
Aku melangkah gontai mengikuti Teh Opi yang berjalan masuk ke ruang penyiar. Siang ini, kami akan mengadakan rapat khusus penyiar, untuk merubah jadwal siaran harian. Hal ini merupakan perintah langsung dari Bang Win, untuk membuat program siaran Kisah Tengah Malam bisa direkam secara off air pada sore hari, walaupun untuk ditayangkan di waktu tengah malam.
Alasannya, melakukan rekaman secara langsung atau on air di tengah malam, terbilang riskan untuk kondisiku yang sedang hamil muda dan membutuhkan lebih banyak waktu beristirahat.
"Studio mana yang kira-kira lowong sekitar satu setengah jam, untuk proses rekaman off air Kisah Tengah Malam?" tanya Teh Opi pada Teh Hani, membuka pembicaraan.
Teh Hani yang bertanggung jawab membuat jadwal siaran, menatap papan tulis besar yang digantung di dinding, dan juga laptop yang terdapat di depannya.
"Bisa di hari yang sama dengan tayangnya Kisah Tengah Malam. Senin, Rabu dan Sabtu, jam delapan malam, di studio tiga," jawab Teh Hani.
"Kalau siang atau sore, ada ngga studio yang kosong?" tanya Teh Opi lagi.
"Ngga ada, Teh. Hampir semua siaran kita on air, jadi setiap studio udah ada jadwal masing-masing. Kalau mau masukin Kisah Tengah Malam di jadwal off air siang atau sore hari, berarti harus ngerombak semua jadwal harian penyiar, karena pasti akan ada siaran lain yang harus off air, bakal bentrok soalnya. Kecuali kalau studio satu udah bisa dipakai. Aman itu mah buat rekaman off air kapan aja."
Teh Opi menatapku yang sedang terkantuk-kantuk di kursi. "Xu, kalau jam delapan malem ngga apa-apa?" tanyanya.
"Ga masalah, Teh. Siaran tengah malem juga ga masalah sebenernya," jawabku lirih.
"Woyajangan dong! Bahaya buat bumil," balasnya.
"Banyak setan ya, Teh?" tanya Adul.
"Ya ada-lah pasti gangguan dari jin. Jangankan ibu hamil, manusia biasa aja ngga luput dari godaan dan gangguan. Tapi yang paling utama itu, jam istirahatnya si Inoxu. Ngga baik banyak kegiatan, takut kesehatannya ngedrop."
Semua yang hadir mengangguk-angguk.
"Coba Han, tolong diliat sekali lagi. Kalau Kisah Tengah Malam dapet studio buat rekaman off air di pagi hari, bisa ngga kira-kira?" pinta Teh Opi. "Di sela-sela siaran on air yang lain juga ngga masalah."
Teh Hani menatap lekat layar laptopnya selama beberapa saat, sebelum pada akhirnya menggeleng. "Ngga ada lagi jadwal studio kosong, semua penuh. Sama seperti yang tadi aku bilang, studio tiga jam 8 malem."
"Oke kalau gitu, nanti Teteh bilang ke Win. Gia, Remi, Inoxu dan Adul, mulai hari ini sampai ke depannya, off air ya? Jam delapan malem, studio tiga. Buat ditayangin nanti malem jam sebelas sampai jam setengah satu pagi, tepat di hari yang sama dengan penayangan Kisah Tengah Malam," Teh Opi menegaskan.
"Iya Teh," sahutku lirih, disusul oleh Gia, Remi dan Adul.
"Oke kalau gitu! Makasi banyak ya temen-temen, buat waktunya. Selamat siaran kembali," lanjut Teh Opi menutup rapat. Aku dan tim Kisah Tengah Malam langsung menuju ke arah pantry untuk minum, saat terdengar keributan dari arah teras.
__ADS_1
"Liat ah, Adul suka kalau ada kericuhan," gumam Adul meninggalkan aku, Gia dan Remi di pintu pantry. Melihatnya yang penasaran, membuatku juga ingin tau, sehingga menyusulnya tidak lama kemudian.
"Xu!"
"Oxu!"
Panggilan Remi dan Gia kuabaikan, dan aku terus melangkah ke arah depan, di mana berdiri tiga orang pria bertubuh kekar dengan menggunakan pakaian hitam-hitam sedang berdebat dengan Teh Opi dan Teh Hani.
"Udah dibilang, Kang Saija udah ngga kerja di sini," ucap Teh Hani.
"Ngga mau tau! Saija mengajukan pinjaman dengan kantor ini sebagai informasi tempat bekerja. Kalau dia ngga bisa bayar, kantor ini harus menggantikannya membayar!" ucap salah satu diantara mereka dengan nada membentak.
Aku menarik napas dan mengeluarkannya secara berulang, karena kesal melihat tingkah pongah ketiga orang tersebut.
"Pokoknya kalau Pak Saija tidak bisa membayar pinjamannya, kantor ini yang harus membayar! Kalau tidak, kami bisa menjebloskan dia ke penjara!"
"Aturan dari mana?" selaku santai. "Satu-satunya yang berhubungan dengan kantor ini adalah, dicantumkannya nama kantor ini sebagai informasi tempat bekerja Kang Saija selaku nasabah. Apa pas pengajuan, kalian memverifikasi ke sini? Ngga kan? Apa pas pencairan, kantor ini dapet bagian? Ngga juga kan? Terus sekarang kantor ini harus ngeganti apa yang ngga pernah didapet? Mimpi!
Selain itu, ngga pernah ada akad pemindahan hutang atau hiwalah, dari Kang Saija ke kantor ini! Jadi, kalau kalian nagih ke sini karena nganggep kami semua yang berada di sini bo*doh dan bisa ditakut-takutin, kalian salah! Di sini isinya penyiar semua, mau kita viralin biar koperasi kalian yang nyatanya adalah lintah darat, terkenal di mana-mana? Mau?" aku menatap mereka bertiga dengan pandangan meremehkan. "Ngga usah ngada-ngada deh."
"Ya mau dateng mah tinggal dateng, ngga usah pake pengumuman. Dasar debt collector! Sok keren!" balasku pedas.
"Xu, udah Xu. Inget anak Xu. Jangan terlalu emosi," Teh Opi mengingatkan. Aku hanya mengangguk dan duduk di sofa. Saat melihat pohon mangga di halaman, seketika air liurku mencair membayangkan sepiring rujak.
***
"Kenapa cuma makan rujak? Udah makan nasi, Yank?" tanya Bang Win yang baru saja datang, dan berjongkok di depanku.
"Lagi ngga pengen makan nasi," jawabku pendek. "Bang Win abis dari kantor polisi, ke mana lagi?"
Bang Win berdiri dan duduk di sebelahku. Tadi pagi ia memang memberitahukan jika akan pergi ke kantor polisi. Untuk keperntingan apa, aku pun tidak tau.
"Ada yang mau aku ceritain. Tapi, sekalian aku mau minta tolong, ya?" ucapnya lirih sembari menatapku lekat. Aku balas menatapnya, sebelum pada akhirnya mengangguk.
***
__ADS_1
Semua kru Radio Rebel yang terdiri dari penyiar, karyawan dan juga office girl sudah berkumpul di ruang meeting.
"Xu! Ada apaan sih, Bang Win minta kita ngumpul?" tanya Teh Hani.
"Kurang tau, Teh. Tadi bilangnya cuma minta tolong ngumpulin semua crew di sini."
"Emang Bang Win ke mana?" Teh Opi ikut bertanya.
"Ke luar sebentar sama Kang Utep. Tapi ke mana, aku juga ngga tau."
Tidak berapa lama, terlihat Bang Win dan Kang Utep memasuki ruang rapat dengan wajah tegang, sehingga membuat semua yang hadir sontak terdiam dan menatap keduanya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Makasi temen-temen semua, udah mau meluangkan waktunya untuk hadir di sini," ucap Bang Win membuka pembicaraan. "Tadi pagi, saya dan Utep pergi ke kantor polisi."
Beberapa dari yang hadir saling menatap satu sama lain tanda tidak mengerti.
"Untuk mencabut laporan permintaan penyelidikan, penyebab kebakaran kantor lama Radio Rebel. Sebagai informasi tambahan, beberapa hari lalu, saya dan Utep bertemu dengan Kang Saija di sebuah rumah sakit, saat sedang menengok owner salah satu vendor.
Dari pertemuan itulah, kami berdua tau latar belakang Kang Saija melakukan hal tersebut pada kantor lama. Ibu Kang Saija sedang dirawat di rumah sakit karena sakit keras dan membutuhkan banyak biaya untuk menjalani beberapa terapi serta operasi.
Sebelumnya, Kang Saija sendiri sudah menjual beberapa aset yang dimilikinya, termasuk meminjam ke beberapa koperasi, sampai akhirnya terlilit hutang. Itulah kenapa, Kang Saija nekat melakukan hal tersebut."
Semua yang hadir berwajah sedih, dan beberapa terlihat berkaca-kaca. Selama ini, Kang Saija memang dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah pada siapapun.
"Semua sudah kami sampaikan pada Teh Rebel. Dan Teh Rebel merasa, jika Kang Saija sudah sangat menyesal. Penyesalan tersebut, yang menjadi hukuman terberat bagi Kang Saija. Itulah kenapa, tadi pagi kami mencabut laporan di kepolisian.
Selain itu, karena apa yang Kang Saija lakukan didasari oleh tanggung jawabnya sebagai seorang anak kepada orang tuanya. Teh Rebel memutuskan untuk menolak pengunduran diri Kang Saija sebagai salah satu pemilik Radio Rebel, dan mengembalikan saham yang sudah Kang Saija serahkan sebagai ganti rugi kebakaran kantor lama. Itulah kenapa, hari ini, saya dan Utep menjemput Kang Saija, dan memintanya datang ke mari untuk bertemu dengan kita semua," lanjut bang Win panjang lebar sebelum ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu ruang meeting.
"Silakan masuk Kang, keluarga Akang sudah menunggu," ucap Bang Win lirih setelah membuka pintu.
Dari arah luar pintu, aku melihat sosok Kang Saija masuk, dan menatap kami semua dengan ekspresi yang sulit kujelaskan. Ia merangkul erat Bang Win, lalu menangis saat semua penyiar pria mendekatinya untuk memberikan pelukan atau sekedar tepukan di bahu untuk menguatkan.
"Selamat datang kembali, Kang," lirih Kang Utep menyambut Kang Saija, disusul dengan yang lainnya.
Aku sendiri sudah meneteskan air mata bersama Teh Opi, Teh Hani, Gia, Remi serta Kokom. Di saat ini, aku menyadari sesuatu. Laki-laki menangis karena dua hal. Hal pertama, ketika beban hidupnya terasa semakin berat untuk dipikul di pundak. Hal kedua, saat penyesalan menancap begitu dalam, sehingga menimbulkan perih yang hanya akan sembuh oleh waktu. Dan aku melihat kedua hal tersebut, dialami oleh Kang Saija.
__ADS_1