SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 21


__ADS_3

...***...


Mereka telah sepakat untuk jalan santai ke pantai, tentunya itu semua ide yang telah dibuat Andhira dan disepakati oleh mereka semua kecuali Mega yang sama sekali tidak suka dengan ide itu.


"Pa?. Papa masih menghargai mama, kan?." Ia mulai dramatis.


"Mama ini ngomong apa sih?." Harfandi tampak bingung.


"Kenapa papa malah setuju begitu aja dengan ajakan anak kesayangan papa itu?." Ada kemarahan yang ia tunjukkan.


"mama ini kenapa sih?. Andhira hanya berniat menyatukan keluarga saja." Harfandi tidak mengerti jalan pikiran istrinya.


"Jalan-jalan hanya membuang waktu saja. Bahkan membuang uang. Apa tujuan papa bekerja buat itu aja?." Mega tidka dapat menahan emosinya. "Pasti ujung-ujungnya papa yang akan mengeluarkan uang untuk liburan itu!." Lanjutnya dengan nada tinggi.


"Mama ini aneh." Harfandi mulai kesal. "Kenapa mama malah perhitungan sekarang?. Mereka semua telah memiliki uang masing-masing." Ia tidak dapat lai menahan emosi yang ia rasakan. "Andhira bahkan telah memiliki evan yang telah siap membiayai dirinya. Adik aku juga memiliki diko yang telah membiayai hidupnya hampir tujuh belas tahun. Saguna sama greesa bukan teman aku yang aku kenal selama lima tahu, satu tahun, dua tahun saja!. Tapi dari aku kecil!. Dari kami umur tujuh tahun masuk sd!." Hatinya benar-benar sangat panas. Tidak biasanya ia menunjukkan semua kemarahannya.


"Jadi papa memilih membela mereka dari pada mama?." Ada perasaan kecewa yang ia rasakan.


"Lebih baik mama tidur saja duluan. Jangan sampai papa meninggalkan mama malam ini juga." Itulah ancamannya pada saat itu.


"Baiklah. Jika memang itu yang papa inginkan." Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya saat itu.


"Ya Allah. Tabahkan lah hati hamba ya Allah." Dalam hatinya sangat dikuasai oleh kemarahan yang sangat berlebihan.


Sementara itu di kamar Evan dan Andhira.


"Kamu yakin nanti gak ada masalah dengan ide pergi ke pantai?." Evan tampak khawatir. "Mama kamu itu gak setuju loh?." Evan duduk di samping Andhira.


"Mama emang kek gitu dia. Takut uang papa bakalan habis sama kita kalo kita ngajak papa jalan-jalan." Dengan gemasnya ia mencolek lengan Evan.


"Lah?. Kok aneh." Evan mengkerut keningnya, saking herannya.


"Ya. Mau gimana lagi. Bawaan lahir mungkin." Jawabnya dengan sangat cuek.

__ADS_1


"Terus gimana?." Evan gak tahu mau bicara apa.


"Ya udah. Kalo ikut dia jadi sarang penyakit. Tapi kalo gak ikut alhamdulilah." Andhira malah tertawa kecil.


"Apa aku boleh nyandar sama kamu?." Evan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka saat itu.


"Kamu mau manja sama aku ya?." Dengan isengnya ia malah berkata seperti itu.


Evan tampak sedikit cemberut. "Emangnya gak boleh ya?." Evan malah membaringkan badannya ke tempat tidur. "Padahal kita kan dah sah, loh?." Lanjutnya dengan raut wajahnya cemberut?.


Andhira malah tertawa melihat sikap Evan yang seperti itu. "Apa karena udah sah?." Andhira mendekati Evan, dan ia memeluk Evan dari belakang. "Apa karena udah sah?. Kamu mau nyandar sama aku?. Apa cuma itu aja?." Dengan nada menggoda ia berkata seperti itu.


Evan melirik ke belakang, dimana Andhira sedang memeluk pinggangnya. "Hm. Mau apa lagi ya?." Evan malah tampak sedang berpikir. "Hi!." Evan malah nyengir.


"Kamu ini?. Ternyata diam-diam." Dengan kesalnya Andhira mencubit pipi Evan, tentunya membuat suaminya itu meringis sakit.


"Lepas. Lepasin. Tangan kamu bisa membuat pipi aku jadi melar." Evan mencoba menjauhi Andhira, akan tetapi tidak bisa?. "Lepas!." Evan tidak dapat menahan sakit cubitan maut Andhira.


"Ahaha!. Makanya jangan berpikiran yang aneh-aneh ya?. Aku cubit pipi kamu sampai melar mas." Andhira malah mengajak Evan bercanda malam itu?.


Sementara itu di kamar Anesha dan Diko.


"Apa gak apa-apa kita nyetujuin usulan dhira?." Diko hanya ingin memastikannya.


"Kamu takut sama mak lampir itu ya, yang?." Anesha menatap suaminya dengan tatapan maut.


"Enggak sih. Soalnya kamu kan belain aku." Ia tersenyum manja?.


"Ah!. Kamu bisa aja yang." Dengan malu-malu ia berkata seperti itu.


"Terus gimana besok ya?. Gak kebayang kalo dhira sampe baku hantam sama mamanya, terus kamu ikutan juga yang." Diko tampak cemas. "Apa gak perang dunia ke tujuh gak tu?." Diko malah bertanya seperti itu?.


"Jangan ngadi-ngadi deh." Anesha mencubit lengan Diko.

__ADS_1


"Hehehe. Bercanda aja yang." Diko malah tertawa cengengesan. "Abisnya kamu tu biasanya gak bakalan nahan emosi kalo dekat sama kakak ipar kamu itu yang. Jadi takut kami nantinya." Diko memang tidak bisa membayangkan itu terjadi.


"Dah lah!. Jangan bayangin aneh-aneh. Kasihan anak kita." Balasnya dengan malasnya. "Kita jalan-jalan besok demi anak-anak kita, juga suasana hati, terus jaga silaturahmi sama keluarga baru evan." Anesha bersandar manja pada suaminya.


"Semoga aja besok lancar." Hanya itu harapannya.


"Ya. Kalo aku sih kalo mau lancar, ya jangan diajak aja si dia. Mungkin bakalan lancar." Anesha manggut-manggut dengan idenya.


"Olala. Lain ini sih." Diko hanya tertawa mendengarkan ucapan istrinya.


Di kamar Saguna dan Greesa.


"Aku tidak menduga jika dia itu kek gitu ya yah?." Greesa tampak kecewa.


"Dia siapa Bu?." Saguna belum konek.


"Besan perempuan kita. Gak mungkin menantu kita yah." Greesa tampak cemberut.


"Yang penting hubungan kita dengan harfandi baik-baik aja bu." Saguna tidak mau mengambil pusing masalah itu.


"Tapi yang gak enak kita itu kita yah. Kita yang tidak enak sama sekali sama harfandi." Greesa belum tenang sama sekali.


"Ya sudah. Jangan dibawa hati semua." Saguna mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi aku masih bingung bagaimana harfandi bisa menikah dengan wanita seperti itu?." Greesa tampak bingung.


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu itu dulu istrinya sangat cantik, baik, dan juga ramah pada siapa saja." Jawabnya.


"Dah lah. Kita istirahat saja yah. Dah malem juga. Nanti kita malah kesiangan. Kasihan menanti kita yang udah nyiapin semuanya buat membangun hubungan antara kita." Greesa mencoba untuk melupakan itu semua.


"Baiklah. Kalau tidur aja. Ayah bentar lagi tidurnya." Saguna masih belum mengantuk. Karena sebenarnya ia masih memikirkan apa yang telah dikatakan Mega. Tapi setidaknya Andhira benar-benar memahami bagaimana perangai mama tirinya, sehingga ia tidak mengalami masalah dalam menangani mama tirinya.


"Jangan begadang ya yah?." Greesa mengingatkan suaminya. Setelah itu ia mencoba memejamkan matanya sambil berpikir. "Kok ada ya?. Orang seperti itu?." Dalam hatinya mencoba memikirkan apakah benar yang mereka alami saat itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2