia. Mendengar hal itu, para penonton yang ada di arena mulai panik, dan berebutan untuk pergi keluar dari dalam arena.


“Magic Barrier!” mantra yang digunakan oleh orang itu untuk menutup jalan keluar mereka yang berada di tengah arena dan seketika pertandingan pun berhenti sejenak.


“A-a-apa ini? Sebuah penghalang?” kata Salazar yang bingung dengan adanya penghalang di tengah arena.


“Siapa yang membuat ini?” gumam Samm sambil berpikir siapa yang membuatnya.


“It-itu mereka! Ketua!” salah satu anggota OSIS yang selamat itu langsung menunjuk ke arah mereka yang muncul di tengah arena menggunakan teleport.


Samm yang melihatnya pun terkejut dengan apa yang ia lihat dan ia sempat tidak percaya karena mereka itu sangat dekat dengannya.


“Haloo! Apa kalian sudah bersenang-senang?!” seseorang yang baru muncul bersama anggota OSIS lainnya di arena tersebut.


“Siapa kalian sebenarnya?!” tanya Berengario sambil melindungi Samm.


“Kami hanya ingin balas dendam terhadap seseorang yang sudah membunuh guruku.” Katanya.


Kemudian, pemimpin iblis yang menyamar sebagai manusia tersebut melihat dan menunjuk jarinya ke arah Reyoura yang sedang berdiri disisi lainnya…


“Apa! Hoi kau bercanda bukan?” Raymond yang terkejut mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Reyoura dengan rasa kesal.


Reyoura pun terdiam ketika mendengar perkataan orang itu. Semua yang ada di tengah arena terkejut dengan perkataan orang itu. Namun, mereka sama sekali tidak mengetahuinya kalau orang itu merupakan seorang iblis. Hanya Reyoura yang mengetahui identitas asli para pengkhianat itu.


“Padahal ini adalah masalahmu. Tapi, kenapa kami yang jadi pelampiasan mereka.” Salah satu anggota OSIS berjalan menuju Reyoura.


“Hoi, jawablah pertanyaanku. Apa kau sudah membunuh seseorang?” sambil mengarahkan tombaknya ke leher Reyoura.


“Hmph, singkirkan senjata itu dariku.” Dengan cueknya.


Lalu, ia berjalan sambil mengambil sesuatu dari Dimensional Space miliknya…


“Kalau gurunya seorang manusia aku tidak membunuhnya. Tapi, kalau gurunya seorang iblis… yah… aku sudah membunuhnya.” Ia menjeda perkataannya dan menunjukkan kepala iblis yang merupakan gurunya kepada si pemimpin itu sembari mencoba memprovokasi pemimpin itu agar ia berubah ke wujud aslinya.


Kepala iblis yang ia pegang adalah raja iblis yang bernama Allocer. Ia pernah melawannya pada tahun lalu setelah upacara kelulusan SMP-nya dan disaat itu ada insiden yang mengakibatkan banyak korban akibat insiden yang dilakukan oleh sekelompok iblis atas perintah raja iblis tersebut.


Salah satunya adalah seorang gadis yang paling berharga bagi Reyoura. Namanya adalah Alicia Augustus. Untungnya ia masih bisa diselamatkan oleh Reyoura dengan cara men-transfer hampir semua mananya kepada gadis tersebut. Karena itu kapasitas mananya hanya seribuan tidak seperti yang lainnya yang mencapai seratus ribu kapasitas mananya. Meskipun dirinya sendiri tidak mengetahui bahwa Alicia masih hidup. 

__ADS_1


***


__ADS_2