Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 27


__ADS_3

"Teh, kok tumben belum pulang? Ada siaran off air emang?" sapaku pada Teh Hani yang sedang duduk di sofa ruang penyiar, dengan laptop di pangkuannya.


"Eh Xu, lagi lembur beresin laporan bulanan buat vendor. Biasa, mereka pada kepo, seberapa sering iklan mereka tayang di Radio Rebel."


Aku merebahkan diri di sofa. "Bang Win kok belum dateng ya?" tanyaku. Bang Win memang berpamitan padaku untuk pergi menengok ibu Kang Saija di rumah sakit.


"Kayanya kena macet di jalan. Jam pulang kerja kan? Apalagi abis ujan, palingan jalanan banjir."


"Oh iya bener," aku mengangguk. "Habis makan apa, Teh?" tanyaku lagi, karena melihat piring rotan dengan sisa pembungkus makanan.


"Ayam serundeng. Enak loh, Xu. Sambelnya mantap pokoknya, padahal ayamnya mah biasa aja," jawab Teh Hani menatapku.


"Ayam serundeng Teh Ayu?"


"Heu euh, kan cuma dia yang jual."


"Enak?"


"Enak sambelnya, jadi nagih," Teh Hani terkekeh. "Teteh tiap siang makan itu terus dari pertama dia buka. Cuma hari ini, karena banyak ketemu vendor, baru sempet makan pas udah sore."


"Adul mah kemaren, ngga jadi makan itu. Padahal udah dibeli."


"Kenapa?" Nada suara Teh Hani terdengar penasaran.


"Pake pesugihan katanya mah, tapi ya ngga tau juga sih. Ngga ada bukti nyata," jawabku seraya memejamkan mata.


"Wah serius?! Dih, si Adul ngga bilang euy!"


"Ya gapapa, kalo enak mah makan aja. Yang penting bismillah dulu," timpalku.


"Ya pasti bismillah atuh, masa biskuat!"


"Garing-lah Teteh mah," gumamku terkekeh.


"Hei! Jangan tidur, pamali. Bangun!" sentaknya saat melihat aku mulai terlelap.


"Iya-iya. Ngantuk banget duh." Aku duduk menyandar dan melihat ke arah jam dinding, menunggu waktu berkumandangnya adzan magrib. Keheningan tercipta selama beberapa waktu, karena Teh Hani kembali fokus pada layar komputer. Aku sendiri memilih membuka ponsel dan melihat aplikasi penyedia film.


"Oxu, Han, ayo siap-siap ke mushola," ajak Teh Opi menongolkan kepalanya di pintu.


"Iya," sahutku langsung berdiri dan meraih botol air mineral baru yang terletak di atas meja.


"Hani mah lagi ngga sholat, Teh. Mau di sini aja beresin laporan deh, bentar lagi kok."


"Okey," jawab Teh Opi. "Xu, jangan spaneng. Ada Jeng Merlin."


Aku menghembuskan napas panjang yang direspon tawa oleh Teh Opi. Dengan pelan, tanganku membuka botol air mineral dan meneguknya pelan.


"Halow halow! Inoxu lemes banget dah!" sapa seseorang dari belakangku. "Kalau minum duduk hei!"


Bhuh!


Aku menyemburkan air yang masih berada di dalam mulutku saat berbalik, karena kaget melihat penampilan Jeng Merlin alias Kang Krisna. Rambutnya yang panjang, dicepol di atas kepala seperti konde, dan ditutupi oleh peci. Alhasil peci tersebut hanya bertengger di atas cepolan.


"Ih, iyey grogi amat ngeliat eike, sampe nyembur-nyembur kaya mbah dukun. Cupu ah!" Jeng Merlin melirikku sinis. Teh Opi sendiri tertawa terbahak-bahak melihat aku kaget karena tingkah laku suaminya.


"Astagfirullah. Amit-amit jabang bayi. Jauhkahlah ya Allah, tolong jauhkan," gumamku lirih dan langsung menuju ke arah kamar mandi.


"Si Inoxu lagi hamil jadi kalem ya, Babe? Bentar-bentar istigfar. Ga tau aja dia, kalau yang lain juga istigfar ngeliat kelakuannya pas hamil."


Aku berhenti berjalan dan berbalik menatapnya datar. Sepertinya, Teh Opi sudah menceritakan kelakuanku yang random pada suaminya tersebut.

__ADS_1


"Makan batagor dicocol jus alpukat itu agak ngga normal ya, Babe?" lanjut Jeng Merlin pada Teh Opi, tapi matanya melirikku.


Benar, kan? Teh Opi sudah menceritakan kejadian tadi siang, saat ia terpana melihatku memakan batagor dengan dicocol jus alpukat. Bagiku tidak ada yang aneh, toh batagor dan jus alpukat itu akan bertemu juga di dalam perut.


"Hoi ayo cepetan!" seru Kang Utep dari arah mushola. "Hayu jamaahan!"


Kami bertiga segera melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, untuk kemudian sholat magrib bersama, dengan diimami oleh Kang Utep.


***


"Kyaaaa! Tolong ... Tolong ...."


Suara teriakan Teh Hani membuat kami yang baru saja selesai sholat, langsung berlari menuju ruang penyiar. Terlihat jika Teh Hani merunduk ketakutan di ujung ruangan. Ia menyembunyikan kepalanya di antara dua lutut.


"Han, Han kenapa?" tanya Kang Utep.


"Istigfar, Han," seru Kang Krisna.


Aku, Teh Opi, Kokom dan penyiar yang lain melihat dari dekat sofa.


"A-ada bayangan perempuan tinggi d-di situ!" tunjuk Teh Hani ke arah pintu. "Matanya me-merah, rambutnya panjang! D-dia nyuruh Hani ikut," jelas Teh Hani terbata-bata.


Kami saling melirik satu sama lain. Kang Utep sendiri berdiri, dan melihat ke sekeliling ruangan. "Ngga ada apa-apa, Han," ucapnya.


Teh Hani mengangkat wajahnya, dan aku bisa melihat jika ia menangis. Dengen segera, aku menghampiri bersama Teh Opi dan Kokom, lalu memapahnya ke sofa.


"Minum dulu," suruh Kang Utep yang memberikan sebotol air mineral yang sebelumnya telah ia doakan.


Teb Hani meneguk habis air dalam botol dan terlihat tenang. Sayangnya, itu cuma berlangsung singkat. Dengan segera, ia mulai berteriak-teriak ketakutan, dan menutup telinganya, hingga akhirnya kehilangan kesadaran.


"Ada apaan ini woi? Kok rame bener." Suara Adul terdengar dari arah pintu.


Dengan cepat, Kokom yang berdiri di dekat pintu langsung menepuk keras bibir Adul. "Jangan berisik, Teh Hani pingsan!"


"Udah-udah, pada keluar deh. Yang mau siaran, siap-siap sana. Biar Teteh sama Kokom yang nemenin Hani di sini," ucap Teh Opi, membuat kami semua berjalan pelan meninggalkan ruang penyiar.


"Ada apaan sih, Teh? Kok Teh Hani bisa kesurupan?" tanya Adul. Kami berdua duduk di sofa teras dan melihat Gia yang sedang berjalan mendekat.


"Ngga tau. Tadi pas Teteh abis sholat sama yang lain, Teh Hani tau-tau teriak ketakutan. Kata dia, ada bayangan perempuan tinggi di deket pintu ruang siaran."


"Assalamualaikum wahai teman-temanku yang beriman," sapa Gia sebelum menaruh kantong plastik di atas meja dan duduk di sebelahku. "Tuh, buat bumil! Pisang goreng kipas."


"Makasi," seruku sembari memeluknya erat.


"Jangan e*dan, Xu! Aku eungap," balasnya melepas pelukan, lalu mendorongku pelan. "Remi ngga masuk yes gaes. Teh Raylen lamaran."


"Udah tau!" sahutku dan Adul kompak. "Teh Remi bilang kok di grup WA tim Kisah Tengah Malam." Adul menatap Gia dengan pandangan meremehkan.


"Oh iya ya? Lupa aku, hehehe." Gia terkekeh menutup mulutnya.


"Halo Jeng Gia! Kapan nih ke Jepang?" tanya Kang Krisna dalam mode Jeng Merlin, keluar menghampiri kami.


"Ah elah, Jeng mah kepo. Ngga usah-lah nanya-nanya," jawab Gia mencibir.


"Eh, Xu. Punya minyak angin ngga? Buat nyadarin Hani," tanya Kang Krisna setelah sebelumnya mengerucutkan bibirnya sinis ke arah Gia.


"Ngga punya, Kang," jawabku. "Lagian dapet ilham dari mana? Sampe nanya minyak angin ke aku."


"Yee! Yakali kamu punya. Kan biasanya orang hamil suka mual, jadi suka nyium yang seger-seger."


"Lah, Teh Hani kenapa?" tanya Gia.

__ADS_1


"Pingsan," bisik Adul mencondongkan badan yang membuat Gia menganggukkan kepala.


"Huiii ... Hihihi ... Huiii ... Hihihi ...!"


Kami semua sontak berdiri dan berlari ke arah ruang penyiar, asal suara tawa melengking itu berasal. Di dalam, sudah ada Kang Utep yang berhadapan dengan Teh Hani dengan penampilan yang acak-acakan. Teh Opi dan Kokom sendiri, berdiri dengan tegang di belakang Kang Utep.


"Ieu budak nu Nyai (anak ini punya nyai). Rek dibawa ku Nyai! (mau dibawa oleh nyai!)," desis Teh Hani dengan mata tajam.


"Kang Krisna, Adul, bantuin Utep," seru Kang Utep mendekat ke arah Teh Hani.


"Diem di sini aja, Xu! Jangan ikutan," ucap Teh Opi, sebelum ikut mendekat ke arah Teh Hani bersama Kokom. Aku dan Gia menatap mereka berlima yang kesusahan memegang Teh Hani.


"Kyaaa ...." Teh Hani berteriak melengking saat semua memegangnya erat dan Kang Utep mulai membacakan ayat kursi di telinganya. Kekuatan Teh Hani seolah bertambah, dan membuat mereka semua terjerembab ke belakang.


"Tolong panggilin Pak Obi," pinta Kang Utep dengan napas ngos-ngosan, yang membuat Gia seketika berlari ke luar.


"Aya nu geulis jeung kasep geuningan (ada yang cantik dan cakep ternyata)," lirih Teh Hani saat matanya tanpa sengaja melihatku. "Ku Nyai rek dibawa nyak? (oleh nyai akan dibawa ya?)


Aku tersenyum sinis dan maju beberapa langkah.


"Xu! Jangan deket-deket," seru Teh Opi.


Dengan segera aku bersimpuh, dan mendekatkan wajah pada Teh Hani, yang masih dipegangi yang lain. "Saha nu rek dibawa? (siapa yang mau dibawa?)," tanyaku.


"Eta, nu di beuteung. (itu, yang di perut)," jawabnya terkekeh dan berusaha menyentuh perutku.


"Moal urang ijinkeun (ngga akan saya ijinkan). Mun keukeuh, siap-siap weh diduruk! (kalau nekat, siap-siap aja diba*kar!)" balasku menyeringai dan menahan tangannya.


Wajah Teh Hani terlihat marah. Dengan sekali gerakan, ia berusaha maju dan mener*kam, saat tiba-tiba sebuah tangan dari belakangku menyentuh keningnya. Aku sontak menyingkir dari mereka berdua.


Pak Obi membacakan doa-doa dengan lirih, sehingga membuat Teh Hani berteriak. Bukannya berhenti, Pak Obi terus membacakan doa-doa hingga Teh Hani melemas dan mulai ngos-ngosan. Tidak juga berhenti, Pak Obi melanjutkan membaca doa-doa, hingga Teh Hani terbatuk-batuk dan muntah. Setelahnya, ia terduduk lemas di lantai.


"Alhamdulillah," ucap Pak Obi. Beliau menuju ke meja dan membuka sebuah botol air mineral, dan memberikannya pada Teh Hani setelah dibacakan doa sebelumnya.


***


"Kenapa ya Teh Hani bisa kaya gitu? Ini pertama kalinya dia kesurupan, loh," tanya Gia. Beberapa saat lalu, Teh Opi dan Kang Krisna mengantar Teh Hani, sekalian mereka pulang. Pak Obi sudah kembali ke pos jaga dan menyisakan aku, Gia, Adul, dan Kang Utep di sofa teras.


"Aku mah ngga mau bikin gosip ya, tapi udah beberapa hari ini, Teh Hani selalu makan siang ayam serundengnya Teh Ayu. Ngaruh ngga sih? Waktu itu Adul bilang kalau Teh Ayu pake pesugihan," jawabku berbisik.


"Bisa jadi ngaruh, kalau Hani mau dijadiin korban," sahut Kang Utep. "Dulu pernah ada kejadian, tetangga Umi di Garut. Sering teriak-teriak sendiri ketakutan. Katanya mah ada yang suka ngikutin dia. Pas dibawa ke tempat rukyah, eh dibilangnya emang kena sihir, ditargetin orang."


"Terus gimana?" tanya Gia.


"Diobatin. Sekalian dikasi tau, kalau benteng utama dari sihir dan hal-hal buruk, adalah ibadah. Jangan sampai putus, karena sebenernya fase terlemah manusia itu justru saat melalaikan ibadah dan jauh dari Allah. Pengaruh buruk gampang banget masuknya."


"Ya Teh Hani sih emang lagi ngga sholat, lagi dapet," timpalku.


"Iya, pas Hani lemah, pas juga dia kena. Untung ada Pak Obi yang pernah punya pengalaman kaya gini," sambung Kang Utep.


"Tapi Teh Hani sekarang udah aman?" Gia bertanya lagi dan menatap Kang Utep penasaran.


"In syaa Allah aman."


Grook!


Kami semua tersentak kaget dan hampir melarikan diri, saat terdengar suara aneh yang cukup kencang.


Grook!


Suara berikutnya membuat kami menyadari si empu suara, yaitu Adul, yang sudah tertidur dengan nyenyaknya.

__ADS_1


"Nih anak, tidur aja bikin orang kaget! Pantesan emaknya spaneng mulu liat kelakuan dia," seru Gia gemas dan menepuk bibir Adul kencang.


__ADS_2