SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 14


__ADS_3

...***...


Pukul 13.30


Saat itu  Dimas dan Nadia baru saja keluar dari kamar?. Keduanya terlihat sangat senang?. Memangnya apa yang telah mereka lakukan?.


"Aku tidak menduga kamu ternyata seliar itu ya?." Dimas terlihat sangat puas.


"Kamu yang memancing aku." Balas Nadia dengan nada yang sangat genit.


"Kamu yang menggodaku. Jangan salahkanku, jika aku melakukannya." Dimas malah tertawa puas dengan apa yang telah mereka lakukan.


"Dah ah!. Capek debat sama kamu mas." Nadia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sesuatu.


"Kamu sangat yakin dengan apa yang telah kamu lakukan?." Dimas ikut menuju dapur.


"Aku sangat yakin dengan apa yang telah aku lakukan." Jawabnya sambil mengambil beberapa piring, dan juga gelas yang ia siapkan untuk makan siang?. "Kamu saja yang ingin aku tanyakan." Ia melirik ke arah Dimas yang duduk di kursi meja makan. "Kamu laki-laki. Dan kamu telah mengetahui hubungan antara wanita yang setelah melakukan itu, kan?." Dengan senyuman manis ia berkata seperti itu.


"Kamu mau menuntut tanggung jawab sama aku?." Dimas balik bertanya.

__ADS_1


"Jika bukan sama kamu?. Sama siapa kau meminta tanggungjawab?." Nadia malah tertawa?. "Kamu ini laki-laki, kan?. Berani berbuat?. Maka kamu yang harus bertanggung jawab, loh?." Nadia menyiapkan makan siang untuk mereka saat itu.


Namun tidak ada tanggapan apapun dari Dimas, karena ia memikirkan apa yang telah dikatakan Nadia padanya. "Apakah menurut kamu aku adalah laki-laki yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan?." Dengan tatapan penuh keraguan ia malah bertanya seperti itu pada Nadia. "Sebab aku tidak_." Ucapnya sedikit terputus, ia belum sempat memikirkan apapun saat itu selain kenikmatan dunia saja. Ia tidak berpikir jika apa yang akan ia lakukan itu akan ada kehidupan baru yang akan lahir?.


"Apakah karena kamu memiliki pacar lainnya?. Sehingga kamu merasa sangat keberatan  dengan apa yang telah kamu lakukan?." Nadia mencoba menebak apa yang membuat Dimas merasa sangat ragu.


"Jika masalah itu?. Aku tidak merasa keberatan sama sekali jika memang itu terjadi nantinya." Dimas malah menundukkan wajahnya. "Jika memang apa yang telah kita lakukan ini akan membawa kelahiran bagi kehidupan baru?. Maka aku aka bertanggung jawab." Lanjutnya dengan hati-hati melihat ke arah Nadia yang tampak tenang. "Hanya saja-." Sangat jelas terlihat keraguan di dalam matanya itu.


"Hanya saja?." Nadia mengulangi apa yang dikatakan oleh Dimas. "Rasanya aku sangat takut dengan apa yang akan dia katakan padaku." Dalam hatinya mulai ada perasaan yang tidak nyaman


"Hanya saja aku tidak memiliki apapun untuk aku banggakan pada orang tuamu nantinya." Itulah yang ia rasakan selama ini.


"Oh?. Gitu toh?." Dalam hati Nadia tersenyum kecil mendengarkan apa yang telah dikatakan Dimas, dan ia sangat mengetahui maksud dari ucapan itu. "Jika masalah materi kamu gak perlu takut mas." Ia usap pelan pergelangan tangan Dimas. Ia tunjukkan betapa besar rasa cintanya pada pemuda itu. "Nanti akan aku tunjukan padamu bagaimana caranya." Nadia terlihat sangat senang dengan rencana yang ada di dalam pikirannya saat itu.


...***...


Pukul 15.30.


Andhira telah selesai dengan empat video y ang telah berhasil ia kerjakan saat itu. Otaknya hampir terasa sangat panas dengan apa yang telah ia lakukan. Selain itu ia tidak bisa memaksakan drinya untuk melakukan hal yang mungkin akan mengganggu kesehatannya.

__ADS_1


"Duh!. Bukan mataku aja yang terasa sangat panas karena kelamaan natap ni monitor." Dalam hatinya sedikit mengeluh. Bahkan ia mengucek-ngucek matanya yang terasa lelah?. "Otakku juga bisa meledak karena terlalu banyak berpikir." Ucapnya sambil meregangkan badannya dengan beberapa gerakan kecil. "OH?." Saat itu ia menyadari sesuatu. "Jadi dia takut ya?. Baguslah." Dalam hatinya sangat lega karena apa yang telah ia lakukan pada mama tirinya berhasil dengan sempurna. "Kamu pikir kamu saja yang bisa jahil?." Ia malah terkekeh kecil mengingat itu. "Bahkan nenek dan tante ane lebih parah dari apa yang kamu lakukan untuk mengganggu pekerjaan aku." Dalam hatinya hanya bisa mengingat apa yang terjadi di masa lalu, ketika keluarganya masih utuh dengan adanya ibunya, nenek dari ibunya, tante dari adik papanya. Namun setelah mamanya meninggal?. Semuanya seakan-akan juga ikut menghilang entah kemana?.


"Kalau begitu aku kirim dahulu." Andhira mencoba untuk merenggang badannya yang masih terasa sangat pegal. "Besok aku lanjutkan lagi dengan pekerjaan ini. Panas juga ya?." Ucapnya sambil mengelus dadanya dengan sangat pelan, seakan-akan ada tuntunan untuknya untuk meninggalkan ruangan itu. "Sebaiknya aku segera melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu." Dalam hatinya saat itu mulia melihat ke arah jam dinding, serta terdengar suara adzan yang berkumandang. "Lupain aja untuk sementara masalah mati lampu. Lagi pula pekerjaanku sudah jauh daru kata aman." Dalam hati Andhira mencoba untuk melupakan sejenak apa yang telah dilakukan oleh mama tirinya.        


Sedangkan di sisi lain Evan juga terbangun dari tidurnya. Tadi ia sangat lelah membantu ibunya membereskan rumah meskipun rumahnya telah rapi.


"Gak nyadar sama sekali dah ashar aja." Evan sedikit merenggangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal. "Duh!. Ibu malah nambah kerjaan sebagai syarat supaya tidak bocorin cerita ke ayah." Evan malah mengomel-ngomel sebelum masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Sementara itu Saguna baru saja pulang dari restorannya?.


"Assalamualaikum." Ucapnya dengan senyuman ramah. Ia duduk bersama istrinya yang baru saja hendak beranjak dari duduknya?.


"Wa'aikumussalam." Balasnya dengan senyuman ramah pula, dan tak lupa ia mencium tangan suaminya dengan penuh cinta dan kasih sayang. "Ayah sudah sholat ashar?." Suaranya begitu lembut ketika bertanya seperti itu.


"Belum sih bu. Soalnya ayah tadi pulang sebelum ashar." Jawabnya sambil melihat ke arah jam dinding yang tak jauh dari mereka.


"Bagaimana kalau kita sholat ashar berjamaah saja yah?. Kebetulan ibu juga belum sholat ashar." Greesa mengajak suaminya.


"Baiklah kalau memang seperti itu bu." Saguna tersenyum lembut. Itulah yang membuat ia semakin mencintai istrinya, karena bukan hanya pandai masalah dunia saja, akan tetapi jika masalah akhirat istrinya selalu rajin mengingatkannya.

__ADS_1


Setelah itu keduanya langsung menuju kamar mereka untuk melaksanakan sholat berjemaah.


...*** ...


__ADS_2