SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 16


__ADS_3

...***...


Sementara itu di sisi lainnya. Meskipun sudah hampir larut malam, namun malam itu tidak membuat tempat itu surut akan pengunjung. Malahan, semakin malam?. Tempat itu semakin dikunjungi banyak pemuda dan pemudi. Dimas dan Nadra duduk bersama yang lainnya?.


"Kenapa kamu membawa aku ke sini?." Dimas merasa heran.


"Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku?." Dimas sama sekali belum mengerti.


"Apakah kamu tahu mas?. Mereka semua juga tidak memiliki uang, dan sangat putus asa." Nadia Menunjuk ke arah para pelayan cafe itu.


"Tapi mereka semua tidak menyerah begitu saja. Mereka semua mau bekerja dengan sangat baik untuk menentukan pilihan masa depan mereka." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Cafe ini aku buatkan ketika awal kuliah, karena melihat nasib teman-teman kelasku yang tidak seberuntung diriku. Hingga saat itu aku memutuskan untuk membantu mereka." Bukan ia bermaksud untuk membanggakan dirinya. Hanya saja saat itu ia hanya ingin menyadarkan Dimas. "Setiap manusia memiliki masalah masing-masing. Jadi jangan mudah putus asa." Ia genggam erat tangan Dimas untuk menguatkan pemuda yang ia cintai.


Namun saat itu tidak ada tanggapan dari Dimas, karena ia tidak mengetahui dengan sangat pasti bagaimana perasaan yang ia rasakan saat itu. Memang ia akui, jika dirinya saat itu ia selalu mengeluh dengan apa yang ia rasakan. Ia selalu mengeluh dengan kehidupannya yang serba kekurangan. Rasanya ia mendapatkan pukulan yang telak dengan ucapan Nadia. "Apakah mereka sudah lama bekerja di sini'?. Dimas merasa heran, jika memang itu sudah sangat lama.


"Mereka sudah lama bekerja disini. Bahkan mereka saat ini ada yang melanjutkan perjalanan kuliah mereka yang sempat tertunda. Jawabnya dengan senyuman kecil.


"Lalu apa yang akan aku dapatkan?. Dengan kamu memperlihatkan ini semua padaku?." Dimas hanya ingin mengetahuinya.


"Kamu kan sangat suka dengan survival?. Kenapa tidak membuat sebuah tempat untuk awal pekerjaan tetap saja?. Aku yakin kamu bisa mengelolanya." Nadia sangat sedang Mencoba untuk memberi semangat pada Dimas. "Tapi aku tidak memiliki dana-." Ucapannya saat itu terputus karena Nadia menempelkan Jari telunjuknya ke bibir Dimas.


"Jangan cemas untuk masalah itu." Ucapnya dengan senyuman manis. "Aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung beban seorang diri." Nadia sangat yakin dengan ucapannya. "Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar menderita. Tidak ada juga yang benar- benar bahagia. Tidak ada orang yang miskin." Nadia masih menggandeng tangan Dimas. "Tidak ada orang yang kaya. Selagi dia mau berusaha untuk melakukan apa yang mereka bisa lakukan." Nadia telah memahami itu semua dari kedua orang tuanya sangat sibuk.


"Apakah aku tidak akan merepotkan mu nantinya?. Aku tidak mau terkesan menjadi laki-laki yang lemah hanya karena dibantu oleh seorang wanita." Dimas hanya tidak ingin terjadi masalah ungkit-mengungkit nantinya diantara mereka.

__ADS_1


"Kamu jangat terlalu berpikiran jauh tentang masalah lain." Nadia memahami itu." Jalani saja yang ada. Jangan pikirkan yang buruk- buruk dulu kamu pikirkan, ya?." Nadia seakan-akan memberikan kekuatan, keteguhan pada Dimas. Bahwa setiap masalah yang terjadi pasti ada solusi ataupun jalan keluar dari masalah ini. Dalam suasa seperti itu?. Apakah Dimas akan menerima semuanya dengan sangat senang hati?. Ini semua hanyalah menunggu waktu saja.


"Aku akan memikirkan itu semua dengan tenang." Hanya itu saja yang dapat ia katakan. Karena baginya saat itu sangat tiba-tiba, ia seperti mendapatkan jekpot yang sangat langka yang pernah diterima orang normal lainnya.


"Ya. Kamu harus memikirkan itu semua dengan sangat tenang." Nadia tidak memaksakan kehendaknya agar Dimas tanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan.


...***...


Pagi harinya Andhira keluar dari kamarnya, ia hanya ingin melihat, apakah papanya sudah bangun?. Tidak biasanya papanya masih ada di rumah pada jam seperti ini?. Pakaian biasa yang ia kenakan, bukan setelah orang yang akan pergi ke kantor.


"Selamat pagi papa." Sapa Andhira dengan senyuman ramah. Saat itu ia mengambil piring dan gelas, ia ingin sarapan.


"Selamat pagi juga dhira." Balas Harfandi dengan senyuman manis. "Kamu mau sarapan juga?." Ia melihat anaknya dengan semangat mengambil nasi dan lauk yang tersaji di atas meja makan?.


"Lagi nganter si adek ke sekolah." Jawabnya sambil menuangkan minuman ke gelas.


"Loh? kok?. Tumben banget?. Ada acara apa?." Andhira hampir saja tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat itu.


"Enggak tahu mama tuh." Harfandi semakin bingung dengan istrinya yang maksa dirinya untuk mengantar anaknya Deepa.


"Memangnya papa enggak ke kantor?." Andhira duduk bersama papanya.


"Hari ini papa mau mengurus semua tentang pernikahan kamu nantinya." Jawab Harfandi.

__ADS_1


"Maaf ya pa?. Apa dhira bisa membantu papa?." Andhira merasa kasihan dengan papanya yang terlihat sangat lelah.


"Kamu fokus sama pekerjaan kamu saja. Biarkan papa saja yang mengurus semuanya." Harfandi tidak merasa keberatan sama sekali.


"Tapi tetap saja pa. Aku adalah pihak yang akan menghadapi langsung masalah pernikahan itu pa. Masa aku cuma diam dan nerima bersihnya doang?. Kan malu sama calon suaminya nanti pa." Andhira terlihat cemberut.


"Ya sudah. Nanti nanti papa menyelesaikan beberapa masalah lagi, termasuk undangannya." Harfandi hanya pasrah saja mendengarkan protes anak perempuannya.


"Oke papa." Andhira terlihat sangat senang. "Apa mungkin aku putusin aja ya?. Lagian dimas itu enggak pasti gimana hidupnya." Dalam hati Andhira merasa sangat kesal dengan pemuda itu. "Akan aku kirimkan undangan buat dia, supaya dia tahu, bahwa aku sangat benci dengan laki-laki yang tidak memiliki pendirian seperti dia." Dalam hatinya terselip perasaan benci yang sangat dalam.


Sedangkan Dimas sendiri sedang berada di sebuah penginapan bersama Nadia. Saat itu mereka bersikap seakan-akan mereka adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah.


"Memangnya orang tua kamu gak cemas kamu sendirian?." Dimas merasa penasaran dengan itu.


"Jangan bahas masalah itu sekarang. Rasanya aku sangat benci mengatakannya." Nadia terlihat sangat kesal?. Namun ia malah bergelayut manja di lengan Dimas?.


"Jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun juga kita lahir dari rahim orang tua kita yang bernama ibu." Dimas mencoba memberikan penjelasan.


"Hum. Nanti akan aku katakan pada mereka. Dan kapan kamu akan menikahi aku?. Hum?." Nadia malah menuntut itu.


"Kamu tenang saja, aku akan menikahi kamu secepatnya." Dimas telah menetapkan pilihannya. "Maafkan aku ya andhira?. Aku telah menemukan apa yang aku cari." Dalam hatinya berkata seperti itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2