Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 43


__ADS_3

"Yank? Yank?!"


Aku tersentak dengan mata berair, saat menyadari jika Bang Win memanggil.


"Kenapa, Yank?" tanyaku lirih.


"Kamu ngapain berdiri di situ? Abis nyenggol kabel ya? Lampu kelap-kelipnya mati tuh," jawab Bang Win sembari mendekatiku, lalu menunduk mengambil ujung kabel yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri.


Selama beberapa saat aku berusaha mencerna apa yang sudah terjadi dan menemukan kenyataan, jika apa yang kualami sesaat lalu sebelum Bang Win datang, hanyalah sebuah penglihatan.


"Wah bahaya! Ada kabel yang kebuka gini," seru Bang Win. "Untung kamu tadi ngga nyoba nyolokin, Yank. Bisa kesetrum kamu nanti."


Aku hanya termangu menatap Bang Win, sebelum dengan pelan menuju ke arah pantry dan duduk di salah satu kursi.


"Cape ya? Mau pulang aja?"


Aku mengangguk masih dalam diam. Entah kenapa, lidahku terasa sulit untuk digerakkan.


"Ya udah, kita pulang ya?" ajak Bang Win seraya menyodorkan tangannya untuk kugenggam.


Genggaman tangan Bang Win menimbulkan kehangatan tersendiri dan membuatku jauh lebih baik. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia memberitahukan pada yang lain jika kabel yang tersambung dengan lampu kelap-kelip terbuka, dan berpotensi membuat siapa saja tersetrum. Dengan cepat, beberapa penyiar pria langsung melepas kabel, dan menggantinya dengan yang baru.


***


Setelah beberapa hari absen untuk menenangkan diri, akhirnya hari ini aku kembali menginjakkan kaki di Radio Rebel. Bang Win sendiri, tidak melepaskan matanya dariku setelah aku turun dari mobil. Ini karena aku sudah menceritakan penglihatan saat tersetrum beberapa hari lalu.


Suasana di halaman sudah ramai oleh para crew, yang sedang menata produk-produk dari vendor. Di ujung halaman, terdapat sebuah stage kecil untuk live musik sebagai hiburan untuk pengunjung bazar, yang beberapa saat lagi akan dimulai.


"Xu! Udah sehat?" sapa Remi menghampiriku. Ia memberikan sebuah nametag yang bertuliskan Crew Radio Rebel.


"Udah. Udah mendingan kok," jawabku tersenyum simpul sembari melihat berkeliling.

__ADS_1


"Yank, aku tinggal dulu bentar ya?" pamit Bang Win yang kuangguki.


"Rem, titip Oxu, okay?" ucapnya juga pada Remi sebelum melangkah pergi.


Remi menatapku heran dan bertanya apa yang terjadi, karena sikap Bang Win tidak seperti biasa. Sambil berjalan menuju teras, aku menceritakan semuanya, sehingga membuat Remi terkejut.


"Untung cuma penglihatan, Xu. Ngga kebayang kalo sampe kejadian beneran," kata Remi lirih sembari menatapku lekat.


Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan, karena nyatanya kejadian itu membuatku sedikit shock. Walaupun pernah mendapat penglihatan sebelumnya saat di kantor Radio Rebel yang lama, namun penglihatan saat itu tidak berhubungan denganku, sehingga masih membuatku tenang. Beda halnya dengan penglihatan kali ini.


"Kamu ngga mempercepat cuti aja?" tanya Remi dengan khawatir.


"Rencananya gitu. Aku jadi takut sendiri kalo inget kejadia itu Rem," jawabku lirih. "Bang Win juga udah nyuruh aku di rumah aja."


Remi mengangguk pelan sebelum memelukku erat. "Jangan kenapa-kenapa, Xu. Plis, jaga diri baik-baik!"


Untuk sesaat aku tertegun setelah mendengar ucapan Remi. Mendadak ketakutan menyelimuti, saat aku membayangkan jika sesuatu benar-benar terjadi padaku.


***


Aku, Gia, Remi dan Adul sedang duduk santai di depan salah satu stan, dan melihat Bang Win sedang bermain musik di stage bersama dengan Kang Saija, Kang Utep dan Kang Krisna. Suamiku itu terlihat bahagia karena bisa kembali memainkan bass. Di waktu luang, terkadang ia sering datang untuk memenuhi undangan bermusik dari rekanan kerja atau vendor yang menjalin hubungan kerjasama dengan Radio Rebel.


"Bang Win keren juga yak kalo lagi di atas panggung. Tapi tetep deh, aura dinginnya ngga ada yang bisa nandingin," celetuk Adul yang diiyakan oleh Gia.


"Ya namanya kulkas dua pintu. Cairnya ya kalo cuma sama si Xu doang," sambungnya sembari tertawa.


Sudah hampir jam sembilan malam saat Bang Win dan yang lain selesai bermain musik, lalu bersiap untuk membereskan peralatan. Bazar hari ini sudah selesai, dan akan dilanjutkan esok hari, sampai seminggu ke depan.


"Pindah teras sana, Xu! Kita mau beberes dulu," suruh Remi yang kuangguki.


"Teh Inoxu!" Panggil seseorang dari balik punggungku, saat aku berjalan seorang diri menuju ke teras.

__ADS_1


Aku tersenyum saat melihat Hud dan seorang wanita muda yang juga sedang hamil, berjalan menghampiriku.


"Teh, ini istri Hud, namanya Nengsih," ucapnya memperkenalkan.


Aku mengulurkan tangan pada Nengsih yang tersenyum malu-malu. Wanita itu mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan Bang Win tempo hari. Tidak lupa juga, aku mengucapkan hal yang sama, atas pemberiannya waktu itu.


"Duduk di teras aja yuk?" ajakku pada mereka berdua.


"Sok aja Teh, saya mau bantuin Robin beres-beres dulu," jawab Hud.


Wajah Nengsih berbinar saat aku mengajaknya ke teras. Matanya lekat menatap lampu kelap-kelip, yang terlihat cantik di malam hari. Kami berdua mengobrol ringan mengenai kehamilan kami masing-masing, saat Hud menghampiri dan memberikan sebuah bungkusan.


"Coba kalo bazar kaya gini rutin diadain ya, Teh? Warga kurang mampu kaya saya kebantu banget. Barang yang dijual murah-murah," ucap Nengsih polos saat melihat isi dalam bungkusan yang dibawakan Hud. Hid sendiri sudah kembali ke stage dan membereskan alat musik dengan para crew Radio Rebel yang lain.


"Iya. Mudah-mudahan mah, ke depannya bakal sering diadain bazar lagi. Lumayan ya kan? Buat stok di rumah," jawabku terkekeh.


"Teh Inoxu, dipanggil Bang Win sebentar," ucap Kokom melongokkan kepala di pintu yang membuat perbincanganku dengan Nengsih terputus. Dengan segera aku berdiri, dan berpamitan padanya.


"Apa, Yank?" tanyaku begitu membuka pintu ruang kerja, dan melihat Bang Win sedang berdiri dengan sepiring penuh kue-kue.


"Makan dulu nih, aku udah pisahin barusan. Ini kue kesukaan kamu semua," jawabnya tersenyum.


Aku menyeringai dan bergegas duduk di sofa. Walaupun baru saja makan semangkok cuanki, namun kue-kue didepanku ini begitu menggoda untuk dinikmati.


"Pelan-pelan makannya, aku ngga akan minta, kok. Abisin aja," ucap Bang Win terkekeh.


Tanganku sudah hampir meraih kue ke-tiga saat terdengar kegaduhan dari luar ruangan. Suara langkah kaki berlarian, terdengar tidak lama setelahnya. Dengan penasaran, aku berdiri dan keluar.


Mataku membola saat melihat tubuh Nengsih yang bergetar hebat, tepat di depan pantry. Tangannya memegang ujung kabel yang tercolok di dinding. Beberapa orang berteriak dan meminta agar listrik di matikan. Beberapa lagi sedang berusaha keras menahan Hud agar tidak menghampiri istrinya. Tidak ada yang berani menyentuh tubuh wanita muda malang tersebut, karena sadar jika aliran listrik masih mengalir. Teriakan-teriakan, seruan kaget, dan tangisan terdengar bercampur di dalam sini.


Waktu serasa berhenti berputar, saat aku melihat tubuh Nengsih membentur lantai, sesaat setelah lampu ruangan padam. Dalam kegelapan samar, aku merasakan jika lututku kehilangan kekuatan menopang. Dalam beberapa detik, aku ikut luruh ke lantai, dan tidak ingat apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2