
...***...
Saat itu Andhira sedang mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang editor video. Ia bekerja dari rumah jika timnya yang lainnya tidak keberatan. Ia sedang fokus mengerjakannya, hingga ada sebuah notifikasi whatsapp masuk.
Tring!.
"Pagi-pagi udah dapat pesan?." Andhira sedikit bingung. Sebenarnya ia ingin mengabaikan pesan itu, karena penasaran akhirnya ia membuka pesan itu. "Dari dimas?." Andhira sedikit terkejut, karena sudah agak lama pemuda itu tidak memberi kabar padanya. "Aku mau kita ketemuan di tempat biasa." Andhira membaca pesan itu dengan heran. "Ngapain lagi dia?. Masih ingat aku rupanya?." Andhira sedikit jengkel dengan sikap pemuda yang katanya tidak mau dikekang. "Baiklah. Akan aku turuti keinginannya itu." Andhira membalas pesan itu sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat itu.
Tok, tok, tok.
"Siapa?." Andhira penasaran siapa yang telah mengetuk pintu studio kecilnya.
"Ini papa." Balas Harfandi dari luar, karena ia tidak mau mengganggu anaknya yang sedang bekerja.
"Ada apa pa?." Andhira tidak menghampiri papanya, ia tahu bahwa papanya pasti bersama mama tirinya.
"Andhira. Papa mau pergi sama mama, juga adek. Kamu masih ada kerjaan, kan?." Harfandi malah balik bertanya.
"Ya pa." Jawabnya. "Kalo mau pergi jangan lupa bawa uang yang banyak, nanti aku mau titip jajan kalo papa mau pulang." Andhira sengaja mengeraskan suaranya agar bisa didengar oleh mama tirinya yang terkenal pelit. Setiap pergi keluar tidak pernah membawa apapun untuknya, bahkan mama tirinya itu tidak sudi membaca pesan whatsapp darinya.
"Ya. Nanti kabari aja ke whatsapp papa." Harfandi mengerti dengan ucapan anaknya, dan ia tidak mau ribut sebelum pergi, jadi ia mengiyakan saja ucapan anaknya.
"Terima kasih papa baik." Andhira sengaja melakukan itu dengan suara yang lebih keras lagi.
"Papa pergi dulu ya?." Harfandi pergi meninggalkan tempat itu.
"Ok pa. Hati-hati ya?." Andhira balasnya dari dalam.
"Ok." Harfandi masih bisa mendengarkan ucapan anaknya.
"Anak itu kelewatan banget. Enggak sopan sama sekali." Dalam hati Mega Aryani sangat dongkol. "Akan aku beri pelajaran dia nanti." Mega Aryani merasa sakit hati dengan apa yang telah dilakukan Andhira.
"Pasti dia denger apa yang aku katakan tadi." Andhira malah cekikikan dengan apa yang ia bayangkan saat itu. "Biar tahu rasa dia itu. Benar-benar emak tiri kebanyakan gaya plus pelitnya minta digebukin sampe modar." Andhira sangat benci pada mama tirinya itu.
__ADS_1
...***...
Sementara itu Evan.
Saat itu Evan telah menyiapkan semua yang diperlukan?.
"Pagi ini kamu siapkan saja semua dokumen pernikahan kamu. Biar ayah saja yang urusin semuanya di sini." Saguna Pradhana tersenyum kecil.
"Tapi ayah?." Evan agak ragu.
"Udah. Kerjain aja yang ayah suruh." Saguna Pradhana kali ini terlihat serius.
"Baiklah ayah. Akan evan urus." Evan hanya pasrah saja. "Tapi ibu di mana yah?." Evan tidak melihat keberadaan ibunya.
"Ibu di dapur, katanya mau mencatat semua resep masakan, supaya calon istri kamu bisa memasak masakan seperti ibu." Saguna Pradhana menunjuk ke arah dapur, dan setelah itu ia menyeruput kopi yang telah dibuatkan istrinya.
"Ibu cemasnya berlebihan sekali. Apakah sebelum menikah?. Nenek juga menuntut seperti itu pada ibu, yah?." Evan merasa sangat penasaran dengan alasan kenapa ibunya melakukan itu.
"Sudahlah, sebaiknya segera urus di kantor kua. Dari pada kamu ngantri panjang?." Saguna Pradhana tidak ingin Karena yang akan menikah, mungkin bukan hanya kamu saja. Saguna Pradhana. "Baiklah ayah. Aku pergi dulu ayah. Assalamualaikum" Ucapnya. "Wa'alaikumussalam." Balasnya.
...***...
Ia baru saja menerima panggilan dari editor lainnya, bahwa saat ini mereka kekurangan orang untuk mengerjakan pekerjaan itu.
"Baiklah. Saya akan segera ke sana dengan membawa hasil file yang telah saya kerjakan." Ia melihat ke arah semua tugas yang hampir saja selesai. "Wa'alaikumussalam." Andhira menutup panggilan itu. "Baiklah. Kalau gitu akan aku siapkan semuanya." Andhira mempersiapkan semuanya. Ia bergegas agar pekerjaan itu segera selesai?. "Mungkin aku masih sempat bertemu dengannya. Apakah dia masih memiliki perasaan cinta sama aku atau enggak." Andhira merasa heran dengan sikap laki-laki yang seperti itu.
...***...
Di Sebuah tempat yang cukup ramai?.
"Ternyata dia benaran masih sayang toh sama aku?." Dimas baru saja membaca pesan dari Andhira yang mengatakan jika ia bersedia bertemu dengannya.
"Lah?. Kenapa emangnya?." Rajes, teman sekelasnya ketika kuliah dulu. Mereka masih kumpul bersama jika libur?.
__ADS_1
"Soalnya pacarku dua udah lepas. Jadi dia jangan sampai lepas lah bro!." Dimas dengan sangat santainya berkata seperti itu sambil menyeruput minuman yang ia pesan tadi.
"Setan lu, ya?. Tega amat lu sama cewek kek gitu?. Bukan manusia gue pikir lu ya mas?." Rajes yang sangat kesal dengan sikap temannya itu.
"Santai ajalah bro!." Balas Dimas tanpa merasa bersalah.
"Lu itu ya?. Jahat banget jadi laki-laki." Rajes sangat benci pada temannya itu. "Bagaimana kalo dia tahu perangai lu kek gitu?." Rajes malah membayangkan pertengkaran Dimas dengan pacarnya yang merasa dikhianati.
"Lu itu jangan kek perempuan. Cerewet, dan Juga berisik." Dimas malah jengkel dengan temannya itu.
"Terserah lu aja ya?. Tapi ingat bro. Karma kadang dibayar tunai dengan sikap lu yang gak kasih kepastian sama cewek." Rajes dengan tegasnya memberikan penekanan pada Dimas.
"Au ah! Lu gue ajak ke sini bukan untuk ceramahin gue." Dimas Sangat jengkel dengan ucapan Rajes yang seakan-akan mengutuknya.
...***...
Di Sebuah Kantor televisi swasta.
Andhira baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia datang secepat kilat, karena pertemuan itu sangat penting.
"Eh?. Dah nyampe ya?." Maya menyambut kedatangan Andhira.
"Enggak terlambat kan, ya?." Ia bertanya agak takut.
"Enggak sih." Balasnya.
"Langsung duduk aja." Andre sebagai ketua editor mempersilahkan duduk.
"Terima kasih ketua." Andhira langsung duduk bersama mereka.
"Baiklah, kita mulai Saja. Jasmine mengambil alih. "Dalam minggu ini kita menerima banyak program acara. Jadi tim editor video agar lebih cekatan, semangat, dan selalu siap siaga untuk menyunting Video yang masuk." Ucapnya sambil melihat jadwal mereka Minggu ini. "Untuk bagian subtitle atau penerjemah bahasa diharapkan selalu siaga, karena akhir-akhir ini akan banyak acara anak yang akan kita buat, kita translate teksnya ke bahasa indonesia." Jasmin membagikan semua program mereka dalam Minggu ini. "Mohon kerjasamanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama-sama kita geluti ini." Jasmin membuka jadwal mereka. "Jika ada pertanyaan silahkan diskusikan bersama." Ia juga membuka sesi tanya jawab saat itu.
"Banyak juga ya?. Apa sanggup ya?." Dalam hati Andhira mempertimbangkan masalah pekerjaannya saat ini.
__ADS_1
...***...