SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 29


__ADS_3

...***...


Andhira dan Evan baru saja sampai di rumah, perasaan suasana hati mereka saat itu belum tenang sama sekali. Mereka tidak akan mendapatkan fakta yang menyakitkan. Dari tadi keduanya belum juga berbicara satu sama lain, hanya diam sambil memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk memulai pembicaraan.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Andhira dan Evan berencana ingin langsung ke kamar, akan tetapi pada saat itu Mega mencegat mereka?.


"Enak banget hidup kalian ya?. Mentang-mentang pengantin baru?. Seenaknya kalian aja pulang pergi seenaknya."


"Ma?. Jangan mulai ya?. Kami ini keluar ada keperluan penting. Kalo mama mau ngajak kami ribut?. Mending mama ribut ibu asih tu, tetangga kita yang sering nyampein pesan sama aku kalo mama minjem cobek miliknya tapi enggak balik-balik lagi."


"Anak kurang ajar!. Berani banget kamu gomong kek gitu sama aku!."


"Ma?. Andhira tu enggak ada salah apa-apa. Mama kok sensian amat sih sama dhira?. Mama kalo mau ngajak dhira komunikasi layaknya mama sama anak enggak kek gitu caranya."


"Diam kamu evan!. Kamu itu anak baru di sini!. Berani banget kamu bicara kek gitu ke aku?!. Kamu itu belum kenal bagaimana sikap istri kamu yang sebenarnya!."


Emosinya sangat memuncak mendengarkan apa yang telah dikatakan Evan, seakan-akan ia sedang membela istrinya.


"Mas, jangan diladeni." Andhira menarik tangan Evan agar pergi dari sana.


"Tunggu. Mau ke mana kalian?. Aku belum selesai bicara!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Tangannya menahan pergelangan tangan Evan, sehingga Evan menghentikan langkahnya.


Plak!.


"Au!. Sakit!."

__ADS_1


Andhira menepuk tangan Mega dengan sangat kuat.


"Mama jangan kurang ajar sama mas evan ya?. Jangan sampai aku kasih tahu sama papa apa yang telah mama lakuin sama kami." Ancam Andhira. Setelah itu ia benar-benar mengajak Evan untuk segera masuk ke kamar.


"Anak sial!. Dia berani mengancam aku?. Akan aku buat dia menyesal dengan apa yang telah dia lakukan sama aku." Dalam hatinya hanya dipenuhi dengan perasaan dendam yang sangat tidak baik.


Sementara itu Andhira dan evan yang saat itu masih dalam keadaan terguncang setelah mengetahui fakta yang sangat menyakitkan tentang Dera yang sedang hamil?.


"Mas?." Andhira melihat Evan yang masih shock?. "Aku harap kamu lebih kuat lagi mas." Andhira mencoba untuk memeluk Evan.


"Meskipun dia cuma pacar aku." Evan masih belum percaya. "Aku enggak nyangka dia berani memberikan kesuciannya pada laki-laki yang bukan mahramnya." Sungguh, ia tidak menduga sama sekali mengenai itu. "Apa salah aku dek?. Sehingga dia berani melakukan itu?. Lelaki seperti apa aku sebenarnya di matanya sehingga dia memberikan pada laki-laki yang mungkin ia anggap sebagai kekasihnya?. Atau mereka udah menikah?." Rasa percaya itu telah hilang darinya saat itu juga.


"Tenang lah mas. Aku tahu ini sangat berat untuk kamu. Tapi akau mohon jangan sampai kamu larut dalam kesedihan kamu." Andhira merasakan kesedihan yang dirasakan Evan saat itu. "Kita memiliki takdir yang sama dalamĀ  kisah cinta. Karena itulah, aku mohon agar mas tetap sabar, serta kuat. Ada aku di sini menemanimu mas." Andhira mencium puncak kepala Evan.


"Kamu sekarang adalah tempat aku kembali dek." Evan merasa sangat sedih, dan hampir saja ia ingin menangisi semuanya.


...***...


"Jadi dia tadi itu yang bernama evan?."


"Um. Dia evan."


"Bagaimana rasanya bertemu dengan dia dalam keadaan seperti itu?. Dia ternyata telah menikah. Dia yang telah meninggalkan kamu, sebelum kamu yang mengatakan putus padanya."


Dera tidak langsung menjawabnya, matanya melihat ke arah luar mobil. Kondisi jalan yang mungkin sedang ramai, sehingga saat itu kemacetan tidak bisa dihindari lagi.


"Aku enggak tahu harus ngomong apa. Tapi aku enggak menduga, jika dia yang cinta mati sama aku bisa menikah dengan wanita lain." Tatapannya terasa sangat kosong saat itu.


"Aku rasa itu karena kamu telah memberi harapan yang palsu padanya, sehingga dia nekat untuk menikahi wanita lain, dan ingin membuktikan bahwa sebenarnya ia masih memiliki cinta yang lain. Hanya saja di hadapan kamu?. Seakan-akan dia adalah laki-laki malang yang sangat membutuhkan kasih sayang dan cinta dari kamu." Mungkin itulah yang dapat ia simpulkan dari apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Dera tampak memikirkan apa yang telah dikatakan Sandi padanya. "Ya, kamu mungkin benar. Aku saja yang terlalu percaya diri mengatakan jika evan cinta setengah mati sama aku. Tapi kenyataanya dia berani menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan aku. Jadi aku lah yang telah kalah di sini." Ia terlihat sangat kecewa dengan apa yang telah ia pikirkan selama ini tentang Evan yang terlihat sangat lemah, mengemis cinta padanya?. "Jadi selama ini aku lah yang telah dipermainkan oleh evan?." Dalam hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi.


Kembali ke masa lalu.


Evan sedang mencoba untuk menenangkan Dera yang tampak sedang merajuk?. Padahal ia telah meminta maaf pada Dera?.


"Memangnya kamu mau apa?. Kita kan beda fakultas loh?. Memiliki jadwal yang sangat berbeda, jadi wajar kalau aku enggak sama kamu terus."


"Kamu itu pacar aku atau enggak sih?. Kamu itu selalu aja nyari alasan yang buat aku kesel!."


"Iya maaf deh. Aku akan mengatur semuanya dengan keinginan kamu."


"Nah!. Gitu dong!. Kamu itu harusnya lebih peka sama aku!."


Dera selalu saja meminta hal yang di luar kemampuan dar Evan. Kadang Evan ingin mengeluh dengan apa yang telah dilakukan Dera padanya, tapi ia masih mencoba untuk sabar.


Kembali ke masa ini.


Andhira sampai tercengang mendengarkan apa yang telah dikatakan Evan mengenai masa lalunya bersama Dera.


"Keknya kita ditakdirkan untuk besama untuk adu nasib keknya mas." Andhira merasakan nasib yang hampir sama dengannya.


"Buh!." Evan hampir saja tertawa, meskipun sebenarnya ia merasa sangat sedih. Akan tetapi apa yang telah dikatakan Andhira hampir saja membuatnya tertawa. "Masa iya sih dek?. Jangan bikin lawakan pas kondisi yang kek gini sih dek." Evan mencoba untuk menahan tawanya.


"Tapi kenyataannya emang kek gitu mas." Andhira malah tertawa tertahan melihat raut wajah Evan.


"Fyuh!." Evan sedang mencoba menenangkan dirinya. "Mungkin dhira mencoba untuk menghibur aku." Dalam hatinya memahami apa yang telah dikatakan Andhira. "Andhira." Evan memberanikan dirinya untuk memeluk istrinya, ia hanya ingin menenangkan dirinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2