SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 12


__ADS_3

...***...


Pukul 7.00.


Pagi itu Mega Aryani telah menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Hanya satu orang yang belum ikut bergabung menurut pandangannya saat itu. Entah kenapa saat itu terbesit di dalam pikirannya untuk membuat suaminya membenci anaknya sendiri?.


"Lihat, pa?. Udah jam segini?. Anak gadismu itu belum juga turun ke bawah." Mega Aryani sengaja berkata seperti itu. "Apa dia tidak menyadari?. Jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri?. Apa jadinya jika seorang istri kek gitu, tidak bisa membuatkan sarapan untuk suaminya." Ia berencana ingin membuat suaminya panas pagi ini dengan kelakuan anak perempuannya.


"Tadi papa baca whatsappnya." Jawab Harfandi. "Dia bilang tidak ingin diganggu. Lagi ngerjain tugas program anak. Jadi biarkan saja dia tidak sarapan pagi ini." Lanjut Harfandi dengan malasnya. Ia mulai waspada dengan ucapan anaknya tadi malam.


"Gak sopan banget tu anak ya?. Malah ngomong lewat whatsapp segala?." Mega Aryani semakin kesal, ia tidak menduga jika Andhira malah mengirim pesan whatsapp pada suaminya?.


"Sudahlah ma. Lagian kalau dia ngomong secara langsung?. Nanti mama malah makin cerewet padanya. Jadi biarkan saja." Harfandi mulai menyadari sikap istrinya yang selalu saya ingin membuat anaknya dalam situasi salah.


"Papa kok malah gitu sih?!." Mega Aryani terlihat sangat jengkel.


"Sudahlah ma. Jangan debat terus, enggak enak makannya kalo mama ngomel-ngomel terus." Deepa juga merasa kurang nyaman dengan sikap mamanya.


"Deepa!. Kamu-." Ia sangat kesal.


"Sudahlah ma. Tidak ada gunanya berdebat terus." Harfandi setelah itu mengemas tasnya.


"Papa!." Hati Mega Aryani semakin sakit mendengarkan ucapan suaminya sendiri.


"Dek!. Cepat berangkat. Pagi ini papa ada rapat di kantor." Harfandi terlihat sangat terburu-buru.


"Baik pa." Deepa cepat minum, Setelah itu ia bergegas pergi menyusul papanya.

__ADS_1


"Hei! kalian tidak salim sama mama dulu?." Teriak Mega Aryani dengan penuh amarah. Akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari anak dan suaminya. "Apaan sih?!. Kalian benar-benar sangat keterlaluan!." Mega Aryani membanting gelas hingga pecah, hatinya saat itu dipenuhi dengan penuh amarah. "Kenapa harus aku yang harus marah-marah?!." Dalam hatinya sangat kesal dengan itu. "Anak itu benar-bena sangat kurang ajar!." Dalam hatinya sangat kesal dengan ini. "Akan aku urus dia setelah ini!." Dalam hatinya saat itu sedang dipenuhi dengan dendam yang sangat dalam.


Sedangkan Andhira sendiri sedang mengemil di ruang studio kecil miliknya. Saat itu ia sangat fokus dengan pekerjaannya, ia benar-benar mengamati apa yang telah ia kerjakan dalam waktu satu jam?.


"Hm, jadi kek gini bisa. Sip satu sudah selesai." Andhira sangat senang dengan hasil pekerjaannya. "Kalau gitu aku akan melanjutkan pekerjaannya.


Klak!.


Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba sajo lampu mati?. Bagaimana mungkin ia dapat melanjutkan pekerjaannya?.


"Astagfirullah halazim ya Alah?. Kok bisa mati lampu sih?!." Andhira sangat heran dengan mati lampu yang mendadak?. Ia sangat kesal karena tiba-tiba saja lampu mati?. "Kasih kode kek?. Ini malah langsung mati. Ngeselin banget ya?." Omel Andhira sambil berjalan menuju sebuah ruangan.


Di Satu sisi lain Mega sedang berada di tempat pusat Listrik di rumah?. "Dengan seperti ini semuanya akan baik-baik saja. Selamat mengerjakan tugas bodohmu itu." Mega Aryani terlihat sangat senang dengan apa yang akan dilakukan dela la lakukan saat itu. "Aku tidak akan mengampuni orang yang telah membuat aku marah." Dalam hatinya sangat dendam pada Andhra. "Selamat melaksanakan tugas. Bocah kurang ajar!." Dengan geramnya ia berkata seperti itu, ia sangat dendam, sehingga ia membalikkan kontak listrik di rumahnya.


Pukul 8.30. Saat itu Evan telah melihat semua dokumen itu, saat ini ia sedang berada di rumahnya. Akan tetapi pada saat itu ia memikirkan sesuatu tentang persiapan pernikahan mereka.


"Ayahnya yang akan menyelesaikan semuanya." Jawabnya dengan senyuman ramah.


"Lalu bagaimana dengan tanda tangan dokumen ini bu?. Apakah tidak perlu tanda tangan darinya?." Evan semakin heran.


"Jangan semuanya diambil hati. Jangan semuanya dipersulit, bisa gawat." Greesa Dara menepuk pundak anaknya. "Jangan terlalu banyak menuntut, jangan terlalu dibawa ke arah yang ribet. Tidak baik, seorang laki-laki banyak menuntut." Ucapnya sambil menepuk pundak anaknya.


"Baiklah ibu." Evan hanya menurut saja dengan ucapan ibunya. "Apa yang harus aku lakukan setelah ini?. Apakah masih ada dokumen penting lainnya yang harus diselesaikan bu?." Evan tidak ingin menunda lagi. entah kenapa ada dorongan yang membuatnya ingin menyelesaikan semuanya hari ini juga?.


"Jika semuanya telah didaftar, maka semuanya akan aman." Jawabnya  sambil mengambil cemilan yang ada di dalam toples yang tak jauh darinya. "Kalau begitu semuanya sudah aman." Lanjutnya lagi.


"Baik bu. Kalau begitu tinggal memastikan kapan tanggal pernikahannya." Evan terlihat lega.

__ADS_1


"Jadi kamu setuju dengan pernikahan itu?!." Greesa Dara Sangat terkejut dengan ucapan anaknya. "Jadi kamu mau menikah dengannya?. Benaran itu nak?." Greesa Dara terlihat sangat bersemangat.


"Ibu jangan membuat aku berubah pikiran." Ucap Evan setengah kesal, ia sebenarnya masih ragu dengan apa yang akan ia putuskan.


"Olala. Kenapa malah ngambek seperti itu?. Kamu ini tidak laki-laki sekali." Greesa Dara malah menertawakan anaknya yang terlihat sedang mayun. "Nanti akan ibu ceritakan pada ayah loh?. Kalau kamu ngambek." Greesa Dara tidak bisa menahan tawanya.


"Ibu jangan ceritakan pada ayah. Nanti ayah bisa menertawakan aku." Evan terlihat sangat panik, ia tidak mau ibunya menceritakan apapun tentangnya pada ayahnya.


"Ahaha!. Ada yang panik nih!." Greesa Dara malah menertawakan anaknya. 


"Ibu ini." evan malah tersipu malah ditertawakan ibunya.


...***...


Dimas baru saja mengantar Nadia, ia menggunakan mobil milik Nadia. Mereka baru saja sampai di rumah Nadia tepat jam 9 pagi.


"Apakah kamu gak mau masuk dulu?." Nadia dengan senyuman manis menawarkan Dimas untuk singgah di rumahnya?.


"Enggak usah. Aku sangat sungkan, mungkin ada orang tua kamu di rumah?." Dimas dengan sangat hati-hati bertanya.


"Minggu ini adalah minggu yang sangat sibuk bagi papa dan mama. Jadi aku di rumah sendirian hari ini." Jawabnya sambil membuka pintu.


"Kamu yakin?." Dimas hanya memastikannya saja.


"Masuk aja." Nadia malah menyeret tangan Dimas agar masuk ke dalam rumahnya. "Jangan sungkan." Nadia malah tertawa melihat tingkah Dimas yang sangat kaku masuk rumahnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2