
...***...
Pukul 7.45 pagi.
Setelah tadi mereka menikmati matahari terbit?. Keduanya kembali ke kamar, tentunya untuk mandi, membersihkan diri. Keduanya juga menuju tempat sarapan yang benar-benar menghadap ke laut. Pemandangan yang sangat enak saat itu mereka rasakan. Akan tetapi saat itu Andhira merasa ada yang ganjl.
"Loh?. Kita di sini berdua aja?. Emangnya yang lain pda ke mana?." Matanya tidak menangkap sosok keluarganya.
"Enggak tahu tu. Tadi ibu yang kirim pesan kek gitu." Evan sampai menunjukkan pesannya pada Andhira.
"Terus ibu, ayah, papa sama yang lainnya ke mana?." Ia merasa heran.
"Enggak tahu." Evan mengangkat bahunya karena memang tidak mengetahuinya.
"Lah?. Kok bisa?." Ia mengernyit bingung.
"Mungkin masih di kamar masing-masing." Jawabnya seadanya.
"Ya udah. Kalau gitu aku telfon papa bentar ya." Andhira merogoh sakunya.
"Jangan." Evan malah melarangnya?.
"Jangan?. Kenapa?." Andhira semakin bingung dengan sikap Evan.
"Soalnya ibu tadi bilang tempat ini disediain emang khusus untuk kita berdua aja." Jawabnya agak malu. "Jadi kamu enggak perlu menghubungi papa, atau tante ane. Karena ruangan ini khusus untuk kita berdua." Lanjutnya dengan perasaan yang sangat canggung.
Deg!.
Entah kenapa Andhira mendadak terkena sakit jantungan yang mudah gugup, hanya karena melihat sikap malu-malu yang ditunjukkan Evan.
"Oh?. Gitu ya?." Ia meletakkan hp-nya di sebelahnya.
"Apa adek gak suka?. Kalau gitu." Evan takut Andhira akan kecewa padanya.
Entah kenapa ketika Evan hendak bangkit dari duduknya, secara reflek menahan tangan evan agar tidak pergi dari sana.
"Di sini aja." Ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rona yang ada di pipinya. "Kalo memang ini buat kita berdua gak apa-apa." Suaranya terdengar bergetar. "Kita udah sah jadi suami istri, kan?." Dengan malu-malu ia bertanya pada evan.
"Ya, faktanya memang kek gitu." Ia juga sangat gugup mendengarkan pertanyaan itu.
"Kalau gitu duduk aja. Temani akau sarapan pagi di sini mas." Andhira perlahan-lahan melepaskan tangan Evan.
__ADS_1
"Ok. Aku enggak akan nolak kok." Evan mencoba untuk menghilangkan rasa canggung yang sempat membuatnya sangat gugup.
Keduanya memang tidak romantis, namun apa yang mereka lakukan telah sesuai dengan hukum islam yang baik.
...***...
Sementara itu keluarga mereka yang telah berhasil merencanakan sarapan pagi yang romantis buat pasangan pengantin yang baru menikah.
"Kek mana rencana kita?. Aman?." Greesa memastikan rencana mereka.
"Aman dong mba. Aman banget." Jawab Anesha sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Kalo masalah kek gituan ane emang jagonya mba." Diko sangat mengetahui sifat istrinya.
"Ah?1. Masa?." Anesha dengan nada bercanda menyambut ucapan suaminya.
Tentunya itu mengundang gelak tawa mereka yang saat itu masih dalam suasana hati yang sangat baik, termasuk Harfandi yang masih menyimak pembicaraan itu.
"Ya sudah.Yang penting evan sama dhira bisa makan romatis sambil liburan." Saguna pun ikut berkomentar. "Kasihan kalo mereka ngurus kira terus." Lanjutnya lagi sambil tertawa.
Begitu juga dengan yang lainnya yang ikut tertawa, karena ucapan itu terdengar sangat di luar dugaan mereka.
"Ahaha!. Udah kek orang tua rentan aja kita kalo diperlakukan kek gitu ya?." Harfandi kali ini merasa seperti itu.
"Ih!. Apaan sih mas fandi?. Mas aja kali ya?. Kami masih muda." Anesha sepertinya sama sekali tidak terima dengan ucapan itu. Sehingga menimbulkan gelak tawa bagi mereka.
Akan tetapi pada saat itu mereka melihat Deepa dan Naira yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.
"Eh?. Anak gadis mama dah bangun toh?." Anesha melihat anaknya yang telah tampil sangat rapi dan cantik.
"Kalian ini niatnya mau jalan-jalan?. Atau numpang tidur doang?." Harfandi sangat bingung dengan anaknya Deepa.
"Benar tu. Kasihan tante dhira yang udah nyiapin liburan ini." Diko ikut bersuara.
"Ya deh. Kami yang salah." Naira yang menjawabnya "Tapi emang nyaman banget tidur di sini." Lanjutnya lagi tanpa merasa bersalah.
"Abisnya pegel banget jalan jauh. Jadi, ya tidur deh." Deepa malah setuju saja dengan ucapan Naira?. Apakah keduanya memang sudah kompak dari yang sebelumnya?.
"Oke lah. Kalau gitu kita makan bareng aja. Makanannya udah kami pesan." Anesah tidak mau ambil pusing mengenai alasan mereka yang bangun lama?.
"Terima kasih mama." Naira sangat senang mendengarkan itu.
__ADS_1
"Sama-sama sayang mama." Anesha memang sangat memanjakan anak perempuannya.
...***...
Sementara itu Mega yang berada di kamar penginapan. Hatinya masih saja dipenuhi dengan perasaan yang sangat cemas berlebihan.
"Kenapa cuma aku aja yang enggak menikmati perjalanan libur ini?." Ya, ia memang merasakan seperti itu. Tapi rasa gengsinya telah mengalahkan semuanya. "Aku tuh sangat dendam sama anak kurang ajar itu. Nanti akan aku cek mutasi atm mas harfandi. Aku yakin mas harfandi yang udah ngeluarin dana untuk liburan sebanyak ini." Entah dari mana pikirannya muncul begitu saja. "Anak kurang ajar itu baru nikah, tapi dia masih berani menghambur-hamburkan uang suami aku. Padahal dia itu udah kerja, tapi masih aja minta uang sama suami aku?. Apa sih maunya dia itu sebenarnya?." Ia seakan-akan tidak ikhlas karena Harfandi memberikan uang diam-diam pada anaknya Andhira tanpa sepengetahuan darinya.
...***...
Di sisi lain.
Saat itu Dera dan Sandi sedang berbelanja di sebuah mall yang cukup terkenal. Akan tetapi pada saat itu ada seorang cewek yang sepertinya kenal dengan Dera.
"Eh?. Bukannya elo dera pacarnya evan ya?." Ia mencegat Dera karena ia kenal?.
Tapi tatapannya saat itu begitu sangat merendahkan orang lain.
"Kenapa emangnya?." Dera terlihat sangat sewot, karena ia tidak kenal siapa wanita itu.
"Lah?. Lu enggak tahu ya?." Cewek itu juga terkesan jutek juga. Nada bicaranya yang tidak bersahabat sama sekali. "Kalo evan itu udah nikah beberapa hari yang lalu sama cewek yang lebih cantik dari pada elo yang cuma ngincer burung doang?." Saking geramnya ia malah menunjuk kasar ke arah Dera.
"Eh?!. Tu mulut jaga ya?. Berani banget lu ngomong kek gitu ke gue." Dera sangat emosi mendengarkan ucapan cewek asing itu.
"Heh!. Malang banget ya?." cewek itu mendengus dengan kesalnya. "Tapi setidaknya evan udah bebas dari cewek kek lu." Lanjutnya.
"Hei!. Lu itu gue diemin malah makin kurang ajar ya?." Sandi tidak akan diam saja. "Lu punya masalah apa sama cewek gue?. Bilang terus terang jangan tiba-tiba lu nongol terus lu malah ngomong kek orang gak punya etika kek gitu ya?." Sandi hendak mendorong cewek asing itu.
"Gue cuma mau bilang selamat berbahagia doang." Setelah berkata seperti itu ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Apaan tu cewek?. Nyebelin banget." Sandi sangat kesal.
"Tapi tadi dia bilang evan nikah." Dera masih ingat dengan ucapan cewek itu.
"Aku emang denger kek gitu sih dia ngomong tentang evan udah nikah." Sandi merasa heran.
"Masa sih?. Padahal aku mau aja mutusin dia, tapi kok ada kabar dia udah nikah ya?." Dera sangat bingung, ia tidak pernah memikirkan ke arah sana, jika Evan berani meninggalkan dirinya?. "Menikah tanpa memberi tahu aku?. Memangnya dia berani?." Dalam hati Dera tidak akan mudah percaya begitu saja. "Aku yakin cewek tadi itu cuma iri aja sama aku." Dalam hatinya mencoba untuk menepis semuanya.
"Kalo gitu kamu hubungi dia, pastiin kamu yang mutusin dia, oke?." Sandi mulai merasa tidak nyaman sama sekali.
"Ya, aku akan mutusin dia secepatnya. Aku hanya nikah sama kamu doang, kok." Dera mencoba kembali untuk tersenyum, dan melupakan apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Sip. Itu baru ayang yang paling aku cintai." Sandi sangat senang dengan itu. "Kamu itu udah aku klaim duluan, jadi aku tidak terlalu khawatir lagi." Dalam hatinya telah memikirkan apa yang telah ia lakukan agar Dera tidak lepas lagi.
...***...