
...***...
Malam harinya.
Harfandi hendak istirahat, karena seharian telah bekerja di kantornya. Malam itu ia sedang bersama Mega istrinya di kamar.
"Pa, gimana dengan perkembangan acara pernikahan dhira?." Mega dengan sangat manjanya bersandar pada suaminya.
"Mama tenang saja, semuanya telah diatur kok." Harfandi dengan santainya membalas ucapan istrinya.
"Oh?. Ya sudah, baguslah." Mega tersenyum kecil menatap Harfandi. "Tapi mama mau nanya sama papa." Mega terlihat sangat penasaran akan sesuatu.
"Memangnya mama mau nanya apa?." Harfandi sedikit bingung.
"Memangnya ada kamera cctv di dekat sakelar lampu kita itu ya pa?." Mega dengan hati-hati bertanya. "Bisa jadi anak itu hanya membohongi aku untuk mengelabui aku." Dalam hatinya masih belum percaya, dengan apa yang telah dikatakan Andhira padanya.
"Memang ada sih." Harfandi mengingat dengan sangat jelas.
"Memang ada pa?." Mega setengah duduk, karena ia tidak menduga jika itu memang sangat benar?.
"Ya, memang ada." Harfandi sangat yakin. "Dulu ibu mertua sama adikku itu sangat jahil banget sama dhira waktu dia kuliah." Harfandi menceritakan alasan kenapa di sana dipasang CCTV. "Pas dia ngerjain tugas, jarang keluar dari kamarnya, terus dimatikan itu sakelar lampu di rumah biar dhira keluar." Harfandi sangat ingat bagaimana pengaduan anaknya ketika itu.
__ADS_1
"Terus?. Kenapa malah pake cctv segala?." Mega terpancing oleh rasa ingin tahu yang lumayan kuat dari hatinya, sehingga ia ingin mengetahui kelanjutannya.
"Itu supaya dhira tahu, siapa yang telah jahil padanya. Karena itulah dhira meminta papa memasangnya diam-diam." Harfandi sangat ingat betul bagaimana anaknya yang merengek memintanya untuk memasang CCTV.
"Pa!. Dhira minta pasang cctv di sana!. Dhira sebel!. Kesel!. Sama nenek juga tante ane!. Mereka jahil banget sama dhira!." Itulah rengekan Andhira saat itu yang diingat Harfandi. "Dhira itu harus segera menyelesaikan tugas kuliah dhira dengan cepat!. Tapi kenapa nenek kadang jahil?. Apalagi tante ane!." Dengan penuh kekesalan ia mengadu pada papanya.
"Ya sudah. Nanti papa pasang buat kamu pantau." Harfandi ketika itu hanya nurut saja dengan apa yang dikatakan anaknya. "Gitulah yang tejadi. Alasan kenapa anaknya memintanya untuk memasang CCTV.
"Emangnya selain tempat itu masih ada cctv lainnya ya?. Di pasang di rumah ini?." Mega sangat semakin penasaran, karena ia tidak mau lagi bertindak ceroboh setelah ini.
"Enggak ada sih, cuma itu doang sih." Harfandi hampir setengah mengantuk. "Kenapa memangnya?." Harfandi sedikit curiga dengan pertanyaan istrinya tadi.
"Enggak sih. Mama cuma penasaran aja." Mega berusaha untuk menenangkan dirinya, meskipun ia sangat gugup ketika bertanya pada suaminya mengenai pemasangan CCTV.
"Eh?. Ah!." Mega semakin gugup. "Enggak kok." Mega malah berbaring tidur membelakangi suaminya. "Kemarin itu mama coba-coba keliling rumah, keliling rumah, tapi mama liat ada yang aneh gitu di sakelar sana." Hanya seperti itu yang dapat ia katakan saat itu untuk menutupi rencananya.
"Oh?. Gitu toh?." Harfandi sebenarnya merasa sangat bingung, tapi ia tidak mau berpikiran buruk pada istrinya.
"Terus?. Nanti acara nikahnya di mana pa?." Mega mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya di rumah kita lah ma. Gak mungkin di rumah saguna." Harfandi semakin bingung. "Laki-laki lah yang datang menjemput wanita. Mama kan sendiri tahu itu, kan?." Harfandi mengingatkan kembali Mega dengan momen itu.
__ADS_1
"Benar juga sih pa." Mega masih ingat dengan itu.
...***...
Di sisi lain.
"Nomor baru?. Dari siapa ya?. Tidak biasanya." Dalam hati Andhira merasa heran dengan nomor baru yang masuk ke WhatsApp miliknya?. Karena merasa penasaran akhirnya ia menekan notifikasi itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ia membaca pesan itu "Walaikumbussalam warohmatullahi wabarokatuh. Eh?. Kayak mau ceramah aja ni anak ya?." Andhira malah tertawa cekikikan dengan ucapannya sendiri. "Hai, ini aka evan. Maaf kalo aku ganggu istirahat kamu." Itulah yang dibaca Andhira. "Oh?. Jadi ini dari evan?." Andhira memeriksa profil pemilik nomor Itu. "Evan Pradhana ya?." Andhira menyebutkan nama calon suaminya?. "Hum. Bisa pose imut gitu ya?." Entah kenapa ia merasa lucu dengan itu, sehingga ia tertawa geli?. "Ekhm." Namun setelah itu ia menyadari sedang bertingkah aneh. "Apa perlu aku bales ya?. Soalnya dia sedang online." Andhira sedang menimang-nimang dengan baik apa yang akan ia lakukan. "Baiklah. Akan aku bales seadanya saja." Ucapnya sambil memikirkan kata-kata yang tepat. "Lagi pula dia waktu itu terlihat jujur. Tidak menyimpan rahasianya, jika dia telah memiliki pacar." Andhira masih ingat dengan percakapan mereka hari itu.
Tring!.
Evan sedikit terkejut dengan bunyi notifikasi pesan whatsapp-nya Sendiri. "Di balas ya?." Dalam hatinya sedikit gugup. tangannya segera menekan pesan itu. "Karena aku belum tidur, dan belum merasa terganggu?. Ya aku balas aja." Evan telah memastikan sendiri, jika memang seperti itulah tulisan yang ada di hp-nya. "Pfh!." Evan tidak dapat menahan tawanya. "Aku pikir dia akan balas, ya. Aku andhira. Salam kenal ya?. Aku andhira, kok kamu tahu nomor aku?. Dapet dari mana?." Ucapnya sambil tertawa aneh. "Aku pikir dia akan balas kek gitu." Ia tidak bisa membayangkan bagaimana balasan chat itu?. "Lah?ini?. Di luar dugaan. Sangat membangongkan sekali." Evan malah tertawa cekikikan sendiri. Sungguh, ia tidak dapat menahan tawanya saat itu. Malam itu dua insan telah mencoba saling mendekatkan diri?. "BTW kamu lagi apa?. Jangan balas lagi bertapas tanpa aku, ya?." Evan benar-benar memiliki Jiwa humor yang sangat luar biasa, sehingga Andhira benar-benar merasa terhibur.
"Dih!. Malah ngomong kek gitu?." Andhira tidak menduga akan mendapatkan balasan yang seperti itu. "Jangan, bernafas lah dengan paru-paru sendiri. Nanti kalo berdua kita pakai oksigen." Itulah yang dibalas Andhira.
Sedangkan Evan semakin tertawa cekikikan dengan balasan dari Andhira. "Lah?. Ni anak punya jiwa humor yang sangat tinggi." Evan tidak menduga itu. "Eh?. Tunggu. Dia enggak sekalem yang aku bayangin." Evan membayangkan pertemuan pertama mereka. "Apa bisa ya?. Dekat sama cewek seperti ini?." Dalam hatinya mulai merasa tertarik dengan apa yang ia rasakan saat itu. "Katanya berdua itu baik. Dari pada sendiri dengan tanpa kepastian." Balasnya.
"Ah ela. Jangan curhat coy." Itulah balasan dari Andhira.
Malam itu mereka telah menghabiskan waktu dengan bercanda di WhatsApp, tapi apakah mereka akan bisa dekat seperti itu di dunia nyata?. Jawabnya?. Entahlah.
__ADS_1
...***...