SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 20


__ADS_3

...***...


Skip.


Dua hari setelah menikah?.


Pagi itu lumayan ramai, karena ada tiga keluarga yang berkumpul di meja makan saat itu.


"Asek ya?. Ada penganten baru." Tante Ane yang memulai.


"Apaan sih tan?. Jangan mulai deh. Ini masih pagi. Kasihan ibu sama ayah, juga mas evan yang belum terbiasa sama sifat tante yang kek gitu." Ucapnya sambil menuangkan air ke dalam gelas yang tak jauh dari Evan yang kini telah sah menjadi suaminya.


Akan tetapi pada saat itu mereka ada yang tertawa mendengarkan ucapan Andhira. Entah kenapa mereka merasa lucu dengan apa yang telah dikatakan Andhira.


"Mas. Anak kamu tu loh?. Mentang-mentang ada suaminya kek gitu sama aku." Tapi setelah itu tante Ane malah terlihat sangat cemberut, sehingga mengundang tawa bagi mereka.


"Mari makan bu, ayah, mas evan. Abaikan aja tante ane. Maklum, kalau ketemu saya bawaannya memang kek gitu." Andhira tanpa merasa bersalah berkata seperti itu.


"Sudahlah, jangan berantem lagi makan kek gini." Harfandi hanya bisa mencegah mereka saja.


"Ahaha!. Gak apa-apa har, mungkin karena sudah lama tidak bertemu makanya kek gitu." Saguna mencoba memahami situasinya.


"Benar tu mas saguna. Aku kan cuma godain aja tadi, kan ya?." Tante Ane malah mencari pembelaan atas apa yang telah ia katakan tadi.


"Jangan berantem lagi. Makan saja dulu. Nanti kalo udah dingin nasinya gak enak." Mega terlihat sangat tidak senang sama sekali sejak hari pernikahan?.


"Mari makan ibu, ayah, mas evan." Andhira kembali berkata seperti itu.


"Hanya nawarin suaminya doang." Tante Ane kembali berulah?.


Akan tetapi pada saat itu Andhira hanya diam saja, ia malas menanggapi itu karena ia melihat Mega mama tirinya yang seakan-akan melotot padanya.


"Kenapa tidak langsung pulang saja habis nikahan?. Kenapa masih nyangkut di rumah ini?." Dalam hati Mega terlihat sangat tidak senang, karena kedua orang tua Evan masih berada di rumahnya?.


"Wanita gila harta ini pasti sedang merencanakan sesuatu." Dalam hati tante Ane merasakan firasat yang tidak enak sama sekali. Tentunya ia mengenali bagaimana perangai kakak iparnya itu.

__ADS_1


Kembali ke hari sebelumnya.


Pagi hari mereka telah bangun semua, tentunya mereka semua membantu beberapa orang yang sibuk membereskan semua peralatan yang telah dipakai.


"Loh?. Kenapa belum pulang?." Mega malah bertanya seperti itu pada Saguna, Greesa dan evan yang terlihat sangat bingung. "Bagusnya langsung bawa istrinya ke rumah, biar bisa mengurus rumah kamu." Lanjutnya sambil melihat ke arah Andhira yang saat itu sedang mengambil semua kado.


"Mulai mau berulah dia?." Dalam hati Andhira sedang mencoba menahan amarahnya. Seketika ia lempar semua kado yang tadi ia susun, dan ia dekati keluarga Evan yang dilihat tidak pantas oleh mama tirinya itu.


"Kami rencananya pulang besok sih." Saguna merasa sangat sungkan.


"Lah?. Kok lama bener sih?. Nanti sore loh?. Kan bisa ya?." Mega semakin terlihat sangat mencurigakan.


"Ayah, ibu sama evan belum bisa pulang. Karena masih ada urusan penting sama papa. Kalau mau protes kami belum pergi dari rumah ini?. Langsung aja ke orangnya. Jangan terkesan mengusir ayah, ibu sama mas evan dari rumah aku, ya?." Andhira melotot ke arah Mega.


"Kamu ini ngomong apa sih?. Aku kan cuma nanya aja!." Mega terlihat sangat kesal.


"Dhir?. Jangan kasar kek gitu sama mamanya." Evan merasa bersalah?.


"Mas?. Nanti aku ceritain sama mas banyak hal tentang semuanya." Bisik Andhira dengan sangat kesalnya.


"Um." Evan hanya nurut saja.


"Gak ada apa-apa tan. Biasa, ada orang julit tadi." Balas Andhira masih kesal.


"Jaga ucapan kamu dhira." Mega tidak terima.


"Kenapa?. Ibu, ayah sama mas evan itu akan tinggal satu bulan lagi di sini. Sebab mulai sekarang ini rumah mas evan jug." Andhira seperti telah kehilangan kesabaran yang ia rasakan saat itu.


"Dhira?. Nanti aja debatnya. Sekarang kita bereskan sampah dulu. Kalo gak buru-buru buang sampahnya?. Bisa busuk bau ****** rumah ini." Anesha sengaja berbicara seperti itu.


"Oh iya ya tan?. Benar juga tu." Andhira tentunya memahami kode itu.


"Kalau gitu tante buang sampah di sana dulu ya?." Anesha menuju ke arah belakang.


"Ayah, sama ibu ke dapur saja dulu. Saya telah menyiapkan minuman sama sarapan. Nanti kami susul sama mas evan setelah beres-beres di ruangan ini." Andhira masih bisa tersenyum ramah, meskipun hatinya sedang sangat panas.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu. Terima kasih ya dhir." Saguna juga memaklumi itu.


"Jangan lama-lama ya?." Greesa merasa tidak nyaman sama sekali.


"Enggak kok bu." Balas Andhira.


Setelah itu Saguna dan Greesa langsung menuju dapur, karena mereka tidak ingin menimbulkan masalah di rumah besannya.


"Ayo mas?. Tolong aku bawain kado itu." Andhira menunjuk ke arah kado yang sempat ia lempar tadi.


"Bawa ke kamar kita?." Evan mengikuti langkah Andhira.


"Ya kamar kita lah mas. Gak mungkin ke gudang, kan?." Andhira mengambil salah satu kado itu.


"Bffh!. Kamu ini ada-ada aja ya dek." Evan hampir saja tida k dapat menahan tawanya.


Namun saat itu Mega terlihat sangat kesal, karena tidak ada yang peduli sama sekali pada dirinya. "Berani sekali mereka semua mengabaikan aku." Dalam hatinya sangat mengutuk mereka semua yang telah berani menganggapnya tidak ada?.


Kembali ke masa ini.


"Pa?. Mumpung keluarga masih kumpul?. Gimana kalo kita jalan-jalan pa?." Andhira mengusulkan sesuatu.


"Apa gak istirahat dulu toh nak?." Greesa malah terlihat cemas.


"Benar tu yang dikatakan greesa. Kamu tuh baru nikah loh?. Ya betahin dulu kaki kamu di rumah. Jangan liatin jiwa keliaran kamu dengan masa gadis dan masa menikah sekarang." Mega dengan nada jutek.


Mereka semua yang berada di sana langsung melihat ke arah Mega yang terlihat tidak memiliki urat malu lagi.


"Tan. Gimana kalo kita liburan sekitar sini aja?. Aku yakin naira sama deepa butuh hiburan setelah belajar penuh selama seminggu." Andhira sama sekali tidak peduli.


"Boleh tu tante dhira. Liburan ke mana?."


"Mau lah liburan kak. Aku suntuk di rumah, gak ada hiburan sama sekali."


Deepa dan Naira terlihat sangat antusias, terlihat dari raut wajah mereka yang saat itu.

__ADS_1


"Ibu, ayah, mas evan, om diko, papa, mau liburan ke mana?." Andhira malah bertanya pada papanya, mertuanya, suaminya, dan omnya?. Apakah ia tidak menganggap keberadaan Mega sebagai mama tirinya?. "Mau ke pantai?. Makan-makan?. Atau gunung?." Andhira lanjut bertanya.


...***...


__ADS_2