
...***...
Pagi Pukul 5.40.
Saat itu mereka sedang Menikmati betapa indahnya matahari terbit dari arah laut?. Sehingga kesannya sangat cantik.
"SubhanAllah Sangat cantik ya mas?." Andhira mengambil moment langka itu dengan menggunakan kamera hp-nya.
"Memang sangat cantik." Balas Evan.
"Tapi lebih cantik lagi kalau aku foto bareng sama kamu dengan latar belakang matahari terbit." Lanjutnya sambil memberi kode pada Andhira untuk mendekatinya.
Deg!.
Entah kenapa Andhira merasa berdebar-debar ketika mendengarkan ucapan seperti itu.
"Dia serius berkata seperti itu padaku?." Dalam hati Andhira masih ragu dengan apa yang ia dengar.
"Kamu enggak mau ya dek?." Evan merasa sangat malu. "Maaf, aku enggak bermaksud untuk membuat kamu tidak nyaman sama sekali." Ia merasa bersalah.
"Mau. Boleh kok." Andhira tidak menolaknya. Seperti ada sebuah dorongan yang membuatnya tidak menolak itu.
"Terima kasih." Ucap Evan dengan suara yang sangat pelan. Setelah itu mereka mengambil foto selfi!?.
"Ini gak apa-apa kan, ya?." Dalam hati Andhira sebenarnya sangat cemas dengan itu. Namun di sisi lain saat itu ia sangat berdebar-debar dengan apa yang telah ia lakukan saat itu.
"Apakah aku boleh dekat di samping kamu?." Evan kembali bertanya karena ia tidak ingin terkesan laki-lak! yang sangat kurang ajar pada wanita.
"Kita ini telah sah menjadi suami istri, tapi jangan terlalu dekat kali dekapannya ya?." Ucap Andhira sambil mengambil pose selfi mereka.
"Kenapa?." Evan malah bertanya seperti itu?.
"Aku takut nanti mas gak mau pisah sama aku, malah pengen nempel terus." Dengan tawanya yang sangat aneh. "Ah!. Candaanku rasanya sangat kolot ya?." Dalam hati Andhira malah bingung dengan ucapannya.
Evan terdiam sesaat, entah kenapa jantungnya Merasa tidak aman dengan senyuman Andhira. "Tapi aku malah berpikir, sebaiknya dek. Aku takut kamu yang gak mau melepaskan pelukan aku nantinya." Balas Evan sambil mengambil foto mereka yang berpelukan dengan sangat mesranya. "Ahaha!. Situasi macam apa ini?." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang telah ia lakukan saat itu. "Moga aja dia enggak bosan sama aku nantinya." Dalam hati Evan hanya berharap seperti itu.
__ADS_1
Saat itu Keduanya sedang menikmati kebersamaan yang baru tercipta diantara mereka. Sementara itu Anesha, Diko, Harfandi Greesa, dan Saguna memperhatikan itu dari jarak yang lumayan jauh.
"Sepertinya mereka mulai akrab." Anesha sangat senang, serta sangat gemas melihat itu.
"Romantis banget ya?." Greesa Jug dapat merasakan itu.
"Syukurlah jika memang seperti itu." Harfandi juga sangat senang melihat anaknya cepat dekat dengan anaknya.
"Rasanya enggak salah kita menjodohkan mereka, ya?. Jika mereka bisa cepat akrab seperti itu." Saguna sangat bersyukur dengan perjodohan itu.
"Ya. Memang tidak salah lagi. Kalo diliat baik-baik memang kek gitu." Diko juga merasa senang melihat itu.
"Kalau gitu kita siapkan sarapan pagi yang sangat romantis untuk kedua pasangan yang bary menikah." Anesha tentunya memikirkan sesuatu yang sangat menarik yang akan mereka persiapkan. "Anggap aja balas kebaikan dhira yang memikirkan kedekatan hubungan krta agar lebih erat lagi." Lanjutnya.
"Baiklah. Kalau gitu mari kita siapkan secepatnya." Harfandi tentunya sangat setuju. "Ini semua kebahagiaan anakku. Putri kecilku yang kini telah menjadi istri seorang laki-laki yang bisa aku percayai untuk menjaga kebahagiaannya." Dalam hati Harfandi sangat bersyukur untuk itu.
"Semoga kalian bisa bahagia ya. Evan, ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu nak." Dalam hati Greesa hampir saja menangis melihat keakraban anaknya.
Sementara itu di kamar penginapan?. Mega sangat malas bergerak, apalagi ketika suaminya tadi mengajaknya untuk keluar. "Rasanya aku tidak sudi menyaksikan adegan bodoh dhira yang pastinya sangat norak." Dalam pikirannya terbayang bagaimana anak tirinya itu berfoto bersama suaminya?. "Rasanya sangat jijik aku membayangkan itu." Hatinya yang hanya dipenuhi dengan kebencian yang sangat dalam pada anak tirinya. "Jika saja aku tidak mengejar harta mas harfandi, maka aku tidak akan sudi mengalami kondisi yang seperti ini." Dalam hatinya hanya menyesalkan itu saja. "Awas saja, hingga pada saatnya aku akan mendapatkan apa yang aku incar selama ini." Dalam hatinya sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Masih ngantuk ma." Naira yang merasa malas keluar?. "Nanti aja kalo dah lumayan ngantuknya hilang." Lanjutnya tanpa membuka matanya.
"Paling cuma liat adegan romantis kak dhira, entar jadi malas pa. "Tadinya mau liat matahari terbit, eh malah liat adegan romantis kak dhira." Deepa dengan malasnya berkata seperti itu.
"Ya sudah, kalau gitu kami pergi dulu ya?." Anesha hanya pasrah saja.
"Ya udah, papa duluan ya?. Nanti sarapan pagi papa panggil kalian ya?." Harfandi juga memilih mengalah.
"Ya." Balas keduanya dengan malasnya.
Ya, setidaknya itulah yang terjadi pada saat itu.
...***...
Sementara itu di sisi lainnya.
__ADS_1
Pagi itu, Dimas dan Nadia baru saja keluar dari kamar salah satu tempat penginapan. Mereka yang saat itu masih merasakan yang dinamakan cinta?.
"Apakah tdiak apa-apa kita masih berada di sini?."
"Ya, enggak apa-apa. Kamu takut?."
"Enggak sih. Khawatir aja kita betah di sini. Entar gimana nikahnya kalo kita betah di sini?."
Nadia hanya tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Dimas.
"Kamu ini bisa aja ya mas?. Gak ada candaan lain apa?."
"Hehehe!." Dimas hanya nyengir saja.
"Bagaimana kalau kita sarapan aja yuk?."
"Ayuk."
Keduanya pergi ke dapur spesial yang mereka buat untuk mereka memasak. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu, tapi mereka hanya bisa menikmati apa yang telah mereka dapatkan saat itu.
Di sisi lain.
Sandi dan Dera juga baru bangun. Keduanya benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang saling mencintai?. Padahal mereka belum terisak hubungan yang seperti itu?. Tapi mereka masih bisa bermesraan seperti itu?.
"Pagi sayang." Dengan tanpa malu ia memeluk Dera dari samping.
"Pagi juga sayang." Balas Dera dengan senyuman yang sangat manis.
"Sarapan yuk?. Laper nih." Dengan suara yang sangat manja ia berkata seperti itu?.
"Ayuk." Dera tidak malu-malu lagi, dan ia memang memanjakan Sandi seperti suaminya sendiri.
"Mari." Sandi menggendong Dera dengan sangat romantis, seperti seorang suami yang sangat memanjakan istinya.
Sepertinya cinta mereka memiliki perbedaan yang sangat berbeda, antara Andhira dan Evan, hubungan antara Sandi dan Dera, begitu juga Dimas dan Nadia.
__ADS_1
...***...