SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 11


__ADS_3

...***...


Andhira berusaha untuk terus berkomunikasi dengan mamanya, ia sangat takut kehilangan mamanya.


"Mama masih bisa bertahan kok." Andhira tidak kuasa menahan tangisnya. "Semangat ya mama?. Dhira akan selalu bersama mama." Andhira hampir saja terisak karena tangisnya.


"Ya. Mama akan lebih bersemangat lagi nak." Azira sebenarnya sudah tidak tahan lagi, namun ia memang harus bertahan demi anaknya.


"Mama." Andhira menggenggam tangan ibunya. Namun apa yang terjadi saat itu?. Kondisi mamanya semakin parah, dan ia terlihat semakin panik?. Apa yang harus ia lakukan saat itu?.


"Mama!." Teriaknya hingga saat itu Andhira terbangun?. Ia bermimpi melihat mamanya yang dalam keadaan sakit parah?. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Andhira mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah itu ia bangkit dari tempat tidurnya, karena mendengarkan suara adzan yang telah membangunkannya. Sebagai seorang muslim, tentunya ia mengetahui dengan pasti kewajibannya. Andhira segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.


Di sisi lain. Evan juga mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dalam hatinya hanya mencari ketenangan batın, berharap mereka mendapatkan kemudian dalam melakukan sesuatu. Sholat mereka terlihat sangat khusuk, ingat kepada Allah sang pencipta langit dan bumi beserta isinya. Tak lupa mereka berdo'a untuk meminta kebahagiaan duniawi?. Untuk diri mereka masing-masing, sebagai manusia lemah yang tidak berdaya.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa kedua orang tua hamba. Ampunilah dosa-dosa hamba, baik dosa disengaja ataupun tidak disengaja." Itulah doa Andhira Pada saat itu. "Ampunilah dosa mama tiri hamba jika beliau memiliki niat jang jahat pada keluarga hamba." Terkadang ia menyelipkan doanya yang seperti itu. "Berikanlah kemudahan pada hamba untuk menghadapi masalah yang sedang hamba hadapi ya Allah." Dalam donya ia hanya berharap seperti itu. Hatinya saat itu benar-benar sangat gundah, dan ia tidak tahu harus berbuat apa dengan sikap mama tirinya yang seakan-akan memusuhinya. Karena itulah ia terkadang terbawa suasana, hingga ia sering membalas itu dengan kata-kata yang lebih pedas pula.


"Ya Allah berikan lah kesabaran, kekuatan iman pada hamba ya Allah. Supaya hamba dapat menentukan pilihan hidup ini ya Allah. Hilangkan lah keraguan yang ada di dalam hati hamba." Doa Evan pada pagi itu. "Berikanlah petunjuk pada hamba agar dapat menentukan pilihan hidup." Evan Saat ini merasakan kegundahan yang sangat dalam. "Hamba hanyalah manusia biasa yang berpasrah pada-Mu dengan apa yang ia rasakan saat ini." Rasanya ia tidak kuat lagi menghadapi masalah percintaan yang tidak ada ujungnya.


"Berikanlah kami ketabahan menghadapi semua ini." Keduanya seakan-akan hendak terhubung dalam satu do'a yang sama. "Robbana atina fiddunya hasanah waking azabannar. Aamiin." Dalam hati keduanya hanya bisa berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi dari pada hari kemarin.


Keduanya telah selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, Apakah mereka benar-benar merasakan kegundahan hati yang sangat luar biasa. Apakah keduanya tidak boleh berharap?. Akan ada secuil kebahagiaan yang akan mereka raih?. Hanya bisa mencoba dan mencoba untuk mendapatkan semuanya dengan berusaha, berdo'a, serta pasrahkan semuanya pada sang pencipta.

__ADS_1


Setelah melepaskan telekung, Andhira merapikannya ke tempat biasa. Saat itu matanya melihat ke arah beberapa tumpukan data yang harus ia selesaikan dalam Minggu ini. "Sepertinya ada pekerjaan yang menungguku hari ini." Ucapnya dengan senyuman kecil. Ia berjalan menuju mejanya. "Tidak ada gunanya aku terlalu bersedih, hanya karena tidak diberikan kepastian oleh seorang laki-laki. Toh masih ada yang lain." Dalam hatinya mencoba untuk mengabaikan rasa sakit yang tidak ia inginkan sama sekali dalam masalah percintaan. "Bismillahirrahmanirrahim. Semoga hari ini lancar, dan aku bisa mengerjakan ini semua dengan baik." Dalam hatinya tidak akan memikirkan hal lain selain pekerjaannya.


Sedangkan Evan?.


Tok, tok, tok.


"Ya?." Evan langsung mendekati pintu kamarnya, dan ketiak ia membuka pintu kamarnya?. Ibunya terlihat tersenyum ramah?.


"Bisa tolong ayahmu sebentar di belakang?." Ucapnya sambil menunjuk ke arah halaman belakang.


"Tentu saja bu." Evan menyanggupinya.


"Kalau gitu ikut ibu." Dengan senyuman ramah, ia mengajak anaknya ke halaman belakang.


"Kalau gitu ibu tunggu di belakang ya?." Greesa Dara berjalan duluan. Tidak mungkin ia menunggu anaknya.


"Baik bu." Balas Evan, ia masuk kembali ke kamarnya untuk ganti pakaian?.


...***...


Di sisi lainnya.

__ADS_1


Dimas dan Nadia baru saja keluar dari sebuah hotel?. Keduanya menginap di hotel, karena sudah sangat larut, dan tidak mungkin mengantar Nadia pada hari itu juga?. Makanya keduanya memilih menginap di hotel terdekat.


"Kamu udah selesai mandi tadi kan?." Dimas bertanya dengan senyuman kecil.


"Ya mas. Aku udah mandi kok." Balasnya.


Keduanya memasuki mobil milik Nadia, karena mobil Dimas sengaja dibiarkan di hotel?. "Terus kamu nanti naik apa pulangnya mas?." Tanya Nadia sedikit penasaran.


"Aku naik transportasi umum aja. Bisa kok." Jawabnya sambil mengendarai mobil itu dengan sangat santai. "Mobil kamu bagus ya?. Nyaman juga saat dikendarai." Dimas merasa kagum dengan keunikan mobil milik Nadia.


"Oh?. Ya dong. Mobil bagus dengan jumlah terbatas. Ya memang nyaman untuk dibawa." Ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Minggu ini aku mau ikut survival ke desa dalam. Apakah kamu mau ikut denganku?." Dimas menawarkan ajakan pergi survival lagi.


"Benarkah?. Aku boleh ikut?." Nadia sangat senang mendengarnya.


"Boleh dong. Kamu kan?. Pacar aku sekarang. Ya boleh lah." Dimas dengan bangganya berkata seperti itu.


"Wah!. Asyik nih!. Bisa survival bareng kamu mas." Nadia sangat senang. "Kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya untuk keberangkatannya. Kamu bilang aja kapan jadwal pastinya." Nadia terlihat semakin bersemangat.


"Ok!. Nanti aku kabari ke kamu kapan jadwal berangkat. Nanti aku yang akan jemput kamu ke rumah." Dimas kita terlihat bersemangat dari yang sebelumnya. "Andai saja kamu mau diajak seperti nadia?. Aku yakin aku tidak akan mencari yang lain andhira." Dalam hatinya saat itu terbesit pikirannya tentang Andhira yang tidak pernah mau ia ajak untuk ke acara survival. Bahkan ia selalu menolaknya dengan alasan pekerjaan, dan kesibukan yang tidak bisa ditunda. "Jika seandainya kamu memang ingin putus dari aku?. Aku akan segera putusin kamu andhira. Sebab Nadia adalah wanita yang aku inginkan. Wanita yang mau aku ajak ke hobiku yang sebenarnya." Dalam hatinya malam memikirkan itu. Ada niat di dalam hatinya untuk putus dengan Andhira hanya karena tidak mau diajak ke acara survival yang sangat menyenangkan baginya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2