SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 22


__ADS_3

...***...


Keesokan harinya.


Mereka telah sampai tempat tujuan. Andhira dan Evan berada di kamar yang sama. Mereka istirahat sejenak sebelum menikmati indahnya. Pemandangan pantai.


"Aku tu enggak tahu ya?. Kalau kamu itu sangat nekat menghadapi mama tiri kamu. Apa kamu enggak takut dimarahi papa kamu?. Evan sangat penasaran dengan kehidupan Andhira yang sebelumnya.


"Dulu sih mungkin aku takut kali ya?." Andhira mencoba memikirkan apa yang telah la lalui lama ini. "Mungkin dari dulu udah terbiasa berdebat, walaupun papa dulu sempat marahin aku." Lanjutnya sambil bersandar punggung dengan Evan. "Aku tu muak aja. Kalo aku ceritain sama kamu ya mas?. Sama kek aku buka aib keluarga aku sendiri gitu loh?." Membayangkan itu membuatnya malah merinding sendiri.


"Gitu ya. Kalo gitu lebih baik gak usah aja Evan merasa tidak enak hati. Lagian kata ustad, tutuplah aib keluarga atau saudaramu, niscaya Allah akan menutupi aibmu." Lanjutnya sambil mengingat pelajaran yang ia dapatkan.


"Kalo itu sih emang bener mas. Cuma dia sendiri yang kadang membuka aibnya sendiri." Andhira senang mendengarnya.


"Ahaha!. Kamu ini ada-ada aja dek." Evan hanya bisa tertawa kecil saja.


...***...


Sementara di kamar penginapan Anesha dan Diko.


"Akhirnya kita jadi juga jalan-jalan." Ucapnya sambil bermanja-manja dengan suaminya.


"Alhamdulillah." Diko sangat bersyukur. "Ini semua karena dhira, dia ngotot banget pengen liburan." Diko masih ingat bagaimana Andhira yang sangat ingin mengajak semua keluarganya liburan. "Apakah dhira dari dulu memang galak? Atau baru-baru ini saja dia bersikap seperti itu?." Diko makin heran dengan sikap Andhira yang seperti itu.


"Mungkin udah enggak tahan lagi, makanya kek gitu dia." Anesha tentunya masih ingat dengan perangai keponakannya.


"Tapi kita sama-sama berharap saja semuanya akan aman untuk liburan kali ini." hanya itu harapan yang ia inginkan saat itu.


"Ya, aku juga harap kek gitu sih." Ucapnya dengan perasaan yang aneh.

__ADS_1


...***...


Di Kamar penginapan lainnya.


"Mama jangan cemberut lagi." Harfandi heran dengan sikap istrinya. "Kolo mamo seperti ini?. Papa yang akan malu ma." Harfandi sebenarnya sangat malas berdebat dengan sikap istrinya yang semakin aneh. "Apa mama gak malu sama saguna juga greesa?." Harfandi tidak dapat menahan dirinya. Namun tidak ada tanggapan dari Mega yang masih belum ikhlas?.


"Rasanya urat maluku udah gak ada lagi." Dalam hatinya sangat mengutuk itu.


"Sebenarnya apa yang mama inginkan dengan bersikap seperti itu?." Harfandi tidak tahu harus berbuat apalagi untuk memastikan kembali, Jika ia tidak salah menikahi seorang wanita.


"Sudahlah pa. Jangan dibahas lagi. Mama mau tidur. Mama ngantuk banget." Mega seperti sedang menghindari sesuatu.


Kembali ke masa sebelum mereka berdiskusi. Saat itu Andhira berniat turun ke bawah untuk minum namun siapa yang menduga?. Saat itu ada seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang?.


"Ah! Au!. Au! sakit!." Ada seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang?! "Ah! Au!. Au! sakit!." Saat meringis kesakitan. Andhira tidak menduga sama sekali, jika Mega, yang telah menarik kuat rambutnya. "Lepasin!." Andhira menepis kuat. tangan itu sehingga Mega meringis sakit.


"Kamu itu benar-benar kurang. ajar ya?!." Mega menyentuh tangannya, ia tidak menduga jika tangannya akan sesakit itu ditepuk oleh Andhra yang sedang dikuasai oleh amarah!


"Kamu itu yang mulai perang!. Kamu yang seenaknya saja menawar kan mereka untuk liburan dengan menggunakan suami aku!." Bentaknya dengan sangat kuat.


"Hah?." Andhira tek kejut mendengarkan itu. Mama itu emang gak punya urat malu, ya?. Kami tu ya?!." Andhira mulai memperlihatkan bagaimana kemarahan yang ia rasakan. "Kami itu memiliki uang masing-masing untuk bayar yang liburan." Sungguh hatinya sangat kesal. 'Mama saja yang panik berlebihan. Padahal yang menghabiskan uang papa itu adalah mama!. Jangan bikin papa malu jika mendengarkan ucapan mama yang kek gini." ucapnya penuh dengan emosi.


"Kamu ini hanya-."


"Hanya apa?!." Bentak Andhira dengan emosi yang semakin memuncak. "Kalo mama berani berantakin acara liburan besok?. Akan aku serahin rekaman yang waktu itu sama papa." Ancamnya dengan penuh emosi yang membara. Selain itu, akan aku bongkar rahasia mama yang mau mengambil alih rumah ini. Juga ancaman mama yang akan membunuh papa, kalau aku tidak menerima perjodohan itu". Saking sakitnya hatinya saat itu. Akhirnya ia mengeluarkan semua yang ia rasakan.


Deg!.


Mega Sangat terkejut mendengarkan itu. "Kamu berani mengancam aku?." Sorot mata itu terlihat memancarkan kebencian tang sangat Dalam sehingga Andhira dapat menangkap itu semua dengan sangat baik.

__ADS_1


"Anggap itu adalah sebuah ancaman supaya mama memahami posisi mama di sini sebenarnya sebagai apa. "Balas Andhira dengan perasaan yang bercampur aduk. "Mama ini wanita kan? Jangan jadikan pernikahan itu sebagai ladang mencari harta, memperkaya diri. Tapi jadikan landasan untuk membentuk hubungan yang lebih baik lagi. Bukan mencari permusuhan, tapi tempat untuk menjalin tali ikatan yang dinamakan keluarga." Andhira benar-benar mengeluarkan amarah yang ia rasakan.


Sedangkan Mega benar-benar kehilangan kata-kata mendengarkan Ucapan Andhira. "Dari mana anak ini memiliki keberanian untuk melawan aku?." Dalam hatinya sangat heran.


"Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan ini. Sebelum mama menyesal karena memiliki niat yang salah dalam membangun rumah tangga." Ucapan itu benar-benar sangat menohok ke hari yang terdalam. "Jangan berikan kesan yang buruk pada diri sendiri. Jadilah wanita yang terhormat." Andhira mengambil gelas dan menuangkannya. Setelah itu. ia pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya, saat itu sedang dikuasai oleh amarah yang sangat luar biasa.


"Anak itu benar-benar sangat kurang ajar. Kenapa dia berani sekali, melawan aku sekarang?." Dalam hatinya sangat benci, dan yang Paling ia benci saat itu adalah?. Ia sama sekali tidak bisa, melawan atas apa yang telah terjadi padanya. Seakan-akan ia telah tanduk, merasa takut dengan ancaman yang diucapkan Andhira padanya.


Kembali ke masa ini. Pukul 7.30 malam.


Setelah melaksanakan sholat magrib?. Mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama.


"Alhamdulillah. Hari ini kita bisa berkumpul bersama." Harfandi memperhatikan Mereka semua dengan senyuman ramah. "Semoga dengan berkumpulnya kita malam ini di tempat ini, hubungan kita semakin terjalin dengan baik." Harfandi terlihat hampir menangis. "Saya sangat senang, karena keluarga saya bertambah banyak dengan kehadiran, Saguna, Greesa, dan juga nak van. Ada bentuk rasa haru yang ia Sampaikan Saat itu Hatinya yang sangat sensitif mengenai suasana itu. "Saya tidak bisa membayangkan, atau memikirkan akan adanya hubungan yang sangat luar biasa ini terjalin antara kita." Lanjutnya lagi.


"Alhamdulillah, Kami juga merasa sangat bersyukur, dengan diterimanya kami di keluarga ini, tentunya kami sangat bersyukur sekali." Saguna menyambut ucapan Harfandi dengan sangat ramah. "Hidup ini telah berjalan dengan garis yang telah ditentukan. "Lanjutkan.


"Benar yang dikatakan mas saguna." Diko mulai berani bersuara. "Saya dulu dan sekarang merasakan sendiri bagaimana memiliki keluarga, dan ketika saya masih bujang, itu memang ada perubahan yang sangat luar biasa. "Lanjutnya.


"Itu karena semua di sediakan sama tante ane, kan?. Makanya terasa bedanya." ucap Andhira dengan hada bercanda.


Namun mereka menanggapi itu dengan senyuman dan tawa yang cukup keras. "Jangan gitu ah!. Kamu ini ya dek." Bisik Evan sambil menahan tawanya.


"Andhira. Jangan buat ayang tante malu, ih!" Anesha mencolek tangan Andhra, dan lagi-lagi mereka tertawa melihat itu. "Papa emang manja kok." Naira malah membuka rahasia.


"Naira." Anesha dan Diko memberi peringatan pada anak mereka. Kembali mereka tertawa melihat itu, kecuali Mega yang saat itu memiliki suasana hati yang sangat buruk. Sedangkan anaknya Deepa dengan mudahnya bergaul dah makanan nya udah nyampe nih." Andhira dan Evan terlihat sangat senang, karena pesanan mereka telah sampai


"Mari makan saguna, greesa, nak even, diko, naira, deepa, evan, dhira, mama." Harfandi mempersilahkan mereka semua untuk menyantap makanan yang telah disediakan oleh pihak penginapan.


"Papa rajin sekali ya?. Sampai-sampai semuanya diabsen." Evan merasa lucu dengan itu, dan tentunya Ucapannya itu disambut dengan tawa oleh mereka semua, sekali lagi dikatakan, kecuali Mega yang saat itu memang tidak berniat untuk bergabung dengan mereka semua.

__ADS_1


"Mari Makan, semuanya." Ralat Andhira. Setidaknya untuk waktu itu mereka dapat merasakan kedekatan dua keluarga?. Keluarga mereka telah bertambah, adanya rona kebahagian yang terjalin antara mereka. Meskipun hanya ada satu orang yang saat itu entah ia memang tidak mau?. Atau memang bawaan seperti itu?. Tidak ada yang mengetahuinya.


...***...


__ADS_2