Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 42


__ADS_3

Aku berjalan pelan memasuki Radio Rebel. Hari ini, semua crew diminta hadir, untuk membantu mempersiapkan acara bazar yang akan diadakan Radio Rebel beserta para vendor. Minggu kemarin, sebuah rapat telah diadakan untuk menentukan konsep bazar.


"Hoi! Lemes banget deh bumil!" seru Kang Krisna yang berjalan menyusulku dari belakang.


"Iya nih Kang, panas banget Bandung hari ini, bikin lemes."


"Banyakin minum,Xu! Jangan jajan mulu yang dibanyakin," balasnya meledek sebelum melambai ke arah teras, di mana Teh Opi sedang berdiri.


"Lah! Sendirinya aja abis jajan di depan," sindirku melihat ke arah beberapa kantong plastik di tangan Kang Krisna, yang seketika menyengir lebar.


"Parah si Win! Bumil malah dibiarin berangkat ke sini sendiri, bukannya dijemput," ucap Teh Opi ketika aku sudah duduk di sofa teras.


"Aku yang ngga mau dijemput, Teh. Pengen naek angkot," jawabku santai.


"Cie, garda terdepan dalam membela suami nih ceritanya?" Teh Opi terkekeh dan ikut duduk di depanku bersama Kang Krisna.


"Vendor belum ngirim meja pajang buat produk?" Aku menatap Teh Opi.


"Sebentar lagi. Tadi udah ngabarin kalo mereka udah di jalan," jelas Teh Opi yang membuatku mengangguk.


"Duh, ada Bu Jejen ke sini euy!" seru Kang Krisna menepuk dahinya pelan. Aku menoleh dan benar saja, Bu Jejen sedang menuju ke mari dengan langkah gagah.


"Kerjain ah," lirih Kang Krisna yang langsung berdiri.


Dengan cepat, aku menegakkan tubuhku dan menunggu kejadian selanjutnya. Begitu Bu Jejen menginjak teras, Kang Krisna langsung jatuh bersimpuh di hadapannya.


"Kamu! Kamu yang selalu mengganggu cucu saya! Yang selalu menyakiti cucu saya yang lucu ini! Apa maksud kamu!?" tanya Kang Krisna dengan suara menggelegar.


Bu Jejen terlihat terkejut dan mundur beberapa langkah. Netranya melihat ke arahku lalu ke Teh Opi.


"Karuhunnya (leluhur) dateng, Bu. Karena Ibu suka gangguin dia terus," ucap Teh Opi santai.


"Masa sih, 'kan saya cuma bermaksud buat ngo—"


"Aing maung! Hauuum!" teriak Kang Krisna yang membuat Bu Jejen melotot dan sontak mengangkat tangan dengan gaya menerawang.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Kang Krisna menarik tangan Bu Jejen yang mengarah kepadanya, lalu menggigitnya pelan.


"Hiiii!" teriak Bu Jejen berteriak kaget sembari menepiskan tangannya. "Iya, saya ngga akan nyentuh cucu maung lagi. Maaf!"


"Berani kamu sentuh cucu saya. Bekas gigitan saya barusan akan membengkak sebesar mangga. Dan kamu akan kesakitan terus!" seru Kang Krisna lagi


Aku memegang perutku, berusaha menahan tawa yang hampir lepas. Netraku fokus menatap Bu Jejen yang mengangguk cepat beberapa kali, lalu berbalik untuk kemudian lari ke arah pos jaga.


Saat sosoknya sudah tidak terlihat, aku dan Teh Opi melepas tawa yang sudah susah payah kami tahan dari tadi.


***


"Cape yank?" tanya Bang Win padaku yang sedang duduk bersandar di sofa ruang kerjanya. Ia baru saja masuk dan memberikan sebotol air mineral dingin yang sudah dibuka tutupnya.


"Ngga cape, Yank. Lemes aja," jawabku setelah meminum setengah dari isi botol. Beberapa waktu lalu, aku baru saja selesai membantu Teh Hani, Teh Opi, Gia dan Remi, untuk merakit dan menempatkan stan di halaman depan.


"Jangan terlalu banyak aktifitas. Biar yang lain aja yang nyiapin stan-stan bazar," lanjutnya.


"Iya, Yank. Santai atuh." Aku mengerucutkan bibir.


Aku mengangguk mengiyakan sembari melihat ke arah jam yang menunjukkan jika hari sudah menjelang sore. "Bentar lagi ya yank? Mau beresin stan yang udah ada dulu, abis itu aku pulang."


"Iya, Yank," jawab Bang Win, sebelum mendekat dan mencium pipiku lembut.


Tok tok tok!


Aku hampir membalas ciuman Bang Win dengan gigitan, saat pintu diketuk. Begitu pintu dibuka oleh Bang Win, sosok Kang Utep-lah yang berdiri di depan pintu.


"Win, barang-barang kiriman vendor buat bazar udah pada dateng. Mau ditaro di mana?" tanyanya langsung.


Bang Win tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Di ruang rapat aja kayanya. Nanti saya nyusul deh, buat bantuin."


Kang Utep melambai ke arahku, lalu pergi ke arah depan, setelah mengiyakan perkataan Bang Win yang kembali menghampiri.


"Yank, aku keluar dulu bantuin Utep ya?" tanyanya lirih.

__ADS_1


"Aku ikut ah, mau liat juga," balasku sembari berdiri.


Kami berdua berjalan ke arah halaman, di mana sudah ada beberapa mobil bak terbuka menurunkan banyak dus berisi produk kiriman dari vendor. Netraku sendiri, malah lebih tertarik melihat stan yang sudah diatur di sepanjang halaman. Beberapa teman penyiar, sedang memasang lampu kelap kelip agar terlihat lebih menarik.


"Keren banget ini, pake lampu-lampu," seruku menghampiri Teh Hani yang juga sedang memasang lampu.


"Keren yak? Kalo malem pasti lebih bagus. Buricak burinong kinclong-kinclong," balasnya sebelum tertawa.


"Entar cobain nyalain atuh, Teh. Pengen liat," timpalku yang diangguki oleh Teh Hani.


"Iya nanti yah? Abis sholat berjamaah, kita tes ini lampu."


Aku mengangguk mengiyakan dengan mata berbinar.


***


"Bagus ngga, Xu?" tanya Teh Hani menghampiriku, yang berdiri di tengah halaman berumput, dan bergantian memandang stan-stan yang sudah dihiasi lampu kelap kelip.


"Bagus banget Teh! Radio Rebel udah jadi kaya kafe aja ini. Enaknya gelar tiker terus makan di tengah sini ya," jawabku seraya duduk bersimpuh di atas halaman berumput rapi.


"Wih, bagus tuh say, idenya si Inoxu. Ngemil-ngemil sambil ngopi di sini, seru pasti," timpal Kang Utep yang baru saja menghampiri kami.


"Sok atuh say, ambil karpet plastik. Kasian tuh bumil, masa duduk di rumput. Dingin nanti," sambung Teh Hani.


Kang Utep mengangguk sebelum berbalik masuk ke dalam, untuk mengambil karpet. Beberapa teman-teman ikut bergabung bersama, setelah karpet dibentangkan. Adul dan Kokom secara bergantian membawakan bergelas-gelas kopi dan juga snack di pantry.


Selama beberapa saat, semua crew Radio Rebel menikmati waktu setelah seharian mempersiapkan keperluan untuk event bazar. Saat-saat seperti inilah, yang membuat kami semua merasa seperti satu kekuarga besar.


"Mau ke mana, Xu?" tanya Gia yang melihatku berdiri.


"Ke kamar mandi bentar," jawabku sembari berjalan masuk. Tidak ada seorang pun di dalam sini, semua berkumpul dan sedang bercengkrama di luar.


Setelah mencuci tangan, aku bergegas kembali menuju ke depan saat tiba-tiba secara tidak sengaja tersandung kabel panjang, hingga ujungnya terlepas dari stop kontak.


Suasana di halaman terdengar riuh karena lampu kelap-kelip mendadak mati. Dengan cepat, aku meraih ujung kabel dan bermaksud mencolokkannya ke stop kontak agar lampu kembali menyala.

__ADS_1


Sensasi aneh yang kurasakan membuat tubuhku bergetar hebat tanpa bisa kukendalikan, saat tanganku mencolokkan ujung kabel. Kepalaku sakit dan pandanganku berkunang-kunang, saat tubuhku tidak juga berhenti bergetar. Dalam beberapa detik kemudian, aku terjatuh ke lantai, sebelum kegelapan pekat menelan tubuhku secara cepat.


__ADS_2