Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 31


__ADS_3

"Kenapa si Adul manyun aja?" tanya Gia menyenggol bahuku dan menatap ke arah Adul yang duduk di kursi siaran dengan wajah ditekuk.


"Biasa, dia abis gubrak-gubrak lagi. Salah sendiri, songong sih!" jawabku sinis yang membuat Adul menatapku kesal.


"Adul teh tadinya mau keliatan pemberani di mata Kekey. Eh malah zonk," serunya.


"Pemberani beda jauh sama songong, tau! Udah pasti mulut kamu sompral ini mah," timpal Remi.


"Ya biasa, kena dia sama kepala gelinding. Hiiii!" lanjutku.


"Hah, serius Xu? Kepala siapa?" Gia berbisik.


"Si ketan Belanda."


"Wooh! Ada kepalanya?" tanya Gia lagi.


"Ada! Tapi kepisah, kaya kamu sama Tomo," balasku.


"Ish," Gia menyipitkan matanya. "Udahlah hayu siaran."


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam para pendengar setia Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM di manapun berada. Inoxu dan Adul hadir kembali untuk menemani waktu istirahat para pendengar semua dengan sajian kisah dari narasumber kami," ucapku membuka siaran.


"Yak, betul banget Teh Inoxu. Tapi sebelumnya, Adul mau puterin satu buah lagu permintaan Siti Mustika dari Pas Band dengan Kesepian Kita. Selamat mendengarkan dan jangan ke mana-mana ya gaes ya?" Adul melanjutkan.


Aku sudah menghubungi narasumber untuk malam ini dan memintanya untuk menunggu sejenak di ujung sambungan.


"Teh, ini perasaan Adul aja, atau emang bener kaya ada yang merhatiin kita ya?" bisik Adul.


"Perasaan kamu aja kali. Kan kamu abis kaget tadi, didatengin sama ketan Belanda."


"Bisa jadi. Soalnya, Adul ngga ngeliat ada sosok apa-apaan di sini," lanjutnya.


"Server kita down ya?" tanya Remi tiba-tiba. Dengan segera, aku melihat ke layar komputer dan menemukan jika indikator server tidak stabil.


"Iya," balasku. "Duh, kenapa lagi ya ini? Ini mirip pas kita siaran terakhir loh, yang waktu di kantor lama."


"Pas menjelang kebakaran itu ya?" tanya Gia yang kuangguki. "Bentar deh, aku laporan dulu ke Kang Utep."

__ADS_1


Gia langsung berlari ke luar studio dan aku kembali memonitor layar komputer. Dalam beberapa detik, indikator server terlihat mati total.


"Rem, beneran down nih server!" seruku yang membuat Remi menepuk dahinya pelan.


"Ngga akan bisa lanjut siaran ini mah. Percuma, rekaman off air ngga akan bisa kesimpen," balasnya. "Matiin aja dulu deh, Xu. Bilang ke narasumber, kalo nanti kita telpon balik."


Aku segera melakukan apa yang dikatakan Remi dan mematikan rekaman off air pembuka siaran. "Hayu keluar," ajakku setelah selesai.


Remi dan Adul mengikuti langkahku. Ternyata, di depan studio yang lain, beberapa penyiar sudah berdiri. "Server down ya?" tanyaku pada mereka.


"Iya, Xu. Siaran banyak yang gagal ini," jawab satu di antara mereka.


Aku menghembuskan napas panjang dan berjalan ke ruangan Bang Win. Remi dan Adul sendiri, memilih untuk duduk di sofa resepsionis dan bergabung dengan yang lain.


"Ada apaan?" tanyaku begitu masuk.


"Ngga tau nih, server tiba-tiba down. Belum ketemu penyebabnya. Lagi dicek sama Utep," jawab Teh Opi.


Aku duduk di sofa dan menatap ke arah Bang Win yang dikelilingi beberapa produser siaran. Gia ada juga di sana.


Tidak lama, Pak Obi memasuki ruang kerja Bang Win dengan wajah panik. "Nak Win, Bapak mau ijin sebentar ya? Mau nganter ke rumah sakit," ucapnya.


"Itu, istrinya Hud. Orang yang suka jagain lapak penjual di depan. Barusan ngedrop, makanya mau dibawa ke rumah sakit. Bapak mau ikut nemenin, mereka berdua sebatang kara di sini."


Aku langsung berdiri karena kaget. "Teh Nengsih?" tanyaku tidak percaya.


"Iya, Neng. Barusan Hud nyari angkot buat bawa istrinya, pas ketemu Bapak di depan."


Bang Win menatapku lekat selama beberapa saat dan membuatku mengangguk samar, sebelum mengambil kunci mobil di atas meja. "Pi, nitip ini ya? Kalau Utep udah beres ngecek, suruh pantau di sini."


Teh Opi mengangguk mantap dan mengacungkan jempolnya. Aku mengikuti Bang Win dan Pak Obi yang berjalan ke luar.


"Pake mobil saya aja Pak. Susah nunggu angkot kosong jam segini," seru Bang Win yang bisa kudengar dengan jelas. Di teras, aku melepas kepergian mereka berdua dengan rasa was-was. Penglihatanku tadi siang, saat menyentuh pria yang merupakan suami Teh Ayu, mulai membayangiku.


"Xu, ngapain?" tegur Kang Utep berjalan dari halaman samping.


"Udah beres, Kang?" Bukannya menjawab pertanyaan Kang Utep, aku malah bertanya balik.


"Udah. Aneh loh Xu, padahal ngga Utep apa-apain. Cuma diliat doang, eh udah bener sendiri," jawab Kang Utep yang membuatku mengerutkan kening.

__ADS_1


"Jadi kita udah bisa siaran?"


"Jangan dulu, nunggu stabil aja dulu bentar," sahut Kang Utep yang kuangguki sebelum ia masuk ke dalam.


โ€œ๐™†๐™ช ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™ง๐™š๐™  ๐™™๐™ž๐™—๐™–๐™ฌ๐™–! ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™ก๐™š๐™ฌ๐™ž๐™ ๐™ง๐™š๐™จ๐™š๐™ช๐™ฅ ๐™ ๐™– ๐™ฃ๐™ช ๐™ ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ง ๐™ฉ๐™ž๐™—๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™ฃ๐™ช ๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™๐™ž๐™Ÿ๐™ž! (๐™ค๐™ก๐™š๐™ ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™—๐™–๐™ฌ๐™–. ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™ก๐™š๐™—๐™ž๐™ ๐™จ๐™ช๐™ ๐™– ๐™ ๐™š ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ง ๐™™๐™ž๐™—๐™–๐™ฃ๐™™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช!)โ€


Baru saja aku duduk di sofa teras, terdengar sebuah suara yang kukenali sebagai suara si Nyai. Perutku secara tiba-tiba terasa sakit seolah ditu*suk benda tajam, sehingga membuatku merunduk dan bernapas terengah-engah.


โ€œ๐™ˆ๐™–๐™ฃ๐™š๐™ ๐™ฉ๐™ค๐™ฃ๐™œ ๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ก๐™–๐™ฌ๐™–๐™ฃ! ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™ฉ๐™ž ๐™‚๐™ช๐™ฃ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™Ž๐™–๐™ก๐™–๐™  ๐™ ๐™ช๐™™๐™ช ๐™ข๐™š๐™ช๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฃ๐™ช ๐™™๐™ž๐™๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ! (๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™Ÿ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ก๐™–๐™ฌ๐™–๐™ฃ! ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™™๐™–๐™ง๐™ž ๐™œ๐™ช๐™ฃ๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™  ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™™๐™–๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™–๐™ฅ๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™™๐™ž๐™ข๐™–๐™ช!)โ€


'Gunung Salak?' tanyaku dalam hati. Seketika aku teringat cerita Nyx waktu ia sedang mendaki Gunung Salak dan bertemu dengan para penghuni tidak kasat mata di sana. Dari cerita kakakku itu, para penghuni Gunung Salak urung menyakitinya karena tau jika ia adalah anak keturunan dari Suryanagara.


Dengan jantung berdebar, aku berpikir cepat sebelum membuka suara. "Gunung Salak? Abi Inoxu Aisyah Putri Suryanagara ngahaturanan salam! (Gunung Salak? Saya Inoxu Aisyah Putri Suryanagara, memberikan salam!)"


Begitu aku selesai berkata seperti itu, terdengar auman harimau yang entah berasal dari mana, dan rasa sakit di perutku sontak menghilang.


โ€œ๐™ƒ๐™–๐™ฅ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™š๐™ฃ, ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™ฉ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™. (๐™ข๐™–๐™–๐™›, ๐™‰๐™ฎ๐™–๐™ž ๐™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™™๐™ž๐™จ๐™ช๐™ง๐™ช๐™)โ€


Emosiku seketika terbit dan membuatku berdiri. "Si an*jing!" makiku kasar sebelum melangkahkan kaki menuju ke pintu gerbang.


"Ikut saya bentar, Teh," desisku tajam pada Teh Ayu yang sedang membereskan dagangannya. Di sampingnya, suami Teh Ayu menatapku dengan rasa ingin tau. "Akang juga, kalo bisa ikut sekalian."


Aku meninggalkan mereka yang saling menatap dengan bingung. Pada akhirnya, keduanya mengikutiku masuk ke pos jaga Radio Rebel.


"Teteh mau berhenti ngga?!" tanyaku to the point. "Setelah Teteh nyelakain Agassa, ngejahatin Teh Nengsih, dan sekarang Teteh masih ngincer anak-anak saya?! Peringatan saya tempo hari ngga Teteh denger?!"


"Maaf, Teh. Ini ada apa ya?" tanya suami Teh Ayu.


"Akang tau kalau istri Akang ini maen pesugihan?" tanyaku balik yang membuat Teh Ayu menganga.


"Saya ngga pesuโ€”."


"Diem!" sentakku. "Barusan, si Nyai dari Gunung Salak bilang kalau dia mau ngambil anak-anak saya. Teteh ngerasa ancaman saya main-main?!"


"Teteh salah paham," sahut Teh Ayu gugup.


"Salah paham? Menurut Teteh, saya ble*gug apa?! Kalau saya atau orang-orang terdekat saya mengalami sesuatu yang janggal, saya ngga akan tinggal diem begitu tau kalau Teteh ikut campur!" sentakku. "Jangan sentuh keluarga dan kerabat dari keturunan Suryanagara. Dukun Teteh pasti tau, siapa kami! Ini peringatan terakhir dari saya. Kalau Teteh masih abai, saya bisa memerintahkan si Nyai, untuk langsung ngehabisin Teteh!"


Sejujurnya adalah, aku membual. Aku membual berdasarkan cerita dari Nyx, dan sekarang aku menggunakannya untuk menggertak Teh Ayu. Aku bahkan tidak tau akan melakukan apa, jika gertakanku tidak membuat Teh Ayu mundur.

__ADS_1


"Untuk lebih jelasnya, Akang bisa bertanya ke istri Akang ini, apa aja yang udah ia perbuat!" Aku menatap ke arah suami Teh Ayu sebelum meninggalkan mereka berdua dan berjalan masuk ke dalam Radio Rebel.


__ADS_2