SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 30


__ADS_3

...****...


Dua hari telah berlalu, Andhira dan Evan mencoba untuk melupakan apa yang telah terjadi. Keduanya berusaha untuk menguatkan satu sama lain, termasuk masalah Mega yang mencoba untuk mengusir mereka dari rumah itu. Saat itu mereka sarapan bersama, namun ada yang mencoba untuk merusak sarapan mereka saat itu.


"Dulu waktu papa menikah sama mama, pagi-pagi papa udah beres-beres berangkat kerja." Mega memulai menyindir. "Tapi anak muda sekarang malah betah berada di rumah ya?. Seakan-akan masih tanggung jawab oang tua mereka."


Untuk sesaat mereka terdiam sejenak, mencerna memikirkan apa yang telah mereka dengar saat itu.


"Dulu, mama aku pernah bilang. Dhira, jadilah wanita yang baik. Jangan sampai kamu menggunakan kata-kata yang tidak baik di depan makanan. Apa lagi sarapan itu kamu sajikan untuk suami kamu?. Maka ucapan kamu itu akan menjadi penolak rezeki untuk suami kamu. Kamu yang suka ngomel-ngomel di depan makanan artinya kamu sendiri yang meminta dilaknat Allah, karena tidak bersyukur dengan yang ada."


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?."


"Pa?. Mama nanya maksud sama dhira. Apakah papa enggak kasih penjelasan sama mama?. Adab makan yang baik saat ada keluarga makan bersama?."


"Andhira!."


"Diam!."


Bentak Harfandi dengan suara yang sangat keras, sehingga mereka semua terkejut.


"Aku enggak pernah ngajarin kamu buat nyindir orang lain ya ma?. Jangan bikin suasana sarapan ini gaduh."


Brakh!.


Mega mendorong piring dengan sangat kuat, hingga terdengar suara piring yang hampir saja pecah. Namun setelah itu ia pergi dari sana dengan suasana hati yang sangat marah luar biasa.


"Tunggu ma!."


Namun tidak digubriskan sama sekali oleh Mega yang sedang dalam keadaan yang marah.


"Maafkan dhira ya pa?."


Harfandi hanya menghela nafasnya saja. Ia tidak tahu harus berbuat apa, rasanya ia serba salah. Berada di dalam posisi yang tidak menyenangkan sama sekali.


"Ya sudah. Deepa, andhira, evan. Mari kita lanjutkan makan kita."


"Baik pa."

__ADS_1


Mereka hanya nurut saja dengan apa yang telah dikatakan oleh Harfandi. Karena sebenarnya mereka tidak ingin merusak sarapan mereka. Sementara itu Mega yang pergi meninggalkan meja makan.


"Sialan!. Anak itu masih saja bisa melawan aku?." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi sebenarnya. "Sial!. Aku masih lapar, tapi aku malu banget balik lagi." Ia semakin kesal dengan kondisi yang seperti itu. "Akan aku balas nanti dia." Hatinya saat itu hanya diisi oleh perasaan dendam yang semakin dalam.


Sementara itu di sisi lain.


Greesa sebenarnya sangat cemas dengan keadaan anaknya yang masih berada di rumah Harfandi.


"Ayah."


"Ada apa bu?."


"Sebenarnya ibu sangat cemas kalau evan masih berada di sana yah."


"Anak kita udah besar bu. Biarin aja dia mencoba untuk menghadapi bagaimana kehidupan rumah tangga, yang sepenuhnya mertua kadang enggak menerima menantunya gitu aja."


"Tapi kasihan anak kita yah. Dia enggak tahu apa-apa masalah yang dihadapi keluarga mertuanya,eh tahu-tahunya udah keseret masalah aja yah." Sebagai seorang ibu tentunya ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


"Begitulah kehidupan rumah tangga. Bukankah awal pernikahan dulu, ibu juga kurang suka sama kita yang bagun siang?. Ibu ingat itu kan?."


"Iya sih yah. Tapi kalau evan beda lagi."


"Benar banget tu yah. Dulu perasaan istri pertama harfandi enggak kek gitu. Tapi kok bisa-bisanya dapat istri yang memiliki perangai kek gitu ya?."


"Ayah juga heran dengan selera harfandi yang sekarang bu. Tapi kita enggak boleh berpikiran yang buruk. Semoga saja mega bisa mengubah perangainya. Kasihan dhira jika terus tinggal bersama mamanya yang seperti itu."


"Bagaimana kalau kita suruh evan bawa dhira ke sini aja. Soalnya kalau beli rumah belum ada uang bu. Kalau ngontrak kadang anak kita belum memiliki penghasilan yang tetap."


"Kita akan bantu dhira sama evan buat beli rumah. Tapi untuk sementara waktu biar tinggal di rumah ini aja dulu. Supaya rumah kita terasa rame bu."


"Betul juga yah, ibu setuju dengan ide ayah."


Meskipun keduanya saat itu sedang bergosip tentang perangai besan mereka yang terkesan aneh, tapi keduanya mencoba untuk mencari jalan keluar dari masalah yang mungkin dihadapi oleh anak dan menantunya di awal pernikahan mereka.


Kembali ke rumah Harfandi.


Saat itu Evan masuk ke dalam studio milik Andhira. Ia sangat terkesan dengan studio milik Andhira yang sangat rapi, bersih, dan tertata rapi.

__ADS_1


"Keren banget ya?."


"Alhamdulillah mas."


"Jadi kamu kerja sebagai editor video di sebuah televisi?."


"Ya, betul banget mas."


"Jadi kamu kuliah dulu jurusan apa?." Evan benar-benar terkesan dengan apa yang terkesan dengan apa yang ia lihat saat itu.


"Teknik informatika. Jurusan yang paling aku sukai yaitu menyunting video, dari pada membuat aplikasi."


"Oh, gitu ya?. Keren banget kamu bisa mengedit kek gitu."


"Kalau mas mau belajar, nanti aku ajarin."


"Benaran?. Emangnya boleh?."


"Boleh lah. Kalau aku enggak sibuk dengan editing dari kantor. Tapi biasanya sih ada waktu liburnya juga. Kek ini misalnya, aku cuti nikah."


"Tapi adek masuk kerja lagi dua hari lagi, kan?."


"Hehehe. Iya sih." Andhira malah tertawa kecil. "Tapi nanti aku bakalan banyak kerja di rumah juga kok, kadang-kadang aja aku di kantor ngambil file buat ngerjain semuanya."


"Emangnya enggak apa-apa kerja kek gitu?. Setahu aku semuanya berada di studio."


Andhira sedikit tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Evan saat itu. "KAlau itu sih kita yang terlibat dalam siaran televisi, siaran langsung, ataupun di lapangan. Tapi aku kan edit video animasi, video berita atau sebuah acara game. Jadi bener-bener konsentrasi yang tinggi untuk mengerjakan itu mas. Jadi kalau mau kerja di rumah?. Minimalnya punya studio kecil kek gini."


"Oh?. Gitu ya?. Mas baru tahu soalnya." Evan tampak tersipu malu. "Terus adek dapat bagian edit apa nih?."


"Bagian dari animasi yang tayang tiap hari, dan juga tayang tiap minggu. Jadi adek harus siaga terus."


"Wah. Kalau gitu semangat ya dek. Mas gak akan ganggu kamu kerja."


"Enggak merasa terganggu kok."


Evan saat itu merasa kagum dengan apa yang telah dikatakan Andhira padanya. Rasanya situasi seperti itu sangat berbeda ketika ia bersama Dera dulu yang mengatakan dirinya adalah pengganggu?. "Adu nasib ya?." Dalam hati Evan masih ingat dengan apa yang telah dikatakan Andhira saat itu, mengenai jodoh mereka karena adu nasib.

__ADS_1


...****...


__ADS_2