
"Yank? Kamu ngapain?" tanya Bang Win dari ambang pintu.
"Makan," sahutku singkat.
"Iya tau. Maksud aku, kenapa makan pisang gorengnya kaya gitu?" tanyanya lagi sembari duduk di sofa depanku.
"Enak," jawabku pendek.
Ia menatapku seolah-olah aku adalah makhluk mitologi yang menjelma nyata. Dengan pelan, kepalanya menggeleng, setiap melihat suapan demi suapan pisang goreng yang dicocol sambal ikan roa dalam botol selai, masuk ke mulutku. Baru tadi pagi, aku membeli sambal ikan roa khas Manado ini di sebuah minimarket makanan beku, tidak jauh dari Radio Rebel.
"Inoxu!" panggil Kang Utep dari arah dalam, menghampiriku. Dengan cepat, aku mengambil bungkusan plastik berisi pisang goreng di atas meja.
"Astagfirullah! Utep bukan mau minta, hei!" serunya melirik kesal. "Cuma mau nanya, kemaren pas siaran off air, kalian nelpon narasumber atau baca email?"
"Nelpon narasumber, tapi karena suara narasumber ngga kerekam, terus narasumbernya bikin takut, ya akhirnya malah ngga siaran," jawabku.
"Kok kamu ngga bilang ke aku?" tanya Bang Win.
"Maap, lupa," jawabku lirih. Entah kenapa akhir-akhir ini aku semakin pelupa dibanding biasanya.
"Ya pantesan ngga kerekam. Orang kabel buat output suara telpon ngga nyambung ke monitor kok! Sampe lebaran juga ngga akan pernah kerekam," sambung Kang Utep sembari duduk. "Itu juga kenapa, waktu kalian off air di vila, disaranin kalian ngga buka sambungan telepon. Karena emang harus nyambung ke monitor buat ngerekam."
"Oh, gitu," responku singkat sambil kembali makan.
"Makanya Utep tadi heran, kalian abis off air tapi kok settingannya sama kaya siaran on air."
"Emang beda?" tanyaku ingin tau.
"Beda. Kalau on air, suara penelpon ngga usah masuk ke monitor untuk disimpan, dan bisa langsung disiarin. Kalau off air, ya harus direkam biar bisa disimpen."
"Kesalahan sendiri yang menimbulkan ketakutan," gumamku lirih.
"Assalamualaikum," seru seseorang di halaman.
"Waalaikumusalam, iya Bu?" tanya Kang Utep langsung berdiri.
"Mau ketemu sama Kang Adul bisa?"
"Wah, kalau Adul jadwal siarannya baru besok malem. Kadang suka ke sini, tapi biasanya dia dateng kalau jadwal siaran aja. Maaf, ibu siapa ya? Mau titip pesen?" tanya Kang Utep lagi.
__ADS_1
"Saya Ambu, ini anak saya Mawar, kemarin Kang Adul menelpon anak saya buat jadi narasumber. Tapi ada yang aneh, makanya kami ke sini mau memastikan."
Aku melepas pisang goreng di tanganku dan menoleh. Setelah minum, dan membersihkan tangan menggunakan tisu, aku menghampiri mereka.
"Mawar? Saya Inoxu," beritahuku. "Ini beneran Mawar?"
"Teh Inoxu? Iya ini Mawar. Duh, alhamdulillah ketemu sama Teteh," ucapnya terdengar lega.
"Mari masuk dulu, silakan duduk," aku mempersilakan. Bang Win sendiri berdiri, untuk memberi jalan.
"Jujur aja, saya kaget waktu mendapat telepon dari Kang Adul yang bilang bahwa Mawang mengangkat telepon, malam kemarin."
"Jangankan Ambu, kita di studio juga pada kaget. Karena awalnya Mawang bilang kalau Mawar udah meninggal pas kecil, dan habis itu, waktu Mawar nelpon balik ke studio, dia bilangnya malah Mawang yang udah meninggal. 'Kan kita di sini pada bingung," balasku.
"Bener Teteh, Mawar mah masih hidup," ucap Mawar putus asa.
"Monmaap ya? Bentar," aku mencondongkan badanku ke arah Mawar dan mencubit tangannya keras.
"Aduh!" pekik Mawar.
"Inoxu!"
"Oxu?!"
"Maap-maap, cuma mau mastiin," ucapku tersenyum lebar.
"Maafin istri saya. Sejak hamil, kelakuannya suka semaunya sendiri," lirih Bang Win sembari menunduk ke arah Ambu.
"Ngga apa-apa. Mungkin Neng Inoxu mau mastiin aja," sahut Ambu tersenyum geli.
Kang Utep dan Bang Win selanjutnya berpamitan pada Ambu dan Mawar untuk kembali ke dalam.
"Sebelumnya, Ambu minta maaf kalau gara-gara Mawar dan Mawang, para penyiar di sini pada takut."
"Iya sih emang takut," selaku.
"Mawar dan Mawang terlahir kembar. Kami berasal dari sebuah desa yang cukup terpencil. Mitos di tempat kami, jika ada sepasang anak kembar lahir, maka mereka harus dipisahkan. Kalau tidak, salah satu dari mereka akan mendapat energi yang negatif, dalam artian sakit-sakitan.
Cuma, karena Mawar dan Mawang anak pertama Ambu, saya dan Abah mereka memutuskan untuk mengacuhkan mitos tersebut. Kami lebih berpegang pada sesuatu yang ada dalam agama."
__ADS_1
"Maap, kalau boleh tau, Mawang meninggalnya kenapa?"
"Sakit, seperti mitos yang dipercaya penduduk desa. Tapi kami menganggapnya itu sudah takdir. Bukannya ada empat perkara yang udah ditentuin, jauh sebelum manusia lahir?" tanya Ambu.
Aku mengangguk setuju.
"Keanehan terjadi beberapa saat setelah Mawang meninggal. Ada orang-orang yang masih sering melihat Mawang kecil di sekitar rumah kami, dan itu menjadi berita hangat untuk warga desa. Kami sekeluarga masih mengacuhkan berita yang beredar dan menganggap jika itu hanyalah salah satu gangguan jin.
Sampai lama-kelamaan, berita yang beredar semakin meresahkan. Banyak yang sering melihat anak laki-laki seumur Mawar yang selalu mendampinginya ke mana pun berada. Beberapa tetua bilang, jika sebenarnya Mawang masih hidup, namun berbeda dimensi dengan manusia. Itu sebabnya, ia pun bertumbuh seperti manusia pada umumnya."
Aku menatap Ambu lekat dan memasang telinga baik-baik jika ada suara aneh yang terdengar. Nihil. Di saat yang sama, Kokom keluar membawa tiga kaleng jus dingin. "Silakan diminum," ucapnya ramah. Tidak lama, ia pun kembali ke dalam.
"Itu salah satu pertimbangan saya dan Abah, untuk mengirim Mawar ke kota. Kalau masih di kampung, mungkin dia akan ketakutan sendiri mendengar perkataan warga. Banyak juga yang menyalahkan Mawar atas kematian Mawang," lanjut Ambu setelah meminum jusnya.
"Maap, Mawar sendiri bukannya bisa ngeliat yang gitu-gitu ya?" tanyaku ragu.
"Betul, itu alasan kedua kami mengirimnya ke kota. Biar dia ngga bisa ngeliat penampakan sodara kembarnya."
"Berhasil?" tanyaku lagi.
"Berhasil. Selama di kota, Mawar tidak pernah melihat sosok yang warga desa bilang sebagai Mawang. Telepon kemarin itu terjadi saat Mawar kembali ke desa untuk menghabiskan liburan. Dan sekarang, Ambu kembali mengantar dia ke mari."
Aku mengangguk mengerti, dan kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mengobrol sebelum Ambu dan Mawar berpamitan.
"Ambu sama Mawar ke sini sama siapa?"
"Diantar supir, Neng. Kebetulan, tadi supirnya nganter Abah dulu ke suatu tempat," jawab Ambu bersiap-siap. Tidak lama, terlihat sebuah mobil memasuki halaman parkir Radio Rebel.
"Kami pamit pulang, Neng Inoxu. Salam untuk Kang Adul dan penyiar lain," ucap Ambu memelukku.
"Hati-hati di jalan, Ambu. Mawar, kalau mau main ke sini, dateng aja ya?" tambahku yang diangguki Mawar.
Keduanya mengucapkan salam dan meninggalkan teras, setelah aku menjawab salam mereka. Tanpa kusadari, Kokom sudah berdiri di sebelahku.
"Kan udah dibilangin, Teteh mah ngga suka jus itu," ucapku padanya sembari menunjuk satu kaleng jus yang masih tertutup. "Tapi, karena udah dibawain, ya ngga apa-apalah, Teteh minum."
Aku hampir meraih kaleng jus itu saat Kokom menahan tanganku. "Jusnya udah diminum kok, Teh."
"Hah! Sama siapa?" tanyaku kaget.
__ADS_1
"Sama pemuda sepantaran Neng yang tadi."
Aku membolakan mata dan melempar pandang ke arah mobil yang masih berada di halaman. Di bangku penumpang, Mawar membuka kaca dan melambai ke arahku. Namun, perhatianku justru tertuju pada sosok pemuda berwajah identik dengan Mawar, yang ikut melambai, sebelum mobil meninggalkan halaman parkir Radio Rebel.