
...***...
"Seharian penuh kita telah main bersama keluarga yang lainnya. Apa kamu suka mas?."
"Tentu saja aku suka dek. Rasanya kita sedang pacaran ya?. "
"Lah kok bisa?. Kita kan udah menikah mas?."
"Rasanya aku ingat kata seseorang. Pacaran setelah menikah itu lebih baik dari pada pacaran sebelum menikah."
"Hahaha!. kok adek enggak tahu ya mas?. "
"Ih!. Adek jangan tertawa kek gitu juga kali dek."
Entah kenapa Evan sangat kesal, karena malah tertawa dengan sangat lepas. Akan tetapi pada saat itu mereka sangat dikejutkan dengan suara nada notifikasi hp masing-masing. Keduanya sempat saling bertatapan satu sama lain keduanya sangat bingung.
"Kita liat aja ya?."
"Ok. kita liat sama-sama ya, mas?."
Dengan hati-hati keduanya segera mengambil hp, lalu membuka Pesan itu.
"Dimas?. Dalam hati Andhira.
"Dera?" Dalam hati Evan bingung.
"Dari siapa mas?.
"Dari Pacar aku, dulu. Dan sekarang Jadi mantan mungkin.
"Oh?. itu ya?.
"Terus?. Mengirim pesan di whatsapp kamu.
"Dari pacar aku."
"Emangnya dia bilang apa?.
"Dia bilang mau ketemuan sama aku, besok. ketemuan?." Evan sangat heran dengan itu.
"Benar mas. Tapi kenapa muka mas kek kaget gitu?"
"Adek liat aja." Dengan sangat pasrah ia menunjukkan bagaimana isi pesan itu
Deg!.
__ADS_1
Keduanya sempat terdiam, karena itu sangat membingungkan bagi keduanya.
"Ini kebetulan, atau apa ya mas?."
"Enggak tahu juga sih dek."
"Terus kita harus apa mas?."
Evan terdiam sambil memikirkan apa yang telah terjadi, dan ia harus berbuat apa jika memang Dera ingin mengajaknya ketemuan?.
"Menurut adek?. Pacar kamu itu seperti apa?. Sampe adek mau menerima perjodohan ini?."
Kali ini Andhira belum memberikan jawaban apapun, karena ia sedang menimang, serta menimbang jawaban yang sangat tepat, yang akan ia sampaikan pada Evan.
"Manusia itu tidak ada yang sempurna sifatnya ya, kan mas?. Kecuali Allah SWT yang telah mengatakan di dalam Al-Qur'an, bahwa telah aku ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna. Bukan dalam bentuk akal dan pikiran, kan?."
"Ya. Adek memang benar. Lantas kenapa?."
"Soalnya dia sangat cuek mas." Ada perasaan yang ia rasakan. "Dia lebih mementingkan survivalnya, dan tega sekali dia meninggalkan aku sendirian waktu pulang kampus."
"Tega amat?."
"Bukan adek bermaksud untuk mencari pembenaran, ataupun bermaksud untuk menjelek-jelekkan dia mas.Tapi memang kenyataanya seperti itu. Bahkan sebelum nikah adek udah kasih dia kesempatan untuk memikirkan, bahwa adek gak mau dikasih harapan." Hatinya merasakan perasaan luka yang tidak biasa.
Namun Evan saat itu belum memberikan komentar apapun saat itu, karena ia sedang memikirkan tanggapan yang tepat untuk ucapan Andhira.
"Benar yang dikatakan dhira. Jangan sampai ada rahasia diantara kita, yang nantinya akan menciptakan sebuah kesalahpahaman." Dalam hati Evan sedang memikirkan langkah apa yang akan mereka lakukan untuk menanggapi pesan dari pacar mereka yang mendadak ingin ketemuan?.
...***...
Sementara itu Dimas sedang menatap layar hp-nya dengan perasaan yang sangat berat.
"Kamu sudah mengirim pesan sama dia, kan?." Nadia menyandar manja pada Dimas.
"Kamu tenang aja. Aku udah enggak sabar lagi menikah sama kamu, jadi kamu putusin semua pacar kamu. Karena cuma aku yang bisa menjamin hidup kamu dari pada mereka."
Sepertinya Nadia telah mengetahui jika Dimas telah memiliki pacar, karena itulah ia menyuruh Dimas untuk memutuskan hubungan itu dan menikah dengannya.
"Kamu sendiri yang telah mengisi ini dengan sepenuh hati, jadi kamu enggak akan aku biarkan lari gitu aja tanpa bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan." Ia kecup pipi Dimas dengan lembut. "Meskipun aku enggak tahu, apakah pacar kamu itu hamil kek gini atau enggak?. Kasih tahu aku dong?." Dengan sangat santainya ia berkata seperti itu, sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
"Enggak sih." Balas Dimas. "Soalnya dia itu terlalu fokus untuk kuliah dulunya. Sedangkan aku suka dengan survival. Bisa dibilang aku yang sangat cuek sama dia." Ia akui memang seperti itu yang terjadi saat itu.
"Oh?. Tapi sama aku jangan cuek ya?. Sebab aku adalah satu-satunya istri kamu. Satu untuk selamanya." Dengan sangat percaya diri ia berkata seperti itu.
"Kamu itu ya?. Gemes banget." Dimas tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang ingin mendominasi seorang laki-laki dengan caranya yang seperti itu.
__ADS_1
...*** ...
Di sisi lain.
Sandi dan Dera yang baru saja menikah?. Keduanya saat itu sedang berada di kamar mereka.
"Aku rasa ini bukan malam pertama kita, kan?."
Plak!.
Dera menepuk pundak Sandi agak keras, membuatnya tersentak terkejut.
"Emangnya ini perbuatan siapa?. Kamu mau pura-pura lupa?."
"Hehehe!. Benar sih."
Sandi membaringkan kepalanya tepat di pangkuan Dera yang terlihat sedang kesal.
"Jadi gimana?. Kamu mau memamerkan aku sama pacar kamu yang katanya juga udah nikah itu?." Dengan nada menggoda ia bertanya sepert itu.
"Kamu tenang aja. Jika dia udah nikah?. Kenapa aku enggak bisa nikah sama kamu?. Aku gak akan ditinggal begitu aja, sebab aku yang seharusnya ninggalin dia."
"Oke. Akan aku liat besok pas kamu ketemu sama dia."
Aan tetapi pada saat itu ada notifikasi whatsapp yang masuk. Keduanya sangat penasaran, melihat bagaimana isi pesan itu.
"Mungkin aku bisa ketemu sama kamu empat hari lagi. Soalnya aku sedang berada di luar kota. Ada acara yang enggak bisa aku tunda."
Seperti itulah isi pesan tersebut, dan mereka sedang memikirkan apa yang tertera daru pesan itu?.
"Acara apaan coba?."
"Enggak tahu."
"Terus gimana?. Kamu mau menunggu sampai empat hari lagi emangnya?."
"Mungkin. Mungkin kalo aku ingat."
"Ahahaha!. Kamu ini lucu banget ya yang?."
Sandi malah tertawa mendengarkan apa yang telah dikatakan Dera, itu terdengar seperti sebuah lawakan yang sangat luar biasa baginya. Dera pun juga ikut tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Kalo ingat. Kalo gak ingat ya udah, kan ya?. Kapan-kapan ketemu lagi?."
Kembali keduanya tertawa puas mendengarkan ucapan itu. Entah kenapa keduanya malah tertawa puas?. Apakah itu adalah sebuah lawakan yang sangat luar biasa?. Sehingga mereka tertawa seperti itu?.
__ADS_1
...***...