SIAPA CINTA SEJATIMU

SIAPA CINTA SEJATIMU
CHAPTER 17


__ADS_3

...***...


Dua hari kemudian.


Hari ini Andhira sedang menunggu kedatangan Evan bersama kedua orang tuanya, karena hari ini mereka telah sepakat untuk menetapkan hari pernikahan mereka.


"Alhamdulillah, ini adalah pertemuan kedua kita." Harfandi sangat senang dengan pertemuan itu. "Saya sebagai wali dari andhira mengucapakan terima kasih atas kedatangan kalian." Ucapnya dengan sangat ramah.


"Justru kami lah yang sangat berterima kasih, atas kebaikan yang kamu berikan pada kami har." Saguna hampir saja tidak bisa berkata apa-apa saat itu. "Kamu bukan hanya membantu usahaku, tapi kamu juga telah banyak membantu kami." Lanjutnya.


"Kalau begitu, kenapa tidak segera kita tetapkan hari pernikahannya?. Supaya evan gak bolak-balik lagi ke kua." Dengan nada bercanda Greesa berkata seperti itu. "Nanti bisa berpaling hati dengan gadis lain?. Bisa gawat loh?. Urusannya." Ucapnya dengan menggoda anaknya.


"Ibu ini ngomong apa sih?." Evan berusaha menahan malunya ketika mereka tertawa mendengarkan ucapan ibunya.


"Lihat anakmu malu-malu saguna." Harfandi tidak dapat menahan tawanya.


"Biasanya dia malu-maluin har." Saguna malah semakin tertawa.


"Jangan berkata seperti itu ayah." Evan terlihat sangat kesal.


"Jangan tertawain evan." Andhira malah membela Evan, entah kenapa ia sangat tidak suka dengan itu.


"Oh!. Lalala!. Ada yang sedang marah nih?." Greesa menangkap semuanya dengan sangat sangat baik.


"Wah?. Kamu dibelain istri kamu van?." Saguna juga menangkap itu.


"Calon istri yang baik nih." Harfandi malah berpikiran seperti itu. Namun ucapannya saat itu membuat mereka Greesa, Saguna dan Mega malah tertawa?. Andhira dan Evan hanya tertunduk saja mendengarkan tawaan dari keluarga mereka.


Tapi setidaknya hari pernikahan mereka telah ditetapkan dengan sangat baik. Mereka telah setuju dengan hari pernikahan itu, dan juga akan menikah di mana nantinya juga telah di tetapkan.


...***...

__ADS_1


Di sisi lain.


Saat itu Dimas sedang melihat lokasi survival yang akan mereka gunakan sebagai lahan bisnis mereka nantinya?.


"Tempat ini sangat bagus sekali untuk survival." Dimas benar-benar sangat terpesona dengan apa yang ia lihat saat itu. "Ini benaran untuk aku?." Dimas kembali bertanya, ia hanya ingin memastikan apakah itu untuknya?.


"Tentu saja. Memangnya apa lagi?." Dengan santainya ia berkata seperti itu.


"Oh?!. Aku sangat berterima kasih sama kamu nad. Kamu itu memang yang terbaik." Ia tidak menduga jika memang itu yang ia terima dari Nadia.


"Tentu saja aku akan melakukan apapun untuk membuat kamu tersenyum." Balasnya tanpa merasa memiliki jasa ataupun.


"Itu mah terbalik nad." Rasanya ia sangat miris sekali dengan apa yang telah ia rasakan saat itu. "Seharusnya aku yang bertanggung jawab atas masa depan kamu sebagai seorang laki-laki." Dimas saat itu merasa sangat lemah karena dikasihani oleh seorang wanita.


"Tapi bagi aku. Saat pertemuan pertama kalinya aku dapat merasakan, jika kamu adalah sosok laki-laki yang ditakdirkan untuk aku." Ucapnya dengan penuh percaya diri.


Dimas sangat terharu mendengarkan apa yang telah dikatakan Nadia padanya. Ia seperti memiliki harapan untuk hidup hingga hari esok. "Nadia." Ia peluk Nadia dengan penuh kasih sayang yang sangat dalam. "Terima kasih atas apa yang tela kau berikan padaku. Suatu hari nanti aku berjanji akan membalas semua apa yang telah kau berikan padaku." Itulah janjinya pada saat itu.


"Maafkan aku andhira. Sepertinya aku benar-benar telah berpaling pada seseorang yang telah menerima aku dengan sangat ikhlas." Dalam hatinya pada saat itu ingat dengan sosok Andhira yang sangat berbeda dengan Nadia yang telah memberikan dorongan padanya untuk melangkah maju menata masa depan yang lebih baik. Sedangkan Andhira?. Bukan hanya cuek saja padanya?. Bahkan ia banyak menuntut padanya.


***


"Bagaimana menurut kamu?. Apakah kamu tidak keberatan sama sekali dengan tanggal pernikahannya?." Evan hanya ingin memastikannya dengan sangat baik.


"Aku tidak akan ragu lagi. Kecuali kamu yang mungkin ragu dengan tanggal yang telah ditetapkan keluarga kita." Balas Andhira.


"Aku telah mengatakannya pada kamu, jika aku tidak akan ragu lagi." Evan terlihat sangat yakin.


"Lalu bagaimana dengan pacar kita?. Apakah mereka tidak akan sakit hati dengan apa yang telah kita putuskan ini?." Andhira hanya tidak ingin terkesan jahat nantinya.


"Hanya kita yang memikirkan perasaan mereka. Namun aku sangat ragu dengan mereka yang berhari-hari tanpa kabar mereka biasa saja." Evan yang saat itu merasakan kekecewaan yang sangat dalam.

__ADS_1


"Aku pikir hanya aku saja yang merasakan yang sangat kecewa dengan sikap pacar yang seperti itu. Ternyata kamu juga sepeti itu ya?." Andhira dapat merasakan bagaimana rasanya perasaan sakit itu.


"Apakah saat ini kita sedang adu nasib?." Evan malah tertawa geli dengan nasib mereka yang hampir sama dalam mencintai seseorang?.


"Lah?. Kok bisa lah kita adu nasib seperti itu ya?. Aneh banget ya?." Andhira menyadari itu. Hingga saat itu ia ikut tertawa bersama Evan.


Sementara itu Saguna, Greesa, Harfandi, dan Mega melihat bagaimana kedua anak muda itu terlihat sedang berdekatan?.


"Aku rasa ini adalah kabar yang sangat menggembirakan untuk kita semua." Greesa hampir saja menangis melihat itu. "Semoga saja hubungan keduanya akan baik-baik saja." Lanjutnya dengan penuh harapan.


"Ya, semoga saja seperti itu." Harfandi juga sangat berharap anaknya akan segera mendapatkan kebahagiaan.


"Bagus kalau anak itu segera akrab. Dengan begitu aku tidak memiliki hambatan lagi mendapatkan harta warisan untuk aku dan anakku." Dalam hati Mega sangat senang dengan apa yang akan terjadi setelah Andhira menikah nantinya.


Sementara itu di sisi lainnya.


"Hari ini mau pergi ke mana?." Tanya Sandi dengan senyuman manis.


"Apa kamu yakin bertanya seperti itu padaku?." Dera malah tersenyum manis.


"Ya. Aku sangat yakin." Jawabnya sambil memeluk Dera dengan sangat mesranya.


"Kalau begitu aku mau jalan-jalan. Apakah kamu mau menemani aku jalan-jalan?." Dengan nada manja ia berkata seperti itu.


"Baiklah kalau memang begitu. Let's go!." Ia menarik tangan Dera dengan sangat pelan. "Kamu mau kemana?." Itulah yang ia tanyakan saat mempersilahkan Dera masuk ke dalam mobilnya.


"Aku mau mencari gaun pernikahan kita. Aku ingin gaun pernikahan yang sangat istimewa." Dera membayangkan gaun seperti apa yang akan ia kenakan nanti.


"Siap nyonya." Sandi langsung menyetujui begitu saja ajakan Dera. Baginya saat itu Dera adalah wanitanya, wanita yang sangat ia cintai. Ia tidak akan melepaskan Dera apapun alasannya.


"Ok!. Mari kita lihat gaunnya." Dera terlihat semakin bersemangat dengan apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2