
...***...
Andhira bangkit dari duduknya, tentunya itu membuat Dimas sedikit terkejut.
"Mau ke mana?." Dimas terlihat cemas.
"Udah Jam delapan malam. Aku harus pulang. Banyak Pekerjaan yang harus diselesaikan." Andhira memperhatikan jam di hp-nya.
"Oh?. Ok." Dimas hanya memakluminya.
"Ingat ya kak?. Dalam Satu bulan ini. Tidak selamanya aku bisa sabar menunggu kepastian dari kamu." Andhira menatap lekat ke arah Dimas.
"Ya. Akan aku pikirkan." Ucapnya.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Assalamualaikum." Setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkan tempat?.
"Apakah mau aku antar?." Dimas mencoba untuk menawarkan tumpangan pulang.
"Aku bawa mobil tadi. Jadi aku masih bisa pulang sendiri." Ucapnya dengan kecewa.
"Oh." Hanya seperti itu tanggapan dari Dimas. Memang ia akui selama ini ia memang tidak pernah lagi mengantar Andhira, bahkan ketika ia masih kuliah dulu. Ia lebih mementingkan pergi bersama temannya, dari pada menggubriskan Andhira.
"Maaf saja. Aku ini hanyalah wanita yang menginginkan kepastian." Dalam hati Andhira hanya tidak ingin jadi korban harapan seorang laki-laki yang mungkin belum siap untuk ke jenjang yang lebih serius lagi?. Apakah sebagai seorang wanita la telah bersikap jahat?. Dengan menuntut kepastian dari seorang laki-laki?.
__ADS_1
"Apakah kamu memang ingin serius?. Atau kau diam-diam telah memiliki pengganti aku?." Dalam hatinya mulai merasakan ada firasat buruk mengenai hubungan mereka yang masa kuliah dulu belum memiliki kepastian. Namun saat itu Dimas tidak bertanya secara langsung, ataupun mengejar Andhira. Ia hanya pasrah saja, karena ia belum bisa diajak ke arah yang lebih serius lagi. "Aku hanya ingin bermain-main dulu. Maaf saja, aku akan memikirkan ke arah yang lebih serius. Karena bagiku ke arah sana tidaklah mudah." Dalam hatinya masih belum ada niat untuk membawa seorang wanita ke arah yang lebih serius?. "Tapi aku sangat yakin, kamu tidak akan bisa jauh dariku. Jika kamu memang ingin serius?. Atau memiliki orang lain?. Aku yakin dari mulai tamat dulu kami sudah melakukan itu." Dalam hatinya sangat percaya diri dengan cinta Andhira padanya, meskipun ia sendiri tidak yakin, apakah ia mampu memberikan yang terbaik?. Atau malah membuat orang yang ia cintai menderita?. "Aku hanya butuh waktu saja untuk melakukannya." Ketakutan itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu.
...***...
Di satu sisi.
Sudah malam?. Ya, namun saat itu Evan masih sabar menunggu Dera yang katanya akan menghubungi temannya itu?.
"Nanti kamu tunggu di tempat biasa aja ya?. Soalnya aku ketemuan dengan, eh?. Apa?. Kamu ngomong apa sih?!." Dera pura-pura tidak mendengarkan seseorang yang berbicara dengannya. "Nanti aku kabari lagi ya?. Bentar aja kok. Enggak lama kok." Dera terlihat cekikikan. "Ya udah. Tunggu aku di sana, ya?. Bye-bye." Ia langsung menutup panggilan itu. "Apaan sih?!. Gak sabaran banget." Omel Dera dengan penuh emosi.
"Apa katanya?." EVan sedikit penasaran.
"Dia udah marah-marah keknya. Dia udah nungguin aku di tempat baju biasa kami beli." Jawabnya dengan senyuman ramah. "Dia ingin aku segera menemuinya. Karena itulah aku harus segera menemuinya." Dera malah terlihat sangat panik?. Tapi kenapa panik?.
'Terus?. Kamu mau nemuin dia sekarang?!. Lalu bagaimana dengan aku?." Evan terlihat sangat jengkel. "Kita udah lama gak ketemu!. Tapi kamu malah pergi gitu aja?." Evan sangat heran dengan sikap Dera yang seperti itu.
"Hufh!." Evan hanya menghela nafasnya saja. "Memang ini sudah malam, dan jika sudah tahu malam?. Masih mau jalan lagi?." Evan sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Kalau gitu aku duluan ya?. Aku merasa bersalah kalo biarin dia nungguin aku lama- lama." Bukannya membalas ucapan Evan?. Dera malah langsung cabut?!.
"Hei!. Tunggu!." Evan bermaksud menghentikan Dera, tapi langkah wanita itu agak cepat, sehingga Evan tidak bisa menahannya.
"Nanti aku kabari kamu ya?." Ucapnya dari jarak jauh, menoleh sebentar ke arah Evan?. Setelah itu benar-benar pergi begitu saja tanpa perasaan?.
__ADS_1
"Apaan itu coba?. Kamu pikir aku akan terus mempertahankan cinta ini?. Hati Evan terasa sangat sakit. "Saat ini ada seseorang yang ingin dijodohkan denganku. Meskipun aku dan dia belum memiliki perasaan apapun. Tapi entah kenapa aku sangat yakin, akan ada hati yang saling terbuka nantinya diantara kami." Dalam hati Evan sedang berusaha untuk menahan perasaan sesak itu. Rasanya hatinya terluka sangat dalam, karena ia yang jatuh cinta pada Dera. Akan tetapi wanita itu hanya main-main saja dengannya. "Jika itu saatnya tiba nanti, jangan salahkan aku. Jika aku tidak menaruh perasaan apapun padamu." Dalam keadaan hatinya yang sakit seperti itu, lahir dendam yang tidak sengaja terselip di hatinya karena sikap Dera yang seperti itu padanya.
...***...
Di rumah Harfandi.
Saat itu mereka baru saja sampai di rumah. Akan tetapi mereka sama sekali tidak melihat keberadaan siapapun?. Bahkan rumah dalam keadaan gelap.
"Coba papa carikan kontak lampunya." Mega Aryani meninta bantuan pada suaminya.
"Baiklah." Balas Harfandi.
"Hati-hati nak." Mega sedikit cemas dengan anaknya.
Ceklek!.
Mungkin seperti itulah bunyi suara kontak lampu yang dihidupkan oleh Harfandi.
"Sebaiknya mama mengecek andhira di kamarnya." Ucap Mega Aryani sambil menuju lantai atas rumahnya?. "Papa sama adek masuk ke kamar duluan ya?." Lanjutnya lagi.
"Ok ma." Deepa hanya nurut saja. Ia juga merasa lelah setelah seharian jalan-jalan bersama papa dan mamanya mumpung hari libur.
"Mama juga setelah itu langsung ke kamar ya?." Harfandi akan menunggu istrinya di kamar.
__ADS_1
"Ya." Balas Mega Aryani yang hampir berada di atas. Mega Aryani langsung menuju kamar Andhira, akan tetapi pada saat itu ada tulisan yang mengatakan jika pemilik kamar lagi di luar. Dilarang masuk jika tidak ingin kena jebakan tinta permanen. Setidaknya itulah tulisan yang ada di depan pintu kamar Andhira. "Tu anak kurang ajar banget ya?. Berani sekali dia membuat tulisan kek ginian saat pergi keluar?!." Mega Aryani sangat jengkel dengan tulisan itu. Sungguh, hatinya sangat dongkol dengan kelakuan anak tirinya. "Kalo gitu akan ku kasih pelajaran berharga buat kamu." Dengan kesalnya ia mengungkapkan tempat itu. Hatinya masih benci pada Andhira yang sama sekali tidak mau menerima kehadirannya?. "Lihat saja nanti!. Apa yang bisa aku lakukan untukmu anak ingusan tak tahu diri." Ucapnya dengan penuh amarah yang bergejolak.
...***...