SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 18


__ADS_3

...*** ...


Tiga hari sebelum pernikahan.


Saat itu Andhira telah meminta izin pada direksi agar mendapatkan cuti yang lumayan panjang.


"Ini undangan dari saya." Ia menyerahkan undangan itu pada mereka satu persatu.


"Olala?. Dah mau nikah aja nih?." Maya tampak terkejut.


"Kenapa gak cerita?." Andre sebagai ketua merasa heran.


"Maaf ketua. Soalnya ini permintaan dari keluarga, agar tidak buru-buru mengatakan pada siapapun." Balasnya.


"Kamu tenang saja. Nanti kami bakalan datang kok." Jasmin menepuk pundak Andhira.


"Terima kasih jasmin." Balasnya.


"Kalau begitu untuk terakhir kamu kerja sebelum menjadi status istri?. Bagaimana kalau kita makan-makan setelah ini?." Edi menyarankan itu.


"Boleh juga tu. Aku suka dengan ide itu." Surya langsung setuju.


"Deal!. Nanti setelah kerja ini kita langsung keluar nyari tempat makan yang enak." Andre juga setuju.


Di sisi lain.


Di rumah Harfandi.


"Sebentar lagi mau menikah loh pa?. Apa dhira tidak ngambil cuti?." Mega melihat suaminya yang sedang sibuk menyiapkan beberapa bahan untuk rapatnya besok.


"Mama ini ngomong apa?. Dhira hari ini terakhir kerja. Jadi wajar saja agak lama mungkin lama pulangnya." Balas Harfandi melihat istrinya. "Bukannya pagi tadi dhira udah bilang sama mama?. Kalau ada rapat sampai malam?."


Mega terdiam dengan apa yang telah dikatakan Harfandi. Entah kenapa ia merasa sangat kesal, karena suaminya selalu saja menjawab ucapannya. "Sial!. Apakah harfandi sudah tidak sayang lagi sama aku?. Sehingga aku tidak dibela lagi olehnya?." Dalam hatinya merasakan sakit, sesak, dendam yang membuat ia ingin selalu mencari kesalahan yang telah dibuat oleh anak tirinya itu. "Aku harus kembali mengambil hati harfandi, atau aku akan mengalami masalah nantinya untuk harta warisan." Tentunya ia tidak mau itu terjadi.


...***...


di rumah Saguna.

__ADS_1


"Kamu udah bilang nyebarin undangan kamu sama teman-teman kamu, kan?." Greesa memberikan sebuah kotak kecil pada anaknya.


"Kalau masalah itu ibu enggak perlu khawatir. Evan udah kasih ke teman-teman evan. Malah mereka bantuin evan nyerahin ke tempat yang lain." Jawabnya sambil mengambil kotak kecil itu.


"Syukurlah kalau begitu. Ibu tenang mendengarnya." Greesa kembali tersenyum kecil,


"Jangan lupa juga sama teman-teman ibu, sebab gak mungkin anak muda aja yang datang nantinya pas acara pernikahan itu." Canda Saguna yang mengundang tawa buat mereka.


"Si ayah mah ada-ada aja." Greesa tak dapat menahan tawanya.


"Semuanya diundang selagi kenal yah. Ya, gak mungkin anak muda aja yang datang. Bisa jadi mereka bawa anak, atau bawa orang tua." Evan juga malah ikut bercanda dengan apa yang telah dikatakan ayahnya tadi, sehingga suasana lebih cair.


Rona kebahagian yang mungkin mereka rasakan saat ini?. Apakah akan mereka rasakan hingga mereka menikah nanti?.


...***...


Sandi dan Dera saat ini sedang berada di rumah sakit, sebab Dera mengeluh sakit pada perutnya. Namun setelah diperiksa telah positif dinyatakan hamil.


"Kamu tenang saja. Aku telah berunding sama orang tua aku, kalau aku akan menikahi kamu." Ia genggam lembut tangan Dera.


"Itu harus. Sebab aku akan membunuh kamu, jika kamu berani kabur dari aku." Ia melotot tajam.


"Kalau gitu jangan buat aku marah?. Oke?." Ia tangkup pipi kekasihnya itu dengan sangat lembut.


"Um, ya." Balas Sandi.


...***...


Lain lagi dengan Nadia dan Dimas yang saat ini sedang berada di dalam rumah penginapan survival sebagai pemilik tempat itu.


"Aku harap kamu mengeri dengan ini." Nadia menyerahkan sebuah testpack?.


"Kamu tenang saja. Kita akan segera menikah. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun alasannya." Ia kecup kening Nadia dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya mas. Kamu tu laki-laki yang sangat baik." Nadia bersandar manja di bahu Dimas.


"Kamu juga wanita yang sangat baik. Karena kamu yang telah membangkitkan aku dari keterpurukan ekonomi yang sangat menyiksa aku selama ini." Dengan jujur ia berkata seperti itu.

__ADS_1


"Itu hanyalah hal yang berlalu." Nadia mengelus pipi Dimas dengan sangat mesranya. "Yang sekarang kita nikmati yang ada." Ia cium pipi Dimas, sehingga pemuda itu tersenyum terpaku.


"Aku telah memutuskan untuk menikahi nadia." Dalam hatinya memperhatikan wanita yang telah memberikan harapan hidup padanya. "Maaf saja andhira, andai saja kamu seperti nadia?. Mungkin aku tidak akan mencari yang lain." Dalam hatinya masih ingat pada Andhira.


...***...


Pukul 20.30.


Andhira baru saja sampai di sebuah tempat makan bersama teman-temannya. Restoran yang cukup terkenal, lumayan juga untuk kantong meraka yang saat itu ingin mentraktir Andhira.


"Kita pesan sekarang aja ya?." Jasmin inisiatif.


"Langsung pesan aja. Keknya lagi rame nih." Edi mengambil menu yang akan mereka pesan saat itu.


"Aku juga mau liat pesanannya apa aja?." Maya ikutan.


"Eh?. Ya dhir?. Kek mana calon suami kamu itu?. Tapi aku enggak pernah liat kamu sama cowok." Andre malah interogasi dadakan.


"Soalnya dia kerja di daerah yang beda." Hanya seperti itu saja jawabannya. Namun pikirannya saat itu bukan memikirkan Dimas, namun Evan yang mungkin telah mencuri hatinya?.


Tiba-tiba saja mereka malah menertawakan Andhira?. Tentunya membuat wanita itu terheran-heran.


"Kok ketawa sih?." Andhira nampak cemberut.


"Soalnya kamu itu hebat?. Bisa pacaran jarak jauh kek gitu. Gak semua bisa kek gitu loh." Jasmin sangat kagum, hingga tepuk tangan seperti itu.


"Bener tu. Enggak semuanya bisa kek gitu." Edi ikutan tepuk tangan.


"Sejak kapan kalian jarak jauh kek gitu?. Hebat ya?. Kamu bisa sabar kek gitu?. Gak takut ada yang gandeng dia?." Surya ikut komentar.


"Ya, gitu deh." Andhira tidak bisa mengatakan jika dia dijodohin?. "Apa kata mereka jika mengetahui sebenarnya aku tuh dijodohin sama papa aku?." Dalam hatinya hanya menyimpan itu saja.


"Ya elah. Jawabnya gak semangat gitu." Maya malah menaruh curiga pada Andhira.


"Ya tu, semangat sikit lah. Nanti kalau kusut pas nikahan kan gak enak?." Edi malah tertawa. Membuat mereka juga ikut tertawa.


Sementara itu Evan sedang istirahat di kamarnya. Ia menatap profil Whatsapp Andhira yang on beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Rasanya aku hampir enggak percaya, kalau aku akan menikah dengan orang yang baru aku kenal melalui perjodohan orangtua." Dalam hatinya merasa sangat aneh. "Apakah aku salah?. Apakah aku harus bilang masalah ini?." Dalam hatinya mencoba buka chatnya bersama Dera yang sudah sangat lama, dan itu tidak dibaca sama sekali. Bahkan keterangan aktifnya saja sudah sangat lama, tiga bulan yang lalu?. "Kenapa bisa seperti ini?." Dalam hatinya merasa sakit.


...***...


__ADS_2