SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 13


__ADS_3

...***...


Pukul 12.30.


Pada saat itu Mega masih duduk dengan sangat santai setelah menyelesaikan semua kegiatan dapur?. Akan tetapi pada saat itu ia merasa tidak nyaman sama sekali, ia merasa panas dengan kondisi rumahnya saat itu.


"Sial!. Karena ac-nya mati?. Malah jadi panas!." Ia malah mengomel sendiri. "Dan lagi pula?. Kenapa anak kurang ajar itu sama sekali tidak keluar meskipun telah mati lampu?." Saat itu amarahnya keluar begitu saja. "Apakah benar dia mengerjakan semua pekerjaannya?!. Atau dia sengaja berbohong supaya tidak menyelesaikan dokumen pernikahannya?." Mega sangat kesal, marah, dan emosi yang telah meledak-ledak. Hatinya yang hanya dipenuhi dengan perasaan dengki, iri hati, tidak menerima apa yang telah terjadi?. "Apakah aku harus memastikan jika dia masih hidup?!." Ia langsung bangkit dari duduknya, ia tidak sabar lagi dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya. "Kalau gitu akan aku pastikan jika dia masih bernyawa di atas sana!. Karena dia telah putus asa!. Mati lampu!. Tidak menyelesaikan pekerjaannya?!." Dengan sangat marah membara ia berkata seperti itu. Setelah itu ia segera pergi dari sana, tentunya ia menuju studio kecil milik Andhira. Ia tidak akan tenang sebelum ia memastikan, jika Andhira memang berada di sana.


Sedangkan Andhira sendiri saat ini melanjutkan pekerjaannya tanpa merasa terganggu sedikitpun.


"Ok!. Dua video telah aku selesaikan. Setelah itu lanjut lagi." Ucapnya dengan semangatnya.


Akan tetapi pada saat itu dikejutkan dengan suara gedoran pintu yang sangat kuat, hinga membuat ia terkejut.


Tok!. Tok!. Tok!.


"Astagfirullah hal'azim ya Allah." Ia terperanjat terkejut, hingga rasanya jantungnya berdetak tidak normal.


"Dhira!. Dhira!. Keluar kamu!." Teriak Mega dari luar dengan suara yang sangat keras.

__ADS_1


"Apalagi sih dia itu?!." Andhira terbawa emosi mendengarkan suara teriakan itu. Andhira memutuskan untuk membuka pintu itu.


Brakh!.


Andhira sampai membanting kuat pintu itu, membuat Mega sedikit terkejut.


"Mau apa?!. Kenapa malah gedor-gedor pintu kek gedor mau melabrak pelakor?!." Bentak Andhira dengan suasana hati yang sangat panas.


"Lancang kamu ngomong kek gitu ya?!." Balas Mega tak kalah emosinya.


"Terus mau apa kemari?. Apakah ada sesuatu yang mau diambil lagi?!." Bentaknya lagi.


"Mati lampu?!." Andhira berpura-pura tidak memahami apa yang ia dengar saat itu.


"Eh?!. Buset ni anak ya?." Mega malah terlihat semakin marah?. "Dari tadi mati lampu!. Kek mana kamu bisa santai ngerjain kerja kamu?!. Sinting ni anak ya?." Ia malah makin kesal?.


"Lihat tu!. Meskipun mati lampu aku masih bisa kerja!." Tunjuknya ke arah tiga laptop yang menyala dengan sangat baik.


"Hah?!." Mega sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu.

__ADS_1


"Aku ngerjain kerjaan aku itu di laptop!. Kalo di komputer takutnya data aku mudah dicuri sama maling data. PArahnya lagi kalo mati lampu?!. Semua data aku bisa ilang kalo gak disimpan." Ucapnya dengan penuh penekanan. "Lagi pula laptop itu mudah dibawa kemana-mana, gampang di simpan. Biar gak mudah dicuri orang." Dengan perasaan yang sangat kesal ia sengaja berkata seperti itu, supaya mama tirinya menyadari ucapannya.


Tidak ada tanggapan dari Mega, karena ia tik menduga sama sekali, jika anak tirinya bekerja dengan menggunakan laptop?. "Sial!." Dalam hatinya sangat mengumpat penuh amarah. "Jadi apa yang aku lakukan tadi itu sia-sia?." Dala hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah ia rasakan.


"Kalo mama enggak ada urusan apapun lagi?. Mama boleh turun aja." Andhira melihat gelagat aneh yang telah ditunjukkan oleh Mega. "Aku mau lanjut ngerjain pekerjaan aku. Jangan sampai aku telpon papa pulang buat mengatur istrinya yang sangat tidak sopan matiin saklar lampu rumahnya sendiri buat nyusahin anak tirinya." Ucap Andhira sambi menunjuk pantauan televisi cctv yang mengarah ke saklar listrik utama. "Kalo mama gak mau papa marah masalah ini?. Sebaiknya mama jaga sikap. Karena itu enggak ad gunanya. Sebaiknya mama hidupkan kembali saklarnya." Hatinya sedang sangat sakit, melihat kelakuan mama tirinya itu. "Mama udah kepanasan dari tadi, kan?. Jadi hidupkan lagi?> Atau aku kirimin rekaman cctv itu ke papa?. Biar papa bisa menilai sendiri bagaimana kelakuan istrinya sendiri ketika suaminya tidak ada di rumah." Itulah ancaman yang ia katakan pada mama tirinya saat itu.


Namun belum ada tanggapan apapun dari Mega saat itu, karena ia sangat todak percaya, jika ada cctv yang berada di dekat sana?. "Sial!. Aku terjebak dengan permainan aku sendiri." Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang telah ia rasakan saat itu. "Aku tidak menduga anak ini cukup pintar juga." Dalam hatinya sangat tidak terima.


"Kenapa malah bengong?." Andhira memutar tubuh Mega agar balik arah. "Pergi sana. Jangan ganggu aku yang lagi kerja." Ia sedikit mendorong punggung Mega, sehingga membuat mama tirinya terdorong beberapa langkah ke depan.


Brakh!.


Andhira membanting pintu kamarnya dengan sangat kuat, karena suasana hatinya pada saat itu sedang dipenuhi oleh perasaan marah yang sangat luar biasa.


"Anak itu benar-benar sangat kurang ajar. Ternyata dia telah mempersiapkan ini semua dengan sangat matang untuk membalas apa yang telah aku lakukan." Dalam hatinya sungguh tidak menduga itu. Pelan-pelan ia melangkahkan kakinya untuk turun ke bawah. Namun suasana hatinya saat itu masih bergemuruh. Ternyata anak kurang ajar itu memiliki kelicikan untuk melawan aku?." Dalam hatinya sangat tidak menduga itu. "Sepertinya aku harus memikirkan cara yang lain untuk memberi pelajaran padanya." Dalam hatinya saat itu sedang memikirkan cara yang tepat untuk melakukan itu semua.


Sedangkan Andhira sendiri?. Ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya dengan mengambil nafas panjang. Sungguh, ia sangat kesal dengan apa yang ia lihat tadi sebenarnya di cctv?. Sebenarnya ia ingin mengabaikan itu semua, akan tetapi karena mama tirinya itu malah datang ke studio miliknya?. "Padahal aku ingin melupakan apa yang telah terjadi?. Tapi nenek pikun itu malah datang?. Benar-benar menyebalkan sekali." Dalam hatinya tidak bisa menghilangkan perasaan kesalnya. "Untung saja dulu nenek, sama tante ane yang super jahil membuat aku selalu masang cctv."  Dalam hatinya ingat dengan itu semua. "Ternyata ada manfaat juga sekarang aku memasang cctv di sana." Dalam hatinya sangat senang dengan adanya bukti itu. Sehingga ia bisa menggunakan cctv itu sebagai senjata untuk menekan siapa saja yang telah berniat jahat padanya?. Termasuk yang menghambat pekerjaannya saat ini?.


...***...

__ADS_1


__ADS_2