Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 40


__ADS_3

"Xu, Kisah Tengah Malam harus balik lagi siaran malem," ucap Teh Opi saat aku baru saja menginjak teras dengan Bang Win berada di belakangku. Teh Opi sendiri, sedang duduk di sofa bersama Teh Hani dan Kang Utep.


"Maksud Teh Opi, on air lagi? Ngga off air jam delapan?"


"Iya. Programnya Tomo ngga bisa off air. Itu kenapa, dia dapet jadwal jam delapan malem, di hari yang sama dengan penayangan Kisah Tengah Malam. Akibatnya, kalian yang biasanya rekaman off air jam segitu, harus kembali on air di jam sebelas," jelas Teh Opi.


"Oh, ngga masalah kok Teh," jawabku santai sembari duduk. "Aku juga rencananya mau ngambil cuti, maksimal dua bulan lagi. Jadi kalau siaran malem, ya aman aja."


Teh Opi terkekeh dan mengangguk. "Iya, banyakin istirahat Xu. Teteh aja ngeliat kamu hariwang. Khawatir!"


"Iya-iya. Tenang, santai, kalem," balasku. Netraku melihat ke arah Kang Utep yang menunduk melihat ponselnya. Seketika, sebuah ide melintas. "Teh Hani, Adul bilang nanti pulangnya mau dianterin."


Berhasil! Kang Utep sontak mendongak dan melihat ke arah Teh Hani yang masih duduk santai. Bang Win di sebelahku hanya tersenyum simpul.


"Katanya mau ngajak Teteh mangkal, makan bubur kacang ijo," tambahku lagi memanaskan suasana.


"Ish, masa cewe malem-malem nongkrong?" lirih Kang Utep.


"Makan bubur kacang ijo! Bukan nongkrong. Dikira apaan ntar," lanjutku terkekeh.


"Jangan deh Han. Si Adul beres siaran 'kan malem banget. Mulai malem ini Kisah Tengah Malam balik on air, jadi beresnya bisa jam satuan." Kang Utep meletakkan ponselnya dan fokus berbicara.


"Udah biarin aja, Tep. Makan bubur doang kok," sambung Bang Win ikut memanasi.


"Han, gimana kalo kamu jalan aja sama Adul. Dia jomblo, kamu jomblo. Mayan kan tuh?" Teh Opi melemparkan pertanyaan godaan.


"Enak aja! Selama masih ada Utep, ngga ada yang boleh deketin Hani!"


Suasana hening seketika. Teh Opi menatapku sembari membolakan mata, sedangkan aku dan Bang Win hanya tersenyum lebar.


"Cie," ledekku.


Wajah Kang Utep terlihat terkejut selama beberapa saat, sebelum ia kembali meraih ponselnya dengan salah tingkah.


"Eh tapi kan, Utep udah sama Kokom. Masa masih maen hati sama yang lain sih?" Lagi-lagi Teh Opi bertanya. "Ngga boleh gitu kamu teh, Tep. Masih pacaran aja udah maen hati, gimana nanti kalau udah nikah."


"Kang Utep sama Kokom ngga beneran pacaran. Kokom tuh sebenernya suka sama Adul. Tapi karena Adul keburu manasin sama si Kekey, Kokom jadi patah hati. Akhirnya ngaku kalo suka sama Kang Utep. Padahal mah ngga. Yang dia suka cuma Adul seorang—."


"BENERAN?!"


Aku hampir melonjak di sofa ketika mendengar suara teriakan dari belakang. Ternyata Adul baru saja datang, dan besar kemungkinan ia mendengar apa yang kukatakan.


"Serius Kang Utep sama Kokom ngga pacaran? Cuma ekting doang? Plis kasih tau Adul!" Adul bersimpuh di depan Kang Utep dan memegang tangannya.


"Jangan pegang-pegang!" seru Kang Utep bergidik.


"Jawab dulu atuh, Kang! Beneran yang tadi Teh Inoxu bilang?"


Kang Utep hanya diam dan menghembuskan napas panjang.


"Kalau Kang Utep ngga jawab, Adul mau nembak Teh Hani aja!" seru Adul lagi.


"Ngga boleh! Hani punya Utep!" serunya mengangkat wajah.


Satu detik


Dua detik


"Hahaha!" Aku, Bang Win dan Teh Opi tertawa kencang.


"Ngaku juga akhirnya ya," sambar Teh Opi melirik Teh Hani yang wajahnya sudah sepenuhnya merah.


"Jadi beneran, Kokom sama Kang Utep itu cuma ekting? Itu juga gara-gara Adul manasin sama si Kekey?" tanya Adul pada akhirnya.


"Iya Dul. Maap, Utep ngga bisa nolak waktu Kokom bilang kalo kami saling suka. Padahal Utep tau banget, dia sukanya ke kamu. Cuma minder aja."

__ADS_1


"Minder kenapa Kang?" tanya Adul penasaran. Ia berdiri untuk kemudian duduk di sebelah Kang Utep.


"Minder karena katanya kamu penyiar yang terkenal. Udah gitu, dia minder karena punya kekurangan," jelas Kang Utep.


"Ih, padahal dari pertama, Adul udah suka sama dia. Ngga masalah buat Adul mah, toh Adul juga bukan manusia sempurna. Yang penting, gimana caranya menyatukan ketidak sempurnaan dan saling mengisi."


"An*jir si Adul! Ngedadak puitis," sela Teh Hani sebelum tertawa.


Kami semua ikut tertawa melihat wajah Adul yang dalam seketika berseri-seri.


***


"Standby, Xu, Dul!" Remi berseru dan menatap kami berdua. Kami kembali lagi siaran on air, di jam sebelas malam.


"Asik! Pulang sama Tomo! Pulang sama Tomo!" Gia bersenandung kecil di kursinya.


"Emang Kang Tomo mah top banget! Demit di sini kabur semua karena takut sama dia. Sukurin!" seru Adul lantang.


"Mulai!" aku menegur sembari menepuk bahunya kencang. "Ngga ada kapok-kapoknya itu mulut ngomong sompral! Padahal udah berkali-kali kejadian!"


Adul terkekeh. "Maap Teh, Adul suka lupa kalau sebenernya Adul penakut," elaknya menyebalkan.


"On 3, 2, 1, On air!" seru Remi kemudian mengangkat jempolnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan selamat bertemu kembali dengan Inoxu dan Adul dalam Kisah Tengah Malam Radio Rebel Bandung 12,08 FM," aku membuka siaran. "Malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya, kami akan menyajikan kisah dari para narasumber selama satu setengah jam ke depan untuk menemani waktu istirahat para pendengar semua. Satu buah lagu permintaan Ayu dari Pasto dengan Sayang, salamnya untuk Kang Adul dan Teh Inoxu, spesialnya untuk suamiku, akan saya putarkan sebagai awal kisah. Stay tuned terus, dan jangan ke mana-mana."


Aku mematikan mic dan melihat ke arah Adul yang sedang menghubungi narasumber. Sambil menunggu waktu, aku berdiri bermaksud pergi ke pantry untuk minum.


***


"Teh! Teh Inoxu!"


Aku berbalik dan melihat Kokom sedang melihatku dari ambang pintu.


"Ih apaan sih Teh. Siapa yang nyari saringan? Lagian buat apa juga?" jawabnya.


"Ah elah!" lirihku sebal. "Berarti ini Kokom asli nih, soalnya dia ngga denger."


"Suster? Teteh ngapain nyari suster?" Kokom menatapku kebingungan.


"Astaghfirullah!" aku berseru sembari melihat ke segala arah. Tepat di atas kulkas, ada sebuah buku kecil dan juga pulpen. Dengan segera, aku mengambilnya dan menuliskan sesuatu.


"Oh, Kokom tadi manggil Teh Inoxu soalnya mau nanya, bener ngga kalau Aa Adul udah tau, Kokom sama Kang Utep ngga pacaran?"


Aku kembali menulis sesuatu.


"Wah, gimana atuh Teh? Kokom malu ketemu Aa ganteng kalem. Tapi beneran, dia juga suka Kokom?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Aduh, Kokom bahagia," lanjutnya dengan wajah berbinar.


Aku hanya tersenyum lebar, lalu menulis cepat begitu melihat jam dinding di pantry, dan memberikannya pada Kokom.


"Oh, iya Teh, mangga. Silakan kalau mau siaran lagi. Makasih ya informasinya," Kokom terkekeh.


Aku melambaikan tangan dan kembali ke studio dengan langkah cepat. Tepat di depan pintu studio, aku baru sadar jika belum memgembalikan buku kecil ini ke atas kulkas.


"Ntar ajalah abis siaran," sahutku lirih sembari membuka pintu.


"Teh Sari punya cerita apa nih?" tanya Adul ketika aku sudah duduk di kursiku dan bergegas memasang headphone.


"Mau cerita pengalaman pribadi, waktu nganterin temen ke rumah sakit, Kang."


"Mangga, Teh Sari," Adul mempersilakan.

__ADS_1


"Jadi ceritanya, waktu itu salah satu teman di kost saya sakit, sebut aja namanya A. Besar kemungkinan, maagnya kumat. Udah minum obat yang biasa diminum, tapi ngga ada efeknya sama sekali. Saya dan beberapa teman lain jadi panik, ketika menjelang dini hari, sakitnya semakin menjadi. Karena takut kenapa-kenapa, kami berinisiatif membawanya ke rumah sakit.


Waktu itu, saya dan dua teman saya, pergi mengantar A ke rumah sakit yang ngga begitu jauh dari tempat kost. Kalau ngga salah sekitar jam satuan lebih, pas kita sampai di depan rumah sakit. Bangunan rumah sakit ini bernuansa kuno. Bangunan Belanda, dan itu gede banget. Di sebelahnya, ada gedung baru, yang sedang dalam tahap pembangunan. Karena sedang ada pembangunan ini, jalan masuk ke IGD harus melalui jalan lain yang memutar.


Singkat kata, sampailah kami semua di depan IGD yang pada waktu itu sepi banget. Kan biasanya di depan IGD ada satpam yang berjaga. Nah, waktu itu sih ngga ada. Kita ngga mikir aneh karena kita pikir emang udah malem banget.


Begitu kedua temen saya turun dan memapah A masuk ke IGD, saya kembali mengemudi untuk mencari tempat parkir. Dan begitu udah dapet, saya nyusul temen-temen ke IGD. Suasana di IGD sama kaya IGD biasa. Ada banyak perawat dan juga dokter. Si A sendiri sedang diperiksa oleh seorang dokter dan perawatnya yang memakai masker. Herannya, waktu temen-temen saya nanya kondisi A, ngga ada satupun yang ngejawab."


"Terus gimana, Teh?" tanya Adul.


"Kita nungguin si A. Dua orang termasuk saya duduk di kursi, dan temen kami satu, duduk di tempat tidur perawatan, di mana si A lagi tiduran. Karena lama, dan juga hawa dingin banget, saya ketiduran di kursi."


"Bisa-bisanya loh ketiduran," aku menimpali.


"Hahaha. Soalnya asli ngantuk banget Teh Inoxu. Dingin juga kan? Saya bangun-bangun sekitar jam lima, pas alarm ponsel bunyi."


"Lama bener tidurnya," sahut Adul.


"Iya, Kang. Ternyata kedua temen saya juga ketiduran, termasuk si A. Si A udah ngga ngeluh sakit sama sekali, jadi kita pikir, dia udah ditangani sama dokter pas saya dan temen-temen saya tidur."


"Terus gimana tuh?" tanyaku. Aku menopang dagu dengan satu tangan, dan tangan yang lain mencorat coret buku kecil di depanku dengan asal.


"Saya ketemu sama perawat dan dia bilang kalau si A udah dibolehin pulang. Pas mau bayar ke kasir, perawat bilang ngga usah, udah dibayar."


"Oh, sama yang sakit mungkin ya?" tanya Adul.


"Nah, tadinya kita kira juga gitu. Sampai akhirnya, kita udah masuk ke dalam mobil dan bermaksud pulang. Salah satu temen saya nanya ke si A, abis berapa tadi bayar IGD. Si A malah bingung. Dia bilang, dari tadi dia ikut tidur bareng sama kami, dan ngga ngerasa ada yang meriksa dia.


Kita semua kaget dong! Dan waktu nawarin ke si A untuk balik lagi ke IGD, dia nolak karena katanya udah ngga ngerasa sakit sama sekali. Ya karena dia bilang gitu, kami akhirnya pulang."


"Wih, janggal juga ya?" sambungku.


"Ceritanya belum selesai, Teh. Pas banget kita keluar dari rumah sakit, salah satu temen minta berhenti di warung pinggir jalan rumah sakit buat beli minum. Kita pada turun juga karena niatnya pengen sekalian nyari sarapan. Pemilik warung heran ngeliat kami keluar dari gerbang rumah sakit. Beliau nanya kami dari mana, dan kami ceritain semua. Dan Teteh tau ngga, pemilik warung bilang apa?" tanya Teh Sari.


"Bilang, kalau ternyata rumah sakit itu udah lama terbengkalai?" tebakku. "Kaya cerita-cerita yang banyak beredar tuh."


"Hahaha. Bukan, Teh. Rumah sakitnya masih beroperasi, tapi pas kami cerita abis dari ruang IGD yang letaknya ngga jauh dari gerbang tempat kami keluar barusan, pemilik warung kaget. Karena setau dia, IGD itu di depan, di deket lokasi bangunan rumah sakit yang lagi dibangun."


"Lah, terus itu ruang IGD yang kalian datengin, apa dong?" aku penasaran.


"Kamar mayat!" seru Teh Sari.


"Serius Teh?" tanyaku lagi.


"Iya, ruangan yang kami datengin, kata pemilik warung mah kamar mayat."


"Hii serem, untung ngga ngeliat yang aneh-aneh," tambah Adul.


"Iya Kang, untungnya ngga. Tapi kita jadi inget lagi tingkah laku dokter sama perawat yang meriksa si A pas kami dateng. Kayanya mah ngga mungkin dokter beneran."


"Tapi si A udah ngga apa-apa?" tanyaku.


"Sehat Teh, sehat sampai sekarang malah," Teh Sari terkekeh.


Aku dan Adul berdecak tidak percaya. Terkadang memang banyak manusia yang mengalami kejadian di luar nalar manusia.


"Sekian aja kali ya, Teh, Kang, cerita dari saya. Makasi loh udah dihubungi," lanjut Teh Sari.


"Sama-sama Teh. Makasi juga ceritanya," balasku sebelum Teh Sari memutuskan sambungan.


"Yak itulah gaes ya? Cerita yang dialami oleh Teh Sari, kaya ngga masuk akal gitu, tapi nyata terjadi. Ngga kebayang! Orang lagi sakit, nyari kesembuhan ke rumah sakit, tapi malah ketemu yang ngga-ngga," ucap Adul menutup siaran.


"Udah satu setengah jam, Adul dan Teh Inoxu nemenin kalian semua, udah saatnya kita berdua pamit. Satu lagu permintaan Suminah Ristianingsih dari Yura Yunita dengan Dunia Tipu-tipu akan menjadi akhir perjumpaan kita. Akhir kata, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Adul mematikan mic dan melepas headphone, sedangkan aku sendiri masih mencorat coret kecil di atas buku. Saat membalik halaman, untuk sesaat aku tertegun. Sebuah tulisan 'TOLONG' tertulis jelas di sana. Tanpa aba-aba, aku merinding. Bukannya apa-apa, bisa dipastikan itu adalah tulisan anak kecil, padahal tidak ada satupun anak kecil di sini.

__ADS_1


__ADS_2