Siaran Radio Tengah Malam 2

Siaran Radio Tengah Malam 2
Episode 25


__ADS_3

"Woi! Woi! Sini!" seruku pada dua orang preman yang pernah kutemui saat berniat makan bubur ayam beberapa waktu lalu.


"Xu, jangan Xu! Mereka preman, serem Xu," lirih Gia menarik tanganku. Aku memberikan kode padanya agar tenang.


"Xu! Jangan macem-macem deh!" tambah Remi.


"Udah, diem! Diem!" jawabku sebal pada keduanya.


"Iya, Teh. Kenapa?" tanya salah seorang dari mereka yang berambut cepak mendekat.


"Uang keamanan lagi?" tanyaku menatap mereka satu persatu seraya mengangkat dua jariku dengan gerakan ingin menco*lok mata.


"I-iya, Teh. Da gimana atuh, tugas kami mah emang kaya gini."


"Ya terserah aja sih, asal mintanya baik-baik," responku singkat. Gia dan Remi berdiri agak bersembunyi di balik punggungku.


"I-iya, Teh. Ngomong-ngomong, ada apaan Teteh manggil?"


"Sini-sini," ajakku masuk ke halaman Radio Rebel. Keduanya mengikutiku tanpa banyak bertanya. "Itu, tolong ambilin mangga."


"Nyuri, Teh? Ngga ah, Teh. Dosa tau," sahut si cepak.


"Sembarangan! Ini pohon mangga tumbuhnya di kantor Radio. Jadi yang tinggal di sini boleh ngambil," ucap Remi mendelik. Rupanya ia sudah tidak takut lagi dengan kedua preman ini.


"Beneran? Tapi kalo kenapa-kenapa Teteh yang nanggung ya?" ucap teman si cepak.


"Iyah, siap. Udah cepetan, keburu magrib nanti," jawabku.


Keduanya mulai menaiki pohon mangga dengan pelan sedangkan aku berlari masuk ke pantry untuk mengambil kecap, cabe rawit, gula putih, dan tidak lupa juga sebilah pisau. Saat aku ke luar, beberapa buah mangga setengah matang sudah bergeletakan di bawah pohon dan sedang dipunguti oleh Gia dan Remi.


"Udah! Jangan banyak-banyak," seruku lagi.


"Cukup Teh segitu?" tanya si cepak dari atas pohon.


"Cukup! Saya mah mau ngerujak doang, bukan mau jualan," aku membalas pertanyaan si cepak.


Keduanya turun dan menghampiriku serta Gia dan Remi yang sudah duduk di halaman.


"Teh, boleh minta satu ngga? Buat istri di rumah, dia lagi ngidam mangga muda," tanya teman si cepak.


"Boleh, ambil aja," jawab Gia sembari menyiapkan bumbu untuk cocolan. "Kalian namanya siapa?"


"Saya Robin, Teh," ucap si cepak duduk di depanku.


"Kamu pasti Batman ya?" tanya Remi menatap teman si cepak.


"Bukan Teh, saya Hud."


"Hood? O-nya dua?" Aku menatapnya ingin tau.


"Bukan. H-U-D. Dari Hudaksa Wishaka."

__ADS_1


"Lah keren banget! Eh tapi kalian cocok sih, Robin Hud. Kaya yang dipilem-pilem," celetukku. Aku mulai mengupas buah mangga.


"Eh, Rob, uang keamanan dari Teh Ayu, tadi belum diambil. Aku ambil dulu ya? Biar dari sini nanti langsung pulang," pamit Hud.


"Iyah, sok," jawab Robin singkat dan mengambil sepotong mangga dalam mangkok plastik yang kusodorkan. "Hampir aja kelupaan, untung si Hud inget. Kalo ngga, bisa kena marah nanti sama Bos. Lagian, udah lama ngga jualan, tau-tau nongol lagi."


"Siapa yang baru jualan lagi?" Gia bertanya sebelum menyuapkan potongan mangga.


"Itu Teh, yang jual ayam serundeng. Dulu udah pernah jualan di sini, tapi pas anaknya meninggal ketabrak, berhenti jualan. Eh, sekarang jualan lagi."


Aku menatap Robin lekat dengan rasa penasaran. "Yang anaknya meninggal pas maen bola?"


"Iyah. Teteh-teteh tau ceritanya?" tanya Robin.


"Denger dari Pak Obi aja sih," jawab Remi singkat.


"Kasian ya? Lagi nyari nafkah malah kehilangan anak," celetuk Gia.


Robin diam dan menatap aku, Gia serta Remi lekat, sebelum berbisik. "Tapi ada gosip, Teh. Tepat setelah anak kecil itu meninggal."


"Kalau anaknya gentayangan dan suka nampakin diri?" tanyaku spontan.


"Ih, bukan yang itu, walaupun emang bener."


"Terus apaan?" tanya Gia balas berbisik dan mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Ada salah satu pedagang yang jadi saksi mata bilang, kalau anaknya bisa ketabrak karena di dorong sama ibunya sendiri ke tengah jalan."


"Ish ngaco! Masa ada ibu kaya gitu?" Remi bertanya tidak percaya.


"Wooh," celetukku.


"Kasian Teh. Ibu kandung anak itu sampe hampir gila waktu tau anaknya meninggal. Alhamdulillah, sekarang udah normal lagi, bahkan mutusin buat ngebangun rumah tangga dan lagi hamil."


"Kamu meni biang gosip deh! Sampe tau segitunya," celetuk Gia.


"Ya tau, kan ibu kandung anak itu teh istrinya si Hud."


"Hah? Yang tadi Hud minta mangga buat istrinya teh, ibu dari si anak yang kecelakaan?" tanya Remi.


"Iyah."


Aku, Gia dan Remi terdiam selama beberapa saat, sampai terdengar adzan magrib berkumandang yang membuat kami masuk ke dalam dan Robin berjalan keluar dari halaman Radio Rebel.


***


"Cie, yang udah baikan sama emak," godaku saat Adul berjalan menuju ke arah kami yang sedang duduk di sofa teras, sehabis sholat magrib berjamaah.


"Diem ah, Teh!" balasnya ketus dan menghempaskan diri di samping Gia.


"Adul meni badmood ya gaes ya?" sindir Remi.

__ADS_1


"Kalau pesenan Adul dianter, tolong di terima ya, Teh. Adul mau bikin kopi dulu," ucapnya seraya bangkit menuju ke pantry.


Kami kembali mengobrolkan beberapa hal ringan bersama Pak Obi yang juga ikut bergabung saat seorang wanita muda memasuki teras dengan membawa nampan. "Ini pesenan Akang yang tadi, katanya minta dianterin ke sini," ucapnya ramah.


"Loh, Neng Ayu? Jualan lagi sekarang?" tanya Pak Obi menatap wanita muda itu.


"Eh, Pak Obi? Ya ampun, maaf Pak. Saya ngga sadar kalau ini teh Bapak. Iya, baru jualan lagi di sini. Di tempat yang lama kena gusur."


Pak Obi manggut-manggut seraya tersenyum.


"Eh, pesenan saya ya, Teh? Bentar, ini uangnya sekalian. Takut lupa," ucap Adul keluar dari dalam dengan sebotol air mineral dan kopi di tangannya, lalu duduk kembali di sebelah Gia dan membuka tasnya.


"Neng semua, Bapak tinggal ke depan dulu ya?" pamit Pak Obi, yang kami respon dengan anggukan. Sosoknya berjalan pelan menuju ke pintu gerbang, tepat di mana pos jaga berdiri di sebelahnya.


"Ini, Teh," Adul menyodorkan uang. Namun karena jauh, aku mengambil uang itu dan memberikannya pada Teh Ayu.


Plash!


Seketika pandanganku gelap.


***


"Tolong Mbah, saya mu*ak hidup seperti ini terus. Berjualan siang malam tapi nasib saya masih sama saja."


Aku melihat kilatan peristiwa seolah sedang berdiri di depan layar bioskop yang besar. Suara wanita itu, adalah suara Teh Ayu yang sekarang kulihat sedang duduk di depan seorang pria berpenampilan menyeramkan.


"Kalau kamu siap mematikan nurani kamu, dan mengorbankan manusia lain. Maka, hidupmu akan berubah. Hidupmu akan dipenuhi dengan kekayaan dan juga kejayaan. Kamu siap!?" Suara menggelegar laki-laki itu membuat telingaku sakit.


"Berikan makanan yang sudah ditetesi ramuan ini pada target kamu, dan biarkan pesuruh saya melakukan tugasnya," lanjut pria itu memberikan sebuah botol kaca kecil. "Apa kamu sudah menentukan target pertama kamu?"


"Sudah, Mbah! Anak bawaan suami saya. Saya mu*ak dan kesal harus mengurus anak kecil itu," jawab Teh Ayu mantap.


"Lakukan tugas pertamamu. Target pertama akan menentukan keberhasilan kamu selanjutnya!"


Teh Ayu menggenggam botol kaca kecil itu dengan pandangan berkilat. "Agassa," desisnya pelan dengan senyum menyeringai.


***


"Teh? Teh? Ini kembaliannya."


Sentuhan di tangan membuatku tersentak dan menyadari jika aku masih berada di sofa teras. "Duh, maaf Teh. Saya ngantuk," elakku dan menerima uang dari tangan Teh Ayu, lalu memberikannya pada Adul.


"Biasa Teh, bumil mah gampang ngantuk," timpal Gia terkekeh melihatku. Aku hanya tersenyum dan langsung terpana selama beberapa saat, ketika mengalihkan pandangan pada Teh Ayu. Matanya lekat menatap ke arah perutku dengan pandangan menyeramkan.


"Makasi ya, Teh! Nanti piring rotannya saya anterin ke sana." Kata-kata Adul membuat Teh Ayu memutus kontak mata ke arah perutku, lalu tersenyum kikuk sebelum berpamitan.


"Cepet dimakan. Nanti keburu dingin," suruh Remi pada Adul yang masih melihat ke arah Teh Ayu. Begitu sosoknya sudah tidak terlihat, Adul membungkus makanan di atas piring rotan yang belum tersentuh sama sekali, dan memasukkannya ke dalam plastik. Tidak lama, ia bangkit dan membuang makanan tersebut ke tempat sampah.


"Mubazir!" sentak Gia seraya memu*kul bahu Adul saat ia kembali duduk.


"Malah dibuang si Adul mah," timpal Remi.

__ADS_1


Adul hanya terdiam selama beberapa detik. "Makanannya aneh, udah diapa-apain!" ketusnya. "Adul ngga bisa makan, makanan yang dijual pake bantuan pesu*gihan!"


Ucapan Adul membuat kami semua tersentak. Aku sendiri, menyadari, jika penglihatan sesaat yang kulihat tadi, sama dengan apa yang diucapkan Adul. Dengan sedih, mataku melirik ke arah halaman kosong, dan membayangkan sosok anak kecil laki-laki bernama Agassa sedang bermain bola.


__ADS_2