SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 28


__ADS_3

...***...


Andhira dan Evan memutuskan untuk pergi dari sana, karena orang yang ditunggu juga belum belum datang setelah menunggu lebih dari tiga jam. Saat ini mereka memutuskan untuk pergi ke mall untuk menghilangkan rasa kesal?.


"Kamu yakin mau ke sini mas?."


"Enggak sih. cuma pengen liat-liat aja sih."


"Olala. Kirain ada niatan untuk berbelanja atau apa gitu?."


"Ya udah. Kita belanja kalau ada yang kamu sukai nanti."


"Boleh lah."


Namun saat itu mereka tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Tentunya saat itu mereka sangat terkejut.


"Evan?."


"Dera?."


Ternyata mereka saling kenal?.


"Oh?. Jadi elu yang bernama evan?."


"Emangnya lu siapa?."


Evan agak emosi mendengarkan pertanyaan itu, apa lagi ketika melihat Dera yang membawa banyak belanjaan, dan bukan hanya itu saja yang menjadi pusat perhatian dari matanya. Sementara itu Andhira hanya diam sambil memperhatikan itu.


"Gue?. Gue sandi. Orang yang telah berhasil merebut pacar lu. Dan sekarang sedang hamil anak gue!."


Deg!.


"Tenang mas. Jangan emosi dulu." Andhira menahan Evan yang terlihat hendak memaki Sandi. "Jangan semuanya dibawa emosi."


Evan sedikit tenang mendengarkan ucapan Andhira, dan ia mencoba untuk mengendalikan amarahnya yang hampir saja meledak.


"Eh?!. Lu siapanya evan?."


"Gue?. Gue istrinya mas evan." Jawabnya. "Jadi lu itu pacarnya mas evan ya?. Kasihan banget ya?."

__ADS_1


"Apa lu bilang?."


"Gue kasihan sama mas evan yang ternyata mencintai wanita yang tidak setia seperti lu. Kita ini wanita, tapi lu jangan mudah ngasih gelas lu sama orang yang lu anggap itu jodoh lu."


"Gak usah ikut campur dengan urusan orang lain. Lu itu orang luar."


"Oh ya?. Tapi sekarang gue itu istri mas evan. Dan gue pengen tegasin, kalo lo menghubungi mas evan lagi buat pamer doang?. Gue habisin lu." Andhira saat itu sangat kesal, ia tidak menduga jika pacar Evan seperti itu?. "Kita pergi mas." Andhira langsung menarik tangan Evan agar pergi dari sana, tapi. "Satu lagi. Sejahat-jahatnya wanita, dia tidak akan memberikan harapan pada seorang laki-laki yang tulus mencintainya, dan malah pergi dengan laki-laki bajingan yang menandai gelas seorang wanita hanya untuk membuktikan apakah kualitas gelas itu masih bagus atau tidak." Setelah berkata seperti itu, Andhira benar-benar pergi dari sana.


Sandi dan Dera terdiam sejenak setelah mendengarkan apa yang telah dikatakan Andhira tadi. Sungguh mereka tidak menduga sama sekali akan terjadi seperti itu?.


"Sialan wanita itu. Artinya gue dibilang gelas yang mudah diobral?. Sialan. Kalau ketemu lagi?. Gue hajar lu." Dalam hati Dera sangat dongkol dengan itu. Sungguh, ia sangat tidak terima dengan ucapan itu.


"Ternyata istrinya evan mulutnya kasar. Tapi apa yang dia bilang itu ada benarnya sih." Dalam hati sandi terkesan dengan apa yang ia dengar. "Memang, awalnya aku mendekati dera cuma mastiin dia itu cewek yang setia atau tidak, tapi aku tidak menduga benaran jatuh cinta sama dia. Sama seperti yang dibilang cewek itu tadi." Dalam hatinya memang mengakui itu adalah sebuah kebenaran yang ia rasakan.


Sementara itu Evan dan Andhira.


Untuk sesaat mereka diam tanpa suara, karena mereka tidak menduga sama sekali akan mendapatkan momen kilasan yang seperti itu.


"Mas?. Kamu kok diam aja?. Tadi itu aku marah sama pacar kamu, loh?."


"Enggak apa-apa. Aku tadi itu shock banget. Ternyata dia itu udah berisi kek gitu. Aku jadi takut, kalo itu udah lama, makanya dia enggak berani buat ketemuan sama aku."


"Jika memang seperti itu?. Memangnya adek mau ngapain?."


"Enggak tahu juga mas. Mending kita pulang aja deh. Rasanya itu enggak enak banget mas."


"Ya, aku rasa emang itu keputusan yang tepat."


Entah kenapa mental mereka hari ini benar-benar sedang diuji dengan sangat sempurna.


Sedangkan Sandi dan Dera mereka masih memikirkan apa yang telah dikatakan Andhira tadi.


kembali ke masa lalu.


Saat itu Dera terlihat sangat gelisah, ia hanya sendirian saja di sebuah tempat makan yang cukup ramai. Sandi saat itu merasa penasaran, karena ada cewek yang duduk sendirian.


"Hai?."


"Aku?."

__ADS_1


"Iya kamu."


"Ada apa ya?." Dera terlihat bingung, karena ada seseorang yang menyapa dirinya dengan sangat santai, seakan-akan mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Enggak ada apa-apa sih. Apa aku boleh duduk di sini?. Soalnya tempat yang lain penuh semua."


Dera memperhatikan sekitar, memang tempat duduk telah diisi oleh pengunjung. Karena merasa kasihan, akhirnya Dera mempersilahkan Sandi untuk duduk.


"Tapi gak ada yang marah, kan?. Kalo aku duduk sama kamu di sini sama kamu?."


"Untuk saat ini enggak sih."


"Itu yang paling perlu."


Sandi terlihat sangat senang mendengarkan jawaban yang seperti itu, meskipun tidak sepenuhnya bear apa yang dikatakan Dera?. Tapi ada perasaan percaya di hatinya.


"Boleh kenalan gak?. Namaku sandi. Tapi bukan sandi wifi, ataupun sandi hp. Hanya sandi tanpa tambahan embel-embel gelar lainnya."


"Bffh!." Dera secara spontan tertawa mendengarkan ucapan yang seperti itu. Entah kenapa baginya saat itu benar-benar sangat lucu.


"Loh? Kenapa ketawa?. AKu sedang tidak memberikan lawakan, sehingga kamu tertawa seperti itu."


"Maaf, maafkan aku. Habisnya itu lucu banget tahu gak sih?."


"Emang benar ternyata dugaan aku. Kamu itu lebih manis kalo tertawa. Dibandingkan tadi itu kamu kok cemberut sih?. Kamu lagi ada masalah ya?."


Untuk sesaat Dera terdiam, ia tidak membalas apapun yang dikatakan Sandi padanya. Entah itu sebuah gombalan, ataupun sebuah hiburan baginya yang tadinya memang sedang gelisah.


"Oh, maaf. Aku enggak bermaksud untuk menghilangkan semangat kamu, tapi aku bermaksud untuk membuat kamu lebih semangat jika lagi ada masalah."


"Aku emang lagi ada masalah. Emangnya kamu mau dengerin aku mau ngomong apa?."


"Dengan senang hati tuan putri."


Di sana lah awal kedekatan mereka, berawal dari rasa penasaran dan akhirnya mereka benar-benar merasa nyaman. saling berbagi cerita satu sama lain, Sandi yang memberikan perhatian yang berlebihan pada Dera, sehingga dengan mudahnya Dera melupakan bahwa Evan adalah pacarnya?. Hubungannya dengan Sandi semakin hari semakin erat, seakan-akan mereka adalah pasangan suami istri yang telah lama menikah. Tanpa sadar Dera telah memberikan segalanya pada Sandi, termasuk mahkota miliknya?. Miris memang.


Kembali ke masa ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2