
Aku langsung berusaha bangkit saat membuka mata, namun rasa pusing yang hebat dengan seketika menyerang.
"Yank! Jangan banyak gerak dulu!" perintah Bang Win yang duduk di sebelah sofa tempatku berbaring.
"Nengsih ...," ucapku parau saat aku menatap mata Bang Win lekat.
"Nengsih ngga apa-apa. Bayinya juga ngga kenapa-kenapa. Cuma untuk sementara, dia harus dirawat," jelas Bang Win yang membuatku luar biasa lega.
"Kok dia bisa kesetrum?" tanyaku lagi setelah menutup mata.
Terdengar helaan napas panjang, yang membuatku menoleh.
"Yank, kenapa?" Rasa penasaran mulai memenuhiku.
"Hud minta colokan dengan kabel yang rusak itu. Katanya mau dibenerin dan dipakai di rumahnya. Selain itu, ada kipas angin yang tadinya dipasang di studio yang aku suruh bawa dari ruang peralatan musik. Ngga tau gimana ceritanya, istri Hud kesetrum waktu lagi nyoba nyalain kipas, pake colokan kabel yang bermasalah. Jadinya dia kesetrum. Itu kenapa, Hud histeris banget dan nyalahin diri sendiri. Dia juga ngga tau kalau istrinya seneng banget, sampai mau nyobain kipas angin."
"Astagfirullah," ucapku lirih. Hatiku miris, sangat miris melihat sosok Nengsih. Setelah pernikahan pertamanya gagal, ia kehilangan anaknya di tangan Teh Ayu. Ia sendiri pun hampir jadi korban, dari istri mantan suaminya tersebut.
"Kenapa, Yank?" tanya Bang Win yang melihatku menaruh tangan di atas mata yang tertutup karena menahan tangis.
"Sedih ..., Tadi sempet ngobrol sama Nengsih di teras. Dia seneng banget ada bazar di sini. Katanya, dia bisa beli macem-macem barang yang dijual dengan harga murah. Aku juga ngebayangin, gimana senengnya dia barusan, sampe akhirnya kesetrum gara-gara mau nyobain kipas angin. Padahal kipas angin yang dikasih ke dia, cuma kipas angin bekas," jawabku mulai tersedu-sedu.
"Kadang, aku ngerasa kalau banyak banget keinginan aku yang belum terpenuhi. Aku ngga sadar, ada banyak orang di luar sana, yang ngga memiliki banyak keinginan kaya aku, dan udah bersyukur dengan apa yang udah mereka dapet.
"Ini pasti Zianka nih," ucap Bang Win terkekeh setelah diam selama beberapa saat, sehingga membuatku menoleh ke arahnya dengan pandangan tidak mengerti.
"Kalau kamu mellow, manja, lembut, dan baperan kaya gini, ini pasti pengaruh Zianka. Tapi kalau kamu keras kepala, berani, bandel, barbar, itu pengaruh Ziandru."
Seketika aku tertawa. Sejak tau jika aku sedang hamil anak kembar berlainan jenis kelamin, kami berdua sudah memberi nama pada mereka. Zianka untuk anak perempuan dan Ziandru untuk anak laki-laki. Kami juga seringkali mencocokkan kelakuanku, dengan kelakuan anak kami kelak.
"Udah enakan? Mau pulang sekarang?" tanya Bang Win yang kuangguki. Ia membantuku untuk bangkit, sebelum merangkulku berjalan keluar dari ruang kerjanya, menuju ke arah mobil terparkir.
***
Aku baru saja menyuap kuah terakhir dari cuanki yang kubeli ketika Teh Opi dan Tomo menghampiri di teras.
"Xu, saluran telepon bermasalah. Sorry to say, tapi Kisah Tengah Malam kali ini ngga akan bisa nelepon narasumber," ucap Teh Opi begitu duduk.
"Not father, Teh. Ngga papa, ada Tomo," jawabku santai.
Tomo dan Teh Opi saling menatap dengan wajah datar.
"Jadi saya akan menjadi narasumber kalian, begitu?" tanya Tomo di sebelah Teh Hani.
"Ya, kira-kira begitulah. Not father kan?" tanyaku untuk memastikan.
"Ya. Ora popo," jawabnya yang sontak membuatku serta Teh Opi tertawa terbahak-bahak.
"Eh, Mo. Kamu teh adiknya temen Teh Rebel?" tanya Teh Opi. Aku yang penasaran, ikut mencondongkan tubuh ke arah mereka.
__ADS_1
"Ya! Kakak saya berteman dengan Teh Rebel dan Teh Nday saat mereka pergi ke Jepang untuk pertukaran pelajar selama satu semester."
"Wih, keren! Kamu sendiri kenapa bisa kenal sama Gia, Mo?" Teh Opi semakin penasaran.
"Saya dulu tergabung dalam sebuah grup band asal Jepang. Gia adalah teman dari istri Taka, yang merupakan vokalis band kami."
"Temen Gia yang di Jepang? Yang namanya Rinai bukan?" timpalku.
"Betul. Inoxu kenal?"
"Ngga sih. Gia cuma pernah cerita aja," jawabku tersenyum lebar.
"Assalamualaikum evribadi! Halo Teh Inoxu, Teh Opi, dan Kang Tomo," seru Adul yang baru saja datang.
Kami bertiga serentak menjawab salam dan menyuruh Adul duduk. Selama beberapa saat, obrolan seru mengenai negara Jepang mendominasi pembicaraan kami, hingga Gia dan Remi tiba. Setelahnya, kami semua bergegas menuju ke studio untuk siaran, sedangkan Teh Opi pulang ke rumah karena sudah dijemput oleh Kang Krisna.
***
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM hadir kembali dengan Inoxu dan Adul dari studio tiga. Apa kabar para pendengar semua? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, aamiin. Sebagai informasi, mulai hari ini hingga seminggu ke depan, ada bazar yang diselenggarakan di halaman kantor Radio Rebel. Buat para pendengar yang ingin membeli produk-produk dari vendor dengan harga miring, sekedar cuci mata atau bertemu dengan para penyiar favorit, bisa datang langsung ya? Ke kantor Radio Rebel di jalan Cipaganti Bandung.
Satu lagu, akan saya putarkan sebagai awal kisah malam ini, permintaan Mojang Majalengka dari Jikustik dengan Pandangi Langit Malam Ini. Stay tuned terus, dan jangan ke mana-mana," aku membuka siaran tepat pada pukul sebelas malam.
Amu bergabung dengan Adul dan Tomo yang sedang mengobrolkan hal yang ringan, hingga lagu yang diputar hampir berakhir dan Remi kembali memberi tanda.
"Itulah dia Jikustik dengan Pandangi Langit Malam ini, ya gaes ya. Oh iya, sebelumnya, Adul atas nama Kisah Tengah Malam mau minta maap karena malam ini ada gangguan di saluran telepon kami. Oleh karena itu, sebagai ganti narasumber yang biasanya ditelepon, Adul dan Teh Inoxu akan mewawancarai narasumber langsung di studio.
Seperti yang mungkin para pendengar udah tau, ada seorang penyiar baru yang memegang program siaran baru di Radio Rebel. Penyiar ini ngebawain siaran, tentang informasi pendidikan di luar negeri. Penyiar baru ini adalah orang Jepang asli ya gaes ya. Pokoknya, Radio Rebel jadi lebih berwarna sejak penyiar baru ini ikut bergabung. Mari kita sapa, Kang Tomo!" Adul melanjutkan siaran.
"Apa kabar pendengar semua?" sapa Tomo ramah. "Semoga selalu sehat, ya?"
"Iya Kang Tomo, semoga para pendengar Radio Rebel Bandung selalu sehat. Kang Tomo, kalau boleh tau, Jepangnya di mana sih?" tanya Adul.
"Saya dari Shibuya, Kang Adul."
"Oh, Shibuya itu kalau ngga salah, terkenal dengan kisah anjing setia yang namanya Hachiko bukan? Yang nungguin tuannya di depan stasiun Shibuya?" tanyaku.
"Betul Teh Inoxu! Kebetulan rumah saya tidak jauh dari stasiun Shibuya, di mana terdapat patung Hachiko di taman yang tepat berada di depan stasiun."
"Kang Tomo asli orang Jepang?" Adul kembali bwrtanya .
"Iya Kang. Saya asli Jepang, tapi sudah sering kali berlibur ke Indonesia. Kakak saya sendiri memiliki banyak teman dari Indonesia, yang dikenalnya saat program pertukaran pelajar di Jepang."
"Wih keren banget kayanya ya? Kalau bisa sekolah di Jepang," cetus Adul.
"Sekolah di Indonesia menurut saya lebih menyenangkan. Kalau di Indonesia, pelajar sekolah menengah atas yang mau melanjutkan pendidikan ke universitas, belajar hanya sampai sore. Tapi di Jepang, kami belajar bisa sampai jam sembilan atau jam sepuluh malam, Kang."
"Lah, malem banget Kang Tomo!"
"Iya, Teh Inoxu. Walaupun masuknya jam sembilan pagi, tapi tetep aja, sehari itu belajar di sekolah selama dua belas jam."
__ADS_1
"Hari sabtu libur?"
"Libur, Kang Adul. Jadi sekolah hanya sampai hari jumat."
"Pernah ada kejadian aneh ngga tuh? Kan pulangnya malem terus?" tanya Adul lagi.
"Ya ada! Beberapa cerita seram juga beredar di sekolah kami di Jepang. Sama seperti cerita seram tentang sekolah-sekolah di Indonesia."
"Cerita apa tuh, Kang Tomo?" tanyaku.
"Yang paling ngga bisa saya lupain itu cerita tentang nenek ngesot atau hantu teke-teke."
"Wih, kalo di sini suster. Kalo di sana nenek-nenek?" Adul membolakan mata.
"Iya kang. Kebetulan ada kawan seangkatan saya yang pernah bertemu dengan nenek ngesot ini, setelah pulang dari kegiatan klub basket. Kejadian ini saat kami di tahun pertama sekolah menengah atas.
"Gimana ceritanya?" Aku penasaran walaupun sudah mulai merinding.
"Jadi ceritanya, anak klub basket baru selesai latihan di suatu sore saat turun hujan. Ada rumor yang beredar, jika di saat hujan pada waktu sore, tepat pada pukul 4 sore lewat 44 menit, nenek ngesot akan muncul di jalan yang letaknya tepat di belakang sekolah. Kalaupun mau lewat sana, jangan berjalan tepat di garis putih yang ada di tengah jalan."
"Terus gimana?" timpal Adul.
"Teman saya adalah murid baru yang tidak percaya rumor tersebut, dan nekat pulang melalui jalan belakang sekolah. Awalnya tidak ada yang terjadi sama sekali, dan ia mengira jika itu adalah sekedar humor biasa. Sampai akhirnya, dia nekat berjalan tepat di garis putih yang terletak di tengah jalan.
Setiap melangkah, terdengar bunyi srek srek dari belakangnya. Namun saat menoleh, tidak ada sosok siapapun yang terlihat. Semakin lama ia berjalan, suara tersebut terdengar seperti mengikuti. Hingga ia panik dan berlari kencang. Di tengah kepanikan, ia terjatuh tepat di atas garis putih, dan saat menengok ke belakang, seorang nenek sedang mengejarnya dengan menggunakan tangan."
"Tangan?" tanyaku.
"Iya Teh Inoxu. Nennek itu hanya memiliki separuh badan yang hanya samoai di perut. Untuk berjalan ia menggunakan tangannya. Sosok itu yang mengikuti teman saya. Di tengah ketakutan, teman saya mundur dan keluar dari garis putih, dan secara tiba-tiba, sosok nenek ngesot menghilang."
"Oh, jadi si nenek ngesotnya ngikutin garis putih lurus itu ya, Kang?" tanya Adul.
"Iya bisa dibilang begitu."
"Ngeri banget sih ya? Kalau di jalan ketemu yang kaya gitu," ucapku lirih yang direspon kekehan oleh Adul.
"Santai aja Teh Inoxu, itu kan jauh di Jepang. Ngga bakal ke sini lah. Jauh banget loh, harus naik pesawat dulu."
Aku menatap sinis pada Adul dan melihat jika Remi sudah mengangkat tangan tanda durasi siaran hampir habis.
"Menarik banget cerita Kang Tomo tentang kisah horor yang beredar di sekolah Jepang. Ternyata, di mana aja, kisah horor akan selalu ada. Nyatanya memang hal-hal seperti itu dekat dan berdampingan dengan para manusia," aku mengambil alih siaran.
"Sudah satu setengah jam, saya, Adul dan Kang Tomo menemani para pendengar semua. Terima kasih banyak untuk Kang Tomo yang sudah bersedia menjadi narasumber. Terima kasih juga untuk pendengar yang sudah mendengarkan siaran ini sampai akhir. Satu lagu permintaan Melati Putri Melati dari Budi Doremi dengan Mesin Waktu, akan menjadi penghujung Kisah Tengah Malam kali ini. Inoxu, Adul, Kang Tomo dan juga tim mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Aku mematikan mic dan bertepuk tangan kencang bersama yang lain, sebagai rasa terima kasih pada Tomo yang sudah bersedia menjadi narasumber.
Prok prok prok prok prok!
Kami semua saling bertatapan dengan heran, saat masih terdengar suara tepukan tangan entah dari mana, padahal kami berlima sudah berhenti bertepuk tangan daei tadi. Setelah beberapa detik terlewat dan menyadari situasi yang terjadi, aku segera melepas headphone kasar dan menyambar ponselku, sebelum berlari ke luar studio diikuti dengan yang lain.
__ADS_1
Brak! Gubrak! Brug!
Seperti biasa. Adul yang paling akhir sadar, menjadi yang paling akhir keluar studio karena terlilit kabel headphone, terjungkal dari kursi, dan menabrak pintu studio yang sudah tertutup dengan lolongan minta tolong.