Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 41


__ADS_3

"Heh, Xu! Ngelamun mulu deh!" Gia menegurku sebelum ia duduk di sofa teras. "Liatin apaan?"


Aku menatapnya selama beberapa saat, menimbang-nimbang apakah ia akan takut jika aku menceritakan tentang tulisan anak kecil di buku yang kuambil dari atas kulkas di pantry.


"Heh, Xu! Ada apaan sih?" tanya Gia lagi.


"Kalo aku cerita sesuatu, kamu bakal ketakutan ngga?" Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah balik bertanya.


"Ya kalau kamu udah nanya gitu, biasanya mah aku takut. Cuma, karena sekarang udah ada Tomo, jadi selow. Emang ada apaan?"


"Ini." Aku menunjukkan tulisan tersebut pada Gia.


"Apa anehnya?"


"Buku ini aku ambil dari atas kulkas. Pas iseng corat coret waktu siaran terakhir kemaren, aku ngga sengaja nemu tulisan ini," jelasku. "Perhatiin baik-baik deh."


"Kayanya biasa aja," sahut Gia sambil memiringkan kepalanya.


"Ish Gia! Liat yang bener," seruku.


"Serius, Xu! Ngga ada yang aneh. Bisa aja siapa gitu, iseng nulis begituan."


"Liat yang bener! Ini tulisan anak kecil bukan?" tanyaku lagi.


Gia memperhatikan tulisan tersebut, sebelum kedua matanya membola. "Tulisannya meni jelek deh."


"Ish!" Aku menutup buku di tanganku dan meliriknya sinis. "Ini tulisan anak kecil tau!"


Gia menutup mulutnya yang ternganga. "Tapi kan, di sini ngga ada anak kecil."


"Ya makanya aneh! Ngga ada anak kecil tapi ada tulisannya."


"Apa jangan-jangan itu anak kecil, minta tolong karena udah terjadi sesuatu? Kaya waktu di kantor Radio Rebel yang lama itu loh, Xu!" seru Gia.


"Nah bisa jadi," jawabku singkat.


"Kamu udah ngga bisa ngeliat yang aneh-aneh, Xu?"


Aku menggeleng.


"Ngedenger suara yang aneh-aneh?"


Aku menggeleng lagi.


"Terus gimana mau nolongin yang nulis itu?" Gia menghembuskan napas panjang.


"Ada Adul, kan?" jawabku.


"Oh iya, dia masih bisa liat yang gitu-gitu!" Gia tersenyum lebar. "Entar ceritain deh ke dia. Sekarang, kita ke studio aja duluan. Udah mau jam sebelas tuh."


Aku mengangguk mengiyakan dan berdiri mengikuti Gia masuk ke dalam, setelah sebelumnya memasukkan buku kecil itu ke dalam tasku.


***


"... Satu lagu permintaan dari Kirana Nya Fla dari Letto dengan Sandaran Hati akan saya putarkan sebagai awal kisah kita di malam hari ini ...."


Aku sedang membuka siaran saat Adul masuk ke dalam studio dengan tersenyum lebar.


"... Stay tuned terus, dan jangan ke mana-mana."


Setelah mematikan mic, aku menghadap ke arah Adul yang duduk di kursi siaran tepat di sebelahku. "Tumben Dul, kesiangan?".


" Iya Teh Inoxu, tadi abis makan nasi goreng dulu sama Kokom."


"Cie! Ada yang jadian! Makan-makan dong, Dul!" seru Remi terkekeh.

__ADS_1


"Teh Remi tau aja. Keliatan ya, dari muka Adul?"


"Ya iyalah! Kamu senyumnya meni lebar gitu," timpal Gia.


"Selamat deh, Dul. Semoga berlanjut ke jenjang yang lebih serius," ucapku tersenyum. Aku kemudian menghubungi narasumber untuk Kisah Tengah Malam dan memintanya menunggu sejenak setelah mengkonfirmasi.


"Yak, itulah dia Letto dengan Sandaran Hati ya gaes ya! Nama bandnya kaya mainan yang sekarang lagi viral dan bikin sakit kepala," lanjut Adul meneruskan siaran.


"Apa tuh?" tanyaku.


"Letto-letto," jawab Adul nyengir. "Di ujung sambungan telepon, sudah ada narasumber kita untuk malam hari ini. Mari kita sapa, Halo? Dengan siapa di mana?"


"Dengan Tifa di Batununggal."


"Ih, kaya si Kunti pake T-H ya, Teh? Rumahnya di Batununggal. Jangan-jangan temennya juga nih," bisik Adul yang membuatku menaruh telunjuk di bibir.


"Teh Tifa, mau cerita apa?" tanyaku.


"Mau cerita pengalaman horor di rumah saya yang di Bogor, Teh Inoxu."


"Mangga, Teh Tifa," aku mempersilakan.


"Beberapa minggu lalu, saya lagi pulang ke rumah saya di Bogor buat bersih-bersih. Biasanya, kami sekeluarga ke sana, waktu liburan anak sekolah. Biar ada suasana baru gitu, maksudnya. Nah, pas waktu itu, saya lagi suka banget baca kisah-kisah horor. Karena kebetulan belum ngantuk, saya baca cerita tersebut sembari nyuci dan nemenin anak yang mau tidur."


"Iya sih, emak-emak biasanya emang suka banget ngerjain beberapa pekerjaan sekaligus. Kaya emak Adul," sahut Adul terkekeh.


"Nah, pas lagi seru-serunya baca, kedengeran ada suara orang nyapu pake sapu lidi dari belakang rumah. Masih saya cuekin tuh, Teh, Kang. Padahal suaranya kenceng banget."


"Ya mungkin tetangga Teteh kali ya? Kan ada juga orang yang bersih-bersih pas malem. Jadi pagi-paginya, semua udah rapi," sahutku.


"Kayanya ngga mungkin, Teh. Karena itu udah malem banget, hampir jam dua belas."


"Wow," lirihku.


"Ya mungkin tetangga Teh Tifa emang baru bisa nyapu jam segitu," tambah Adul.


"Lah, jadi siapa dong yang nyapu?" Adul melirikku.


"Ya ngga tau Kang. Emang agak horor tinggal di bantaran kali, Kang. Apalagi ngga jauh dari rumah saya, ada panti jompo yang terbengkalai. Sering didatengin para Youtuber untuk bikin konten, karena serem banget. Sering kali setiap abis ada yang bikin konten di panti, warga pasti kena gangguan. Ada yang pintu rumahnya diketok, jendelanya diketok, suara orang nangis, sampe kedengeran suara orang ngobrol tapi ngga ada wujudnya."


"Wih, digangguin rame-rame jadinya?" tanyaku.


"Iya Teh. Cuma karena udah sering, ya warga mah biasa aja. Nah, ada juga cerita dari tukang pisang. Jadi, depan rumah saya itu jalan yang panjangnya lima puluh meter. Kalau pagi, di depan rumah, jadi pasar. Sekali waktu, penjual pisang yang jualan tepat di depan rumah, dateng kepagian. Jam empat lagi, dia udah sampai. Waktu abis naro barang dagangannya, dari pagar panti, ada nenek-nenek yang manggil, karena mau beli pisang. Si penjual pisang ini nyamperin, tapi pas kira-kira udah sepuluh langkah, dia baru inget kalo panti itu udah kosong. Selain itu, nenek-nenek yang manggil dia, ternyata Mak Hos, langganan dia yang udah meninggal dari sebelum panti kosong."


"Wih! Terus gimana, Teh?" Adul bertanya.


"Ya ngibrit-lah Kang."


"Ih ampun, serem deh. Subuh-subuh ketemu sama yang gituan," timpalku.


"Pernah juga nih, Teh. Ada mayat korban bunuh diri yang nyangkut di bawah dapur saya."


"Hah? Kok bisa?" aku terkejut.


"Kan bawah dapur saya tuh kali. Jadinya suka ada aja yang nyangkut."


"Maksud saya, itu korban bunuh diri beneran? Lompat ke kali?" Aku mulai merasa merinding.


"Iya Teh. Jadi ada ibu-ibu yang gendong bayi sama bawa anak-anak kecil. Anak-anaknya umur dua sama delapan tahun, sedangkan yang bayi, saya ngga tau umur berapa. Mereka beberapa hari sebelumnya keliatan mondar-mandir di deket jembatan. Tiap kali ada warga nanya, si ibu selalu jawab kalau dia lagi nyari suaminya yang kerja di Bogor, yang udah lama ngga pulang-pulang. Cuma ngga tau nih, Bogornya di mana.


Pas hari kejadian, jam dua pagi, ada tukang sayur yang mau belanja, liat si ibu ini berdiri lagi di deket jembatan. Tukang sayur itu ngiranya, si ibu lagi nungguin angkot. Eh, pas udah beres belanja dan mau pulang, pasar udah rame banget, Teh. Katanya ada yang jatoh dari jembatan."


"Terus gimana?" Adul bertanya dengan suara lirih.


"Ternyata, yang jatuh itu si ibu dengan dua anak-anaknya. Pas lagi rame, dateng anak si ibu yang paling besar, yang umur delapan tahun. Dia cerita kalau ibunya ngajak dia juga untuk terjun dari jembatan. Tapi karena dia ngga mau, si ibu bawa dua adik-adiknya."

__ADS_1


"Astagfirullah," aku dan Adul kompak bersuara.


"Di bawah jembatan itu banyak batu besar, dan jam setengah enam, mayat mereka ditemukan udah mengambang. Posisi anak yang masih bayi, masih dalam gendongan, sedangkan anak yang umur dua tahun, ada di sebelahnya."


"Ya Allah, miris banget," ucap Adul.


"Iya Kang, emang. Ini pengalaman yang ngga bisa saya lupain sampai sekarang."


"Iya jelas lah Teh. Ya ngeri, ya miris, ya campur-campur lah pokoknya," sambungku.


"Bener banget Teh Inoxu." Teh Tifa terdengar menghembuskan napas panjang. "Ya paling segitu aja cerita saya. Makasi banyak udah dikasih kesempatan buat jadi narasumber. Sehat selalu ya Teh Inoxu dan Kang Adul."


"Aamiin, Teh Tifa juga ya? Sehat selalu beserta keluarga." Aku terdiam sejenak, sebelum kembali berbicara di depan mic.


"Itulah dia cerita Teh Tifa, tentang pengalaman di rumahnya yang terletak di bantaran kali Cisadane, Bogor. Miris banget denger cerita Teh Tifa barusan tentang pelaku bunuh diri." Aku menghembuskan napas sejenak.


"Di zaman modern ini, banyak pihak yang sudah sering menyuarakan kesehatan mental untuk perempuan, khususnya untuk para ibu rumah tangga. Namun, pada prakteknya, masih banyak juga pihak yang menyepelekan apa yang ibu-ibu ini rasakan. Pihak yang menyepelekan, berasal dari profesi yang sama atau bisa saya bilang dari sesama ibu rumah tangga. Contoh mudahnya, jika ada seorang ibu rumah tangga mengeluh atau bercerita tentang kehidupannya di rumah, bukan jalan keluar yang didapat, melainkan adu nasib dan kekuatan. Secara ngga langsung, para ibu-ibu senang membandinkan diri dengan ibu-ibu lain, dan merasa bangga jika sudah menyandang predikat ibu hebat.


Jika ujungnya sampai seperti ini, jujur aja saya ngga bisa bayangin, seberapa berat beban hidup, beban batin, beban mental yang harus dipikul oleh ibu tersebut, sampai beliau mengambil jalan pintas yang juga melibatkan anak-anaknya. Kadang, para ibu ini tidak berharap untuk dibantu, hanya didengarkan saja. Namun sayang, banyak diantara kita yang masih belum peka. Harapan saya, semoga di masa yang akan datang, ngga ada lagi kejadian seperti ini. Tolong diingat. Keluarga tidak butuh ibu rumah tangga yang hebat, anak-anak juga tidak butuh ibu yang hebat. Yang mereka butuhkan, adalah ibu yang bahagia." Aku menelan saliva pelan.


"Duh, saya kebawa suasana dan jadi ngomong panjang lebar. Yak, sudah satu setengah jam saya dan Adul menemani para pendengar semua. Sudah waktunya kami berdua untuk pamit. Tapi sebelumnya, akan saya putarkan satu buah lagu permintaan Dwi Astuti Sutina Sutawijaya dari Aurel dengan Berhak Bahagia. Salamnya untuk emak-emak Artzhevant 2007 dan ibu guru MTs. Karangmangu. Akhir kata, selamat beristirahat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Aku mematikkan mic dan melepas headphone, diikuti oleh Adul, Gia serta Remi.


"Temenin dulu ya? Tomo mau jemput, tapi dia masih ada urusan dulu," pinta Gia yang kuangguki. Kami semua berjalan menuju sofa teras. Remi sendiri langsung berpamitan, karena Nyx sudah menjemputnya.


Aku baru saja menyandarkan punggung, saat teringat sesuatu. "Dul, liat ini. Teteh nemuin tulisan ini. Ini buku, tadinya ada di atas kulkas pantry. Liat deh, ada yang aneh ngga?" tanyaku.


"Lah, kaya tulisan anak kecil ini mah. Emang punya siapa, Teh?" tanya Adul.


"Nah! Ngga tau punya siapa. Kan ngga ada anak kecil di sini," jawabku lirih.


"Kayanya mah, ada yang mau minta tolong deh. Dia ninggalin pesen di buku ini," lanjut Adul.


"Duh, jangan aneh-aneh dong kalian. Serem nih!" seru Gia. Ia duduk merapat padaku.


"Kamu liat sesuatu ngga?" tanyaku pada Adul.


"Ngga ada sih Teh. Tapi pas liat tulisan itu, Adul merinding banget."


"Apa ada kejadian pas kita kemaren libur ya?" tanyaku lagi dengan suara pelan. Bukannya menjawab, Gia dan Adul malah saling menatap.


"Aa Adul! Aduh, Kokom kira Aa udah pulang," seru Kokom menghampiri kami. "Ini, hape Aa kebawa Kokom pas tadi Aa nitip di tas."


Adul menepuk dahinya pelan dan tersenyum lebar. "Makasi ya bebih, Adul lupa kalau tadi nitip hape di tas kamu sayang."


"Huek!" Gia bersuara meledek, sedangkan aku hanya terkekeh tanpa suara.


"Loh, kok buku itu ada di Teh Inoxu? Kokom nyariin dari kemarin," tanya Kokom yang melihat ketika aku bermaksud memasukkan buku itu ke dalam tas.


"Ini punya Kokom?" tanyaku setelah melihat jika ia memakai alat pendengarannya.


Kokom mengangguk. "Itu teh isinya catetan Kokom kalo disuruh belanja ke pasar."


Mataku membola dan langsung menunjukkan tulisan anak kecil yang terdapat di salah satu halaman buku. "Kokom tau ngga, ini tulisan siapa? Kaya tulisan anak kecil."


"Oh, itu mah tulisan Kokom."


"Apa?" tanyaku heran.


"Iya, Kokom nulis itu pake tangan kiri."


"Kok pake tangan kiri? Tangan kanan kamu kenapa?" tanya Adul dengan nada khawatir.


"Ngga kenapa-kenapa A Adul. Kokom lagi ngantuk karena ngga ada kerjaan, jadi iseng nulis pake tangan kiri. Soalnya, tangan kanan Kokom lagi ngupil," jawabnya polos.

__ADS_1


"Astagfirullah!" seruku sebal sembari menutup buku tersebut keras. Gia tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya. Sedangkan Adul, ia menatap Kokom demgan pandangan penuh kasih sayang.


"Ah elah," lirihku kesal karena sudah berpikir yang tidak-tidak.


__ADS_2