Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 36


__ADS_3

Gia berjalan cepat ke arah Adul yang sedang duduk di atas tembok pembatas teras dengan halaman samping dengan pandangan kosong. Sebatang rokok yang belum dinyalakan, terselip di bibirnya.


Plak!


Aku terkejut luar biasa saat melihat Gia menepuk wajah Adul kencang, hingga hampir terjatuh.


"Mau belajar nakal kamu teh? Gaya banget! Belum juga bisa ngebahagiain emak, udah gegayaan ngeroko!" sentak Gia.


Adul mengusap wajahnya berkali-kali sebelum menatap Gia. "Teh Gia, sakit tau!" serunya. "Liat nih liat! Ini mah permen yang mirip rokok, bukan rokok beneran! Adul beli di depan sd deket rumah!"


"Hah?" Wajah Gia terlihat bingung saat melihat sesuatu yang sempat dikiranya rokok, sudah patah menjadi dua. Aku yang melihatnya, spontan tertawa terbahak sembari duduk di sofa.


"Maap-maap, Dul. Teteh kira, itu rokok beneran. Lagian kamu sih, gaya banget permen digituin. Permen teh langsung dimakan!" ucap Gia.


"Kebiasaan dih. Ngga Teh Inoxu, Teh Remi, Teh Gia. Kalau minta maap pasti tetep aja nyalahin! Emang dasar wanita!" balas Adul.


Gia terkekeh mendengar perkataan Adul. "Kita teh khawatir, you know!"


"Nah, bener kata Gia. Lagian ngapain sih kaya gitu? Lagi ekting?" tanyaku.


"Adul lagi sedih, Teh. Patah hati, ngga percaya, shock," jawabnya dengan muka memelas. "Pengen mabok, haram. Pengen ngeroko, Adul ngga bisa gimana caranya. Ya udah, pake permen aja."


"Gara-gara si Kekey?" timpal Remi yang baru saja datang.


"Teh Remi tau juga ceritanya?" tanya Adul balik.


"Woyadong! Anak-anak pada rame di grup, kok. Emang kamu ngga baca grup?"


"Ngga." Adul menghembuskan napas panjang. "Adul lagi males buka hape, Teh."


"Baca deh!" suruh Gia tiba-tiba.


"Ngga ah, nanti Adul tambah drop. Palingan, semua ngeledekin Adul."


"Ish suudzon!" seruku sembari menatapnya tajam. "Belum juga dibaca udah nuduh."


Ucapanku sepertinya membuat Adul penasaran. Dengan pelan, ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dan mulai menekan tombol power. Aku, Gia dan Remi saling menatap satu sama lain, dan menunggu reaksi Adul selanjutnya.


"Huaaa!" pekik Adul sebelum menutup wajahnya dengan lengan, dan menangis menggerung.


"Woi, woi! Kalo mau nangis, gosah kenceng-kenceng. Bikin heboh nanti," ucapku meledek, setelah beberapa saat tidak melihat tanda-tanda Adul akan berhenti menangis.


"A-Adul terharu Teh," balasnya sembari mengusap wajah berkali-kali. "Ternyata temen-temen sepeduli itu sama Adul. Adul kira, bakalan pada ngeledek.


Aku, Gia dan Remi hanya tersenyum melihat tingkah Adul. Mataku beralih ke arah ponsel, tepat di aplikasi berkirim pesan, di mana ada sebuah grup bernama Keluarga Besar Radio Rebel (Gabes Obel).


[ADUL, KAMU KUAT! KAMU JOMBLO, TAPI KAMU BERKUALITAS!] tulis Teh Opi.


[Semangat, Dul! Cari pacar lagi] pesan dari Kang Utep.


[Adul, yang kuat ya sholeh, bageur. Semoga dapet yang jauh lebih baik] Teh Hani ikut mengirim pesan.


[Aa Adul, ngga usah sedih. Jomblo ngga bikin malu, kok. Nanti juga bakal ada jodohnya. Kaya Kokom sama Kang Utep. Hihihi] Kokom.


[Mangkal aja yuk, Dul? Kita makan bubur kacang ijo sampe mabok. Daripada sedih yakan!?] Kang Krisna.


Dan banyak lagi pesan dari yang lain. Seperti itulah solidnya keluarga Radio Rebel. Walau pun kami sering saling meledek satu sama lain, namun jika ada yang tertimpa masalah, kami akan langsung turun tangan membantu, tanpa tapi.


Adul masih membaca beberapa pesan di grup, sebelum aku, Gia dan Remi menghampirinya, dan memberikan tepukan di pundak.


"Makasi Teh, udah nyemangatin Adul," lirihnya mematikan ponsel, dan menatap ke arah kami bertiga secara bergantian.


"Siapa yang mau ngasi semangat?" tanyaku.


"Teteh-teteh semua 'kan? Nepok bahu Adul, biar Adul semangat, kan?" tanyanya.


Aku, Gia dan Remi kompak menggeleng.


"Terus kenapa?" tanya Adul lagi.


"Tolong beliin pempek di depan," jawabku nyengir.


"Teteh mah nitip beliin baso, Dul," tambah Gia.

__ADS_1


"Kalo aku nitip jus mangga," sambung Remi.


"Ah elah!" Adul menatap kami bertiga dengan pandangan sinis.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo gaes, Adul dan Teh Inoxu hadir kembali buat nemenin istirahat malem kalian semua dengan berbagai kisah dari narasumber. Tapi sebelumnya, Adul mau puterin satu buah lagu permintaan Yulianti Tobet dari SouQy dengan Cinta Dalam Doa. Salamnya, untuk seseorang yang udah jauh banget. Inilah dia, Cinta Dalam Doa. Cekidot ya gaes ya," ucap Adul membuka siaran. Begitu ia mematikan mic, aku, Gia dan Remi langsung tertawa terbahak-bahak.


"Ada apaan sih?" tanyanya bingung.


"Kamu teh ngomong apa barusan? Cekidot? Astaga Adul! Kalo penyiar radio lain denger, bisa diketawain kamu!" jawab Gia disela tawa.


"Emang aneh?" tanya Adul lagi.


"Ya jelas. Yang bener itu check it out! Cekidot-cekidot, bener-bener luar biasa kamu mah," balasku sinis.


"Yeee, Adul kan ngga tau. Bukannya ngasih tau sih!"


"Nanya makanya! Nanya!" timpal Remi.


Aku masih tertawa saat menghubungi narasumber kami untuk malam ini, dan memintanya menunggu sejenak sampai lagu berakhir.


"Itulah dia SouQy dengan Cinta Dalam Doa. Selamat datang saya ucapkan untuk para pendengar Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM yang baru saja bergabung. Di ujung sambungan, sudah ada narasumber kita, yang siap untuk membagikan kisahnya. Halo? Dengan siapa di mana?" tanyaku melanjutkan siaran.


"Halo Teh Inoxu, Kang Adul. Ini dengan Elsa di Bandung."


"Halo Teh Elsa. Mau cerita apa nih?" tanya Adul.


"Mau nyeritain pengalaman saya, sekitar satu setengah sampai dua tahun yang lalu."


"Mangga, Teh Elsa," aku mempersilakan.


"Waktu itu, saya sering ngerasa pusing banget, Teh Inoxu. Diagnosa dokter mah, saya kena vertigo. Karena sering kumat, saya mutusin pulang kampung. Ternyata di kampung, keadaan saya jadi semakin parah, tapi anehnya cuma tiap menjelang magrib. Kata orang yang bisa sih, saya kena santet."


"Santet?" tanyaku spontan.


"Iya, Teh. Katanya, ada yang mau ngerjain suami, tapi malah kena ke saya. Sejak saya ngedenger itu, mulailah kerasa semua rasa sakit, yang bikin saya waktu itu milih ma*ti aja."


"Karena saking sakitnya ya, Teh?" Adul bertanya.


"Terus aman, Teh? Aku kembali mengajukan pertanyaan.


"Cuma bertahan sebulan. Setelah itu, saya berkali-kali mimpiin suami saya sama seorang perempuan. Nah, setelah mengalami mimpi itu, saya sakit lagi."


"Pulang kampung lagi ngga buat diobatin?" tanya Adul.


"Ngga, Kang. Saya ikhtiar mencari kesembuhan lewat sholat tahajud. Karena feeling saya mah, sakit yang saya derita, bukan medis. Saya rutin menunaikan tahajud rutin selama beberapa malam, sampai dapet mimpi ketemu kakek-kakek yang ngambil sesuatu dari mulut saya. Saya kaget, sampai akhirnya kebangun, dan anehnya setelah bangun, semua sakit saya hilang Kang."


"Wih, power of sholat tahajud," seruku spontan.


"Bener banget, Teh Inoxu. Tapi setelah itu, saya mimpi lagi ngeliat suami saya sama wanita yang sama. Dan akhirnya, saya kembali sakit lagi, lebih parah dari yang pertama. Ya saya 'kan masih lanjut sholat tahajud, nah tiap sholat, dada saya sakit, terus sesak napas. Selain itu, kalau berhubungan sama suami, sakitnya minta ampun. Sakit banget pokoknya."


"Terus gimana, Teh?" Adul bertanya dengan nada penasaran.


"Ya saya tetep terusin tahajud, sampai akhirnya mimpi ketemu kakek-kakek itu lagi. Tapi anehnya, kakek itu bareng sama perempuan di mimpi saya. Yang sama suami itu loh."


"Lah, bisa ketemu gitu ya?" celetuk Adul lagi.


"Saya juga heran, Kang. Di mimpi saya, si kakek nanya ke perempuan itu. Kalo ngga salah nanya 'ditaro di mana'. Perempuan itu langsung nunjuk bagian dada dan alat kelamin."


"Wih, merinding. Bisa tepat banget sama bagian yang Teteh rasa sakit ya?" seruku.


"Iya, Teh Inoxu. Dari situ, saya tetep lanjutin tahajud dan ditambah rukyah mandiri. Cuma lama-lama ngga kuat, karena sakitnya tuh sakit banget. Saya ngelakuin itu selama hampir tiga bulan, tapi belum ada tanda-tanda sembuh."


"Terus gimana, Teh?" tanya Adul.


"Saya pasrah, Kang. Kalau emang ajal saya udah deket, saya mah pasrah banget. Sampai akhirnya, di malem jumat, saya gelisah dari sore tanpa sebab. Ngga kepengen makan, tapi saya paksa makan, karena kondisi badan udah ngga ada tenaga banget. Pas jam sepuluh malem, antara sadar dan ngga, kaya ada suara yang ngebisik 'ayo keluarin, ayo keluarin!' gitu."


"Wih, bisikan gaib dong," Adul menimpali.


"Seperti itulah Kang. Antara nyata dan ngga, pokoknya. Akhirnya dari jam segitu sampai jam dua belas malem, saya muntah-muntah. Pikir saya udah sembuh, karena badan udah lumayan enak. Eh, pas tidur, gantian perut saya yang sakit banget. Kontraksi kaya orang melahirkan, tapi berkali-kali lipatnya lagi."


"Emang kalo mau lahiran, sakit?" tanyaku mulai cemas.

__ADS_1


"Ya sakitlah, Teh! E*dan pokoknya sakitnya," jawab Teh Elsa yang membuatku seketika berdebar.


"Abis itu gimana, Teh?" tanya Adul kembali ke topik.


"Abis itu, saya diare sampe jam setengah tiga dini hari. Sampe lemes banget, susah gerak, kliyengan, mata buram. Saya tidur di lantai karena takut anak saya bangun pas saya ke kamar mandi. Badan udah dingin semua, kecuali dada. Sempet bisikin suami untuk nyariin obat anti diare, padahal aslinya saya mah udah pasrah. Kali udah waktunya saya dipanggil Allah."


"Ya Allah, ngga kebayang rasanya gimana," Adul menimpali.


"Suami saya sampai bingung dan panik. Karena panik itulah, dia keluar rumah buat nyari obat, dan pulang hampir jam setengah empat karena banyak apotek tutup. Kondisi saya sendiri pas waktu itu, udah persis mayat, kaku! Cuma dari mata, masih keliatan ada tanda-tanda kehidupan."


"Asli merinding saya, Teh. Ngga kebayang gitu, sampai segitunya," aku berucap lirih.


"Saya juga seumur-umur ngga nyangka, Teh. Untungnya, pas kedengeran suara pengajian sebelum adzan subuh dari mesjid, pelan-pelan rasa sakit saya mulai menghilang. Dan waktu adzan subuh, badan saya udah mulai enak dan bisa digerakin lagi. Langsung dikasih minum dan obat sama suami, sampai akhirnya saya ketiduran. Waktu bangun, alhamdulillah udah enak banget, dan cuma tinggal lemesnya dikit. Dalam beberapa hari, saya sembuh total dan ngga pernah sakit lagi sampai sekarang," cerita Teh Elsa.


"Masya Allah, kekuatan tahajud plus rukyah mandiri ya, Teh?" tanyaku.


"Bener banget. Emang ngga langsung kerasa, tapi manfaatnya besar banget. Dan buat ngebentengin diri, saya rutin berdzikir pagi-petang mulai dari saat itu.


"Iya bener," timpalku. "Saya pernah baca, kata Al-Imam Ibnul Qayyim, dzikir pagi dan petang seperti baju besi. Semakin bertambah ketebalannya, maka pemiliknya semakin tidak terkenai oleh bahaya. Bahkan kekuatan baju besi itu, bisa sampai memantulkan kembali anak panah, sehingga berbalik mengenai pemanahnya sendiri."


"Eta pisan, Teh Inoxu! Bener-bener deh, perlindungan dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu benar adanya," respon Teh Elsa.


"Alhamdulillah ya, Teh. Masih dilindungi," balas Adul.


"Iya Kang. Bersyukur banget pokonya," lanjut Teh Elsa sebelum diam sejenak. "Yah, sekian aja paling ya Teh, Kang, cerita dari saya. Makasi udah dijadiin narasumber. Saya teh, fans berat Kisah Tengah Malam."


"Wooh, makasi banget Teh Elsa. Sehat selalu bersama keluarga ya?" balas Adul sebelum Teh Elsa mematikan sambungan.


"Sehat selalu Teh Elsa dan keluarga," Aku melanjutkan untuk menutup siaran. "Itulah dia, Teh Elsa dengan kisahnya yang luar biasa. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di manapun kita berada. Aamiin. Satu buah lagu, akan saya putarkan sebagai penghujung kisah, permintaan Dyana Riansyah dari Ungu dengan Percaya Padaku. Inoxu, Adul dan seluruh tim, pamit undur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikan mic dan melepaskan headphone, diikuti yang lain sebelum bersiap-siap untuk pulang. Kami berjalan ke luar studio dengan saling bercanda.


"Makan, Yank?" tawar Bang Win di sofa teras, setelah Adul, Gia dan Remi berpamitan pulang. Sebungkus nasi goreng, baru saja diantarkan oleh penjualnya.


"Ngga Yank, aku masih kenyang," jawabku sembari duduk di depannya yang mulai menyuap nasi goreng. "Tapi kayanya enak, cobain yah?"


Bang Win tertawa dan mulai menyuapiku. "Tadi aku abis ketemu Pak Yandri."


"Kasus Kekey?"


"Iya," Bang Win mengangguk. "Kekey kena pasal berlapis karena ngebuang bayi dan—."


"Dan apa?" tanyaku penasaran. Aku meraih sendok di tangan Bang Win dan mulai menyuap nasi goreng sendiri.


"Ngebu*nuh bayinya."


"Astagfirullah! Emang bener-bener tega si Kekey mah!" makiku.


"Kekey ngaku, sesaat setelah ngelahirin bayinya yang prematur, bayinya dibekap sampe ngga bernapas. Dia sempet nyimpen mayat bayinya sehari semalem di rumah, sebelum mutusin buat ke sini," jelas Bang Win lagi.


"Hukumannya bakal lama?"


"Sekitar lima belas tahun. Pasal berlapis, kan?" jawab Bang Win yang membuatku lega.


"Bagus! Sesuai perbuatan sih," ucapku. Saat akan menyendok kembali nasi goreng, aku tertegun.


"Kenapa Yank?" tanya Bang Win yang melihat perubahan wajahku.


"Nasi gorengnya habis," bisikku lirih.


Bang Win sendiri, hanya tertawa terbahak-bahak. "Ya ngga apa-apa, aku bisa pesen lagi buat aku."


"Bukan itu," jawabku.


"Terus apa?"


"Aku masih laper, Yank?" sahutku menatapnya lekat.


Kali ini, ia tidak tertawa melainkan balas menatapku tanpa berkedip. "Iya, hayu beli lagi. Mau beli di Lembang? Sekalian liat pemandangan lampu kota Bandung? Mumpung ngga hujan," tawarnya.


Dengan semangat empat lima, aku mengangguk dan langsung berdiri lalu berjalan ke arah halaman.


"Yank," panggil Bang Win menghampiriku. "Biar pun ngga ujan, tapi udaranya dingin," sahutnya memasangkan tudung hoodieku, lalu menggenggam tanganku erat sebelum ia masukkan ke saku hoodie yang ia kenakan.

__ADS_1


Kami berdua berjalan pelan, menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pos jaga.


__ADS_2