SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 26


__ADS_3

...***...


Andhira dan keluarganya baru saja kembali dari liburan yang cukup menyenangkan. Mereka telah memikat hubungan yang sangat dekat. Namun saat itu Saguna dan Greesa memilih untuk kembali ke rumah mereka, karena merasa tidak enak hati, meskipun Andhira meminta mereka agar tetap tinggal bersama mereka beberapa hari lagi, tapi sayangnya Saguna dan Greesa haya  tidak ingin menjadi masalah bagi keluarga Andhira nantinya. Begitu juga dengan Anesha yang telah memaksa Diko dan Naira untuk segera pulan ke rumah. Anesha sangat malas lama-lama bersama Mega yang terlihat sangat tidak bersahabat sama sekali dengan mereka semua.


Hari itu sebelum mereka pisah jalan menuju arah yang berbeda.


"Ibu akan datang kalau kamu memang ingin bertemu dengan ibu."


"Benaran ya bu?."


"Iya."


Greesa memeluk sayang Andhira yang terlihat sedang cemberut.


"Ayah, jaga ibu baik-baik ya?. Jangan buat ibu capek."


"Iya, ayah bakalan jaga ibu kok."


"Terima kasih ayah. Kalau gitu hati-hati di jalan ya?."


"Terima kasih ya nak."


Greesa dan Saguna sangat tersentuh dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Andhira. Apa lagi sebelum mereka naik mobil?. Andhira cium tangan, dan terlihat sangat cemas dengan kepergian keduanya.


"Apaan sih?. Sok banget ni anak. Padahal sama aku selama ini enggak pernah sama sekali ngomong lembut kek gitu sama aku." Dalam hati Mega sangat kesal melihat dongkol melihat itu. Hatinya benar-benar sangat sakit dengan sikap yang telah ditunjukkan Andhira. "Awas saja kau nanti, kau akan menyesal karena telah memperlakukan aku dengan sangat kasar selama ini. Aku tidak akan pernah mengampuni dirimu." Dalam hatinya yang saat itu sedang diisi oleh dendam yang sangat luar biasa.


"Evan mungkin agak lama kembali ayah, ibu. Jadi ayah dan ibu jaga diri di rumah ya?." Evan juga pamitan dengan ayah dan ibunya.


"Ya, enggak apa-apa nak." Greesa memahaminya. "Jaga istri kamu dengan bik. Jangan kebalikannya ya?." Perasaanya yang mungkin yang membuat ia berkata seperti itu.


"Evan bakalan jaga dhira dengan baik kok bu. Ibu tenang saja, percaya sama evan." Hanya dengan senyuman ia berusaha meyakinkan ibunya.


"Kalau evan berlaku kasar sama kamu dhir?. Jangan sungkan-sungkan telepon ayah, ya?." Saguna terlihat gahar.


Akan tetapi pada saat itu mereka malah tertawa mendengarkan ucapan itu.

__ADS_1


"Ahaha!. Evan gak mungkin nyakitin dhira. Jadi tenang aja." Harfandi mencoba untuk membela Evan.


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alakumussalam."


Saguna dan Greesa benar-benar pergi meninggalkan tempat. Saat itu ada perasaan sedih yang tersembunyi di hati Evan dan Andhira, akan teta[i sebisa mungkin mereka tidak menunjukkan pada Harfandi yang juga sebenarnya sangat menyayangkan sikap istrinya yang berpikiran aneh.


"Mari pa. Kita lanjutkan pulang ke rumah." Andhira menyadarkan lamunan mereka ketika mobil yang dibawa Saguna sudah tidak terlihat lagi.


"Oh?. Iya." Harfandi segera masuk ke dalam mobil.


Saat itu Evan membawa mobil sendiri, begitu juga dengan Harfandi sehingga mereka tidak akan mengetahui apa yang telah dikatakan Andhira dan Evan.


"Maaf ya mas?. Aku harap mas enggak marah sama aku." Ada perasaan bersalah yang telah ia tunjukkan saat itu.


"Enggak apa-apa kok dek." Evan mencoba untuk memahami apa yang telah terjadi. "Lagian ayah sama ibu, enggak akan bisa lama-lama niggalin toko." Lanjutnya dengan senyuman kecil.


"Nanti aku bantu ya mas?. Semoga aja bisa bantuin ibu sama ayah." Andhira sepertinya memiliki sebuah rencana yang sangat bagus untuk membantu mertuanya.


***


Di tempat penginapan survival.


Saat itu Nadia telah menghidangkan semua masakan yang sangat disukai oleh Dimas. Mereka saat itu benar-benar menjalani peran mereka sebagai sepasang suami istri yang dalam keseharian mereka seperti pasangan hidup yang sangat bahagia tanpa perasaan beban ataupun masalah.


"Kamu hari ini masaknya banyak banget. Ada acara apa?. Sehingga kamu masak banyak hari ini?." Dengan hati-hati ia bertanya, tentunya sambil memeluk Nadia dengan sangat mesranya. 


"Enggak kenapa-kenapa kok. Cuma pengen aja sih." Balasnya dengan sangat santainya.


"Terima kasih ya sayang, kamu sangat baik banget." Ucapnya dengan senyuman yang ramah.


"Kalau gitu kita nanti temani aku belanja ya?. Sekalian kita ngurus semua surat-surat nikah kita." Nadia semakin terlihat manja.


"Siap nyonya." Dimas hanya menuruti semua keinginan Nadia.

__ADS_1


"Tapi gimana dengan pertemuan kamu sama mantan pacar kamu itu?. Apakah kamu benar-benar mau mengucapkan salam perpisahan sama dia?." Ucapnya sambil menyuapi Dimas.


Untuk saat itu ia tidak langsung menjawabnya, karena Dimas sedang makan, jadi ia tunda dulu jawabannya.


"Masakan aku enak, kan?." Nadia kembali memberikan pertanyaan.


"Sangat enak sekali." Akhirnya Dimas bisa berbicara, setelah ia berhasil menelan semua makanan yang ada di mulutnya. "Masakan kamu yang paling enak. Enggak ada yang bisa menandingi masakan kamu sayang." Dimas berkata dengan nada yang sangat lembut, memuji Nadia.


"Ah!. Kamu bisa saja mas." Nadia malah terlihat sangat malu-malu.


***


Di satu sisi.


Sandi saat itu sedang bersama Dera yang terlihat sedang jalan-jalan.


"Sejak hamil kamu semakin suka jalan-jalan ya yang?." Sandi iseng bertanya.


"Enggak boleh ya?." Raut wajahnya terlihat sangat sedih.


Sandi benar-benar tidak dapat menahan tawanya saat itu, raut wajah Dera terlihat sangat lucu baginya.


"Ih!. Kok malah ketawa sih yang?." Dengan sangat herannya ia bertanya seperti itu. Ada perasaan sedih ia rasakan saat itu.


"Hehehe. Enggak kok." Sandi mencoba menenangkan Dera yang terlihat ngambek. "Mari jalan-jalan lagi gusti ratu." Sandi mencoba untuk menghibur Dera. "Apakah gusti ratu mau belanja lagi?. Dengan senang hati hamba akan menemani gusti ratu." Dengan nada yang sangat sopan seperti orang dahulu ia bersikap seperti itu.


Dera terlihat memikirkan apa yang telah dikatakan Sandi padanya. "Baik. Temani aku ya?." Mood-nya kembali datang, ia ingin belanja banyak hari itu demi menyenangkan hatinya.


"Mari Gusti Putri." Sandi dengan senang hati akan melakukan itu.


Apakah cinta memang seperti itu?. Apakah benar?. Jangan jadikan sesuatu hal yang sangat remeh kamu jadikan sandaran untuk mendapatkan cinta pada orang lain.


Sangat buruk jadinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2