
...***...
Saat itu Andhira masih berada di jalan, ia sedang menunggu lampu merah berganti dengan lampu hijau?. Saat itu pikirannya benar-benar sangat kusut. Sehingga ia hampir saja tidak bisa fokus mengendarai mobilnya?.
"Dia itu memang sangat keterlaluan!. Masih saja belum bisa memberikan kepastian?!." Andhira sangat heran dengan sikap laki-laki yang seperti itu. "Memangnya apa lagi yang ia inginkan dalam hidup ini?. Apakah dia bukan tipe seorang laki-laki yang akan betah dengan hanya satu orang wanita saja?." Entah pikiran jahatnya sedang berkeliaran bebas?. Namun itulah yang ia rasakan saat itu. "Satu bulan?. Apakah dia benar-benar menanggapi serius ucapanku?. Atau dia merasa paling dicintai oleh ku selama ini?. Sehingga ia berpikir untuk menjadikan aku sebagai tempat singgah baginya?." Pikiran jahatnya memang telah berkeliaran dengan sangat bebas. "Kalau memang seperti itu?. Aku memang harus menerima perjodohan itu?. Apakah aku bisa melewati itu semua dengan sangat tenang?. Aku tidak bisa memikirkannya." Dalam hatinya saat itu memang sangat bergejolak mengenai masa depan yang belum ia ketahui akan berkahir seperti apa?. Andhira hanya bisa mengikuti langkah arus waktu untuk menuainya.
Evan Baru saja sampai di rumahnya, ia tadi sambil jalan-jalan dulu sembari menenangkan pikirannya yang masih kusut mengenai hubungannya dengan Dera yang terkesan main-main saja.
"Baru palang nak?." Greesa Dara melihat anaknya baru pulang. Saat itu ia hanya sendirian saja, tentunya menjadi tanda tanya bagi anaknya.
"Ia bu." Jawabnya Sambil ikutan duduk bersama ibunya. "Ayah mana bu?." Evan tidak melihat keberadaan ayahnya.
"Ayah udah tidur duluan. Katanya mengantuk berat." Jawabnya sambil mengemil, ia saat itu sedang menonton sebuah acara yang cukup menarik. "Ibu sih nungguin kamu pulang." Ia melirik ke arah anaknya yang tampak nyaman bersandar di kursi panjang.
"Maaf ya bu?. Pulangnya memang agak lama." Evan merasa bersalah pada ibunya.
"Apakah memakan waktu yang lama?. Sehingga kamu pulang lama?." Greesa Dara penasaran dengan alasan kenapa anaknya pulang lama?.
"Tadi bertemu dengan teman bu. Makanya agak lama." Jawabnya. Ia tidak pernah mengatakan jika yang ia temui itu adalah pacarnya. Karena ia sangat yakin ibunya akan semakin penasaran, dan akhirnya akan membatalkan perjodohan itu?. Ia tahu betul bagaimana sikap ibunya. Namun di sisi lain ia masih memikirkan usaha yang telah didirikan ayahnya selama bertahun-tahun. Akan tetapi kalah saing dengan pengusaha yang bergerak pada bidang ilmu pengetahuan teknologi.
"Kamu udah bilang sama teman kamu itu?. Jika kamu mau menikah?."Greesa Dara malah bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Belum sih bu." Balasnya agak takut. Ia takut berbohong sebenarnya, tapi apa boleh buat. Keadaan yang memaksanya untuk berkata dusta pada ibunya.
"Loh?. Kenapa?." Greesa Dara semakin heran dengan anaknya. "Memangnya kamu gak dekat sama teman kamu itu?." Tanya Greesa Dara lagi.
"Soalnya temen aku tu cerewet banget. Males bangun cerita sama dia." Saat itu yang ada di dalam pikirannya adalah Andri, temannya yang memang sangat cerewet. "Entar kalo undangannya dicetak?. Baru aku kasih tahu sama dia bu." Hanya seperti itu jawabannya. Evan hanya tidak ingin ibunya mencemaskan keadaannya. Hanya itu saja, tidak lebih dari apapun yang ada di dalam pikirannya yang berlebihan cemasnya.
"Ya sudah kalau begitu." Greesa Dara hanya bisa memakluminya saja. "Apakah kamu sudah makan?. Apa mau ini siapkan makanan untuk kamu?." Greesa bertanya dengan senyuman kecil.
"Udah tadi bu. Sama teman-teman. Evan masih kenyang, soalnya tadi lumayan makan banyak." Jawabnya sambil mengelus perutnya yang masih kenyang?. Meskipun kenyataannya tadi ia makan sendirian?. Kembali ke pemikiran awal, ia hanya tidak ingin ibunya cemas dengan keadaanya yang sangat mengenaskan hanya karena masalah perempuan yang tidak bisa memberikan kepastian dalam hubungan percintaannya.
"Kalau gitu kamu istirahat saja. Pasti lelah setelah seharian di luar." Greesa Dara mempersilahkan anaknya menuju kamarnya. "Besok kerjakan lagi apa yang bisa dikerjakan." Ucapnya dengan penuh kelembutan kasih sayang seorang ibu.
"Ya." Balas Greesa Dara sebenarnya ia masih sangat mencemaskan keadaan anaknya.
"Maafkan evan ya bu?. Evan gak maksud bohongin ibu." Dalam hatinya sebenarnya merasa bersalah dengan apa yang telah ia katakan pada ibunya tadi.
"Apakah Perjodohan itu baik untuk anakku, ya?. Apakah ini tidak memberatkan evan nantinya ya?." Dalam hatinya masih menimang-nimang Keputusan suaminya yang telah menjodohkan anaknya dengan anak teman suaminya. Ibu harap kamu tidak keberatan dengan keputusan ini." Dalam hatinya hanya bisa berharap saja.
...***...
Sedangkan Dera saat ini sedang bersama Sandi. Saat itu mereka menuju jalan pulang?. Setelah puas jalan-jalan?. Sandi selalu mengantar pulang Dera pada malam hari?. Saat itu pula Sandi yang sedang membawa mobil sedikit mengomel.
__ADS_1
"Kamu ini aneh. Apa yang kamu pertahankan dari cowok miskin itu?." Sandi agak jengkel. "Tadi pas kamu nelpon sama aku tadi?. kamu itu sama dia, kan?." Sandi terlihat masih jengkel.
"Aku tuh cuma kaget aja. Tiba-tiba aja dia datang kek kuntilanak yang datang tdiak diundang. Ya panik lah aku!." Dera tidak mau disalahkan begitu saja, karena itulah dia membalas ucapan Sandi.
"Kenapa kamu itu gak mau aku ketemuan sama evan?. Apa kamu masih cinta sama dia?. Lalu kamu cuma mau-." Ucapannya terhenti ketika Dera menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya dengan manja.
"Kamu jangan terburu mengambil kesimpulan. Aku telah menyerahkan semuanya hanya padamu. Harusnya kamu yang lebih bertanggung jawab dalam masalah masa depanku." Ucapnya dengan tuntutan yang lebih besar. "Bukannya marah-marah, tapi kamu sendiri yang harus mengatakan padanya. kamu ini laki-laki, kan ya?." Dera saat itu seperti sedang menggoda Sandi.
"Be-benar juga sih. Benar apa yang kamu katakan." Sandi mendadak gugup dengan apa yang telah dikatakan pera. Ia akui memang telah mengambil semuanya dari Wanita itu.
"Jangan lari, loh?. Kamu itu bukan anak remaja labil yang tidak mengerti dengan apa yang telah kamu lakukan." Dera benar-benar meminta pertanggung jawaban dari pemuda itu.
"Ya. Aku akan tanggung jawab kok. Kamu tenang aja." Sandi malah terlihat senyum sumringah.
"Bagus kalau gitu. Seharusnya memang gitu." Dera juga terlihat senang. "Kalo kamu berniat untuk kabur?. Aku tidak akan sungkan-sungkan nyantet kamu ke dukun, loh?." Itulah ancaman yang ia layangkan saat itu.
"Kamu itu menyeramkan juga ternyata, ya?. Sandi merinding mendengarkan ancaman itu..
"Buat jaga-jaga aja sih." Dengan senyuman sumringah ia berkata seperti itu.
...**...
__ADS_1