SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 19


__ADS_3

...***...


Pukul 21.30.


Pada saat itu Andhira saat itu baru saja pulang, namun ketika ia hendak masuk ke dalam rumah?.


Duakh!.


Saat itu ia di dorong seseorang dari arah samping?. Sehingga ia terjajar ke samping, namun beruntung ia masih bisa mengimbangi tubuhnya. Hati Andhira sangat marah ketika ia melihat siapa yang telah mendorongnya?.


"Kenapa kamu malah pulang malem?. Bukannya sebentar lagi kamu mau menikah?."


Tidak ada tanggapan dari Andhira, dan ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia sangat malas berhadapan dengannya.


"Andhira!. Kamu sudah tidak menganggap aku lagi?." Ia sangat kesal dengan sikap Andhira yang seperti itu.


Andhira menghentikan langkahnya, setelah itu ia berbalik arah. Bukan hanya itu saja, dengan sangat kesalnya ia mencubit hidung wanita itu dengan sangat kesalnya. "Tante ane jangan seenaknya saja berbicara ya?. Aku ini lagi capek. Kalo tante ke sini cuma buat aku marah?. Sebaiknya tante jangan ngajak aku berantem sekarang."


"Sakit!. Lepasin!. Kamu ini keponakan durhaka!."


"Siapa suruh tante dorong aku!. Hampir saja aku lecet!. Apa kata suami aku?. Jika kau udah lecet duluan?." Dengan kesalnya ia melepaskan tangannya itu dari hidung tante Ane.


"Hehehe. Abisnya kita udah lama gak ketemu." Ia peluk Andhira. "Aku tu kangen banget sama kamu tahu?." Rasanya ia ingin menangis karena perasaan rindu yang ia rasakan saat itu.


"Oh?. Tante ane." Andhira tidak menduga sama sekali. "Dhira juga sangat rindu sama tante." Untuk saat itu ia melupakan permusuhannya dengan Tante Ane atau nama aslinya Anesha Kumaira.


Saat itu dari jarak yang cukup jauh?. Ada sepasang mata yang memperhatikan itu, namun tatapan matanya mengandung kebencian yang sangat dalam.


"Dua orang yang sangat menyebalkan telah bertemu." Dalam hatinya sangat tidak suka melihat itu. "Kalian sepertinya sangat cocok hidup bersama. Sama-sama bikin orang emosi." Hatinya yang saat itu hanya dipenuhi dengan kedengkian yang sangat luar biasa. "Lihat saja apa yang akan akan aku lakukan pada kalian berdua nantinya." Itulah yang ada di dalam hatinya saat itu. Setelah itu ia masuk lagi ke dalam kamarnya, karena ia sangat tidak suka melihat kedekatan Andhira dengan adik iparnya.


"Tante ke sini datang sama siapa?."


Andhira dan tante Ane menuju ke kamar lantai atas.


"Nanti ayang sama anak tante nyusul." Balasnya.

__ADS_1


"Dih!. Jijay dengarnya." Andhira sangat geli mendengarnya. "Emangnya ada masalah apa om sama naira?. Kok gak datang sama tante?."


"Udahlah. Jangan banyak tanya. Nanti aja tanya-tanya sama tante di kamar kamu." Tante Ane mendorong Andhira hingga jalan cepat menuju kamarnya.


"Apa sih tante ini aneh banget." Andhira hanya nurut saja.


...***...


Di rumah Evan.


Saat itu Evan sedang sangat gelisah, karena ia belum memutuskan, apakah akan mengirim pesan Whatsapp pada Andhira atau tidak?.


"Apakah boleh ya?. Sebelum menikah masih bisa ngirim pesan gak ya?." Sungguh, saat itu ia sedang galau luar biasa. "Apakah bisa ya?." Dalam hatinya semakin gelisah. Namun saat itu tangannya telah gatal untuk Whatsapp, agar ia dapat melihat kapan Andhira terakhir online?. "Tiga jam yang lalu?. Lama juga. Apakah dia sudah istirahat?." Evan mencoba menebak alasan kenapa ia belum aktif sampai sekarang. "Tapi tunggu dulu. Kok aku malah jadi kepikiran ya?." Evan masih memikirkan alasan kenapa ia mau menerima perjodohan itu. "Kalo dera tahu masalah ini?. Aku gak bisa bayangin kek mana reaksinya." Dalam hatinya mencoba membayangkan situasi saat itu.


Kembali ke masa itu.


Satu bulan setelah mereka pacaran, Evan menyadari ada yang aneh. Karena itulah ia bertanya langsung pada Dera, mungkin kesalahan itu ada pada dirinya?. Saat itu mereka sedang berada di sebuah tempat yang bisa dibilang tempat rahasia mereka selalu bertemu.


"Dera. Aku mau nanya sama kamu."


"Mau nanya apa?."


"Kamu tu niat gak sih pacaran sama aku?. Kok kamu gak mau orang tahu kalau kita itu pacaran?."


"Kamu keberatan ya?. Atau perlu kita umumkan di masjid sekalian biar orang percaya kalau kamu itu pacar aku?. Gitu yang kamu inginkan?."


"Bukan seperti itu. Aku tu hanya ingin menegaskan kalau kamu itu pacar aku. Supaya cowok-cowok lain gak kurang ajar sembarangan dekatin kamu!. Cuma itu aja kok!."


Susana hati Evan saat itu benar-benar sangat kalut, ia sangat kesal karena banyak cowok-cowok yang mendekati pacarnya itu.


"Jadi kamu cemburu sama mereka?."


"Iya!. Aku memang cemburu karena mereka dengan sangat bebasnya bicara sama kamu!. Sedangkan aku gak sebebas mereka!."


"Kamu tu ya?. Jangan kek anak kecil deh!. Aku tu gak suka kamu kek gini!."

__ADS_1


"Kalo gitu aku juga gak suka kalo kamu tu dekat-dekat tanpa batas sama cowok kek gitu!. Terutama sama sandi!."


Hati keduanya saat itu sedang sangat panas, tidak ada yang mau mengalah sedikitpun. Sungguh, tidak ada perasaan apapun selain saling membenarkan perasaan masing-masing.


Kembali ke masa ini.


"Rasanya semuanya sangat ganjal bagiku. Karena aku sama sekali tidak mengerti, apakah dia memang menaruh hati padaku?. Atau memiliki tujuan lain ketika berpacaran dengan aku." Dalam hatinya merasa sangat aneh dengan dirinya yang berpacaran seperti itu. "Apakah aku tidak salah untuk memilih andhira sebagai seseorang yang akan mendampingi aku nantinya dalam kehidupanku kedepannya?." Ia masih memikirkan itu semua dengan kepala dingin.


Sementara itu Andhira baru saja keluar kamar mandi.


"Loh?. Tante belum tidur?." Ia duduk bersama tante Ane yang terlihat sedang membalas chat dari suaminya.


"Mungkin ayang tante akan nyampe besok. Soalnya nungguin naira libur." Jawabnya sambil rebahan cantik.


"Gitu ya?." Andhira mengambil hp-nya.


"Kamu kok gak cerita sama tante masalah calon suami kamu sama tante sih?." Ia bertanya tapi ia tidak melihat ke arah orangnya, ia sedang fokus pada balasan dari suaminya.


"Soalnya ini dadakan tan, jadi gak bisa cerita." Jawabnya sambil mengecek chat dari Evan?.


"Lah?. Kok bisa?." Tante Ane langsung bangun, kali ini ia melihat ke arah Andhira.


"Namanya juga dijodohin, ya gak bisa bilang lah." Jawab Andhira.


Plak!.


"Aw!. Apaan sih tan?!."


Tante Ane malah menepuk jidat Andhira sedikit keras, karena itulah ia meringis sakit.


"Bisa-bisanya kamu mau dijodohin?. Emangnya kamu itu gak laku apa selama masa kuliah?."


"Hmph!. Siapa bilang aku gak laku?!."


"Tu buktinya kamu malah dijodohin?. Kalo laku ya gak bakalan dijodohin lah."

__ADS_1


Namun saat itu Andhira hanya diam saja, karena ia tidak tahu harus menjawab apa masalahnya.


...***...


__ADS_2