
“Konon, karuhun (leluhur) kita adalah salah satu kerabat setia dari Prabu Siliwangi. Itulah kenapa, keturunan kita dijaga oleh sosok harimau putih dan tidak akan ada yang berani menyentuh. Baik manusia ataupun bukan.”
***
"Teh Inoxu! Hayu siaran lagi," Adul yang melongokkan kepalanya di pintu, membuatku tersadar dari ingatan saat sedang mengobrol dengan Nyx sewaktu aku belum menikah. Pada saat itu, aku bercerita jika aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, dan juga melihat sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Kakakku bilang, hal itu terjadi karena kami merupakan keturunan dari Suryanagara.
"Teh! Hayu?" ajak Adul lagi melihatku diam saja.
"Iyalah hayu! Bawel banget sih," seruku sembari berdiri.
"Hih! Bumil galak! Bikin sebel," gerutu Adul sebelum berjalan masuk.
Saat berjalan, Adul tiba-tiba berhenti dan membuatku hampir menabraknya dari belakang.
"Ish, si Adul! Kalo mau berhenti tuh minggir," ucapku kaget.
Adul hanya diam tidak merespon ucapanku.
"Adul?! Heh!" Aku mengguncangkan lengannya karena menurutku ia berperilaku aneh.
"Teh, jangan bergerak! Ada maung (harimau)," bisiknya, yang sontak membuatku celingukan.
"Ngarang kamu mah! Ngga ada apa-apaan kok."
"Adul ngga bercanda. Itu, maungnya lagi berdiri ngeliat ke arah kita. Di depan pantry," sahutnya masih dengan berbisik.
"Ngga usah bercanda deh! Hayulah siaran!" ajakku yang hampir berjalan lagi, namun ditahan oleh Adul.
"Teh-teh! Maungnya ke sini! Tolong!" jeritnya parau. "Hiyaaa! Hiyaaaa! Maaaa-uuuung!"
Aku mengangkat satu alisku melihat kelakuan Adul. Hingga tiba-tiba,
Brug!
Adul terjatuh di lantai dalam posisi merangkak. Ia menundukkan kepalanya dan mulai bertingkah laku seperti harimau. Sesekali ia mengangkat wajahnya, dan mengaum.
"Wraaaurr!"
"Hahaha!" Bukannya takut, aku malah tertawa mendengar suaranya. Adul mulai merangkak berkeliling dan melompat ke atas meja serta sofa. Tidak lupa, ia mengaum beberapa kali yang membuatku semakin tertawa terbahak-bahak.
"Wrauur! Wrauuur! Wrauuur!"
"Hoi Adul," sapa salah satu penyiar pria yang hendak ke pantry, namun langsung diseruduk oleh Adul hingga ketakutan. Tidak berhenti di situ saja. Adul kembali menyundul dan mencakar beberapa orang yang keluar dari studio, karena terpancing keributan yang ia lakukan.
"Tolong!"
"Si Adul kesurupan!"
__ADS_1
"Adul jadi maung!"
"Tolong!"
"Ada apa—." Kang Utep yang baru keluar dari ruangan Bang Win bersama Teh Opi, langsung membelalakan matanya saat melihat Adul. Masuk akal, ia bisa melihat sosok asli yang sekarang sedang merasuki Adul.
"Pi! Lari pi! Naek ke atas meja, Pi! Itu maung," desisnya sebelum melompat-lompat panjang menuju ke meja resepsionis. Teh Opi sendiri memilih masuk kembali ke ruangan Bang Win dan menutup pintunya rapat. Dalam beberapa detik, aku bisa melihat jika ia mengintip dari balik jendela.
"Ih, Kang Utep, tolong sadarin Adul atuh!" seru Kokom dari balik pintu penghubung ke arah pantry.
"Ngga ah, Kom. Kamu ngga liat apa? Itu maung! Utep ngga berani. Salah-salah nanti malah dicakar."
Adul sendiri masih berputar-putar merangkak ke sana ke mari. Herannya, ia tidak satu kali pun menghampiriku.
"Inoxu! Naek sini!" sentak Kang Utep yang kurespon dengan gelengan santai.
"Ish! Bandel banget itu bumil! Dikira yang masuk ke Adul anak kucing kali!"
Aku hanya terkekeh mendengar gerutuan Kang Utep dan semakin tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Adul yang membuat teman-temanku ketakutan. Gia bahkan menyiram Adul dengan air mineral di tangannya dengan maksud untuk menyadarkan. Namun saat Adul berbalik menghadapnya, ia bergegas memasuki studio, lalu menutup pintunya rapat. Hal tersebut ia lakukan sebanyak tiga kali. Hingga, pada percobaan untuk yang keempat kalinya, ia berbalik terlalu lambat dan membuat Remi lebih dulu menutup pintu. Adul dengan tatapan garang melihat ke arahnya dan kembali mengaum.
"Wrauur! Wrauur! Wrauur!"
"Xu ... Tolong, Xu ...," bisiknya.
Baiklah, ini sudah tidak lucu lagi. Dengan pelan, aku berjalan ke arah Adul yang masih mengaum di depan Gia yang menempel erat di pintu studio, dan menarik kerah kaosnya di bagian belakang, persis induk kucing menggendong anak-anaknya. Dengan tiba-tiba, Adul berbalik dan mengayunkan tangannya mengenai lenganku. Dua goresan panjang tertinggal di kulit.
"Ish malah nyakar!" seruku kesal. Dengan cepat, aku menepuk bibir Adul beberapa kali dengan satu tangan. Tanganku yang satu lagi, masih mencengkeram kaos Adul bagian belakang dan menariknya ke arah teras.
"Ah elah, pingsan," ucapku lirih.
***
"Hari ini luar biasa ya kawan-kawan?" ucap Teh Opi saat kami duduk di sofa teras. Adul dan yang lain sudah pulang, menyisakan aku, Kang Utep, Teh Opi, dan Remi.
"Siaran pada gagal semua, Adul jadi maung, Emak sama Bu Jejen nyik*sa Adul," lanjutnya lagi.
Aku dan yang lain terkekeh mendengar perkataan Teh Opi dan teringat kejadian beberapa saat lalu, setelah Adul pingsan.
Karena Pak Obi sedang tidak ada, dan yang lain takut untuk mengantar Adul pulang, maka Kang Utep menghubungi emak untuk menjemput Adul. Siapa sangka jika ternyata beliau datang bersama Bu Jejen.
Bu Jejen menekan jempol kaki Adul kuat-kuat untuk menyadarkannya. Saat masih belum sadar juga, wanita itu menarik anak rambut Adul yang dekat dengan telinga keras-keras. Kang Utep yang melihat hal tersebut ikut meringis dan menjelaskan jika itu rasanya sangat sakit. Namun, Adul masih juga belum sadar.
Tidak sampai di situ saja, Bu Jejen lanjut dengan mencubiti perut dan ketiak Adul berkali-kali, hingga kami semua menghentikannya karena tidak tega melihat.
Saat melihat jika apa yang Bu Jejen lakukan tidak juga membuat Adul sadar. Emak mengambil alih dengan menepuk pipi Adul kencang dan dengan suara melengking memanggil namanya. Ajaib, mata Adul langsung bergerak dan tidak lama kemudian terbuka. Setelah sadar sepenuhnya, emak langsung menariknya pulang dan meminta maaf pada kami atas kegaduhan yang putranya lakukan.
"Eh Xu! Tuh kakak kamu dateng," seru Teh Opi yang membuatku tersadar dan sontak menoleh. Nyx terlihat berjalan santai serta tersenyum menyebalkan.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapnya sebelum mengacak rambut dan duduk di sebelahku.
"Waalaikumsalam," seruku lirih.
"Woi! Kalo ada yang salam, jawabnya yang iklas atuh," lanjutnya yang hanya kuangguki.
Kami semua mengobrol selama beberapa saat, sebelum Nyx berdiri dan berpamitan untuk mengantar Remi pulang. "Eh, Oxu! Ikut ke mobil bentar, ada oleh-oleh pas kemaren ke Jakarta."
"Bukannya diambilin aja sih," balasku yang malas berdiri.
"Ish, aku kalo udah sampe mobil, males jalan ke sini lagi. Buruan bangun! Ibu hamil harus banyak gerak biar lungsur langsar!"
"Iya-iya!" Dengan malas aku berdiri dan berjalan bersama Remi, mengikutinya.
"Nih!" Nyx menyerahkan satu paperbag besar ke tanganku. Saat aku meraihnya, ia tidak melepaskan paperbag itu.
"Ada apaan tadi? Kenapa tiba-tiba Maung Bodas ke sini?" tanya Nyx menatapku tajam.
Aku terpana untuk sesaat dan menceritakan secara singkat apa yang sudah terjadi.
"Bisa ngga sih, lain kali kamu cerita kalau ada kejadian yang kaya gini lagi? Pesugihan bukan bercandaan! Bakal fatal berurusan sama pelaku pesugihan kalo kita ngga bener-bener kuat iman. Lagian, bisa-bisanya kamu bawa nama Suryanagara. Kalo ada apa-apa itu, bawa nama Allah sebagai pelindung!"
Aku menunduk dan merasa jika ucapan Nyx benar.
"Biarpun katanya kita punya pelindung. Sebaik-baiknya pelindung hanyalah Allah SWT. Inget baik-baik Oxu!" sambungnya.
"Iya-iya maap," sahutku menyesal.
"Jangan kaya gitu lagi! Ngga semua urusan manusia bisa kamu campuri, hanya karena kamu keturunan Suryanagara. Jaga ranah kamu, jangan terlalu ikut campur, karena setiap manusia punya jalan takdir sendiri. Kalau kata kamu si Ayu ngejahatin orang, biar dia dapet balesannya. Toh mungkin korbannya juga ngga selemah yang kita kira. Masih banyak orang-orang yang berpegang teguh pada iman dan percaya akan ketentuan Allah."
"Iya ...," sahutku lagi.
"Ya udah, masuk sana. Aku pulang dulu."
Aku hanya mengangguk dan mundur beberapa langkah, setelah Nyx melepas pegangannya di paperbag, lalu masuk ke dalam mobil, di mana Remi sudah duduk di kursi penumpang dari tadi. Dengan lambaian tangan singkat, mobilnya keluar dari halaman parkir Radio Rebel.
Aku sudah berjalan pelan menuju teras, saat mobil Bang Win yang masuk membuatku berhenti melangkah.
Begitu turun dari mobil, Bang Win langsung menghampiriku. Pak Obi sendiri, langsung masuk dan duduk di teras bersama Kang Utep dan Teh Opi.
"Abis ada Nyx tadi? Aku sempet liat mobilnya," ucap Bang Win tersenyum.
"Iya. Nganterin ini," jawabku menunjukkan paperbag di tangan. "Gimana keadaan istrinya Hud?"
Bang Win menatapku lekat selama beberapa saat.
"Alhamdulillah, dia dan janinnya selamat," jawab Bang Win lirih.
__ADS_1
Kelegaan memasuki hatiku secara cepat dan menimbulkan perasaan hangat. Dengan pelan, aku menggenggam tangan Bang Win dan mulao berjalan menuju teras.
"Mau makan apa kita? Aku laper banget! Aku laper banget sampai rasanya mau pingsan," seruku, yang membuat Bang Win terbahak dan mengacak rambutku lembut.