
...***...
Padahal tadi Dimas baru bertemu dengan Andhira?. Namun kali ini ia malah bertemu dengan Nadia, pacar barunya melalui pemandu survival?. Seminggu yang lalu mereka sering bersama di dalam permainan survival. Mereka seakan-akan berada di dunia perang zaman dahulu, saling berebut makanan demi mempertahankan hidup?. Namun siapa yang menduga ada percikan api cinta yang tumbuh di sana. Melalui kebaikan yang diberikan Dimas pada Nadia?. Membuat wanita cantik yang suka alam bebas itu jatuh hati pada pemuda yang juga menyukai alam bebas. Kini mereka bisa saling kontak?. Bahkan Dimas telah berani mengajak Nadia ketemuan meskipun jarak memisahkan?. Tapi cinta tidak membuat itu terasa jauh bagi Nadia.
"Hai?. Selamat malam cantik." Dengan senyuman ramah ia menyapa Nadia.
"Selamat malam juga ganteng." Balas Nadia dengan tersipu malu.
"Apa aku membuat kamu menunggu terlalu lama?." Ia langsung duduk di samping Nadra. Ia yang meminta Nadia menemuinya meskipun sudah hampir larut malam.
"Enggak sih. Aku baru aja nyampe disini." Nadia tidak merasa keberatan sama sekali.
"Syukurlah kalau begitu. Soalnya rumah kamu jauh banget dari sini, kan?. Nanti aku antar kamu pulang." Ucap Dimas dengan perasaan bersalah, namun di dalam hatinya sangat senang luar biasa. "Kalo seandainya si andhira lepas tidak masalah sih. Yang penting aku dapat kenalan baru." Dalam hatinya merasa tidak cemas?. Apakah benar seperti itu?.
"Baiklah kalo emang gitu. Makasih ya dim." Jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Tapi aku gak ganggu istirahat kamu, kan?." Dimas kembali bertanya.
"Enggak kok." Jawabnya dengan santainya."Lagian aku enggak ada kesibukan apapun malam ini. Jadi kamu tenang aja, gak perlu merasa sungkan." Lanjutnya sambil memperhatikan Dimas.
"Kamu tu baik banget ya?. Makasih, ya udah dateng ke sini." Dimas sangat Senang mendengarnya. "Coba aja andhira mau diajak survival?. Pasti aku gak bakalan kek gini." Tiba-tiba saja terbesit pikirannya seperti itu?.
__ADS_1
"Oh iya?. Kamu mau makan apa?. Aku laper nih." Nadia memperlihatkan sebuah menu yang terletak tak jauh dari mereka. Karena pada saat itu mereka berada di sebuah restoran.
"Makan apa ya?." Dimas malah terlihat ragu untuk memilih menu saking banyaknya.
"Gimana kalo makan ini aja?. Aku rasa ini enak banget deh." Nadia berinisiatif untuk menawarkan sesuatu pada Dimas.
"Boleh juga tu. Aku pengen coba menu pilihan kamu. Apakah rasanya akan manis seperti kamu." Dimas tidak menolak dengan tawaran itu, dan bahkan ia malah menggombal rayuan manis?.
"Ah!. Kamu ini bisa aja dim." Nadia tersipu malu mendengarkan godaan itu. "Ok. Kalau gitu aku pesan ya?." Nadia, terlihat bersemangat?. Tidak lebih tepatnya sangat gugup karena rayuan Dimas tadi.
...***...
"Kamu dari mana?. Keluar kok gak kasih kabar?. Gimana kalo terjadi sesuatu sama kamu nantinya?!." Mega Aryani terlihat lebih galak.
Andhira malas menanggapinya, jadi ia memilih untuk diam. "Ni orang kenapa sih?!." Dalam hati Andhira sangat kesal. Di saat ia sedang lelah?. Masih saja berurusan dengan yang seperti ini?.
"Andhira?. Mama kamu lagi bertanya ke kamu. Kenapa kamu diam saja?!. Ayo jawab!." Harfandi merasa sangat jengkel dengan sikap anaknya.
"Aku tadi ke studio kantor untuk rapat dadakan. Banyak pekerjaan yang harus dikerjain." Andhira juga terlihat sangat kesal, mendadak emosinya memuncak begitu saja. "Apakah papa sama mama gak baca whatsapp aku?!. Sehingga papa sama mama menyambut kedatangan aku kek gin?!." Andhira tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan marah, sedih, kesal, sesak yang ia rasakan selama ini.
Tidak ada jawaban dari Keduanya, karena kenyataannya mereka memang tidak melihat hp mereka sampai sekarang?. "Jadi dia udah ngirim whatsapp?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.
__ADS_1
"Kenapa diam?. Gak periksa chatting dari anaknya ya?." Ucap Andhira dengan kesalnya. "Lain kali periksa dulu dengan baik, jika memang pengen jadi orang tua yang baik yang khawatir sama anak. Gak kek gini caranya." Ia tatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. "Dhira masuk dulu pa, ma. Assalamualaikum." Dengan perasaan kesal ia berkata seperti itu.
"Wa'alaskumussalam." Hanya seperti itu jawaban dari keduanya yang sedang terpaku di tempat. Mereka sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Andhira pada mereka tadinya?. Apakah benar Andhira telah mengirim mereka WhatsApp?. Tapi kenapa mereka tidak mengeceknya?. Apakah mereka terlalu larut dalam zona kebahagiaan yang mereka rasakan saat itu?.
" Aku mau masuk dulu pa. Malas berdebat sebelum tidur. Gak ada manfaat sedikitpun buat kesehatan. Apalagi berdebatnya karena masalah prasangka buruk." Setelah berkata seperti itu Andhra langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Astagfirullah hallazin ya Allah. Dalam hat Harfandi merasa malu dengan apa yang telah dikatakan anaknya. "Apakah aku tidak memperhatikan anakku lagi?." Dalam hatinya mulai menyadari sikapnya pada anaknya.
"Anak itu pandai sekali dalam berbicara. Kata-kata yang dia keluarkan mulai menyakitkan hati. Dari mana dia belajar seperti itu?." Dalam hati Mega Aryani sangat mengutuk dengan sangat keras, atas apa yang telah dikatakan Andhira tadi padanya?. "Awas saja nanti." Dalam hatinya sangat tidak terima. "Harusnya kamu itu udah dihukum sama papa kamu!." Dalam hatinya masih memiliki perasaan benci yang sangat dalam terhadap Andhira.
"Ketika keadaanku kacau seperti ini?. Mama tiri kurang ajar itu masih saja mau ngomporin papa untuk memarahi aku?. Jangan harap kamu bisa melakukan itu sama seperti sebelum-sebelumnya." Dalam hati Andhira sangat benci dengan itu. "Untung aja aku udah waspada duluan. Kalo enggak?. Bisa gawat urusannya." Dalam hati Andhira telah mewaspadai semua yang akan direncanakan oleh mama tirinya. Andhra segera berbaring di tempat tidurnya. Rasanya semuanya sangat melelahkan baginya, sehingga ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kehidupan ini.
Kembali ke masa SMA dulu, ketika mama kandungnya dalam keadaan sakit parah?. Mamanya mengalami penyakit jantung? Tentunya ia merasa sangat sedih.
"Ma?. Mama masih bisa denger dhira ngomong, kan ma?." Andhira sangat cemas. Kondisi mamanya sangat memprihatinkan.
"Mama masih denger nak." Dengan suara yang sangat lemah, Azira Naira menjawab ucapan anaknya.
"Mama harus bisa bertahan. Dhira janji akan menjadi anak yang baik untuk mama." Saat itu Andhira takut kehilangan sosok mama yang sangat la cintai. "Mam harus kuat, ya?. Sebentar lagi papa bakalan datang, kok." Andhira berusaha untuk membuat mamanya lebih bersemangat untuk menjalani hidup.
...***...
__ADS_1