SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 27


__ADS_3

...***...


Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Saat itu Andhira datang di tempat biasa mereka bertemu, akan tetapi Evan tidak akan membiarkan istrinya pergi sendirian. Dari jarak yang cukup aman ia duduk untuk mengawasi istrinya.


"Ini udah lima belas menit dari yang telah dijanjikan. Benaran ketemuan disini gak sih?." Dalam hati Evan sangat cemas, melihat istrinya yang duduk sendirian di dalam cafe itu. Namun saat itu ada seseorang yang mendekati Andhira. "Apakah dia?." Dalam hati Evan menatap curiga. "Lumayan ganteng juga sih." Entah kenapa ia merasa minder?.


"Eh?. Sendirian aja?." Pemuda itu dengan senyuman ramah menyapa Andhira.


"Maaf, aku lagi nungguin seseorang." Balas Andhira masih Sabar.


"Ah!. Santai aja. Masih pacaran aja kok." Balasnya dengan sangat santainya. "Aku yakin dia enggak akan datang." Ucapnya dengan nada mengejek. "Bagaimana kalau kamu sama aku aja?." Ia seperti hendak menggoda Andhira.


"Apaan sih." Andhira merasa tidak nyaman sama sekali.


"Udahlah. Gak Perlu liat sana-sini lagi. Aku loh, ada dipan kamu. Aku yang akan jagain kamu, untuk gantiin dia." Dengan penuh percaya dini ia berkata seperti itu.


Namun Andhira tidak menggubriskan ucapan itu. Andhira sedang mencari keberadaan Evan, begitu matanya menangkap sosok Evan?. Andhira langsung lari menuju tempat Evan duduk.


"Hei!. Tunggu!." Pemuda itu sangat terkejut melihat Andhira yang berlari meninggalkan dirinya.


"Mas" Andhira langsung memeluk Evan. Perasaannya saat itu sangat tidak enak.


"Ada apa?. Kok tiba-tiba lari?." Evan sangat heran melihat itu.


"Hei!. Kamu kok lari?. Siapa yang kamu peluk itu?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.


"Dek?. Apakah dia laki- laki bajingan yang akan bertemu dengan kamu?." Evan terlihat sedang menahan Amarahnya.


"Bukan mas. Aku enggak kenal dengan dia, keknya dia may menggoda aku mas." Jawab Andhira tanpa melepaskan pelukannya.


"Heh!. Lu siapa berani meluk cewek yang gue incar?. Lu mau nyari masalah sama gue?!." Ada kemarahan yang ia perlihatkan saat itu.


"Kalo ngomong jangan asal keluar aja ya?. Jangan buat gue emosi. " Evan sangat emosi mendengar kan ucapan pemuda itu.


Namun suasa disekitar mendadak ramai karena melihat ada yang sedang berdebat?. Entah kenapa mereka sangat tertarik melihat adegan yang seperti itu. Merebutkan satu wanita?. Ini seperti yang ada di adegan sinetron?. Tapi mereka tidak melihat ada kamera atau apapun jika memang itu adalah sebuah adegan yang ada di dalam sinetron?.


"Andhira. Wanita ini adalah istri gue. Berani lu sentuh dia?. Godain dia?. Gue hajar lu." Evan tidak lagi menyembunyikan kemarahannya.

__ADS_1


"Lu Jangan bohong bro. Gak usah ngaku-ngaku sebagai suaminya, hanya untuk jadi pahlawan kesiangan." Pemuda itu tidak percaya begitu saja. "Basi banget gaya lu yang kek gituan." Pemuda itu terlihat sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan Evan.


"Ok. kalau lu masih enggak percaya?. Akan gue buktiin sama lu!." Evan sepertinya hendak mengeluar kan amarahnya, namun dengan pelan ia melepaskan pelukan Andhira. Saat itu ia genggam tangan Andhira dengan sangat lembut.


"Emangnya lu ngapain bro?. Mau kasih kode sama dia buat kerja sama dengan dia?. Bisa berlindung sama lo?. Basi banget gak sih?." Ucapnya dengan nada meremehkan.


"Lo bisa liat?. Ada cincin pernikahan kami yang terpasang manis di jari kami." Evan memperlihatkan cincin itu dengan sangat jelas. "Juga ada tanda pewarna inai kuku di tangan kami yang sama, sebagai tanda kami baru saja menikah." Ucap Evan dengan penuh penekanan.


"Wah! Sangat keren. Kalian baru nikah, ya?."


"Wah!. Selamat ya?."


"Selamat jadi pengantin baru. Pertahanin istri lu. Jangan sampai digoda Sama laki-laki brengsek kek dia."


Tiba-tiba saja mereka semua malah mendukung Evan, mereka semua sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan Evan melindungi Andhira yang mungkin digoda oleh pemuda itu.


"Kalian enggak usah ikut campur!. Siapa kalian berani ikut campur dalam masalah gue?!." Bentak pemuda itu dengan penuh amarah.


Tapi apa yang ia dapatkan saat itu?. Selain caci maki, ia juga mendapatkan lemparan botol minuman. Tubuh pemuda itu terasa sangat sakit karena lemparan itu.


"Brengsek lu ya?. Dasar enggak berguna!."


Bentak mereka penuh dengan kebencian. Pemuda itu terpaksa pergi dari sana, ia tidak mau cedera cuma kareng kemarahan yang diperlihatkan oleh mereka saat itu.


"Apakah kalian baik-baik saja?."


"Enggak apa-apa, kan?."


Mereka tampak cemas Terima kasih telah membantu kami." Dengan senyuman ramah, Evan memberi hormat. Terima kasih atas kebaikan kalian semua. Begitu juga dengan Andhira yang merasa yang tersenyum dengan sangat ramah.


"Wah. Manis banget. Serasi banget ya?."


"Yang satu cantik, yang satu ganteng banget lagi. Serasi banget."


Mereka sangat kagum dengan apa yang mereka lihat.


"Duduk aja, nanti kami yang bayar."

__ADS_1


"Ya, duduk aja. Mau makan apa?. Kami yang bayar. Anggap aja ini hadiah dari pernikahan kalian."


Mereka tiba-tiba saja memperlakukan Andhira dan Evan dengan sangat istimewa.


"Udah. Jangan sungkan."


"Terima kasih."


Evan dan Andhira hanya pasrah saja, mereka juga tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh mereka.


...***...


Di tempat penginapan survival.


Dimas dan Nadia masih saja santai?. Apakah mereka lupa dengan janji yang telah mereka katakan?.


"Udah jam sepuluh loh?. Kamu enggak datang ke sana mas?." Itulah yang menjadi tanda tanya bagi Nadia.


"Emangnya kamu mau aku datang ke sana?." Dengan nada menggoda ia bertanya seperti itu.


"Hm." Nadia tampak berpikir, ia tampak berpikir yang mungkin agak lama?.


"Yah?!. Kelamaan banget mikirnya." Dimas sampai tertawa cekikikan melihat raut wajah Nadia yang sangat lucu baginya.


"Ya, enggak mau sih." Dengan sangat manjanya ia memeluk leher Dimas dari belakang. "Mana mungkin aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengannya. Rasanya enggak ada gunanya sih." Ucapnya sambil mengecup pipi Dimas dengan sangat mesranya.


"Hehehe. Bisa aja kamu ya?." Dimas malah kesenangan dengan apa yang telah dikatakan Nadia.


"Aku gitu loh?." Nadia dengan sangat bangga berkata seperti itu. "Kamu itu milik aku seorang. Jadi kamu enggak boleh pergi, ya?." Ucapnya dengan senyuman manis.


"Ya. Iya sayang. Aku tahu kok." Dimas juga senang, ia tidak merasa terpaksa ataupun dipaksa sama sekali.


"Kalau begitu kita jalan-jalan bentar yuk?. Aku mau lihat alam yang indah bersama kamu." Ia cubit pipi Dimas dengan sangat erat.


"Baik. Mari kita pergi." Dengan semangatnya Dimas menggendong Nadia.


"Walah mas. Kamu ngapain." Nadia tidak menduga akan digendong oleh Dimas seperti itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2