Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 26


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Inoxu dan Adul hadir kembali dalam Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM untuk menemani waktu istirahat para pendengar semua dengan sajian kisah dari narasumber," ucapku membuka siaran.


"Bener banget Teh Inoxu. Malem ini, Bandung lagi-lagi diguyur hujan. Walaupun ngga deras, tapi lumayan bikin mager ya gaes ya? Enaknya mah kalau udah kaya gini tuh, diem di rumah, rebahan sambil ngemil dan pastinya dengerin Kisah Tengah Malam. Satu buah lagu permintaan Novita Ningrum dari Project Pop dengan Ingatlah Hari Ini, akan Adul putarkan sebagai awal kisah. So, jangan ke mana-mana," Adul mematikan mic setelah melanjutkan ucapanku membuka siaran.


Aku sedang menghubungi narasumber yang akan menceritakan kisahnya untuk malam ini, dan memintanya menunggu sejenak, saat pintu studio terbuka. Bang Win masuk dengan membawakan sebuah roti coklat keju berukuran besar.


"Sambil ngemil ya, Yank?" ucapnya berbisik di telingaku setelah menggeser headphone. Sesudahnya, ia hanya menepuk bahu Adul serta melambai pada Gia dan Remi sebelum keluar studio.


"Bawain rotinya cuma satu sih. Mana tega minta ke bumil," celetuk Adul.


Aku menepuk bahunya keras sembari mencibir. "Dasar culamitan dih! Laper kan? Salah sendiri! Tadi beli makanan, bukannya dimakan, malah dibuang."


"Ish, dibilangin makanannya aneh! Teteh mah ih," gerutu Adul.


"Emang keliatan? Kamu bisa tau kalo ada makanan aneh atau ngga? Bukannya kalo pake penglarisan gitu, jinnya ada di tempat mereka jualan?" Aku menatapnya lekat selama beberapa saat.


Adul memberi tatapan meremehkan sebelum menjawab. "Kalau penjual yang nyediain ruangan buat makan di tempat mah biasanya ada. Tapi kalo misal yang di pinggir jalan, mereka ngga pake perantara kaya gitu. Biasanya mah pake sesuatu yang dicampurin ke makanannya. Adul tau, soalnya menurut Adul warna makanannya pucet. Kaya yang hambar, kaya yang sari makanannya tuh udah ngga ada."


"Pernah nyoba emang sebelumnya?"


"Pernah, Teh. Makanannya hambar aja gitu, ngga ada rasa. Dari situ Adul suka liat-liat dulu kalau mau makan. Tadi mah, karena laper dan ngeliat ada tukang jualan baru, ya main pesen aja," Adul menjelaskan.


"Oh gitu," anggukku mengerti. "Siap-siap deh, Dul. Kalo lagunya udahan, kamu ambil alih dulu."


Adul kembali bersiap di depan mic, sedangkan aku mulai menyuap sepotong roti. Waktu aku datang untuk siaran tadi sore, Bang Win memang sedang keluar bersama Kang Utep. Seolah terhubung, saat aku memikirkan suamiku itu, ia kembali masuk ke studio dengan membawa sebotol air mineral. Setelah membuka tutupnya dan menaruh botol itu di depanku, ia mengusap pipiku pelan, lalu kembali ke luar.


Gubrak gubrak gubrak!


Remi dan Gia melonjak-lonjak di kursi mereka masing-masing. Adul sendiri menatapku sinis, saat aku mengangkat botol air mineral dan meminum isinya dengan gerakan dramatis.


"Ah elah! Bikin sebel aja," gumam Adul yang bisa kudengar, sesaat sebelum kembali siaran.


"Itulah dia Project Pop dengan Ingatlah Hari Ini. Narasumber kita udah menunggu di ujung sambungan, jadi ngga usah lama-lama lagi, mari kita sapa! Halow? Dengan siapa di mana?"


"Halo Kang Adul, Teh Inoxu, ini dengan Rara dan Rere."


"Halo Rara Rere," ucapku.


"Halow," sambung Adul. "Eh bentar, ini teh dua orang?


"Betul," sahut dua suara di ujung sana. "Kami berdua kembar, dan penggemar berat Teh Inoxu sama Kang Adul."


"Wah, makasi loh," balasku tersipu.


"Wih Teh, Adul punya penggemar euy!" timpal Adul riang.


"Hehehe, iya Teh, Kang."


"Rara Rere mau cerita apa?" tanyaku.


"Mau cerita tentang pengalaman liburan kemarin pas nginep di vila Pangalengan."


"Pangalengan? Itu teh tempat syuting Pengabdi Ketan bukan, Teh?" tanya Adul menoleh ke arahku.


"Betul Kang, lokasi vila yang kami kunjungi itu ngga jauh dari vila yang dijadiin tempat syuting film horor itu," sahut salah satu dari si kembar.


"Sok atuh, lanjutin ceritanya," sambungku lagi. Aku menatap pintu studio dan melihat Bang Win masuk kembali untuk yang ketiga kalinya. Kali ini ia menaruh sepiring kecil martabak telur dan martabak manis serta tersenyum simpul, sebelum keluar dari studio.


[Bang Win kenapa hei? Lebay banget kayanya malem ini] tulis Gia di tabletnya, yang diarahkan padaku. Aku hanya mengangkat bahu dan fokus mendengarkan suara dari headphone.

__ADS_1


"Pas sampai di vila, udah menjelang sore hari. Karena tadi yang aku bilang, Kang. Ada kecelakaan di jalan raya besar."


"Iya bener, Re! Waktu itu kecelakaan beruntun kalo ngga salah. Korbannya banyak banget, sampai-sampai ambulan banyak banget. Rere sampai bilang ke ibu sama bapak, gimana kalau kita batalin aja liburan ke vila. Tapi, mereka ngga mau dengan alasan, udah lumayan deket ke vila."


"Jadinya kesorean ya nyampenya?" tanyaku.


"Iya, Teh," sahut mereka berdua kompak.


"Kami berdua dapet kamar belakang yang bersebelahan dengan kamar depan yang ditempatin ibu sama bapak. Kedua kamar ini, di bagian luarnya itu kebun teh. Tapi, kamar yang ditempatin bapak sama ibu, ada jendelanya yang mengarah ke kebun teh. Sedangkan kamar kami mah ngga ada jendela sama sekali."


"Iya bener, Ra. Keren banget sih pemandangan kebun tehnya. Sayangnya, keanehan pertama langsung kami alami pas abis mandi. Kan kamar mandinya terletak di bagian belakang vila. Aku sama Rara mandi gantian, tapi saling nungguin. Ibu sendiri lagi di dapur bersih yang letaknya di tengah vila, buat nyiapin makan malem. Nah begitu aku selesai mandi dan mau ke kamar sama Rara, kami papasan sama bapak yang mau ke kamar mandi. Ya kami mah biasa aja, mungkin bapak pengen mandi."


"Iya, kami ngga ada mikir aneh-aneh. Cuma, pas mau ngambil hairdryer di koper, aku baru inget kalo tas yang isinya hairdryer ada di kamar yang ditempatin sama ibu dan bapak. Akhirnya, ya aku ke kamar mereka, sedangkan Rere diem di kamar sambil ngeringin rambut. Pas aku ngambil hairdryer, aku ngeliat bapak lagi berdiri di luar jendela sambil ngeliat ke arah kebun teh. Aku langsung negur dong, nanya gitu. Kok bapak ngga ganti baju abis mandi. Bapak malah bilang sesuatu yang bikin heran. Katanya, dari tadi beliau di luar dan masih belum mandi. Aku langsung balik ke kamar dan cerita sama Rere."


"Wih, ada yang nyerupain bapak dong?" tanya Adul.


"Iya. Aku udah takut banget, tapi kata Rere cuekin aja."


"Terus gimana?" tanyaku lagi. Aku kurang fokus karena melihat Bang Win kembali masuk. Kali ini, ia membawa sebatang coklat di tangannya.


Setelah menaruh coklat dan mengambil piring martabak yang isinya dihabiskan oleh Adul, ia kembali keluar setelah melemparkan senyum singkat pada Remi dan Gia.


"Malemnya, pas menjelang tengah malem, kita berdua ngga bisa tidur, Teh. Soalnya kedengeran jelas ada suara orang lain, tepat dari luar kamar kami."


"Dari kebon teh? Tetangga mungkin?" tanya Adul.


"Bukan tetangga, Kang. Lokasi vila yang kami tempatin tuh dikelilingi kebun teh, jadi ngga mungkin kalau suara tetangga. Secara, vila lain letaknya jauh. Awalnya suara orang batuk-batuk hebat sampai mau muntah. Iya kan, Re?"


"Iya Ra. Terus abis itu suara minta tolong. Tolong ... Tolong ... Sakit ... Sakit ..., gitu Teh, Kang."


"Ish serem banget sih," timpalku.


"Loh, bapak sama ibu kalian belum tidur?" tanyaku lagi.


"Belum, Teh. Ternyata sebelum aku sama Rere dateng, ibu sama bapak juga ngga bisa tidur karena suara cakaran itu. Yang lebih horornya lagi, pas sekitar jam satu malem, kedengeran ada suara orang mandi. Bapak mau meriksa, tapi dilarang sama ibu. Jadinya, bapak cuma ngunci pintu kamar aja, dan kami berempat diem di atas tempat tidur."


"Iya bener, Ra. Semaleman kami berempat ngga tidur karena takut, padahal udah baca-baca doa tapi gangguan ngga hilang-hilang. Pas menjelang subuh, baru mendingan."


"Horor banget, sih! Adul mah kalo di sana ngga akan nunggu sampai pagi. Mending pulang langsung," respon Adul.


"Kepikiran buat pulang, Kang. Cuma kan udah tengah malem banget. Kami malah takut kenapa-kenapa di jalan."


"Iya juga sih, kalau kenapa-kenapa kan bahaya. Takut ada begal yakan?" tanyaku.


"Iya Teh. Begitu abis sholat subuh, kami semua langsung beresin barang-barang dan pulang, padahal langit masih gelap banget. Dan rencananya, kami mau liburan di vila itu selama seminggu."


"Niat mau liburan, malah stres gara-gara digangguin setan," Adul berkata spontan.


"Nah pas mau masukin barang ke mobil, kami kaget lagi, karena di luar, pas di sisi kamar kami, ada dua ambulan diparkir. Kata penjaga vila yang dateng karena ditelepon bapak buat ngembaliin kunci, itu ambulan milik desa yang biasanya dipake, buat nganter kalau ada warga yang sakit. Tapi, waktu itu abis dipake buat nganter korban kecelakaan beruntun siang kemarin, yang bertepatan dengan kedatangan kami."


"Iya Ra, bener. Bapak sama ibu sampe langsung masuk mobil dan ngga ngomong apa-apa sampai nyampe di jalan raya. Horor banget-lah. Padahal bapak sama ibu biasanya ngga takut sama yang kaya gitu-gitu."


"Ya lebih ke shock kali ya? Pertama, liat kecelakaan di depan mata. Terus dapet gangguan. Abis itu, malah ngeliat ambulan yang dipake bawa korban kecelakaan," ucapku.


"Iya sih, Teh. Kayanya gitu."


"Ada lagi ceritanya, kembar?" tanya Adul.


"Udah Kang, Teh, segitu aja. Makasi udah mau ngedengerin cerita kami."

__ADS_1


"Sama-sama ya, kembar. Sehat selalu," ucapku.


"Sehat selalu juga ya Teh Inoxu dan Kang Adul," balas mereka sebelum mematikan sambungan.


"Ngeri ya gaes ya? Kayanya mah, ambulan itu ngebawa korban yang meninggal di perjalanan, deh. Soalnya, di kamar yang ditempatin si kembar, mereka denger kaya ada orang bilang sakit sama minta tolong. Hih, serem!" Adul melanjutkan siaran.


"Udah ah, lama-lama Adul takut. Berakhirnya kisah dari si kembar menandakan kalau kebersamaan kita harus berakhir juga ya gaes ya? Sebagai penutup, satu lagu permintaan Yuni Sapriyan Naufal Rania dari Lesti dengan Sekali Seumur Hidup akan Adul putarkan. Adul, Teh Inoxu dan tim pamit. Sampai jumpa! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Adul mematikan mic dan melepas headphone. Aku juga melakukan hal yang sama, memasukkan ponselku ke dalam tas dan mengambil coklat pemberian Bang Win yang terletak di atas meja.


"Hayu pulang, ojol aku udah di depan," ajak Gia.


"Enak juga ya siaran ngga terlalu malem? Santai aja gitu kayanya. Biasa jam sebelas baru mulai, ini jam setengah sepuluh udah beres," ucap Remi saat kami berjalan ke luar studio. "Eh, emang studio satu belum bisa dipake ya?"


"Kata Teh Opi mah belum. Masih ada perlengkapan yang kurang," jawab Gia. Mereka berdua serta Adul berpamitan pada Bang Win dan Kang Utep yang sedang duduk di teras.


"Kok belum dimakan?" tanya Bang Win menatap coklat di tanganku.


"Kenyang," jawabku singkat sembari duduk di sebelahnya.


"Tau ga, Xu? Seharian keluar sama Utep, Win selalu bilang gini. Wah Tep, Oxu kayanya suka tuh jajanan itu. Wah Tep, Oxu mau makan ini ngga ya? Wah Tep, Oxu harus dibawa ke sini nih, banyak jajanan," kata Kang Utep meniru cara bicara Bang Win dan terkekeh.. "Tiap liat jajanan, ingetnya kamu mulu!"


"Ya bagus, daripada ngga inget apa-apa," balasku santai yang membuat kang Utep menyipitkan mata sinis. Di saat yang sama, Kokom keluar dari dalam.


"Beres Kom?" tanya Kang Utep yang diangguki oleh gadis itu. Mereka berdua berpamitan sebelum berjalan bersama, menuju ke arah gerbang.


"Coklatnya kenapa ngga dimakan, sayang?" tanya Bang Win begitu Kang Utep dan Kokom sudah tidak terlihat.


"Kenyang. Nanti dimakan kok, tenang aja."


Bang Win menoleh dan menatapku lama.


"Apa?" tanyaku heran.


"Kamu selama hamil, aku perhatiin ngga bisa makan banyak. Ngga nyaman ya rasanya?" tanyanya balik.


"Biasa aja. Cuma ya kalo makan banyak suka gampang eneg," jawabku.


"Kuat tapi kan?"


"Ya kuat-lah, cuma perkara ngga bisa makan banyak doang," sahutku tersenyum.


"Kamu makin kurus tau ngga, Yank?"


"Tenang, semua akan menggemuk pada waktunya," aku tertawa.


"Iya. Kalau ada yang kamu mau, bilang ya?"


Aku mengangguk dan menggenggam tangannya erat saat ia mendekat untuk mengecup keningku.


"Selamat hari ibu, Nyonya Win," ucapnya lirih sembari mengeluarkan sesuatu dari saku hoodienya.


"Hadiah?" tanyaku.


"Iya."


Aku sangat girang, ketika melihat isi dalam kotak kecil pemberian Bang Win yang ternyata adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk mahkota kecil. "Makasi Yank!" seruku senang.


"Sama-sama, Yank," balasnya tersenyum simpul. Aku menatap matanya lekat dan merasakan dorongan yang sulit kutahan. Dengan pelan, aku mendekat ke arah lehernya, lalu turun sedikit, dan menggigit lengannya gemas.

__ADS_1


__ADS_2