
"Kom, tolong bikinin es teh manis dong?" ucapku sembari menghempaskan tubuh di sofa teras. Udara Bandung siang ini yang cukup terik, membuatku sangat kehausan dan sontak membayangkan satu gelas besar teh manis dingin.
Sebenarnya aku tidak memiliki jadwal siaran. Namun, aku tetap datang ke Radio Rebel karena hari ini merupakan hari terakhir bekerja di tahun 2022. Semua penyiar dan karyawan, diminta datang berkumpul untuk acara makan malam bersama Teh Rebel, sebelum liburan tahun baru. Siaran sendiri, sudah direkam off air dari beberapa hari yang lalu, dan akan diputar pada saat libur, oleh penyiar yang bergantian piket.
"Mang Kumis ngga jualan, Teh. Pulang kampung, katanya mau taun baruan sama istrinya," jawab Kokom yang membuatku mengerutkan kening.
"Alat bantu pendengaran kamu, rusak lagi, Kom?" Aku bertanya dan menatapnya lekat.
"Ngga Teh. Sejak kapan Mang Kumis jualan rujak? Mang Kumis mah jualannya cuanki," sahut Kokom dengan wajah polosnya.
"Astagfirullah!" seruku sebal. Dengan cepat, aku mengeluarkan ponsel dari tas, dan mengetik beberapa kalimat.
"Oh, es teh manis? Siap!" Kokom terkekeh setelah membaca tulisanku. "Iya Teh, kemarin alat bantu pendengaran Kokom, ngga sengaja keinjek. Sekarang lagi dibawa Kang Utep. Katanya mah mau dibenerin."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Berbicara dengan Kokom di saat ia tidak bisa mendengarku dengan baik, terbukti bisa mematik emosi. Jadi, aku memilih diam.
"Xu!" seru seseorang dari halaman, yang melambai padaku, tepat setelah Kokom masuk.
"Teh Hani!" balasku berteriak, lalu berdiri dan berlari kecil menghampirinya. "Teteh udah sehat?"
"Alhamdulillah udah, Xu." Teh Hani tersenyum sebelum memelukku erat. Kami berdua berjalan menuju sofa.
"Teteh beneran udah sehat?" tanyaku memastikan.
"Udah, Xu. Alhamdulillah, udah aman," jawabnya menatapku lekat. "Teteh kangen sama semuanya. Seneng banget bisa balik lagi ke sini. Tadinya, Teteh kira, Teteh ngga akan pernah balik normal lagi."
"Alhamdulillah Teh, aku seneng banget bisa liat Teteh di sini. Kemaren, gimana ceritanya?"
"Abis—."
"Teh Hani!" dari arah halaman terdengar teriakan Gia, dan Remi. Di belakang mereka, Adul berjalan cepat mengikuti. Ketiganya menghampiri Teh Hani, dan memeluknya erat secara bergantian, kecuali Adul.
"Jangan peluk-peluk!" larang Teh Hani. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Adul secara cepat. "Salim aja."
Kebisingan yang kami timbulkan membuat para penyiar lain melongok ke luar dan bergantian juga menghampiri Teh Hani untuk menyambutnya.
"Teteh datengnya baru hari ini sih, jadi ngga akan sempet siaran, keburu libur," ucap Adul. Kami sekarang hanya berlima, duduk di sofa teras, setelah Kokom mengantarkan es teh manisku.
"Teh, lanjutin dong ceritanya," pintaku setelah meneguk es teh manis.
"Iya dong, Teh. Kemarin gimana?" timpal Remi.
"Abis kejadian di sini itu, Teteh setiap hari kaya ngeliat bayangan yang selalu ngikutin Teteh. Sampai mimpi pun, Teteh masih ngeliat bayangan perempuan tinggi banget." Teh Hani mulai bercerita.
"Si Nyai," ucapku lirih sembari mengambil gelas es teh manis lagi.
"Apa, Xu?" tanya Gia.
"Ngga apa-apa. Lanjutin, Teh," aku tersenyum lebar.
"Nah, Teteh mah ngga ngerasa apa-apa. Cuma, keluarga di rumah, bilangnya tingkah laku Teteh aneh banget. Kadang teriak-teriak, kadang ketawa, kadang nangis."
"Kaya ABG putus cinta ya?" sambung Adul.
"Yee! Itu mah kamu," balas Teh Hani yang membuat Adul segera memegang dada kirinya dan bertingkah kesakitan.
"Cupu! Gara-gara cewe bisa sampe gitu," tambah Teh Hani pedas. "Teteh lanjutin ya? Nah, karena tingkah Teteh aneh, Teteh di bawa ke rumah sodara yang kebetulan punya pondok pesantren. Di sana, Teteh didorong habis-habisan buat memperbaiki ibadah. Sholat malem, dzikir, mengaji, dan lain lain. Dirukyah juga sama sodara Teteh. Sampai akhirnya, di satu malem, Teteh panas dingin dan badan tuh udah ngga ada tenaga banget. Menjelang tengah malem, makin menjadi rasanya. Tapi, Teteh dipaksa bangun, buat ngelakuin sholat malem dan dzikir."
__ADS_1
Teh Hani berhenti sejenak, dan meneguk es teh manis milikku. "Teteh waktu itu ngerasa sakit sebadan-badan, kaya abis lari maraton jauh banget. Nafas juga putus-putus, kepala kliyengan. Lengkap pokoknya! Cuma, sama sodara Teteh, dipaksa dzikir sampe akhirnya muntah-muntah hebat. Pas abis muntah-muntah, karena cape dan lemes, Teteh ketiduran. Mimpi lagi, tapi di mimpi yang ini, ada cahaya, yang ngusir si bayangan perempuan tinggi itu. Pas sadar, badan Teteh udah enak banget, sampai sekarang."
"Alhamdulillah," kami semua berseru kompak.
"Tapi, emang bener yang Adul dulu bilang? Kalau Teh Hani jadi sasaran Teh Ayu, buat dijadiin target?" tanya Remi.
"Wallahu A'lam Bishawab. Kalau nuduh, jatohnya fitnah. Apalagi ngga ada bukti, kan?" tanya Teh Hani yang membuat kami semua mengangguk. "Tapi, Teteh ngga liat dia jualan lagi. Udah pindah?"
"Ngga tau, Teh. Ngga pernah denger berita apa-apa lagi," sahutku sembari menyandarkan punggung. "Tau-tau, ngilang aja gitu. Lapaknya aja terbengkalai gitu, padahal masih lengkap tuh peralatannya."
"Iya, Teh. Udah ngga pernah keliatan jualan," sambung Adul.
Teh Hani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang.
***
Menjelang sore, sebuah mobil van bertuliskan nama katering memasuki halaman Radio Rebel. Rencananya, semua penyiar dan karyawan Radio Rebel akan mengobrol dengan Teh Rebel, mengenai pencapaian tahun ini. Sesudahnya, sholat maghrib berjamaah dan ditutup dengan makan malam bersama.
"Teh Rebel udah di mana, Kang?" tanya Kang Utep pada Kang Saija yang baru saja selesai menggelar karpet di ruang rapat. Beberapa dari kami, menyiapkan snack dan juga minuman dingin.
"Udah jalan katanya mah, Tep. Tadi lama, soalnya jemput dokter Tama dulu," jawab Kang Saija.
Setelah persiapan di ruang rapat selesai. Kami semua berkumpul di halaman menikmati sore hari yang cerah. Beberapa bermain bola, dan sisanya mengobrol santai. Hampir pukul setengah lima sore, mobil Teh Rebel memasuki halaman.
"Assalamualaikum," seru Teh Rebel ceria begitu turun dari mobil. Seperti biasa, walaupun hanya menggunakan pakaian sederhana dan terkesan sembarangan, aura Teh Rebel tetap membuat siapa saja yang berhadapan dengannya kagum.
Seperti sore ini, ia memakai celana jeans over size dengan kaos polos hitam dan kemeja flanel, serta sepasang sandal jepit hitam. Di sebelahnya, lelaki tinggi berambut gondrong keputihan, yang kuperkirakan adalah dokter Tama, berjalan santai dengan outfit yang hampir sama. Tidak akan ada yang menyangka jika keduanya adalah pemilik radio dan dokter, dari cara mereka berpakaian.
"Makasi banyak loh, udah bisa hadir di sini," ucap Teh Rebel setelah kami semua berkumpul di ruang rapat. "Gimana kantor barunya? Ada kendala?"
Teh Rebel dengan sabar mendengar jawaban dari para penyiar yang pada intinya menyebutkan jika kekurangan kantor baru, terletak pada peralatan siaran, yang belum selengkap di kantor lama.
"Ada beberapa pengumuman yang akan saya sampaikan ke temen-temen semua. Yang pertama, Pak Obi minggu depan, bertepatan setelah libur tahun baru, akan berangkat untuk menunaikan ibadah umroh beserta istrinya. Jadi, sementara waktu, akan ada orang yang menggantikan beliau untuk mengawasi di sini," lanjutnya lagi.
"Alhamdulillah," kami semua mengucap hamdalah setelah mendengar ucapan Teh Rebel. Pak Obi sendiri, berkali-kali mengaminkan doa yang teruntai dari para penyiar dan karyawan Radio Rebel dengan mata berkaca-kaca.
"Yang kedua. Beberapa waktu lalu, saya punya keinginan untuk membuat siaran informasi pendidikan di luar negeri. Isinya, tentang berbagai informasi yang bisa berguna untuk para pendengar, yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Mulai dari beasiswa, daftar universitas, biaya hidup, dan lain-lain." Teh Rebel memandang kami satu persatu.
"Dan seolah bersambut, ada adik dari teman kuliah saya dan Nday, yang tertarik untuk mulai berkarir di indonesia dalam bidang penyiaran. Singkatnya, saya membuat sebuah penawaran, dan yang mengejutkan, adik teman saya ini menerima tanpa berpikir panjang, karena katanya, ia sudah pernah berkunjung ke sini. Pengetahuan yang ia miliki berguna untuk edukasi para pendengar. Kendalanya hanya satu, adik teman saya ini benar-benar blank untuk masalah penyiaran.
Walau pun ngga punya latar belakang di bidang penyiaran, namun saya yakin, hal tersebut bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Dan saya harap, nanti temen-temen di sini bisa membantu."
Kami kembali mengangguk mengiyakan perkataan Teh Rebel.
"Nah, yang terakhir. Karena pemasukan kita tahun ini alhamdulillah cukup besar, walau pun kita baru beberapa bulan menempati kantor baru, maka diputuskan, akan diberikan bonus tahunan sebanyak satu kali gaji. Saya udah berkoordinasi dengan bagian keuangan, silakan dicek rekening masing-masing. Harusnya sudah masuk."
Kami riuh mengambil ponsel masing-masing dan memekik kegirangan melihat saldo di rekening sudah bertambah.
"Makasi Teh Rebel," ucap kami kembali, satu persatu.
"Saya yang harusnya berterima kasih. Makasi banget udah bergabung bersama Radio Rebel. Makasi untuk semua kerja kerasnya, dan makasi juga untuk tetap bertahan di sini. Saya tau, ini semua ngga mudah untuk dilewati, dan ngga sebanding dengan bonus yang saya berikan, tapi tetep aja, saya ucapkan makasi banyak." Teh Rebel tersenyum menatap kami semua. "Ada yang mau ditanyakan?"
"Teh, pengganti Pak Obi siapa? Terus orang yang baru, kapan mulai kerja?" tanya Teh Opi.
"Pengganti Pak Obi, dipilih oleh Pak Obi sendiri. Kalau saya ngga salah sih, namanya Bu Jejen. Bener pak?" tanya Teh Rebel yang diangguki Pak Obi. "Saya percaya penuh pada Pak Obi, jadi saya juga membebaskan beliau untuk memilih orang yang akan menggantikan beliau untuk sementara waktu.
Aku, Gia, Remi dan Adul saling berpandangan dengan wajah berbinar dan mulut menganga.
__ADS_1
"Terus kalo orang barunya siapa?" tanya Kang Utep.
"Namanya Tomoya Shinegi. Untuk lebih jelasnya, bisa tanya Gia sebagai produser siaran Kisah Tengah Malam ya?" Teh Rebel terkekeh.
Lagi-lagi, aku, Gia, Remi dan Adul menganga.
"Oh, ini kejutan yang kemaren Tomo bilang," sahut Gia lirih.
"Cie," godaku yang membuat Gia tersenyum lebar.
"Kalau udah ngga ada yang mau disampaikan, kita siap-siap sholat magrib ya?" sambung Teh Rebel yang membuat kami berdiri dan bersiap untuk mengambil wudhu.
***
Sehabis sholat magrib, kami semua makan malam di ruang rapat. Suasana kekeluargaan seperti ini, jarang ditemukan di tempat kerja mana pun. Sesuai keinginan Teh Nday dan Teh Rebel, yang ingin membuat radio mereka sendiri dengan konsep kekeluargaan dan persahabatan.
Tepat setelah makan malam, sebelum Teh Rebel berpamitan pulang bersama dokter Tama, suara gaduh terdengar dari arah jalan raya. Kami semua keluar, dan tercekat melihat kobaran api yang melalap sebuah lapak. Herannya, api tidak mudah dipadamkan, padahal beberapa orang sudah berestafet menyiramnya dengan berember-ember air.
Para pedagang lain mulai terlihat cemas karena takut api merambat, namun herannya, api sebesar itu hanya melalap satu lapak yang untungnya sedang tidak digunakan untuk berjualan.
Perlu hampir setengah jam untuk memastikan api benar-benar sudah padam. Dari obrolan para pedagang, ternyata lapak yang terbakar adalah lapak ayam goreng serundeng milik Teh ayu. Bukan itu saja, beberapa pedagang mengaitkan kejadian ini, dengan peristiwa yang menimpa Teh Ayu, di mana wanita itu jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba.
"Karma kali ya teh?" tanya Adul yang berdiri di sebelahku. Aku sendiri hanya mengangkat bahu dan memilih kembali ke ruang rapat bersama yang lain.
"Karena ada kejadian barusan, saya kepikiran untuk menambah crew Radio Rebel yang bisa ikut menjaga kantor di malam hari. Karena Bu Jejen, wanita, dan beliau pasti memiliki keluarga, ngga etis meminta beliau menginap di sini. Untuk penambahan crew baru, saya serahkan ke Bang Win. Tolong dibantu ya, Bang?" tanya Teh Rebel yang membuat Bang Win mengangguk.
"Kalau begitu, pertemuan kita kali ini saya cukupkan. Sampai jumpa tahun depan," ucap Teh Rebel tersenyum lebar. Tidak lama, ia dan dokter Tama berdiri dan berpamitan pada kami semua.
Setelah mobil Teh Rebel meninggalkan halaman parkir, para penyiar dan karyawan satu persatu ikut meninggalkan Radio Rebel, termasuk Pak Obi.
"Mau langsung pulang aja, Yank?" tanyaku pada Bang Win yang berdiri di samping mobilnya yang diparkir. Kami orang terakhir meninggalkan Radio Rebel karena Bang Win memegang kunci kantor.
"Emang mau ke mana?" tanyanya balik.
"Pengen liat lampu jalan, tapi pasti macet ya?"
"Pasti itu mah," balas Bang Win terkekeh.
"Yah! Pengen main padahal," lanjutku lagi seraya menghembuskan napas kasar.
"Ya udah kita main. Aku udah booking kamar di salah satu hotel di Jalan Braga. Kita bisa makan malem lagi di sana."
"Beneran?" tanyaku girang dengan pandangan penuh harap.
"Iya. Aku udah bawa tas pakaian kok," cengir Bang Win yang membuatku memukul lengannya pelan saat membuka pintu mobil. "Aku juga punya hadiah buat kamu."
"Ini apa?" tanyaku heran saat ia memberikan paperbag polos, ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"Buka aja," sahutnya lirih seraya membuang pandangan ke arah lain.
Netraku membola saat melihat isi paperbag di tanganku.
"Ini serius?" tanyaku pelan.
"Iya. Katanya kamu bosen pake warna hitam terus. Makanya aku beliin yang itu," balas Bang Win dengan wajah merah. Ia sama sekali tidak mau menatap ke arahku.
Aku tersenyum simpul melihat baju dinas baruku, yang bermotif harimau.
__ADS_1
"Wrauuuur! Aing maung!" sentakku sebelum tertawa keras, yang membuat Bang Win semakin salah tingkah.