
"Eh, Teh Gia sama siapa tuh, Teh?" tanya Adul menyenggol kaki, sehingga membuatku mengangkat wajah.
"Lah, dianter sapa tuh?" tanyaku balik, melihat Gia yang turun dari mobil diikuti oleh seorang pria.
"Ya kalo tau, Adul tadi ngga akan nanya." Adul masih memperhatikan sosok lelaki yang terlihat sedang tertawa bersama Gia, saat berjalan menuju teras.
"Assalamualaikum, wahai Inoxu dan Adul!" seru Gia dengan wajah berseri-seri. Di belakangnya, terdengar jika lelaki itu juga mengucapkan salam, walaupun lirih.
"Teh." Adul menatap Gia dengan mengkedip-kedipkan matanya.
"Apa, Dul? Cacingan kamu sekarang?" tanya Gia sembari duduk.
"Ish! Itu siapa?" tanya Adul melirik sosok yang masih berdiri di sebelah Gia.
"Oia lupa! Kenalin semuanya, ini Tomo!"
Aku dan Adul saling menatap selama beberapa saat sebelum tersenyum ke arah pria itu yang menundukkan badan sedikit.
"Tomo, they're my bestfriend. This is Inoxu and that is Adul (Tomo, mereka adalah teman baikku. Ini Inoxu dan itu Adul)," ucap Gia memperkenalkan.
Aku berdiri dan menyalami Tomo, diikuti oleh Adul. "Please, have a seat (silakan duduk)," aku mempersilakan.
"Teh, ini tunangan Teteh yang dari Jepang tea? Masya Allah, cakep banget ya, Teh? Tapi masih tetep cakepan Adul. Nih, Adul gini-gini juga, kata emak mah eksotis. Produk Indonesia asli," kata Adul dengan nada bangga, setelah menyalami Tomo.
"Betul, lebih cakep Adul," timpal Tomo yang membuat Adul membelalakan mata.
"Lah, Teh Gia! Bisa bahasa Indonesia inih pacarnya?"
"Ya bisa dong!" Gia terkekeh.
"Terus kenapa tadi pake bahasa Inggris?" tanya Adul kembali duduk.
"Biar gaya aja. Lagian Tomo juga ngga fasih-fasih amat bahasa Indonesianya," jawab Gia.
"Oh, iya! Ini saya ada sedikit oleh-oleh," sambung Tomo dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Sebuah paperbag yang ia tenteng dari tadi, diberikannya padaku.
Air liurku langsung terbit begitu melihat buah persik yang berwarna kemerahan. Rasa manis seolah sudah memenuhi mulut. "Boleh dibuka?" tanyaku.
"Silakan, bisa langsung dimakan dengan kulitnya. Di Jepang, kami menyebutnya Momo. Ini buah dari prefektur Fukushima," jelas Tomo.
Aku mengangguk dan membuka plastik pembungkus dus kemasan, sebelum pada akhirnya menggigit buah yang mirip apel tersebut. Benar! Rasanya yang manis langsung memenuhi rongga mulut dengan kombinasi yang menyegarkan.
"Ini mah kesemek. You know kesemek?" tanya Adul yang dijawab dengan gelengan oleh Tomo. "In Indonesia, we namain buah this kesemek. Biasanya, buah this banyak dijual di market. Bedanya, buah this di Indonesia dipakein bedak. You know bedak?"
Tomo kembali menggeleng.
"Bedak is like tipung tarigu mun ceuk orang sunda mah. (Bedak itu seperti tepung terigu kalau kata orang sunda sih). You know?"
Tomo masih menggeleng.
__ADS_1
"Ah nggeuslah, hese nerangkeun na oge (ah udahlah, susah neranginnya juga)," ucap Adul putus asa, yang membuatku serta Gia sontak tertawa.
"Ah elah, ngenes banget ini malem," lirih Adul melihat ke arah pintu gerbang, di mana mobil Nyx terlihat masuk. Tidak lama, ia turun dengan Remi di belakangnya.
Sama seperti tadi, Gia juga mengenalkan Remi dan Nyx yang sebelumnya sempat menarik rambutku, pada Tomo. Adul sendiri duduk di ujung sofa, dan membalikkan badan ke arah halaman samping.
"Ngenes ... Ngenes ....," gumamnya.
Kami berbicara dengan ramainya, dan sesekali tertawa. Nyx berkali-kali menarik rambutku dan membuatku melemparkan tatapan tajam. Kami memang kakak beradik yang menunjukkan kasih sayang dengan saling mengusili.
"Teh Inoxu! Kenapa ini tinggal satu? Tadinya ada enam!" pekik Adul melihat ke arah buah persik.
"Maap, enak soalnya," jawabku tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, saya ada dua kotak lagi di mobil. Nanti saya ambilkan," balas Tomo.
Kami kembali mengobrol ringan selama beberapa saat, karena Bang Win juga ikut bergabung di sofa teras. Saat waktu siaran tiba, Nyx berpamitan pulang, dan kami berjalan menuju studio.
"Yank, aku keluar dulu ya?" Bang Win menarik tanganku yang berjalan paling belakang. Saat semua tidak melihat, ia mencium keningku singkat. "Mau ngopi sama Utep dan Kang Saija. Sebelum beres siaran, nanti udah di sini lagi, kok."
Aku mengangguk dan melambaikan tangan melepas kepergiannya.
***
"Standby! 3, 2, 1, go!" Remi mengangkat jempolnya tanda siaran dimulai.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hai gaes semua di mana pun berada! Seneng banget malem ini Adul dan Teh Inoxu bisa hadir kembali di Kisah Tengah Malam untuk nemenin waktu istirahat kamu semua selama satu setengah jam ke depan dengan kisah-kisah dari narasumber. Sebelumnya, akan Adul putarkan satu buah lagu dari—."
Suara teriakan dari luar studio membuat kami kaget seketika. Pasalnya, setiap studio didesain kedap suara. Jadi, jika ada suara yang sampai terdengar, itu tandanya seseorang di luar sana berteriak dengan sangat kencangnya.
Setelah teriakan, suara derap langkah kaki berlarian, terdengar jelas dari dalam studio. Kami saling menatap satu sama lain, termasuk Tomo yang terlihat kebingungan, sebelum serentak berdiri dan bergegas menuju ke pintu studio. Dengan cepat, aku membuka pintu dan terpana di tempat. Tidak ada siapapun, dan tidak terdengar kegaduhan sama sekali.
"Lah, ngga ada orang," seru Adul. "Pada denger 'kan? Tadi ada suara teriakan sama suara orang lari-larian."
Kami semua mengangguk dengan keheranan.
"Rem, ada salah pencet ngga tadi? Kali aja ngga sengaja mencet tombol play cuplikan film atau iklan," Gia menoleh ke arah Remi.
"Ngga ada, Gi. Aman semua," jawab Remi.
Gia mengangguk-angguk diam. "Ya udah yuk? Balik lagi, kayanya mah kita salah denger."
Tepat ketika kami akan menuju ke kursi siaran masing-masing, Adul terlihat melihat ke ujung lorong dalam diam. "Teh tolong, Teh! Tolong! Dia lari ke sini!" teriaknya panik.
"Ada apa—."
Aku tidak melanjutkan pertanyaanku, karena melihat Adul tersentak kemudian jatuh berlutut di lantai.
"Adul!" pekik Remi yang dengan segera menghampirinya.
__ADS_1
"Ja moeder, hier ben ik ... Dag lieve jongen, zegt zij, met een snik ...," Adul mulai bernyanyi dalam bahasa Belanda.
'Aduh!' keluhku dalam hati. Gia dan Remi menatapku lekat. Kami tau persis apa yang terjadi.
"Helpen! Helpen! (tolong! tolong!)," teriak Adul begitu melihat Tomo. "Doe ons geen pijn meneer (jangan sakiti kami, Tuan)."
Tomo terlihat keheranan.
"Dia lagi latihan akting teater," jawab Gia ketika pria itu bertanya apa yang terjadi pada Adul.
"Doe mijn kinderen geen pijn (jangan sakiti anak-anak saya)," Adul memohon dengan berlinang air mata.
Aku menatap Adul dengan iba. Ingin kasihan, tapi nyatanya, aku hampir tidak bisa menahan tawa.
"verberg alstublieft mijn kinderen (tolong sembunyikan anak-anak saya)," ucapnya lagi menengok ke arahku.
"Bentar! Mau buka kamus dulu," seruku mengambil ponsel di saku.
"Hij is een goed mens, hij kwam hier niet met slechte bedoelingen. Dus ga uit het lichaam van mijn vriend (dia orang baik, dia datang kemari bukan dengan niat buruk. Jadi pergilah dan keluar dari tubuh temanku)," aku berkata terbata-bata.
"Hehehe," Adul terkekeh. "Je Nederlands is erg slecht! (Bahasa Belanda anda buruk sekali)."
"Astagfirullah," lirihku. "Geus dibantuan ngajelaskeun, kalahkah ngahina (udah dibantu menjelaskan, malah menghina)."
Emosiku seketika terbit melihat wajah menyebalkan Adul yang kembali terkekeh. Untuk sesaat aku melupakan jika sosok dalam tubuh Adul adalah orang lain.
"Gaan! Ga Weg! Gaan! (Pergi! Pergi sana! Pergi!)" teriakku sembari menepuk bibir Adul keras selama beberapa kali.
"Xu!" seru Remi dan Gia berusaha menahan tanganku.
"Ngeselin banget ini si orang Belanda! Bisa-bisanya ngatain! Dasar ketan!" makiku.
"Xu, ini Adul, sabar!" pekik Gia. Aku sendiri masih menepuk bibir Adul dengan punggung tanganku.
"Aduh! Aduh, Teh Inoxu!" sentak Adul kencang sesaat kemudian, yang membuatku berhenti. "Aduh sakit."
"Maap," ucapku singkat. "Teteh cuma berusaha ngusir si setan Belanda."
Adul menatapku sembari memegang bibirnya. "Bibir Adul pedes ini," keluhnya sembari berdiri.
"Eh, ngomong-ngomong, tuh demit kenapa ya? Kok kaya takut banget ngeliat Tomo," tanya Remi.
"Wajar Teh. Dulu, waktu pendudukan Jepang, konon tentara Jepang dikenal kejam dan sadis. Banyak korbannya dari bangsa Belanda, juga bangsa Indonesia sendiri. Itu kenapa, penghuni sini, takut liat Tomo," jelas Adul.
"Iya ya? Apalagi 'kan cerita Pak Obi dulu, anak-anak pemilik rumah ini diban*tai tepat di depan mata kedua orang tuanya, terus pemilik rumah ikut dipeng*gal. Kebayang sih sadisnya," sambungku. Entah kenapa ada rasa sedih menyelusup di hati.
"Jadi sedih yakan?" tanya Adul yang kuangguki.
Kami semua terdiam selama beberapa saat, sebelum Gia membuka suara. "Udah gaes, yuk siaran lagi," ajaknya.
__ADS_1
Aku, Adul serta Remi mengangguk dan kembali ke meja siaran, diikuti Tomo yang masih terlihat bingung.